<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144</id><updated>2012-02-11T10:37:08.130+07:00</updated><category term='Hasan Tiro'/><category term='Milan'/><category term='TKW'/><category term='Kuliner'/><category term='dayah'/><category term='Budaya'/><category term='pendidikan'/><category term='fiksi'/><category term='Jaringan Aceh Merdeka'/><category term='Fotoku'/><category term='pilkada'/><category term='alam'/><category term='penipuan'/><category term='ebook'/><category term='biografi'/><category term='Arab Saudi'/><category term='Duomo Milan'/><category term='pengemis cilik'/><category term='GAM'/><category term='esek-esek'/><category term='TKI'/><category term='Kuliah di Milan'/><category term='Triks dan Tips'/><category term='Kopi Aceh'/><category term='dukun anak'/><category term='Manding'/><category term='Warung kopi'/><category term='banda Aceh'/><category term='beasiswa'/><category term='makalah'/><category term='Buku Murah'/><category term='Aceh'/><category term='Tasawuf'/><category term='Jogjakarta'/><category term='politik aceh'/><category term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><category term='facebook'/><category term='Nanggroe Aceh'/><category term='Taman Pintar'/><category term='Opini'/><category term='membaca'/><category term='Konflik Aceh'/><category term='Makkah'/><category term='guru'/><category term='Penelitian'/><category term='Inderapuri'/><category term='Pengalaman di Dubai'/><category term='Catatan Ringan'/><category term='Wisata Eropa'/><category term='Perjalanan ke Eropa'/><category term='haji'/><category term='Pengalaman Naik emirates'/><category term='tips menulis'/><category term='yogyakarta'/><category term='perang Aceh'/><category term='Resensi Buku'/><category term='bioskop di Aceh'/><category term='Muhibbah'/><category term='Perdamaian Aceh'/><category term='Teungku'/><category term='Pemerintahan GAM'/><title type='text'>Cakrawala Kata</title><subtitle type='html'>Catatan Pengalaman dan Pemikiran</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>183</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-2937665324732645193</id><published>2012-02-09T16:37:00.002+07:00</published><updated>2012-02-09T16:43:37.821+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Ibu Muda dan Surat Dikti</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-XVvpF62FNmg/TzOVQnzgwkI/AAAAAAAABJI/U1-HOkVDAVs/s1600/13281862121518134029.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 327px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-XVvpF62FNmg/TzOVQnzgwkI/AAAAAAAABJI/U1-HOkVDAVs/s400/13281862121518134029.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707069265604035138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu masih muda, mungkin tiga tahun lebih muda dari istri saya. Tapi anaknya dua tahun lebih tua dari anak kami. Saat saya tinggal di Jogja tahun lalu, hampir setiap awal bulan kami berjumpa. Saya dan istri, dia bersama anak laki-lakinya, sama-sama pergi ke Mbah Mul, tukang urut kebugaran bayi di Yogyakarta. Karena sering jumpa, kami sering bercerita, termasuk tentang pekerjaan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masnya kok mau ya, kuliah dengan biaya sendiri jauh-jauh dari Aceh. Suamiku dikasih beasiswa ke Mesir tapi malah lebih suka kerja di sini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suami mbak kerjanya apa?”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Itu… bantuin mahasiswa bikin tugas akhir. Katanya, mendingan kerja dari pada sekolah. Kalo sekolah ga bakal bisa beli mobil dan bikin rumah seperti sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa sih bantuin bikin tugas akhir mahasiswa bisa buat rumah dan beli mobil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa dong mas. Masku sudah punya banyak skripsi, tesis dan disertasi di komputernya, semua jurusan. Dia juga ada penelitian kerja sama dengan pegawai pusat penelitian universitas di Jogja. Jadi gampang bikin karya akhir. Kalo skripsi paling dua tiga hari udah siap. Kalau disertasi bisa sebulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Trus dapat berapa untuk satu karya akhir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu rahasia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya banyak ya, mahasiswa yang minta dibikini karya akhir begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hanya mahasiswa, dosen juga banyak.Untuk jurna buat naik pangkat. Apalagi pejabat-pejabat yang mau cepat selesai kuliah. Dia mau bayar mahal lho, yang penting cepat selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui surat Nomor: 152/E/T/2012 tertanggal 27 January 2012, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Indonesia mengeluarkan kebijakan baru terkait dengan kelulusan sarjana di Universitas. Semua lulusan berbagai strata harus mempublikasikan tulisannya di jurnal ilmiah. Hal ini dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalan publikasi ilmiah di Indonesia yang kalah jauh dari Malaysia. Sebuah niat yang perlu kita apresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayup-sayup saya teringat percakapan kami setahun yang lalu di Yogyakarta. Suami-suami lain mungkin akan berfikir untuk melakukan hal yang sama dengan suami si mbak itu. Tidaklah terlalu sulit membuat skripsi, tesis bahkan disertasi,  apalagi bagi mereka yang sudah berkali-kali membuatnya. Kopas sana kopas sini, selesai. Bahkan kini sudah ada “jasa konsultasi dan pengolahan data akademik” di internet yang bisa membuat skripsi dalam beberapa hari saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan karya ilmiah di jurnal? Mereka bisa membuat dengan jurnalnya sekalian. Sangat gampang!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-2937665324732645193?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/2937665324732645193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2012/02/ibu-muda-dan-surat-dikti.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/2937665324732645193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/2937665324732645193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2012/02/ibu-muda-dan-surat-dikti.html' title='Ibu Muda dan Surat Dikti'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-XVvpF62FNmg/TzOVQnzgwkI/AAAAAAAABJI/U1-HOkVDAVs/s72-c/13281862121518134029.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-8042769524555266523</id><published>2012-01-26T19:24:00.001+07:00</published><updated>2012-01-26T19:26:30.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliah di Milan'/><title type='text'>Sidang Disertasi di Negeri Materialis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-IbBqtVMhCRk/TyFGbJlR9UI/AAAAAAAABI8/_jVDeWkA-vU/s1600/toga.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-IbBqtVMhCRk/TyFGbJlR9UI/AAAAAAAABI8/_jVDeWkA-vU/s400/toga.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701916035470456130" /&gt;&lt;/a&gt;Saya datang jam dua, sesuai undangan. Saat saya buka aula seminari tidak ada orang di sana. Tidak ada juga tanda-tanda kalau di sana akan diadakan sebuah perhelatan penting. Ruangan itu besarnya “hanya” lima kali empat meter saja. Di salah satu sudutnya ada seperangkat televisi. Di sisi kanan pintu masuk ada sebuah lemari arsip. Di tengah ruangan ada sebuah meja agak panjang dengan beberapa kursi di sekelilingnya. Di dua sisi dinding berderet kursi. Karena tidak ada orang, saya pergi ke sekretariat mahasiswa Ph.D. Namun ternyata di sana juga tidak ada orang. Tapi saya sangat yakin kalau saya tidak salah dengar berita minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menyampaikan berita itu adalah –katakan saja namanya Julia, kakak leting saya di kampus. Ia mengatakan kalau hari ini jam dua lewat ia akan mengikuti sidang disertasi. Dalam tradisi kampus di manapun, sidang disertasi adalah babak terakhir dari proses pendidikan doktoral di universitas. Setelah selesai presentasi di hadapan dewan penguji, habis sudah “kontrak” menjadi mahasiswa, sebab itu berarti sudah selesai semua proses, sudah berhak menyandang gelar Ph.D sesuai dengan bidang ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam saya di ruangan mahasiswa doktor, tiba-tiba pintu terbuka. Saya lihat Leonardo masuk. Saya kenal betul dia, anak delapan tahunan, putra tertua Julia. Berikutnya masuk Julia dan anak bungsunya yang belum genap dua tahun, disusul adik Julia, orang tuanya, mertuanya, dan seorang teman. Setelah berbasa-basi sebentar, kami menuju ruang sidang. Semula saya menduga ada ruang lain yang akan digunakan, bukan aula seminari yang tadi saya lihat. Tapi dugaan saya keliru, ruang itulah yang dipakai untuk sidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masuk semua, termasuk anak-anak Julia. Sesaat kemudian datang tiga orang penguji dan duduk di salah satu sisi meja. Julia duduk di sisi meja yang lainnya, mereka berhadapan. Mereka basa-basi dengan sangat ramah sebentar sehingga tidak terlihat Julia tertekan menghadapi “sidang”. Jangan bayangkan Julia dan penguji mengenakan baju toga besar dan berat dengan berbagai pernak-pernik keemasan di depanya, sama sekali tidak. Baik Julia maupun pengujinya, mengenakan baju biasa. Penguji yang laki-laki mengenakan celana kain dan baju krim. Seorang penguji perempuan mengenakan jeans, bajo kaos dengan luaran sweater. Seorang penguji perempuan yang lain juga mengenakan pakain sehari-hari. Julia sendiri mengenakan baju kaos dengan sweater (karena musim dingin), dan mengenakan celana pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembimbing Julia duduk di barisan tamu, barisan di mana saya duduk, persis di belakang Julia. Ia hanya punya hak mendengar saja, tidak ada hak bicara kecuali kalau diminta. Sidang dimulai dengan mempersilahkan Julia menjelaskan isi disertasinya. Lumayan lama, mungkin 20 menit. Penjelasan tanpa teks dan tanpa melihat disertasi (Julia sendiri tidak membawa disertasi dalam sidang). Kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Sidang ini bukanlah “menguji” mahasiswa, tapi memberikan saran supaya disertasinya lebih baik. Saran termasuk referensi tambahan, cara analisis, prospek ke depan terkait dengan bidang tulisan si mahasiswa, termasuk kemungkinan penerbitan karya itu menjadi buku. Kalau saya lihat, suasananya adalah suasana “ngobrol serius di warung kopi,” bukan seperti sebuah sidang akhir di Universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua jam, sidang selesai. Kami dipersilahkan keluar sebentar. Di luar kami mengucapkan selamat kepada Julia karena ia bisa menyampaikan isi tulisannya dengan lancar dan bisa mejawab beberapa pertanyaan penguji juga dengan lancar. Hanya beberapa menit, kami dipersilahkan masuk kembali dan sidang dilanjutkan. Julia dan ketiga penguji berdiri berhadapan. Penguji mengatakan kalau sidang sudah selesai, dan Julia lulus dengan predikat tertentu. Selesai, para penguji duduk kembali dan menandatangani semua dokumen administrasi, termasuk dokumen yang mengatakan bahwa sidang sudah selesai. Artinya, setelah sidang itu, Julia tidak perlu lagi berhadapan dengan penguji untuk meminta tanda tangan mereka. Kami keluar dan kembali ke ruang Ph.D, semua, termasuk tiga orang penguji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, kami minum-minum, sampagne, teh, coca-cola, makan gorengan dan beberapa potong roti. Tidak ada perbedaan strata makanan antara mahasiswa, tamu dan tiga orang professor yang barusan menguji disertasi. Seperti halnya tamu, mereka juga menuangkan air sendiri ke dalam gelas plastik sekali pakai yang disiapkan Julia, mengambil sendiri maknan di atas meja, makan sambil berdiri dan bercerita dengan rekan yang lain. Di sana ada ibu kandung Julia, juga bapak dan ibu mertuanya, profesor pembimbing dan tiga orang proffesor yang barusan menguji tadi. Selebihnya adalah keluarga dekat Julai dan beberapa temannya. Suasana sangat santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela pesta kecil itu pikiran saya terbang ke kampus kecil Darussalam-Banda Aceh di mana saya mengajar. Saya melihat wajah kerut mahasiswa S1 yang kesusahan menyedikan buah-buahan mahal atau makan siang nasi kotak untuk dosen pengujinya. Saya melihat wajah sangar dosen yang merasa paling paham atas hasil kerja mahasiswa S1 yang padahal saat kuliah ia sendiri jarang masuk mengajar mereka. Saya melihat pembimbing yang berlepas tangan atas mahasiswa bimbingannya yang sedang “diserang” oleh penguji dan merasa seolah semua kata yang tercetak dalam skripsi itu adalah hasil kerja si mahasiswa dan si mahasiswa bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil kerja itu. Saya melihat semua mereka berada di ruang khusus dengan spanduk khusus dan pakaian khusus yang terkadang membuat mereka kepanasan dan sulit bernafas. Itu suasana S1. Bagaimana kalau S3? