Tuesday, 17 November 2009

Menakar Dosen Lewat Jurnal


Dua minggu ini saya menghabiskan waktu mengedit tulisan teman-teman dosen yang akan dipublikasikan dalam sebuah Jurlan Ilmiah di IAIN Ar-Raniry. Pekerjaan mengedit memang sedikit membosankan. Namun jika tulisan yang telah diserahkan tidak banyak "masalah," maka mengedit justru menjadi pekerjaan menyenangkan. Seorang editor akan berguru pada tulisan yang sedang dieditnya. Namun jika tulisan yang masuk ke meja editor masih amburadur dan centang prenang, maka bekerja sebagai editor menjadi sangat membosankan dan menjemukan.

Saya tidak yakin sepenuhnya, namun dari beberapa diskusi yang saya lakukan dengan teman-teman di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, mereka mengalami hal yang sama. Sebagai editor mereka harus memperbaiki sendiri tulisan yang masuk ke meja redaksi jurnal. Bukan hanya memperbaiki salah ketik atau tata bahasa, mereka juga harus mengedit substansi, rujukan, bahkan beberapa diantaranya harus membuat satu atau dua paragraf penghubung dalam tulisan yang diberikan.

Kalau tulisannya jelek kenapa diterima? Kenapa tidak dikembalikan kepada penulis? Di sinilah masalah utamanya. Saat ini hampir semua fakultas di sebuah perguruan tinggi memiliki jurnal ilmiah. Belum lagi beberapa lembaga yang ada di perguuan tinggi tersebut juga mengeluarkan jurnal. Jadinya, sebuah perguruan tinggi memiliki jurnal ilmiah berkala yang sangat banyak dibandingkan dengan potensi menulis civitas akademikanya. Di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh saja tidak kurang dari 10 buah jurnal terbit setiap tahun. Kalau terbitnya dua edisi pertahun dengan kapasitas tulisan 9 - 12 buah, maka diperlukan lebih kurang 250 artikel ilmiah setiap tahun. Jumlah ini sebenarnya bukanlah jumlah yang besar dibandingkan dengan jumlah dosen dan karyawan yang ada. Namun melihat semangat dan dedikasi untuk kepentingan publikasi ilmiah yang sangat rendah, maka 250 adalah jumlah yang tinggi.

Kondisi ini menjadikan beberapa jurnal ilmiah di kampus laksana kerakap tumbuh di atas batu. Semangat untuk menghidupkan menggebu-gebu, namun input artikel yang dapat dimuat sangat kurang. Pengurus sering menghubungi lalu menawarkan kepada teman-teman dosen untuk memberikan sebuah tulisan agar dapat dimuat di Jurnal mereka. Dalam kondisi seperti ini maka tidak ada yang namanya seleksi dan kompetisi agar dapat dimuat tulisan di Jurnal, yang ada hanyalah keinginan dan kesempatan untuk menulis. Kalau tulisan sudah ada, dijamin tulisan itu akan langsung dimua.

Kondisi seperti inilah yang kemudian membuat tugas seorang editor bertambah berat. Sebab kebanyakan tulisan yang masuk adalah artikel yang dibuat buru-buru, tidak fokus, dan hanya mengubar kata tanpa memperhatikan kaedah ilmiah untuk membuat artikel akademik yang berkualitas. Seorang editor yang ikut bertanggung jawab untuk mensukseskan agar sebuah jurnal tetap terbit tepat waktu harus mati-matian memperbaiki dan mengedit kembali tulisan sehingga jurnal tersebut layak muat dan dipublikasikan. Si penulis sendiri seolah mempasrahkan tulisannya kepada editor dan hanya menunggu publikasi tulisan tersebut untuk kepentingan mengurus pangkat.

Namun terkadang sedih juga menyaksikan beberapa artikel yang masuk. Beberapa kesalahan seharusnya tidak terjadi jika penulisnya memang serius ingin menulis. Saya contohkan; tidak ada abstrak. Ini kan bukan sebuah masalah jika si dosen sadar bahwa di manapun di dunia ini, sebuah artikel ilmiah yang akan diterbitkan di Jurnal harus ada abstrak. Demikian juga dengan referensi, banyak tulisan yang membuat daftar referensi sekedar pajangan buku di halaman terakhir tulisannya padahal buku-buku tersebut sama sekali tidak disinggung di dalam artikel. Lagi-lagi ini bukan masalah kalau si dosen jeli. Anak kecil saja sebenarnya tahu kalau tidak dikutip di dalam tulisan maka ia tidak masuk ke dalam daftar pustaka.

Saya menulis ini bukan hanya karena saya sedikit kesal dengan pekerjaan seperti ini, namun lebih jauh ini adalah potret kebanyakan dosen di Indonesia. Dalam setiap pertemuan yang meilbatkan dosen-dosen seluruh Indoensia kerap mereka memberikan surat yang isinya adalah meminta tulisan untuk dimuat di jurnal mereka. Banyak jurnal yang tidak terbit teratur karena tidak ada tulisan yang masuk. Bahkan beberapa jurnal "mati suri" karena sama sekali tidak ada tulisan yang hendak dipublikasikan. Ini adalah potret semangat menulis dan melakukan penelitian di kalangan dosen yang sangat rendah. Banyak dosen di perguruan tinggi lebih suka dengan pekerjaan yang segera menghasilkan uang.

Sepertinya pemerintah harus tanggap dengan kondisi ini. Program sertifikasi dosen harus lebih diperketat dengan mensyaratkan adanya artikel ilmiah yang berkualitas. Selama ini program sertifikasi dosen lebih banyak menilai hal-hal yang sifatnya administratif belaka, dengan melihat sertifikat seminar atau pelatihan. Padahal, semua tahu, di Indonesia, jangankan selembar sertifikat seminar, uang saja dipalsukan. Kalau hal ini terus berlangsung, maka sampai kapanpun kualitas pendidikan di Indonesia tidak akan meningkat. Dan perguruan tinggi di Indonesia tidak akan pernah masuk menjadi 100 besar perguruan tinggi ternama di Dunia, bahkan mungkin Asia. Lalu kapan Indonesia akan maju? tapek teh....

Catatan:

Kalau dalam tulisan di atas masih ada keselahan ketik dan kualitas bahasa Indonesia yang buruk, maka itu adalah potret editor di Indonesia. Memang sangat mudah menyalahkan orang lain. :-)

Tulisan ini juga dimuat di www.sehatihsan.blogspot.com

No comments:

Post a Comment