Saturday, 19 July 2008

Geliat Pembangunan di Pantai Ulee Lheu Pasca Tsunami


Ulee Lheu mungkin menjadi salah satu daerah yang paling hancur terkena tsunami Desember 2004 yang lalu. banyak masyarakat di sini yang meninggal dunia. demikian juga harta benda dan bangunan sosial yang ada. seminggu setelah tsunami saya berkunjung ke Ulee Lhee. ia berubah dari sebuah perkempungan yang ramai menjadi sebuah sahara genangan air seluas mata memandang. Yang terlihat hanya bangunan puing pondasi rumah yang ditinggalkan oleh rangkanya.Masih ada deretan mayat yang tidak berdaya. mobil dan sepeda motor yang tidak memiliki pemilik lagi.
tapi itu dulu, empat tahun yang lalu. sekarang tanda-tanda kesedihan itu mulai terhapus. bukan saja dari pesatya pembangunan, namun pandangan masyarakat yang sudah mulai yakin akan kehidupan yang perlu dilanjutkan. biarlah sejarah menjadi kenangan. masa depan harusdihadapi dengan keyakinan dan usaha. berdiam diri dan mengutuk kesempatan yang terabaikan adalah perbuatn sa-sia yang tidak boleh dilakukan.


Salah satu pembangunan pesat yang dilakukan sekarang adalah pembangunan pelabuhan. kudengar pemerinath aceh akan membangun ulee lehe sebagai pelabuhan laut bertaraf internasional. dengan wajhanya kini, mungkin ini bisa dipercaya. nampaks ekali pembangunan ini dilaksanakan dengan serius dan dirancang denagn semangat prestisius. meskipun belum namapak tanda-tanda internasionalnya, namun pelabuhan ini sudha mulai menunjukkan geliatnya sebagai palabuhan trasportasi yang sempurna.
banyak masyarakat yang mulai berkunjung ke sana untuk berekseasi. di atas pagar batu besar yang membentang sejah sepuluh kilometer mereka dapat memandang ke lautan lepas sampabil menikmati makanan ringan. aku menyaksikan beberapa pasng mdua-mudi yang bermesraan dipinggil laut. ini menarik. mereka mendapatkan kebebasan memadu cinta di alam bebas.

Pelabuhan ini akan menjadi pealbuhan transportasi terbesar di aceh. selain itu kudengar pemerintah Aceh juga sedang membangun pelabuhan perikanan raksasa di lampulo. pelabuhan perikanan akan menjadi pelabuhan terbesar di INdonesia dan nomor dua terbesar di asia tenggara. akan banyak perdagangan ikan dari seluruh dunia nantinya. pelabuhan itu juga akan dilengkapi dengan pabrik pengolahan ikan dan barang lainnya yang membutuhkan ikan. jadi akan ada ekspor impor ikan di pelabuhan lampulo nantinya.
pembangunan peabuhan ini diikuti dengan menyiapkan Krueng Raya (Pelabuhan Malahayati) sebagai palbuha bongkar muat barang. jadi sudah ada tiga pelabuhan besar di kuta raja, Malahayati sebagai pelabuhan barang, Lampulo pelabuhan ikan dan ulee lheu sebagai pelabuhan transportasi internasional. sebuah usaha yang sangat bagus dan perencanaan yang mantap untuk pembagunan aceh lebih baik.

Bicara pelabuha, aku jadi ingat sejarah masa lalu aceh. Sebab sejarah aceh tidak bisa dipisahkan dengan sejarah badar-bandar (palbuhan)yang menjadi kunci dari kehidupan kerjaan aceh tempo dulu. bahkan bangsa asing yang datang ke aceh juga karena pelabuhannya ang banyak dikunjungi oleh berbagai bangsa dari ebrbagai belahan dunia. Belanda, inggris, portugis termasuk abngsa yang "jatuh cinta" dengan pelabuhan aceh. sayangnya jiwa imperialis mereka tidak bsia dikuburkan. karenanya mereka datang bukan sekedar untuk memand\faatkan pelabuhan sebagai sentral dagang tapi ingin menguasainya dan memonopoli perdagangan di sana. inilah awal dari penjajajahan aceh oleh bangsa asing.
nah, kalau sekarang pelabuihan dmajukan lagi apakan aceh akan siap "dijajah" oleh bangsa asing? mungkin saat ini bukan penjajahan dalam bentuk senjata dan imperialisme kekuasaan sebagaimana dahulu. imperialisme sekarang adala ekonomi dan ideologi. kita bisa saksikan bagaimana nilai-nilaikonsumerisme dan hedoneisme mulai berkembang di aceh. dan ini semakin berkembang setelah tsunami. saat bangsa asing menawarkan begitu banyak uang, orang aceh langsung jatuh hati dan menganggap semuanya baik-baik saja sejauh kita dapat meanfaatkan dengan baik. sayngnya ungkapan ini tidak terbukti di lapangan. ajaklah orang gotong royongmembangun sebuah gubukkecil untuk dhuafa sekarang ini. apakah ada yang mau? pertanyaan petama adalah siapa yang akan bayar? berapa? "Kalau lima puluh ribu lebih baik saya minum kopi, hana hek."

pernyataan-pernyataan ini adalah wujud dari "suksesnya" budaya asing menggerogoti nilai lokal yang komunal. swatu saa jika kita tidak siap dan bangsa asing masuk, maka kita akan menjadi bagian dari mereka. tidak ada lagi indentitas, tidak ada lagi karakter. apa yang baik bagi mereka, menjadi baik bagi kita dan sebaliknya. aku khawatir saja, meskipun aku pasti tidak sanggup menghentikan laju pembangunan yang dikuasai pasar saat ini.

No comments:

Post a Comment