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah… begitulah. Kita mengatakan pemilik qanaah, tapi kita berlaku boros. Sebaliknya kita mengatakan orang materialistis, padahal ternyata dalam banyak hal mereka mempraktekkan hidup sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-8042769524555266523?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/8042769524555266523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2012/01/sidang-disertasi-di-negeri-materialis.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8042769524555266523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8042769524555266523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2012/01/sidang-disertasi-di-negeri-materialis.html' title='Sidang Disertasi di Negeri Materialis'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-IbBqtVMhCRk/TyFGbJlR9UI/AAAAAAAABI8/_jVDeWkA-vU/s72-c/toga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-7285840728653725896</id><published>2012-01-13T23:06:00.003+07:00</published><updated>2012-01-13T23:23:01.181+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliah di Milan'/><title type='text'>Yang Unik di Awal Tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-NINFI9zhAeE/TxBaXER7u0I/AAAAAAAABIs/MdUl1NVDcBM/s1600/2011-10-18%2B08.42.08.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-NINFI9zhAeE/TxBaXER7u0I/AAAAAAAABIs/MdUl1NVDcBM/s320/2011-10-18%2B08.42.08.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697152880956128066" /&gt;&lt;/a&gt;Kalau ada pepatah mengatakan gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga, itu ada benarnya. Gara-gara salah pencet sekali kacab balau tampilan semua blog. Inilah yang terjadi pada blog ini. Kisanya, saya mendownload sebuah APP Picasa di hp dan melakukan registrasi. Setelah selesai, saya lihat banyak foto masuk ke hp. Saya merasa sangat terganggu karena maksud semula mendaftar ke Picasa hanya untuk mberbagi foto baru yang saya peroleh. Karena merasa terganggu saya menghapusnya. Saya tidak menyangka kalau semua foto saya di blog terkait dengan Picasa. Sehingga begitu foto saya hapus, semua foto di blog juga terhapus. Kalau anda menemukan foto yang berwarna hitam dengan tanda seru di tengahnya, itu adalah foto yang terhapus karena kejadian ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Tapi tidak menarik bciara kegagapan teknologi. Saya yakin semua orang pernah melakukannya. Jauh lebih menarik bicara yang aneh-aneh di tahun yang belum berumur sebulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanehan pertama tentu saja kasus sandal jepit yang berakhir di pengadilan. Seorang remaja dituduh mencuri sandal jepit, diajukan ke pengadilan, divonis bersaah. Betapa lucu negeri ini. Hampir tidak ada manusia normal akan percaya dengan kejadian ini. Ini jauh lebih aneh dibandingkan dengan -kalau ada- seekor kucing yang bertanduk. Sungguh saya tidak percaya kalau kejadian ini benar-benar terjadi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanehan kedua hiruk pikuk pilkada di Aceh. Ada pihak yang dulu merasa sangat kuat dan mengatakan tidak mau ikut pilkada kalau usulan mereka tidak dikabulkan. Lalu saat mereka tidak dipedulikan mereka ngambek dan meminta dibuka ruang untuk ikut meskipun batasnya sudah selesai. Anehnya, pemerintah yang seharusnya setia pada undang-undang malah mendukung kelompok ini dan meminta penyelenggara menunda pilkada. Lebih aneh lagi pemerintah pusat yang meminta penundaan pilkada ini adalah kementerian dalam negeri yang notabenenya adalah pembina politik di daerah. Seolah mereka baru kemarin mendengar kabar ada kisruh pilkada di Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanehan ketiga tidak lain tentu saja kekanak-kanakan anggota DPR-RI. Mungkin akan sangat baik kalau dari gedung terhormat itu ada sebuah chanel televisi yang menyiarkan segala kejadian di sana secara langsung. Untuk menjaga "kehormatan" anggota dewan, pelakunya bisa disamarkan dengan diubah bentuk jadi manusia kartun. Ceritanya sudah sangat menghibur, dialognya lucu dan kekanak-kanakan. Sudah cukup syarat untuk menjadi aktor di televisi. Anak-anak pasti akan tertawa terbahak-bahak menyaksikan tingkah polah anggota dewan di gedung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanehan keempat adalah kenapa aku menulis mengenai keanehan malam ini? Ini sungguh aneh. Ya sudahlah, sekarang sudah jam setengah enam malam. Udara sangat dingin. Aku harus pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-7285840728653725896?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/7285840728653725896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2012/01/yang-unik-di-awal-tahun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7285840728653725896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7285840728653725896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2012/01/yang-unik-di-awal-tahun.html' title='Yang Unik di Awal Tahun'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-NINFI9zhAeE/TxBaXER7u0I/AAAAAAAABIs/MdUl1NVDcBM/s72-c/2011-10-18%2B08.42.08.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1226566712868513353</id><published>2011-12-12T17:53:00.005+07:00</published><updated>2012-01-12T23:57:03.153+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliner'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliah di Milan'/><title type='text'>Kreasi -sesat- Pasta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-L1do-Gfh08I/TwLsK_7SLYI/AAAAAAAABGI/2zUs2v422ic/s1600/2011-12-06%2B12.37.43.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-L1do-Gfh08I/TwLsK_7SLYI/AAAAAAAABGI/2zUs2v422ic/s320/2011-12-06%2B12.37.43.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693372552652664194" /&gt;&lt;/a&gt; Salah satu tantangan yg tidah kalah besar dalam mengarungi hidup di negeri orang adalah makanan. meskipun pada awal kedatanganku di milan tidak masalah, namun lama kelamaan rindu masakan istri di Aceh akhirnya datang juga. Terbayang kuah leumak, asam keu eung, asam udeung, dll. Tapi apa boleh buat? andai SMS bisa juga dipakai untuk mengirim masakan, mungkin masalah ini tidak akan muncul.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebenarnya saya bisa memasak beberapa masakan Aceh. Hanya saja di sini hampir tidak ada bumbu yg bisa dipakai buat memasak makanan sperti di kampung, seperti buah belimbing, asam sunti, asam kuyuen, dll. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi terpaksa berfikir bagaimana menyesuikan masakan italia dengan masakan aceh. Salah satu cara negosiasinya adalah memasak pasta italia dengan cara Aceh. hasilnya seperti gambar di atas. rasanya juga maknyus... seperti mie Aceh.&lt;/p&gt; &lt;br /&gt; &lt;div style='clear: both; text-align: center; font-size: xx-small;'&gt;Published with Blogger-droid v2.0.1&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1226566712868513353?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1226566712868513353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/12/kreasi-sesat-pasta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1226566712868513353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1226566712868513353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/12/kreasi-sesat-pasta.html' title='Kreasi -sesat- Pasta'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-L1do-Gfh08I/TwLsK_7SLYI/AAAAAAAABGI/2zUs2v422ic/s72-c/2011-12-06%2B12.37.43.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-8674705489806238573</id><published>2011-08-21T21:56:00.004+07:00</published><updated>2012-01-12T23:50:57.252+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='facebook'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penipuan'/><title type='text'>Iklan [penipu] di Wall Facebook</title><content type='html'>Saya sangat teganggu dengan iklan di Wall facebook yang di-tag oleh orang yang saya tidak kenal. Awalnya saya heran, bagaimana ia bisa men-tag saya padahal saya tidak merasa mengenal dan berteman dengannya. Tapi begitu saya periksa, ternyata saya berteman dengannya di facebook. Kok bisa? padahal saya merasa tidak pernah memintanya menjadi teman saya dan tidak pula pernah menconfirm permintaan pertemanan dari dia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak masalah jika iklan-iklan itu dilandasi pada kejujuran. Namun kita semua tahu, iklan laptop, blackbarry, smartphone, kamera digital yang dit-ag di wall itu semuanya mengaku black market, alias pasar gelap. Hanya ada nomor hp penjualnya, kadang-kadang beberapa foto “bukti penjualan dan pengiriman”, dan sebuah peringatan: “Ini pasar gelap, kami menjual dengan harga rendah. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan menyangkut hukum, kami tidak bisa memberikan alamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sangat banyak yang tertipu, pasti. Entah karena lugu, entah karena ingin mendapatkan barang bagus dengan harga murah, atau  mungkin tidak tahu harus bawa uang kemana, sehingga ketika ada yang “meminta” uang dengan jalan pura-pura menjual barangpun, ia segera memberi. Penipuan ini beberapa kali sudah terungkap, namun hingga kini masih banyak tag foto beredar. Bahkan tiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berlagak jadi detektif, saya mencoba mencari tahu bagaimana penjual itu berteman denga kita tanpa kita sadari. Dari pengalaman saya, nampaknya ada beberapa cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang membuat account facebook mengatasnamakan tokoh daerah, tokoh nasional, artis  atau tokoh apapun. Lalu ia mengirim permintaan pertemanan kepada beberapa orang. Ketika orang itu menconfirm, temannya akan lihat foto sang tokoh. Banyak orang merasa senang kalau ia berteman dengan si tokoh di facebook. Macam-macam alasan, bisa jadi untuk memuluskan urusannya ke depan. Tapi tidak banyak yang mencoba bertanya, apakah itu benar-benar account facebook si tokoh? Nah… di sini mulainya. Account si tokoh akan terisi dengan sangat cepat Dalam dalam waktu yang tidak lama, ia sudah memiliki lebih dari 4000 teman. Lalu…. BERUBAH…..!!! Ia mengganti nama accountnya dengan nama toko online, lalu mentag berbagai foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang membuat account dengan nama perempuan. Biasanya namanya sedikit khas, baik khas daerah atau khas gaul. Tidak lupa memasang sebuah foto di profilnya. Foto cukup satu dan pasti perempuan muda, cantik. Biasanya sedikit seksi, atau punya mata yang indah, atau bibir yang merah, atau tatapan yang aduhai. Ia mengirim permintaan pertemanan kepada beberapa orang. Seperti proses di atas, banyak orang suka berteman dengannya dan memintanya menjadi teman. Dengan senang hati ia mengkonfirm, dan ia dengan cepat mengumpulkan banyak teman. Lalu…. BERUBAH…..!!! Ia mengganti nama accountnya dengan nama toko online, lalu mentag berbagai foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ekstrim lagi, seseorang membuat nama-nama nakal dan menggoda. Seperti “Puteri Malam”, “Gadis Manis”, “Cewek Cute”, dan lain sebagainya. Nama-nama seperti ini disusupi magnet foto-foto menawan yang dihimpun dari berbagai website. Seseorang yang berkunjung