Skip to main content

Pasir Putih Yang Eksotis

Ini cerita perjalanan akhir Minggu. Kali ini saya mencoba jalan-jelan ke salah satu pantai wisata di Aceh Besar, Pasir Putih. Pantai ini terletak sekitar 30 km dari Kota Banda Aceh. Hanya perlu waktu 40 menit menuju ke sana. Jalan yang bagus dan luas menjadikan perjalanan sangat lancar. Hanya perlu sdikit hati-hati karena ada beberapa anak muda yang belum sadar betapa berharganya hidup suka kebut-kebutan. Sepanjang jalan perjalanan ke sana disuguhi pemandangan pantai dan perumahan masyarakat. Untuk menuju ke sana, kita juga melewati beberapa pantai lain yang banyak dikunjung warga, seperti Ujong Batee dan Ladong (mungkin suatu saat akan saya ceritakan).

Sesampai di pelabuhan Krueng Raya, ada beberapa tanjakan terjal perbukitan. Bukit ini dinamakan dengan Bukit Sueharto. Saya tidak tahu persis kenapa dinamakan demikian. Setelah mendaki tanjakan pertama, di sebelah kanan ada jalan masuk. Di ujung jalan ada sebuah benteng peninggalan masa lalu yag dikenal dengan Benteng Inong Balee. Benteng ini terbuat dari batu yang disusun tinggi dan menghadap lautan. Konon, dulunya dipakai oleh Laksanaman Malahayati untuk mempertahankan Kerajaan Aceh Darussalam dari serangan bangsa asing. “Inong Belee” berarti perempuan janda. Menurut sebuah cerita, Laksamana Malahayati (seorang perempuan dan janda) memimpin sebuah pasukan tempur yang terdiri dari perempuan janda dalam kerjaan Aceh Darussalam. Inilah yang menyebabkan benteng ini disebut benteng Inong Balee. Dari puncak bukit ini juga kita dapat saksikan hiruk pikuk pelabukan Krueng Raya.

Lanjutkan perjalanan beberapa menit. Untuk sampai ke Pasir Putih anda perlu masuk ke sebelah kiri sekitar 500 meter dan membayar tiket Rp. 4000,-. Ujung jalan akan langsung berbatasan dengan lautan Samuera Hindia yang maha luas. Seperti namanya, pasir di pantai ini memang putih adanya. Pepohonan tumbuh di pinggir pantai. Di ujung sebelah Barat banyak pohon tumbuh di dalam lautan. Ini mejadi pemandangan yang sangat indah. Beberapa orang duduk di atas pohon sambil memancing. Saya tidak tahu ikan apa yang banyak di sini. Namun dari salah seorang yang saya lihat mendapatkan ikan, ada seekor ikan warna warni khas ikan laut yang biasa dimasukkan dalam aquarium.

Menyenangkan bermain di pinggir pantai. Pasir yang lebut dan gelombang yang kecil menjadikan pantai ini sangat aman bagi anak-anak untuk mandi. Hanya saja perlu sedikit hati-hati karena di beberapa bagian ada karang batu yang tajam dan bisa melukai. Untuk mandi sangat aman mengunjungi sebelah Timur. Di sana lebih aman dari batu karang. Ada juga masyarakat yang menyediakan ban mobil yang bisa dipakai untuk pelampung. Hanya saja, di bagian timur sangat sedikit pepohonan sehingga terasa sangat panas dan susah mencari tempat berteduh dari sengatan matahari.

Sayangnya, hampir di sepanjang pantai banyak warga sekitar yang membuat gubuk-gubuk untuk berjualan. Kebanyakan mereka membuang sampah dagangan; kelapa muda, botol, plastik, kertas bungkusan, di lautan. Dan pasti saja lautan tidak menerima kotoran itu lalu mengembalikannya ke pantai. Sampah-sampah ini menjadikan pasir yang putih dan indah menjadi tertutup dengan sampah. Apalagi banyak masyarakat yang melepaskan sapinya di sana, sehingga di berbagai tempat ditemui banyak kotoran sapi. Ini menjadikan pandangan tidak nyaman.

Yang juga sedikit kurang menyenangkan adalah, gubuk jualan warga terlalu banyak. Kita hampir tidak punya tempat selain punya mereka. Padahal jika kita membawa keluarga, semua perbekalan makanan sudah tersedia. Namun kita tidak tahu harus menggelar tikar di mana, membakar ikan di mana, makan di mana kecuali di gubuk yang sudah disediakan warga. Dan ini tentu perlu biaya tambahan. Hanya ada beberapa lokasi di bagian Barat yang bisa dipakai untuk itu. Namun perlu tanaga ekstra karena tidak ada jalan yang bisa dilalui oleh kenderaan.