ke profilnya akan menemukan kumpulan foto tersebut dan merasa tertarik, lalu mengiriminya permintaan pertemanan. Dan seperti sebelumnya, ketika ia sudah punya cukup banyak teman dia berubah menjadi online shop penipuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sipenipu menghack account facebook tertentu yang sudah populer lalu memanfaatkan untuk menjual produknya. Saya menemukan beberapa nama toko online, tapi ketika memeriksa nama account (karena nama account tidak bisa diubah), ternyata nama seorang teman yang saya kenal. Dan ternyata sang teman mengaku, ia tidak bisa lagi membuka account facebooknya karena pasword yang bias digunakan salah. Tentu saja salah, karena si penipu sudah menggantikan. Dalam kasus ini, si penipu tidak terlalu sulit mengumpulkan teman. Ia tinggal mengganti nama, lalu mulai mengirim foto-foto penipuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati, mulai sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya, jangan berteman dengan orang yang anda tidak benar-benar kenal dengannya. Atau setidaknya dengan orang yang sama sekali tidak memberikan data diri yang lumayan, atau foto yang dapat dikenali. Bagaimanapun, facebook adalah halaman maya di mana orang bisa berkamuflase ria di belakang layar. Kita sama sekali tidak bisa pastikan apa dan bagaimana keadaan orang yang ada di balik account yang ada di facebook-nya. Jadi hati-hatilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya [lagi], segera remove account yang mentag foto produk penipuan di wall anda. Anda bisa saja tidak terpengaruh, karena sadar itu penipuan. Namun tag foto kepada anda akan masuk juga ke most recent post yang bisa dibaca oleh semua teman anda. Siapa tahu beberapa diantara mereka terpengaruh lalu terperangkap pada penipuan itu. Sudah seharusnya kita menyelamatkan teman dari godaan penipu yang terkutuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Men-tag foto d wall hanyalah satu dari beribu modus penipuan di dunia maya. Oleh sebab itu waspdalah! waspadalah! Jangan pernah terpengaruh dengan  barang harga murah yang tidak jelas. Apalagi merekomendasikan teman  untuk menjadi konsumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-8674705489806238573?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/8674705489806238573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/08/iklan-penipu-di-wall-facebook.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8674705489806238573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8674705489806238573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/08/iklan-penipu-di-wall-facebook.html' title='Iklan [penipu] di Wall Facebook'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-3514752472918455669</id><published>2011-08-15T17:22:00.003+07:00</published><updated>2012-01-12T20:41:31.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dayah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teungku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><title type='text'>Lelaki Tua yang Menamatkan al-Qur'an Tiga Hari Sekali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-WOVANjqg-0o/Tw7jBMZuBLI/AAAAAAAABGk/okk5A675fkk/s1600/The_Holy_Al_Quran_by_Shafuraa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-WOVANjqg-0o/Tw7jBMZuBLI/AAAAAAAABGk/okk5A675fkk/s200/The_Holy_Al_Quran_by_Shafuraa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696740188318729394" /&gt;&lt;/a&gt;Saat itu tahun 2006 akhir, persis masyarakat Aceh sedang disibukkan dengan pemilihan umum kepala daerah pertama setelah konflik dan tsunami. Saya berkunjung ke sebuah dayah di Simpang Mamplam, Bireun. Dayah itu tidak terlalu tua, namun ada banyak anak yatim yang ditampung di sana. Sebagian mereka adalah korban tsunami tahun 2004. Sebagian yang lain anak dari orang tua yang kurang mampu secara ekonomi. Di sana mereka tinggal sambil belajar agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tokoh sentral dalam dayah itu adalah seorang kakek tua yang dipanggil dengan sebutan "Abi". Beliau kakek berusia -saat itu- 87 tahun. Meskipun ia tidak lagi mengajar di dayah secara formal, namun nasehat-nasehat, petuah dan "ceramahnya" selalu dinantikan santri dayah. Menurut pengakuannya, ia kurang beruntung dalam hal ibadah. Sebab dalam usia yang sudah sangat tua ia baru memiliki kesempatan menunaikan haji. Yakni tahun 2003, saat usianya sudah 84 tahun. Itupun setelah sebuah proyek reklamasi pantai dilakukan pemerintah daerah dan ia mendapatkan mengganti rugi tanah dengan harga yang lumayan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh hari sebelum naik haji, ia sudah bernazar. Kalau nanti kesempatan naik haji datang dan ia bisa pulang ke Aceh dengan selamat, maka ia akan mengisi waktunya dengan membaca al-Qur'an. Setelah ia benar-benar mendapatkan kesempatan naik haji dan pulang dengan selamat, ia menunaikan nazarnya. Awalnya, ia menamatkan membaca al-Qur'an sekali sebulan. Namun lama-lama semakin meningkat. Saat saya datang ke sana, ia mengaku biasa menamatkan al-Qur'an sekali dalam tiga hari. Bahkan terkadang dalam dua hari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin (11/08/2011) di Bandara Banda Aceh, saya tanpa sengaja berjumpa kembali dengan beliau, setelah lima tahun yang lalu. Ia ternyata hendak berangkat ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Umrah. "Ini tahun ketiga saya berangkat ke sana," katanya. Artinya, dalam tiga tahun terakhir ini, setiap puasa ia pergi ke Makkah untuk berumrah. "Apa Abi masih kuat?" tanya saya. "Alhamdulillah, saya bisa berjalan sendiri meskipun dengan tongkat", katanya.Memang terlihat, di bandarapun ia berjalan sendiri. Meskipun terkadang seorang cucunya yang masih remaja memapahnya, namun jelas nampak kalau tenaganya masih sangat kuat untuk lelaki seusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan ini mengingatkan saya perjumpaan kami lima tahun yang lalu. Ia duduk di sebuah balai kayu di depan rumahnya. Sebuah al-Qur'an terbuka di depannya. Al-Qur'an itu terus terbuka sepanjang hari. Setiap ia memiliki waktu kosong ia mendekatinya, dan membaca ayat-ayat suci itu. Dengan cara ini ia menamatkan al-Qur'an tiga kali dalam sehari; "Sudah tiga tahun, sejak saya pulang dari haji", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya memilihat pada diri sendiri sambil membela diri: "Beliau bisa karena beliau tidak punya kesibukan, cuma itu saja yang dipikirkannya" kata saya dalam hati. Lalu bagian hati yang lain menjawab: "Iya, kamu memang sibuk, sangat sibuk, tidak mungkin bisa membaca al-Qur'an sepeti beliau".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-3514752472918455669?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/3514752472918455669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/08/saat-itu-tahun-2006-akhir-persis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3514752472918455669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3514752472918455669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/08/saat-itu-tahun-2006-akhir-persis.html' title='Lelaki Tua yang Menamatkan al-Qur&apos;an Tiga Hari Sekali'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-WOVANjqg-0o/Tw7jBMZuBLI/AAAAAAAABGk/okk5A675fkk/s72-c/The_Holy_Al_Quran_by_Shafuraa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-3199404698214932749</id><published>2011-07-18T09:21:00.005+07:00</published><updated>2012-01-13T00:05:59.503+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manding'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yogyakarta'/><title type='text'>Pak Roosman; Mengekspor Kerajinan Tangan ke Mancanegara</title><content type='html'>Saya tidak tamat SD. Saudara saya banyak, bapak saya miskin, tidak sanggup menyekolahkan saya,” demikian pengakuan lelaki paruh baya ini. Karena itu sejak kecil ia terdidik menjadi seorang yang bekerja keras, selain untuk membantu keluarga, ia juga mau menyekolahkan adik-adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak remaja ia sudah bekerja di sebuah home industri kerajinan kulit di desanya, desa Manding, Bantul, Yogyakarta. Tidak disangka, pekerjaan inilah yang mengantarkannya menjadi produser berbagai produk kerajinan kulit bertaraf Internasional yang diekspor ke mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namanya Pak Roosman. Saat saya datang ke tempatnya, ia besama istri dan lima karyawan sedang membuat beberapa dompet pesanan pelanggan. “Semua kerajinan kulit usaha kami dibuat manual dengan tangan, dipotong manual, dijahit juga dengan tangan, tidak pakai mesin,” kata lelaki dua putra ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan permintaan pasar luar negeri yang menginginkan semua proses pembuatan kerajinan itu harus dengan tangan. “Jadi benar-benar murni kerajinan tangan,” katanya sedikit berpromosi. Dan ia konsisten dengan cara ini agar kualitas kerajinan buatannya benar-benar memiliki standar yang layak untuk pasar luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Roosman sudah punya pengalaman panjang dengan usaha kerajinan kulit. Ia memulainya dengan menjadi karyawan pada seorang warga Manding yang sekarang sudah meninggal dunia. “Beliau adalah pelopor kerajinan kulit kampung Manding” katanya. Sebagai karyawan ia bekerja di sana selama 20 tahun. Setelah majikannya meninggal dunia, ia mendirikan usaha sendiri, dan kini sudah berjalan selama 15 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 15 tahun ini, ia sudah memiliki 43 karyawan. Setiap karyawan mendapatkan upah rata-rata Rp. 4 juta perminggu. Hal ini terkait dengan jumlah produksi si karyawan. Jumlah itu tidak sepenuhnya untuk dia, sebab si karyawan terkadang membawa pulang bahan-bahan yang siap dibuat lalu dikerjakan di rumah bersama pekerja lain, keluarganya atau tetangganya. Ia jua memiliki tiga sentra usaha, satu toko show room, satu show room dan produksi, dan satu tempat khusus produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan baku pembuatan kerajinan kulit diperolehnya dari Semarang. Baik kulit ular, sapi, domba, ikan pari, buaya, biawak dan kulit kambing. “Di Semarang ada kampung yang memproduksi kulit siap pakai. Jadi bukan saya sediakan sendiri,” katanya ketika saya tanya tentang asal kulit yang dipakai sebagai bahan dasar pembuatan tas. Demikian juga beberapa bahan lain untuk membuat tas, seperti batik, kayu, karet, dan lainnya, semua dibeli dari unit produksi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini Pak Roosman memproduksi segala macam bentuk kerajinan dari kulit, seperti berbagai macam tas, dompet, sepatu/sandal, jaket kulit, kursi, tali pinggang, dan lainnya. Ia juga menerima pesanan khusus dari pelanggan. Banyak pelanggan yang datang ke sana dengan membawa foto desain bentuk yang ia inginkan dan meminta Pak Roosman membikinkannya. Pun demikian, ia juga memproduksi beberapa kerajinan dari bahan non kulit, namun ini sekedar untuk memenuhi permintaan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kerajinan kulit Pak Roosman sudah 13 tahun belakangan ini diekspor ke Korea dan Jepang. Ke Jepang ia menjual 700 buah tas per tiga bulan. Bahkan setelah gempa Maret lalu, ia mendapatkan pesanan dua kali lipat dari biasa. Sementara untuk Korea ia menjual berapapun yang ia sanggup buat, setiap enam bulan sekali. “Mereka bayar cash, tidak ada utang-utang,” kata Pak Roosman tentang mitra usahanya. Menurut Pak Roosman, pengusaha tersebut datang langsung ke Jogja dan mengunjungi tempat produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Pak Roosman bukan tanpa hambatan. Pada masa krisis modeter tahun 90-an dulu permintaan menurun dan harga bahan baku sangat mahal. Banyak teman-temannya di Desa manding yang tutup usaha. Demikian halnya saat gempa besar melanda Bantul tahun 2006. Rumahnya hancur dan semua barang didalamnya tidak bisa digunakan lagi. Namun Pak Roosman tidak berputus asa, ia tetap merintis usahanya sehingga normal kembali seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah, beberapa merek terkenal dari luar negeri dibuat oleh Pak Roosman. “Masalah merek itu gampang, saya bisa bikin juga,” katannya. Ia mengaku banyak pengusaha yang datang ke tempatnya untuk memesan tas dengan merek tertentu dalam jumlah banyak. Dan Pak Roosman membuatnya. “Kalau ada yang bilang ia memakai tas made in Korea, Jepang, Italia, atau dari manapun, itu bisa jadi benar, namun bisa jadi itu made in Roosman di desa Manding,” katanya sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Roosman adalah potret pekerja keras, tekun, pantang menyerah, berwawasan global, dan memberdayakan. Pengusaha Indonesia harus punya visi seperti Pak Roosman, selain bekerja untuk diri sendiri, juga meberdayakan orang lain. “Hidup kita harus saling membantu,” kata Pak Roosman mengakhiri perbincangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda pergi ke pesta&lt;br /&gt;Jangan lupa memakai anting&lt;br /&gt;Kalau anda pergi ke Jogja&lt;br /&gt;jangan lupa mampir ke Manding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-3199404698214932749?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/3199404698214932749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/pak-roosman-mengekspor-kerajinan-tangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3199404698214932749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3199404698214932749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/pak-roosman-mengekspor-kerajinan-tangan.html' title='Pak Roosman; Mengekspor Kerajinan Tangan ke Mancanegara'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-5208881308753282872</id><published>2011-07-17T20:09:00.003+07:00</published><updated>2012-01-13T00:09:41.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kopi Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh'/><title type='text'>Di Aceh, Setiap Hari Ada yang Dipancung!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-K9obpe4ieaQ/Tw8TbIPkGnI/AAAAAAAABIg/sm4NNzz1F9U/s1600/2011-10-19%2B10.49.40.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-K9obpe4ieaQ/Tw8TbIPkGnI/AAAAAAAABIg/sm4NNzz1F9U/s320/2011-10-19%2B10.49.40.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696793410437126770" /&gt;&lt;/a&gt;Heboh pemancungan seorang TKW di Arab Saudi masih menyisakan pilu bagi banyak warga Indoensia, baik yang ada di Arab Saudi atau yang berada di Indonesia. Bahkan pemerintah dibuat repot dengan masalah ini. Berbagai usaha dilakukan untuk menjawab pertanyaan, tudingan, keluhan banyak masyarakat. Tapi sebatas itu, mereka tetap tidak melakukan apapun untuk menyelematkan “Ruyati” lain yang akan ikut dipancung juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan di Arab yang suka memancung manusia, di Aceh yang dipancung adalah kopi. Bukan batang kopi atau biji kopi, tapi takaran minum kopi. Di warung kopi, di mana-mana seluruh Aceh anda bisa pesan yang namanya kopi pancung. Semua orang tahu. Dalam bahasa Aceh disebut dengan “kupi pancong”, atau “kupi sikhan”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kupi pancong sama saja dengan kopi lainnya. Ia disebut “pancong” karena isinya yang tidak penuh satu gelas. Paling setengah gelas atau bahkan kurang. Rasa dan aromanya juga sama saja. Ia juga dibuat dari bubuk yang sama, diolah dengan cara yang sama dan disajikan dengan cara yang sama pula. Hanya karena isinya yang setengah, ia disebut kopi pancong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kupi pancong adalah hal yang lumrah dalam masyarakat, ada filosofi besar yang dikandungnya terkait dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh secara keseluruhan. Kupi pancong dipesan karena seseorang biasanya tidak bisa (atau tidak dibolehkan) minum kopi terlalu banyak karena terkait dengan masalah penyakitnya. Yang lain merasa tidak mau minum kopi terlalu banyak hingga memesan setengahnya saja. Ada juga yang tidak memiliki cukup uang sehingga ia memesan kopi pancong agar harganya lebih murah dari kopi biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terkadang kopi pancong juga terkait dengan sikap malas dan budaya santai dalam masyarakat Aceh. Ada ungkapan, “kupi sikhan glah, peh bereukah lua nanggroe.” (minum kopi hanya setengah gelas, tapi  omongannya hingga ke laur negeri). Biasanya orang seperti ini adalah laki-laki. Sebelum pergi bekerja mereka duduk dulu di warung kopi hingga menceritakan banyak hal. Bahkan ada yang akhirnya tidak jadi pergi bekerja karena keasyikan bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagi yang hobbi kopi, jagan sungkan-sungkan pesan kalo ke Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bi kupi pancong saboh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-5208881308753282872?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/5208881308753282872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/di-aceh-setiap-hari-ada-yang-dipancung.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5208881308753282872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5208881308753282872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/di-aceh-setiap-hari-ada-yang-dipancung.html' title='Di Aceh, Setiap Hari Ada yang Dipancung!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-K9obpe4ieaQ/Tw8TbIPkGnI/AAAAAAAABIg/sm4NNzz1F9U/s72-c/2011-10-19%2B10.49.40.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-8490326970351635207</id><published>2011-07-16T11:55:00.004+07:00</published><updated>2012-01-13T00:10:54.752+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dukun anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yogyakarta'/><title type='text'>Mbah Mul: Dukun Spesialis Pijat Bayi yang Direkom Dokter Anak</title><content type='html'>Seorang bayi tanpa pakaian telungkup di pangkuannya. Bayi itu nampaknya masih berusia empat bulan. Dua tangannya memegang pundak si bayi sambil memijat-mijat pelan. Sedikit demi sedikit turun ke punggung dan ke pantat. Kemudian ia memegang kedua belah kaki bayi, kedua tangannya, dan kepala. Dalam waktu 10-15 menit ia mengatakan dengan senyuman: “Sudah”. Lalu sepasang suami istri mengambil bayi itu dan mengenakan pakaiannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang nenek tua. Perawakannya kecil, kurus, kulitnya kehitaman dan sudah berkerut. Matanya dalam dan jauh dari sinar yang berbinar. Memang, ia sudah layak dengan perawakan itu. Usianya kini sudah 95 tahun. Ia lahir awal abad yang lalu, bersamaan dengan puncak kekuasaan Belanda di Jawa. Masyarakat memanggilnya Mbah Mul. Di adalah dukun “spesialis” pijat bayi di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu tentang Mbah Mul saat membawa anak saya berobat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Di sana saya jumpa dengan seorang polisi yang juga membawa anaknya berobat. Kami saling menceritakan anak masing-masing. Sampai ia mengatakan kalau  dulu bayinya sering dibawa kepada seorang dukun “spesialis bayi” untuk dipijat. Menurut sang polisi, dengan dipijat bayi kita akan lebih sehat. Bukan hanya demam, batuk, pilek, penyakit yang lain juga akan sembuh. Saya tertarik dan menanyakan alamat Mbah Mul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quota pijat dengan Mbah Mul hanya 15 orang perhari.  “Dulu sampai 100 orang. Sekarang karena usianya sudah sepuh, ia tidak sanggup lagi memijat banyak orang”, kata seorang orang tua pasien. Nomor antrian harus diambil jam tiga sore hari sebelumnya. Banyak yang datang sebelum jam tiga, bahkan ada yang mulai antri sejak jam satu siang. Kalau yang antri sudah ada 15 orang, maka yang datang belakangan otomatis tidak mendapatkan nomor, meskipun “loket” pengambilan nomor baru dibuka jam tiga sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama membawa anak kepada Mbah Mul, saya berjumpa dengan beragam macam orang tua dengan keluhan yang bergam pula. Sebagian memang membawa anaknya untuk pijat biasa. Namun ternyata banyak yang membawa anak ke sana karena berbagai penyakit. Seorang bapak paruh baya mambawa putra bungsunya yang sudah berusia empat tahun namun belum bisa berjalan. “Saya sudah bawa sampai ke Singapura, tapi tidak bisa sembuh. Alhamdulillah sejat dipijat Mbah Mul, kaki anak saya sudah mulai bertenaga,” katanya. Seorang ibu muda mengaku anak perempuannya tidak bisa bicara padahal usianya sudah tiga tahun. Dan setelah dipijat Mbah Mul sekarang ia sudah mengeluarkan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, sepuluhan orang yang datang memijat anak pada hari itu memiliki kisah yang berbeda. Seorang bapak menceritakan kalau anaknya tidak bisa bicara karena kebanyakan minum obat. Sejak kecil anaknya terus sakit-sakitan dan dokter terus memberinya obat. Dokter tidak bisa mengobati anaknya untuk bisa bicara. Setelah dibawa kepada Mbah Mul, beliau mengatakan kalau si anak sudah diracuni oleh obat. Jadi Mbah Mul akan mengeluarkan sisa-sisa obat yang masih ada dalam tubuh si anak yang sudah menumpuk agar ia bisa bicara. Dan menurut orang tersebut, sekarang anaknya sudah bisa mengucapkan banyak kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan beragam kasus yang lain setelah beberapa kali memabwa anak saya kepada si Mbah. Secara pribadi saya sendiri juga merasakan anak saya lebih sehat setelah dipijat sama Mbah Mul. Antara lain tendangan kakinya sangat kuat, demikian juga genggaman jarinya. Banyak yang menyangka anak saya sudah berumur 5 atau 6 bulan. Sebab ia nampak lebih besar dari bayi seusianya. Apakah karena pijatan Mbah Mul? Wallahu’a'lam. Namun saya melihat anak saya tidur lebih nyenyak setelah dipijat, lebih ceria, lebih bertenaga. Dan sekarang saya membawanya kepada Mbah Mul setiap 10 hari  atau dua minggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada Mbah Mul. Apa benar dokter anak merekomendasikan Mbah Mul? Saya yakin tidak semuanya. Namun saya berjumpa dengan seorang laki-laki yang mengaku abangnya adalah dokter anak di Yogyakarta. Anaknya terserang ….mmm… saya tidak tahu namanya, seorang bayi yang terjadi pembengkakan di kepala hingga kepalanya membesar. Si bapak stress berat, sebab anak pertamanya langsung terkena penyakit berat seperti itu. Tidak ada jalan lain kecuali dilakukan bedah kepala dan dipasang semacam selang untuk menyambung urat yang putus atau menyempit di dalam kepala. Sang kakak mengatakan sebaiknya pergi ke Mbah Mul. Dan ketika sampai kepada Mbah Mul, ternyata itu bukan kasus pertama yang ditanganinya. Sebelumnya sudah ada beberapa orang yang memiliki cerita yang sama. Dan kini, si anak sudah berusia 3,5 tahun. Ia nampak sehat dan gembira. Tidak nampak ada tanda-tanda ia menderita penyakit berat semasa bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sihir? Jampi-jampi? Sama sekali bukan. Itu sebuah keterampilan yang dipraktekkan Si Mbah sejak ia Muda. Pada masa mudanya dulu, ia merupakan tukang pijat Sultan Yogya. Bahkan sepuluh tahun yang lalu, ia masih memijat orang dewasa. Terutama perempuan hamil dan menyusui. Namun karena sekarang usianya sudah sangat tua, ia hanya menerima memijat bayi. Dan sepanjang sejarah hidupnya, ia sudah memijat ribuan bayi. Dari bayi orang kaya hingga orang miskin. Ia tidak menentukan tarif. Cukup memberikan seiklasnya. Ia tidak menjual obat. Sebab pijat adalah obat satu-satunya. Secara pribadi, saya puas membawa bayi kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-8490326970351635207?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/8490326970351635207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/mbah-mul-dukun-spesialis-pijat-bayi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8490326970351635207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8490326970351635207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/mbah-mul-dukun-spesialis-pijat-bayi.html' title='Mbah Mul: Dukun Spesialis Pijat Bayi yang Direkom Dokter Anak'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6066136833906505378</id><published>2011-07-15T16:33:00.004+07:00</published><updated>2011-07-16T12:02:15.482+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penelitian'/><title type='text'>Baru 32 Tahun Sudah Punya Dua Cucu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-FL9D3A_8VxY/TiEbQutTV6I/AAAAAAAAA30/XuoBeiMTHTA/s1600/004.