Tapi, bagaimanapun, pemandangan lautnya, pohonnya, pasirnya yang lembut, tetap menjadikan kunjungan ini menyenangkan. Apalagi pergi dengan orang-orang yang kita cintai. Saya sarankan anda (khususnya yang ada di Banda Aceh), untuk mencoba!


Catatan: beberapa foto lain mengenai Pasir Putih, lihat di
http://sehatihsan.blogspot.com/2009/11/pasir-putih-krueng-raya.html

Tulisan ini saya posting juga di www.sehatihsan.blogspot.com

Comments

Popular posts from this blog

Tarekat Shiddiqiyah Dalam Masyarakat Jawa Pedesaan

Oleh: Sehat Ihsan Shadiqin ABSTRAK Artikel ini akan menjelaskan tentang perkembangan dan pengaruh tarekat dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa pedesaan. Beberapa peneliti tarekat modern di Indonesia, seperti Bruinessen dan Howel, menyatakan bahwa tarekat mulai bergeser kepada masyarakat perkotaan yang disebut urban sufism. Dalam urban sufism sistim hubungan guru murid yang menjadi kekhasan dalam tarekat ditinggalkan sama sekali dan diganti dengan kemampuan retorika dan menghubungkan ajaran agama dengan konteks hidup masyarakat modern dengan pendekatan spiritual. Hal ini tidak sepenuhnya benar, khususnya dalam masyarakat pedesaan Jawa. Tarekat tidak terpengaruh dengan perkembangan modern dalam hal komunikasi dan telekomunikasi. Tarekat tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberagamaan mereka dan dalam relasi sosial dalam masyarakat. Saya melakukan studi lapangan di sebuah dusun pedalaman Pekalongan, Jwa Tengah ada bulan januari 2010, mengikuti berbagai kagiatan yang d...

Mbah Mul: Dukun Spesialis Pijat Bayi yang Direkom Dokter Anak

Seorang bayi tanpa pakaian telungkup di pangkuannya. Bayi itu nampaknya masih berusia empat bulan. Dua tangannya memegang pundak si bayi sambil memijat-mijat pelan. Sedikit demi sedikit turun ke punggung dan ke pantat. Kemudian ia memegang kedua belah kaki bayi, kedua tangannya, dan kepala. Dalam waktu 10-15 menit ia mengatakan dengan senyuman: “Sudah”. Lalu sepasang suami istri mengambil bayi itu dan mengenakan pakaiannya kembali. Dia seorang nenek tua. Perawakannya kecil, kurus, kulitnya kehitaman dan sudah berkerut. Matanya dalam dan jauh dari sinar yang berbinar. Memang, ia sudah layak dengan perawakan itu. Usianya kini sudah 95 tahun. Ia lahir awal abad yang lalu, bersamaan dengan puncak kekuasaan Belanda di Jawa. Masyarakat memanggilnya Mbah Mul. Di adalah dukun “spesialis” pijat bayi di Yogyakarta. Saya tahu tentang Mbah Mul saat membawa anak saya berobat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Di sana saya jumpa dengan seorang polisi yang juga membawa anaknya berobat. Kami sal...

Makam Hamzah Fansuri di Ujong Pancu?

Siapa tidak kenal dengan Hamzah Fansuri? (banyak pasti hehehe). Namun bagi komunitas yang dekat dengan sastra Melayu dan tasawuf Nusantara, maka Hamzah adalah kunci bagi perkembangan keduanya. Ia merupakan sastrawan Melayu pertama yang mempopulerkan sajak dan syair bukan hanya sebagai rangkaian kata yang indah, namun sebagai media tranfer ilmu pengetahuan. tidak tanggung-tanggung, Hamzah menggunakan puisi sebagai media transper pengetahuan Ketuhanan tingkat tinggi, Filsafat Wujud! Sebuah pengetahuan yang dijelaskan dengan esaasy dan bahasa ilmiah sekalipun sulit dipahami. namun bagiku sangat aneh kalau sebuah komunitas di daerah paling ujung pulau Sumatera, Ujong Pancu, percaya makamnya ada di gunung sana. Padahal masalah makam Hamzah Fansuri telah menjadi perdebatan alot di kalangan ilmuan. bahkan profesor Sastra melayu selevel Braginsky sendiri tidak tahu makam Hamzah ada di mana. Minggu kemarin (060708) aku dengan beberapa teman pergi ke Ujong Pancu. Semula rencananya adalah m...