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 154px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-FL9D3A_8VxY/TiEbQutTV6I/AAAAAAAAA30/XuoBeiMTHTA/s200/004.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629810983419729826" /&gt;&lt;/a&gt;Tetangga rumoh kontrakan saya di Jogja adalah keluarga kecil dengan dua orang anak. Yang sulung perempuan dan adiknya laki-laki. Si kakak baru berusia 18 bulan dan adiknya masih 2 bulan. Bapaknya bekerja serabutan. Keluar pagi pulang petang. Si ibu tidak ada pekerjaan sama sekali. Ia nampak masih sangat muda. Bahkan, masih kekanak-kanakan. Saya baru tahu beberapa hari yang lalu kalau usianya kini baru 16 tahun. Ia menikah saat masih kelas dua SMP dengan kakak kelasnya di SMP yang kini jadi suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru 16 tahun sudah punya dua anak, itu sungguh mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lebih  mengejutkan saya, ternyata ibunya si perempuan baru berusia 32 tahun! dan baru dua minggu yang lalu melahirkan anaknya yang keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dua pengalaman sebelumnya. Pertama di Aceh Jaya, tahun 2006 saat saya bekerja sebagai relawan di Palang Merah Inggris dalam pembangunan rumah korban sunami. Salah satu penerima manfaat kami adalah seorang ibu dengan sua orang anak. Si ibu tidak memiliki suami, bukan tidak punya, tapi suaminya sudah merantau ke Malaysia saat konflik dan tidak pernah mengirimkan berita apapun selama ia pergi. Selama itu pula si ibu harus menghidupi dua anaknya. Yang tua, saat itu sudah berumur tujuh tahun. adinya lima tahun. Mau tahu berapa usia si ibu? 19 tahun!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah dusun pedalaman di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah tempat saya pernah melakukan penelitian saya mendapatkan fenomena yang serupa. Selama penelitian saya tinggal di rumah kepala dusun. Anak laki-laki kadus adalah seorang kakek tiga cucu. Usia si “kakek” baru 38 tahun. Sementara istrinya, saat saya di sana masih berusia 32 tahun. Dan cucu tertuanya berusia 5 tahun. Artinya, ia berusia sekitar 27 tahun saat pertama kali menimbang cucu. Anda bisa bayangkan usia berapa ia menikah dan usia berapa ia melahirkan. Kalikan juga, usia berapa anaknya menikah hingga kini ia memiliki cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sungguh fenomena memprihatinkan. Anak-anak yang seharusnya masih menikmati masa sekolah dan masa bermain tiba-tiba harus menerima kenyataan hidup yang berat. Jangan tanya soal pendidikan. Itu jelas sama sekali tidak pernah dipikirkan lagi. Apalagi masalah kesehatan. Dukun dan tabib adalah pilihannya. Lebih menyedihkan adalah biaya hidup sehari-hati. Suaminya masih tergolong anak-anak yang jika belum menikah ia masih ditanggung oleh orang tuanya. Sekarang ia dibebani tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang mau di salahkan. Namun hampir semua pihak menyumbangkan sedikit kesalahan yang berujung pada munculnya masalah ini. Pemerintah jelas tidak sukses menjelaskan amsalah KB dan kesehatan reproduksi kepada masyarakat. Bukan hanya masyarakat pedesaan yang kadang jauh dari jangkauan informasi, di perkotaan sekalipun masih banyak kita temukan anak yang sudah memiliki anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ini pengaruh media yang menyiarkan gaya hidup hedonis dan pergaulan dengan kecenderungan pada relasi seksual antara laki-laki dan perempuan. Saat ini, berita tentang pacaran dan pasangan berevolusi dengan sangat. Isue utama yang ditekankan adalah pasangan muda yang mengedepankan hubungan laiknya suami istri. Semakin jauh melangkah dalam relasi seksual tanpa nikah dianggap semakain modern dan semakin cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh agama juga menyumbangkan masalah. Doktrin agama yang tidak dipahami dalam konteks perkembangan zaman dan perubahan budaya menyebabkan banyak perempuan yang harus menerima kenyataan nikah muda, baik karena dipaksa oleh orang tuanya, juga karena merasa ia “hanya seorang perempuan” yang tidak diizinkan oleh agama memilih hidup yang lebih baik. Bahkan tidak jarang tokoh agama pula yang mengambil kesempatan ini dengan menikahi gadis belia dan mengorbankan masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling bertanggung jawab sesuangguhnya adalah masyarakat itu sendiri. bagaimanapun sebuah kontruksi masyarakat yang bagus dan sadar akan pendidikan dan kesehatan bisa mencegah lahirnya “nenek-nenek” muda di masa depan. Sebab “nenek muda” ini jelas bukan sebuah prestasi, malainkan sebuah masalah sosial yang semakin membuat masalah sosial lainnya bermunculan. Seperti pengangguran, gelandangan, pengemis, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6066136833906505378?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6066136833906505378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/baru-32-tahun-sudah-punya-dua-cucu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6066136833906505378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6066136833906505378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/baru-32-tahun-sudah-punya-dua-cucu.html' title='Baru 32 Tahun Sudah Punya Dua Cucu'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-FL9D3A_8VxY/TiEbQutTV6I/AAAAAAAAA30/XuoBeiMTHTA/s72-c/004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-3127356160813091723</id><published>2011-07-02T14:08:00.005+07:00</published><updated>2012-01-12T21:01:28.512+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Duomo Milan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warung kopi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata Eropa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan ke Eropa'/><title type='text'>Budaya Ngopi; antara Aceh dan Milan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-RtMmzr5C6Zg/Tw7l_t2X8nI/AAAAAAAABGw/r5rAeRl3I60/s1600/2011-10-24%2B12.41.27.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-RtMmzr5C6Zg/Tw7l_t2X8nI/AAAAAAAABGw/r5rAeRl3I60/s320/2011-10-24%2B12.41.27.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696743461472432754" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa yang tidak kenal kopi? Mau tidak mau, suka tidak suka, saya kira semua orang di dunia ini mengenalnya. Bedanya, sebagian orang menjadikan kopi sebagai teman akrab, sebagian yang lain teman biasa, dan tidak jarang pula menjadi musuh bebuyutan karena dianggap (atau bahkan memang) mendatangkan penyakit baginya. Namun, bagaimanapun, kopi tetap dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kopi menjadi minuman paforit banyak suku. Apalagi tanaman kopi bisa hidup di banyak tempat dengan “mudah”. Sehingga kita sering dengar istilah “petani kopi” yang berarti sekelompok orang yang bekerja untuk menanam kopi, menjaga, memanen dan mengolahnya. Kondisi ini pula yang selanjutnya memunculkan personal-personal yang sangat menyukai kopi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu suku bangsa yang “gila” kopi adalah orang Aceh. Bagi yang pernah datang ke Aceh tahu bagaimana kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat keseharian. Di Banda Aceh misalnya, anda tidak perlu capek-capek bikin kopi sendiri. Berbagai jenis kopi, aroma kopi, ada di warung kopi dengan harga terjangkau. Lebih mudah lagi, warung kopi itu ada di mana-mana, sangat mudah mencarinya. Dari yang paling kecil hingga yang besar. Dari pinggiran hingga pusat kota. Tersebar merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Milan (dan Italia pada umumnya),  minum kopi juga menjadi sebuah budaya yang tidak teprisahkan dari kultur  masyarakatnya. Sama seperti di Aceh warung kopi dengan mudah bisa diperoleh di Milan. Di mana-mada ada Bar atau cafe yang menyedikan kopi. Kopi menjadi minuman paforit juga di kantin kampus, di terminal, di stasion kereta api, dan lainnya. Singkatnya, kopi adalah minuman yang sangat populer di Milan (juga Italia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata pepatah “beda padang beda ilalang, beda lubuk beda ikannya”, antara Aceh dan Milan memiliki budaya minum kopi yang berbeda.  Beberapa perbedaannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kebanyakan orang Aceh mengkonsumsi kopi dalam gelas sedang yang diisi dengan kopi encer ditambah gula. Meskipun ada beberapa orang yang suka minum kopi pahit, namun itu bukanlah fenomena umum di kota-kota. Anak muda dan lelaki paruh baya biasanya memesan kopi manis. Bahkan sangat manis hingga rasa pahit kopi jadi hilang. Sedangkan di Milan, orang sangat suka minum espresso, kopi pahit yang kental yang diisi dalam gelas kecil, sebesar jempol kaki. Itupun tidak penuh, mungkin hanya setengah. Beberapa orang memang menambahkan gula ke dalamnya, namun yang lebih umum, orang Milan meminum kopi itu apa adanya. Pahitnya menusuk jantung dan kepala. Tapi sedapnya menyebar ke seluruh tubuh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Orang Aceh memiliki warung kopi yang banyak, besar dan rame. Kalau anda masuk ke warung kopi, anda akan mendengar suara “gemuruh” seperti di pasar. Semua orang berbicara, tertawa, bercerita, berdiskusi, seperti menjerit. Kalau mau minum kopi dengan tenang dan senyap memang bukan warung kopi tempatnya. Kecuali pada waktu tidak banyak orang, atau di warung kopi yang tidak populer. Nah, ini sangat berbeda dengan di Milan. Banyak warung kopi tidak menyediakan tempat duduk. Kalau mau ngopi, anda masuk ke dalam, memesan kopi yang anda inginkan, dan minum sambil berdiri. Kadang ada satu set meja kursi, namun itu jarang dipakai. Orang lebih suka minum kopi sambil berdiri, bahkan kalau mereka berdua atau bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;di Aceh, kopi diolah secara tradisional. Di warung kopi Banda Aceh dan Aceh Besar, sebelum kopi dituangkan ke dalam gelas, kopi disaring dengan kain khusus sehingga tidak ada serbuk kopi yang masuk ke dalam gelas. Di beberapa kabupaten lain, kopi dihidangkan bersama bubuk kopi yang masih kasar sehingga setelah selesai diminum di dalam gelas akan tersisa ampasnya. Orang Aceh mengatakan kopi pertama dengan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kupi sareng&lt;/span&gt;” dan kopi kedua dengan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kupi tubroek&lt;/span&gt;”. Di Milan, pada umumnya kopi disajikan dengan menggunakan mesin modern. Bubuk kopi hanya dimasukkan dalam sebuah alat pengolahan. Ketika ada yang memesan, penjual akan mengeluarkan perasan kopi dari alat tersebut. Ini membuat kopi yang keluar adalah ekstrak kopi yang sangat kental dan rasanya juga sangat nikmat. Sebab ia adalah  “uap kopi” yang memiliki aroma menusuk hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Di Aceh pada umumnya hanya ada kopi hitam saja dan tidak banyak pilihan olahan. Selain kopi hitam, paling kita bisa memesan kopi susu, kopi sanger (kopi+susu+gula), kopi kocok, dan kopi telor. Namun kopi hitam sangat pupuler dan yang lainnya hanya insidentil dan disukai oleh orang tertentu saja. Di Milan, ada banyak olahan kopi dan sangat variatif. Dua kopi yang sangat terkenal adalah espresso dan capucino. Kalau espresso adalah kopi hitam pekat, capucino adalah kopi campur susu yang lumayan “terang”. Dua-duanya populer dan dua-duanya memiliki kenikmatan tersendiri yang masyaallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt; Di Aceh kopi pada umumnya ditanam sendiri  oleh orang Aceh. Memang, kebanyakan berasal dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua kabupaten di dataran tinggi Aceh yang memiliki kebun kopi yang maha luas. Ada juga kopi yang di datangkan dari Sumatera Utara, hasil produksi dari dataran tinggi Berastagi. Namun masyarakat Aceh pada umumnya memiliki kebun kopi untuk kebutuhan sendiri mereka, terutama masyarakat pedesaan Aceh. Lantas dari mana kopi yang ada di Milan? Seorang teman yang saya temui mengatakan kalau kopi di Milan diimpor dari luar. Di Italia sendiri tidak banyak tumbuh kopi, mereka mendatangkannya dari negara lain. Salah satu negara pemasok kopi ke Milan adalah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda? saya jadi ingat sebuah perusahan kopi asal Belanda yang ada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Mereka menampung kopi masyarakat dan mengirimkannya langsung ke Belanda. Apakah perusahaan ini yang memasok kopi ke Milan? Boleh jadi. Kalu benar, berarti saya sudah minum kopi Aceh di Milan. Hehehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, bagaimana budaya minum kopi di tempat anda? Saya yakin pasti menarik!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-3127356160813091723?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/3127356160813091723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/budaya-ngopi-antara-aceh-dan-milan.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3127356160813091723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3127356160813091723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/07/budaya-ngopi-antara-aceh-dan-milan.html' title='Budaya Ngopi; antara Aceh dan Milan'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-RtMmzr5C6Zg/Tw7l_t2X8nI/AAAAAAAABGw/r5rAeRl3I60/s72-c/2011-10-24%2B12.41.27.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-8080071491856925086</id><published>2011-06-28T11:45:00.002+07:00</published><updated>2011-07-07T09:27:59.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliah di Milan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata Eropa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan ke Eropa'/><title type='text'>Sehari Bersama Keluarga Italia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Unzexgc2EHQ/Tglc0OGKseI/AAAAAAAAA1E/FvfIVTk3PVY/s1600/phpiqWvqZPM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Unzexgc2EHQ/Tglc0OGKseI/AAAAAAAAA1E/FvfIVTk3PVY/s200/phpiqWvqZPM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5623127661955690978" /&gt;&lt;/a&gt;Saya beruntung, dalam sebuah kunjungan ke Milan beberapa waktu yang lalu, saya bisa tinggal dengan sebuah keluarga asli Italia. Awalnya, saya diperkenalkan oleh seorang teman kepada seorang perempuan yang menurut saya hampir sebaya saya juga, namanya Amalia. Ia tinggal di Pavia, sebuah kota yang tidak jauh dari Milan. Ia mengundang saya ke kotanya untuk melihat kota lama peninggalan Romawi kuno. Dan pada satu hari minggu, saya memenuhi undangannya mengunjungi Pavia. Hanya 30 menit dari Milan dengan kereta api.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mampir ke rumahnya, saya diajak makan siang di sebuah desa pinggiran, tidak jauh dari Pavia. Perjalan ke sana butuh waktu 30 menit. Namun karena ini perjalanan pertama saya ke Eropa, saya merasa semua indah. Pohon-pohon yang masih kering, lahan gandum yang siap tanam, dan pegunungan di kejauhan yang nampak ditutup salju. Sungguh memikat hati. Apalagi Amalia selalu menjelaskan tentang semua tempat yang kami lewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang kami tuju adalah sebuah bangunan kecil namun sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ia ada di tengah ladang gandum yang maha luas. Rumah itu nampak seperti tidak terurus. Di depannya tumbuh rumput hijau yang memanjang dan tidak dirapikan. Ada sampah dedauanan di mana-mana. Bebeberapa pohon yang tumbuh di depan rumah juga seperti tidak dirapikan. Namun kondisi ini menunjukkan sebuah suasana pedesaan yang sangat khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si empunya rumah adalah keluarga muda yang punya tiga orang anak, dua perempuan dan yang bungsu laki-laki, masih balita. Clara, sanga istri mengaku tidak kuliah. Setelah tamat SMU ia menikah dan mengurus anaknya. Karenanya, ia bekerja sebagai desainer sekaligus penjahit di rumahnya. Semula saya kurang yakin, sebab dalam benak saya, kalau ia desainer dan penjahit, pasti ia butuh tenaga kerja. Sementara itu tidak terlihat di rumahnya. Setelah saya tanya, ternyata ia mendesain sendiri dan menjahit sendiri baju yang akan dijual. Ia mengaku memilih jenis kain yang bagus, membuatnya dengan bagus pula sehingga bisa dijual mahal. Baju hasil desainnya dijual di pusat kota Milan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si suami, Fabio, adalah laki-laki muda yang tinggi. Ia mengaku seorang petani. Ia pernah bekerja di Inggris 9 bulan sebagai pelayan restoran. Karenanya ia bisa bahasa Inggris, meskipun sudah tidak lancar lagi karena sudah lama. Namun kemampuan bahasa ini membuat saya merasa nyaman berada di sana. Apalagi selama ada saya, mereka tidak bicara bahasa Italia, melainkan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fabio ahli masak. Dialah yang memasak makan siang untuk kami. Ia mengatakan kalau ia memasak sesuatu yang berbeda kepada saya. Katanya” “Amalia bilang kalau kamu seornag muslim. Kami hanya tahu kalau muslim tidak boleh makan babi. Saya masak pasta dengan labu untuk kamu. Saya masakkan dalam panci masak air, supaya tidak ada bekas babi.” Sungguh saya terharu. Grazie Fabio. Mereka menghargai keimanan saya dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada yang mengesakan saya. Anak perempuan Clara yang berusia tujuh tahun digigit anjing saat ia sedang bermain hingga berdarah. Ia tidak menjerit, tidak menangis. Ia datang kepada ibunya dan mengatakan kalau ia digigit anjing. Karena Clara sedang membereskan piring di meja, ia meminta kakaknya membersihkan luka si adik dengnan tissue. Setelah darah dibersihkan, mereka kembali bermain, termasuk anjing yang barusan menggigitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang sore kami kembali ke Pavia, menuju rumah Amalia. Saya diperkenalkan dengan suami Amalia. Ia mengaku pernah pergi ke Bali lima tahun yang lalu. Dan masih bisa mengucapkan “Apa Kabar” denga nada dan intonasi khas Italia. Ia seorang punk, namun juga seorang professor sejarah Eropa Klasik yang mengajar di sebuah Universitas di Bologna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-8080071491856925086?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/8080071491856925086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/saya-beruntung-dalam-sebuah-kunjungan.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8080071491856925086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8080071491856925086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/saya-beruntung-dalam-sebuah-kunjungan.html' title='Sehari Bersama Keluarga Italia'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Unzexgc2EHQ/Tglc0OGKseI/AAAAAAAAA1E/FvfIVTk3PVY/s72-c/phpiqWvqZPM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-5113651620508673045</id><published>2011-06-25T19:39:00.002+07:00</published><updated>2011-06-25T19:42:20.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TKW'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='haji'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makkah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TKI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arab Saudi'/><title type='text'>Tunda Naik Haji 5 Tahun!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-dFVYkxeJMRU/TgXXfgwSRhI/AAAAAAAAA08/XNcMSun2XRE/s1600/haji.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-dFVYkxeJMRU/TgXXfgwSRhI/AAAAAAAAA08/XNcMSun2XRE/s200/haji.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622136646210307602" /&gt;&lt;/a&gt;Ruyati yang dihukum pancung beberapa hari yang lalu hanyalah salah satu dari sekian banyak pekerja migran Indonesia yang mendapatkan kekerasan bahkan berujung pada kematian di Arab Saudi. Kita masih belum lupa peristiwa penyiksaan kepada Sumiati. Bahkan dalam daftar "tunggu" ada dua puluhan TKW lain yang akan mendapatkan perlakuan yang sama. Hukuman pancung! Apakah kita akan tetap diam dan membiarkan hukum yang zalim itu mempermalukan kita? Bayangkan kalau itu menimpa sanak kerabat anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya sebagai bangsa, kita ahrus malu. Hingga saat ini tidak ada bangsa miskin manapun di dunia yang mengirimkan tenaga kerja sektor domestik ke Arab Saudi. Indonesia satu-satunya negara yang memeras perempuan berpendidikan rendah untuk mendapatkan devisa! Ini menjadi bahan ejekan dan cemoohan dari negara lain. Bagaimana mungkin sebuah negara besar menambang devisa dari darah dan keringat kaum perempuan. Apalagi itu dilakukan di Arab Saudi, negara yang terkenal di seluruh jagat tentang perilaku warganya kepada perempuan asing yang bekerja di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai respon atas apa yang dilakukan pemerintah Saudi terhadap warga Indonesia sudah seharusnya kita melayangkan protes besar-besaran. Menurut saya, kita harus menunda pelaksanakan ibadah haji hingga pemerintah Saudi menjamin tegaknya hukum yang berperikemanusiaan kepada pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di sana. Kalau ini dilakukan, maka warga saudi akan bersimpuh di lutut pemerintahnya untuk segera mengabulkan tuntutan Indonesia. Soalnya, mereka akan kehilangan masa panen yang terjadi pada musim haji. Apalagi jamaah haji asal Indonesia terkenal dengan budaya belanjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini mengganggu iman umat Islam? Menurut saya tidak juga. Haji adalah kewajiban personal yang harus dilakukan kalau mereka mampu. Mampu bukan hanya masalha biaya, kesehatan, dan anak yang ditinggalkan selama melaksanakan haji. Dalam konteks modern mampu juga terkait dengan masalah diplomasi politik. Bebeda dengan zaman dahulu di mana Makkah adalah milik bersama umat Islam, sekarang Makkah adalah salah satu wilayah administratif negara Saudi. Siapapun kalau mau masuk ke sana harus memenuhi persyaratan administrasi, pun untuk beribadah. Dengan berbagai kekerasan yang dilakukan Arab kepada Indonesia, sudah saatnya kita memprotesnya. Dan protes administrasi salah satu yang memiliki bergaining yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau mau orang Indonesia yang bekerja di Saudi mendapat perlakukan yang baik, kita bisa melakukanya dengan menunda haji sampai ada perjanjian untuk memberikan pelayanan yang lebih baik pada pekerja migran kita di sana. Saya yakin pemerintah Saudi akan melakukannya. Sebab mereka akan sangat rugi jika jamaah terbesar haji dan umrah menunda keberangkatannya. Dan mereka tidak akan mau kehilangan pendapatan hanya gara-gara ulang waraganya. Mungkin, seminggu setelah protes itu, pemerintah Saudi sudah mengeluarkan pernyataan akan melindungi TKW yang ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana, apa anda sepakat dengan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-5113651620508673045?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/5113651620508673045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/tunda-naik-haji-5-tahun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5113651620508673045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5113651620508673045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/tunda-naik-haji-5-tahun.html' title='Tunda Naik Haji 5 Tahun!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-dFVYkxeJMRU/TgXXfgwSRhI/AAAAAAAAA08/XNcMSun2XRE/s72-c/haji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-219255489207047815</id><published>2011-06-25T19:31:00.003+07:00</published><updated>2011-06-25T19:38:50.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengemis cilik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='banda Aceh'/><title type='text'>Inilah Alasan Kenapa Saya Tidak Memberi Sedekah kepada Pengemis Cilik!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-aQErJVhDE4E/TgXWrzf6uAI/AAAAAAAAA00/KljX_HoMw-w/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 100px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-aQErJVhDE4E/TgXWrzf6uAI/AAAAAAAAA00/KljX_HoMw-w/s200/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622135757888731138" /&gt;&lt;/a&gt;Hampir di semua kota di Indonesia, pengemis menjadi salah satu peandangan yang tidak bisa dihindari. Di perempatan jalan yang ada lampu merah, di kafe-cafe, di pasar dan tempat lainnya. Dan dari sekian banyak pengemis itu masih berumur di bawah sepuluh tahun. Bahkan sepertinya ada yang masih berusia lima tahun ke bawah. Beberapa bayi bahkan digunakan oleh orang tuanya untuk mendapatkan rasa iba dari masyarakat lantas memberikan bantuan, sedekah kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rasa iba terkadang menjadi alasan bagi kita untuk menjulurkan tangan memberikan bantuan kepada mereka. Tidak tega juga melihat muka sedih memelas mereka. Meskipun kita terkadang terfikir kalau itu hanya pura-pura, namun terkadang tetap tidak tega. Oke kalau benar itu pura-pura, bagaimana kalau ia benar? Apa yang akan ditanyakan Tuhan kelak ketika kita melihat hamba-Nya yang kelaparan tapi kita tidak membantu. Mungkin itu alasan sehingga mereka merogoh kocek memberikan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya salah seorang yang berfikir demikian dua tahun yang lalu. Saya merasa iba dengan kehidupan mereka. Dengan hanya memberikan Rp. 500 atau Rp. 1000,- rasanya tidak akan mengurangi apa yang ada di kantong saya. Bahkan tidak terlalu berat kalau memberikan Rp. 500 beberapa kali dalam sehari. Namun itu dulu. Sejak tahun 2008 awal saya sudah memutuskan untuk tidak meberikan sedekah kepada pengemis cilik di pinggir sajalan atau yang datang ke rumah-rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah alasan saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari saya sedang shalat zuhur di sebuah masjid di kota saya. Saat itu pas bulan puasa. Di masjid itu sering berkumpul pengemis, tua muda dan anak-anak. Biasanya mereka berkumpul di gerbang depan, di mana jamaah keluar masuk menuju masjid/pulang. Di sana mereka menengadahkan tangan, atau meletakkan kemasan air mineral gelasan di depannya. Jamaah yang merasa mau membantu memasukkan uang ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak yang saya taksir berumur tujuh tahun berada di dalam masjid. Setelah shalat saya mendekatinya. Saya berniat akan mebelinya satu stelan baju untuk si anak untuk menyambut hari raya yang segera akan tiba. Saya melihatnya sedang menghitung uang recehan yang baru dikeluarkan dari tas kecil yang selalu dibawanya. Di sisi kanannya ada setumpuk uang seribuan yang sudah disusun rapi. Di depannya ada uang pecahan koin yang masih berhamburan belum dikelompok-kelompokkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendekatinya dan bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah dapat berapa dek?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang ini Rp. 350.000," katanya sambil menunjukkan uang seribuan plus beberapa uang pecahan besar di sisinya. "Yang ini belum dihitung" katanya sambil menunjukkan uang receh di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.... dapat banyak hari ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngak bang. Biasanya, siang begini sudah Rp. 500 ribu. Sekarang mungkin Rp. 400 ribu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah... si anak ini luar biasa. Rp. 500 ribu hanya sepagi. Bagimana kalau sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang biasanya sehari dapat berapa," saya coba tanya sama si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngak tentu bang. kalau puasa begini bisa sampai Rp. 1 juta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ngak puasa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sehari Rp.300 bang" jawabnya polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooo... kamu sudah ada baju baru untuk lebaran?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa lembar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sembilan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak punya pertanyaan lagi. Niat membantu mebelikan selembar baju baru untuk si anak langsung hilang. Apalah artinya selembar baju baru untuk anak 7 tahunan di tengah sembilan baju baru yang sudah ia miliki plus penghasilan satu jutaan sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu saya tidak pernah memberikan uang lagi kepada pengamis cilik. Apalagi saya punya pengalaman memata-matai seorang perempuan paruh baya yang nampak sehat menggendong anaknya meminta sedekah, dari ia memulai aksinya di perempatan jalan sampai ia pulang kembali ke rumahnya. Nanti akan saya ceritakan...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-219255489207047815?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/219255489207047815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/inilah-alasan-kenapa-saya-tidak-memberi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/219255489207047815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/219255489207047815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/inilah-alasan-kenapa-saya-tidak-memberi.html' title='Inilah Alasan Kenapa Saya Tidak Memberi Sedekah kepada Pengemis Cilik!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-aQErJVhDE4E/TgXWrzf6uAI/AAAAAAAAA00/KljX_HoMw-w/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-5284679665004184457</id><published>2011-06-25T19:17:00.002+07:00</published><updated>2011-06-25T19:25:10.767+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips menulis'/><title type='text'>Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-6-9A0_nhS_Q/TgXTmP5UygI/AAAAAAAAA0k/k1pZuTaVvk0/s1600/writer.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 198px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-6-9A0_nhS_Q/TgXTmP5UygI/AAAAAAAAA0k/k1pZuTaVvk0/s200/writer.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622132363897391618" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa tulisan di kompasiana, di blog, di koran, bahkan beberapa buku dipublikasi dengan tema yang mirip: Menulis cepat hasil berlipat. Cepat dalam arti tulisan bisa dibuat dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak perlu mengorbankan pekerjaan utama, tidak juga harus bolak-balik ke perpustakaan apalagi bongkar-ongkar arsip yang berdebu di museum. Hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja dalam satu hari, tulisan selesai. Sementara hasil berlipat sering dimaknai dengan menjadikan buku sebagai best seller, banyak laku, penulis dikenal, diajak seminar, presentasi hasil buku, dan dapat banyak uang. Mungkinkah ini terjadi?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit. Pengalaman beberapa penulis membuktikan bagaimana mereka tiba-tiba menjadi populer dengan karya yang dihasilkannya secara instant.  Seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai pendiam, pemalu dan kuper, tiba-tiba sudah menjadi motivator dengan pakaian necis dan penghasilan menawan. Ia yang biasanya paling jauh hanya ke luar kabupaten tiba-tiba sudah diundang sampai ke luar pulau. Hanya karena sebuah bukunya yang tiba-tiba menjadi best seller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menjadi tenar dengan cepat bukan hal yang tidak mungkin, setidaknya berdasarkan pengalaman yang sudah kita lihat sendiri di sekitar kita. Kalau anda mau, dengan beberapa motivasi yang diberikan orang yang berpengalaman, mungkin anda akan mencapai hal yang sama. Anda bisa meyelesaikan dalam waktu tertentu, mempublikasikannya, menjadi best seller, anda jadi terkenal dan jadi kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, secara pribadi saya tidak percaya dengan karya instant memiliki hasil maksimal. Bagi saya sebuah karya yang baik harus lahir dari kerja keras dengan menghabiskan waktu untuk menghasilkannya. Jika anda mau menerbitkan buku yang berkualitas, maka tingkat kualitas buku itu tergantung pada seberapa berkualitas waktu yang anda habiskan dalam menulis buku tersebut. Jika anda menulis buku sambil ngobrol ngudal-ngidul sama teman-teman, atau sambil minum kopi dan makan kacang goreng, maka kualitas buku juga setara dengan kualitas segelas kopi. Buku ia hanya sedap sesaat, menebarkan aroma ke mana-mana, diteguk sekali, habis lalu dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, sebuah buku yang berkualitas harus ditulis dengan serius, menghabiskan banyak waktu yang berkualitas, bersungguh-sungguh mendapatkan bahan pendukung, melakukan klarifikasi fakta dan data, menunjukkan kalau si penulis paham dengan apa yang ditulisnya. Buku dengan kerja keras akan berimplikasi pada hasil buku yang berkualitas pula. Mungkin, buku anda memang tidak laris di awal penerbitannya, namun buku yang berualitas akan menjadi saksi sejarah sepanjang zaman. Ia tidak lapuk oleh sinar, tidak lapuk oleh hujan. Hanya kiamat yang akan menghapusnnya dari dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernha mengikuti sebuah pelatihan menulis dengan seorang motivator dari Jakarta. Sang motivator mengaku telah menulis 38 buku dalam tiga tahun terakhir yang semuanya best seller. "38 buku dalam 3 tahun?" saya benar-benar terkejut. Apalagi ia mengatakan kalau buku-buku itu best seller. Saya memang bukan kutu buku, namun hampir semua toko buku di kota saya bisa saya kenali judul-judul buku yang dijual di sana. Sebab setiap minggu saya menghabiskan waktu berjam-jem di toko buku untuk baca buku gratis. Namun saya tidak mengenal penulis ini, tidak tahu buku apa yang ditulisnya sampai ai sendiri mengakui dalam forum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedakan dengan beberapa penulis beberapa buku yang menurut saya luar biasa. Bukunya beberapa saja. Namun dari sepuluh tahun yang lalu dipublikasi hingga saat ini, bukunya masih dicari orang. Tidak ada lebel best seller di depan bukunya. Namun banyak orang tertarik mendapatkannya. Karena di dalam buku itu ada ilmu, ada pengetahuan, ada kebijaksanaan universal yang tidak hilang oleh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan mau menulis buku instant. Tulislah buku dengan serius, dengan hati, kerja keras, sebab hanya dengan demikian bukumu akan abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-5284679665004184457?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/5284679665004184457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/menulis-instant-hasil-maksimal.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5284679665004184457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5284679665004184457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/menulis-instant-hasil-maksimal.html' title='Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-6-9A0_nhS_Q/TgXTmP5UygI/AAAAAAAAA0k/k1pZuTaVvk0/s72-c/writer.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1680875421594118487</id><published>2011-06-25T12:15:00.001+07:00</published><updated>2011-06-25T12:21:26.876+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TKW'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TKI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arab Saudi'/><title type='text'>Tidak Perlu ke Arab! Harta TKI Ada di Bawah Ranjangnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-uIDFocOG2Fg/TgVwOtltPNI/AAAAAAAAA0U/t6P-JjI7flU/s1600/4191byBJGpL._SS500_.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-uIDFocOG2Fg/TgVwOtltPNI/AAAAAAAAA0U/t6P-JjI7flU/s200/4191byBJGpL._SS500_.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622023107900161234" /&gt;&lt;/a&gt;Salah satu novel paling berpengaruh di dunia adalah Alchemis yang ditulis oleh Paulo Coelho. Novel yang tidak terlalu tebal ini sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia. Meskipun kecil, novel ini diakui telah mempengaruhi visi banyak orang tentang hidup. Salah satu hal yang penting dalam novel ini adalah pandangan bahwa keinginan akan terwujud pada setiap orang yang benar-benar menginginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini berkisah tentang  seorang anak muda dari Santiago yang melakukan sebuah perjalanan mencari harta karun. Awalnya, pada suatu malam, saat ia tidur di atas dipannya pada sebuah gubuk tua,  ia bermimpi bahwa di sebuah tempat di sisi piramida Mesir terkubur emas besar yang bisa menghidupinya hingga sepuluh keturunan mendatang. Karena mimpi ini datang berulang kali, ia yakin ini sebagai pesan dari tuhan. Lantas ia melakukan perjalanan menuju piramida Mesir.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ini ia berjumpa dengan berbagai macam ras, pekerjaan, sifat manusia dan berbagai pandangan alam yang jauh berbeda dengan apa yang ada di lingkungannya selama ini. Dalam perjalanannya, ia juga erhadapan dengan sebuah suku yang masih suka berperang di gurun pasir. Di sana pula ia jatuh cinta pada Fatimah, seorang anggota suku yang hidup berpindah-pindah. Dan yang paling penting adalah, ia berjumpa dengan seorang ahli kimia yang mampu mengubah logam biasa menjadi emas murni. Kemampuan ini telah dibuktikan langsung di hadapan si anak. Pun demikian, si ahli kimia tetap meneguhkan hati si anak dalam mencapai impiannya, mendapatkan harta karun di sisi piramid mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak yang telah menempuh perjalanan jauh, keras dan penuh perjuangan, akhirnya sampai di sisi Piramida mesir. Ia mencocokkan ciri-ciri piramida yang hadir dalam mimpinya dengan piramida yang ada di hadapannya. Setelah memastikan bahwa ia sudah sampai di tempat yang tepat, ia mulai menggali pasir untuk mencapatkan emas yang dicarinya. Saat ia kelelahan melakukan penggalian, ia didatangi oleh sekelompok perampok dan merampoknya. Sebongkah emas yang dia miliki hasil pemberian dari ahli kimia turut dirampok. Perampok menanyakan apa yang ia lakukan. Setelah si anak menjelaskan, perampok itu tertawa terbahak dan mengatakan: "Tahun lalu juga ada yang mengatakan kepadaku kalau di sebuah gubuk tua di Spanyol, dekat sebuah pohon besar yang tua, terdapat harta karun berupa emas permata yang banyak." Si anak terkejut. Rumah yang dikatakan si perampok adalah gubuknya di Spanyol. Ia bergegas pulang, dan mendapatkan emas seperti yang dikatakan si perampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini, menurut saya, relevan dengan apa yang terjadi dengan fenomena TKI saat ini. Para TKI pada dasarnya adalah "anak lelaki" yang bermimpi bahwa di luar negeri sana ada sebuah harta karun yang tertimbun dalam bentangan pasir. Mereka begitu yakin dengan "mimpi" ini setelah melihat beberapa tamannya pulang membawa harta tersebut. Dengan susah payah, mereka berusaha datang ke sana. Sebagian ke Malaysia, sebagian ke Saudi, ke Hongkong, Taiwan, Singapura dan lain sebagainya. Tujuannya sama saja, mewujudkan mimpi mendapatkan "harta karun" di luar negeri sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan ini mereka berani menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, melintasi benua, dan yang paling berat menghadapi resiko mendapatkan kekerasan dari majikannya. Ruyati, buruh migran dari Indoensia yang dihukum pancung di Saudi beberapa waktu yang lalu adalah satu diantara mereka yang ingin menjemput mimpinya. Di sana ada ratusan dan bahkan ribuan Ruyati yang lain yang juga memiliki niat yang sama. Mereka meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kampung halaman orang lain. Bekerja, berusaha, berjuang, dan bahkan "berperang" mempertaruhkan nyawa untuk mewujudkan mimpi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah harta karun itu ada di luar negeri atau ada di bawah ranjangnya sendiri? Saya adalah orang yang percaya kalau harta karun ada di bawah ranjang sendiri, seperti yang dikisahkan oleh Coelho dalam novel di atas. Namun harus kita akui pula bahwa harta karun itu tidak bisa diperoleh tanpa sebuah kompetensi, skil dan kemampuan melihat realitas yang ada. "Hartamu ada di mana hatimu ada" kata Coelho dalam novel itu. Dan untuk mendapatkannya harus ada sebuah keinginan kuat. "Jika kau benar-benar menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan bahu mambahu mewujudkan keinginanmu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, di sinilah peran pemerintah. Menunjukkan bahwa "di bawah ranjang" para TKI terdapat harta karun yang besar, yang bisa menghidupi mereka tujuh turunan. Untuk mendapatkan harta itu, pemerintah harus melatih, belajar, meningkatkan skil, kompetensi, dalam berbagai bidang. Sebab tanpa ini semua, harta karun itu akan diambil orang dan dimanfaatkan untuk kepentingannya. Bahkan bisa jadi harta itu tidak bermanfaat untuk ia sendiri meskipun berasal dari bawah ranjangnya. Pemerintah harus menunjukkan bagaimana harta itu biasa diambil, dan bagaimana harta itu dipelihara agar terus dapat menghidupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1680875421594118487?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1680875421594118487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/tidak-perlu-ke-arab-harta-tki-ada-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1680875421594118487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1680875421594118487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/tidak-perlu-ke-arab-harta-tki-ada-di.html' title='Tidak Perlu ke Arab! Harta TKI Ada di Bawah Ranjangnya'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-uIDFocOG2Fg/TgVwOtltPNI/AAAAAAAAA0U/t6P-JjI7flU/s72-c/4191byBJGpL._SS500_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-9091118046514414514</id><published>2011-06-25T11:57:00.002+07:00</published><updated>2011-06-25T12:13:49.794+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Ekspresi "Puas" Gadis Jepang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-d33PLgvSxo0/TgVugbSIRNI/AAAAAAAAA0M/yR2BERBXNFc/s1600/MG_2410_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-d33PLgvSxo0/TgVugbSIRNI/AAAAAAAAA0M/yR2BERBXNFc/s200/MG_2410_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622021213200598226" /&gt;&lt;/a&gt;Seminggu belakangan ini aku menonton sebuah stasion televisi nasional yang meyiarkan acara pertandingan ala Jepang. Awalnya aku tidak sengaja menontonya saat minum kopi sore di sebuah warung. Ternyata menarik juga, pertandingan itu dikemas secara menyenangkan dan penuh tantangan. Beberapa yang aku ingat antara lain adalah pertandingan memancing ikan tuna di lautan, pertandingan membikin kue mirip makanan tertentu, pertandingan membuat eskrim, dan tadi sore pertandingan membauat masakan untuk merayakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, ide pertandingan itu sangat menarik. Sederhana, tapi menyenangakan dan mendidik. Secara pribadi, dalam salah satu sesi, aku belajar cara membuat telor dadar yang variatif. Sudah kucoba, rasanya lezat! sangat lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan hendak menceritakan tentang masakan itu. Tapi bagaimana orang Jepang mengekspresikan kegembiraan atau kesedihannya. Dari beberapa kali menonton itu aku simpulkan beberapa sikap orang jepang dalam mengekspresikan kepuasannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tidak suka bicara banyak&lt;br /&gt;    Saat pembawa acara menanyakan kesuksesan atau kegagalannya, orang Jepang hanya menjawab satu atau dua kata; "iya, aku sedih", lalu ia meninggalkan pembawa acara. Atau kalau ia memenangkan perlombaan, paling hanya mengatakan: "Aku senang sekali". Tidak ada percakapan panjang lebar, tidak ada salah teknis, salah wasit, salah peralatan, dll. Ekspresi kekalahan atau kemenangan sama saja, singat dan tidak berlebihan.&lt;br /&gt;    Tidak suka jingkrak-jingkrak&lt;br /&gt;    Untuk merayakan kemenangannya, orang Jepang tidak melompat-lompat kegirangan, tidak berjingkrak-jingkrak kesetanan, cukup bertepuk tangan saja sambil membungkuk mengucapkan terima kasih kepada semua orang. Kalaupun berteriak senang, itu dilakukan sekali atau dua kali saja, tidak berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;    Tidak ada peluk cium pada teman&lt;br /&gt;    Kalau pertandingan menggunakan tim, orang Jepang tidak cipika-cipiki saat mengekspresikan kemenangannya. Tidak ada peluk-pelukan sambil berteriak. Tidak ada juga lompat-lompat. Masing-masing anggota kelompok mengatakan terima kasih, lalu selesai.&lt;br /&gt;    Menghargai karya seseorang&lt;br /&gt;    Semua juri saat menilai masaan selalu mengatakan, "Wah... makanan ini lezat sekali, dia sangat pandai membuatnya". Walaupun kemudian nilai yang diberikan tidak banyak, tapi pujian itu membaut yang berkarya menjadi tersanjung dan merasa dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat, beberapa bulan yang lalu di sebuah stasion televisi lainnya yang menyiarkan lomba masak ala Indonesia. Saat mencicipi hasil masakan pesarta, jurinya mengatakan, "Wah... masakan ini kurang garam, ikannya kurang matang" dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pemenang diumumkan, pesarta yang menang berteriak kesetanan merayakan kemenangannya. Ia berteriak berjingkrak sambil memeluk teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pembawa acara meminta tanggapannya atas kemenangan yang baru diperolah, peserta ini menceritakan perasaannya, kenapa ia bisa memang, prediksi-prediksi sebelumnya, kenapa orang lain bisa kalah, dll. Sangat banyak. Pembawa acara terpaksa mengatakan kalau ia sudah mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-9091118046514414514?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/9091118046514414514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/ekspresi-puas-gadis-jepang.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/9091118046514414514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/9091118046514414514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/06/ekspresi-puas-gadis-jepang.html' title='Ekspresi &quot;Puas&quot; Gadis Jepang'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-d33PLgvSxo0/TgVugbSIRNI/AAAAAAAAA0M/yR2BERBXNFc/s72-c/MG_2410_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1237568467000904365</id><published>2011-05-11T17:36:00.004+07:00</published><updated>2012-01-12T21:05:19.095+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pilkada'/><title type='text'>Pang Leman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-8c2kVDbqKFY/Tw7ocTrcxcI/AAAAAAAABG8/Sfs1bjJJqB4/s1600/Rincong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 247px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8c2kVDbqKFY/Tw7ocTrcxcI/AAAAAAAABG8/Sfs1bjJJqB4/s320/Rincong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696746151686751682" /&gt;&lt;/a&gt;Pang Leman tidak mau ketinggalan. Naluri pengusahanya langsung hidup saat tahu kalau rincong itu diperlombakan. "Saya sudah dapatkan segalanya, saya sudah miliki semuanya, kenapa saya tidak bisa dapatkan sebuah rincong?" batinnya. Bagi Pang Leman, rincong adalah sebuah "cap" bagi pengakuan orang atas kesuksesannya. Kurang afdal kalau ia hanya punya uang, punya usaha, punya harta, punya pengaruh, tapi ia tidak punya nama. Sebab "nama" adalah identitas yang akan menguatkan apa yang ia sudah miliki. Dari nama ia akan mengekspresikan dirinya secara total. Dan nama yang paling tepat untuk mendapatkan itu adalah "pemilik rincong sakti". Pang Leman akan bertempur untuk mendapatkannya. Habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Langkah paling penting mencari kemenangan adalah membangun jaringan. Jaringan adalah kumpulan sekelompok orang yang secara sadar mau membantunya mendapatkan apa yang ia inginkan. Tentu saja tidak gratis. Pang Leman tahu ia harus mengeluarkan banyak uang untuk membangun jaringan yang bagus. Ia sadar kalau kekuatan sebuah jaringan sangat terkait dengan berapa banyak uang yang digunakan untuk menggerakkannya.Orang bisa katakan yang lebih penting dari segalanya adalah ideologi. Namun apakah ada ideologi bisa hidup tanpa orang-orang yang hidup. Orang hidup dengan uang. dengan itu mereka mengasapi dapurnya. dan uang bukanlah masalah besar bagi Pang Leman. Ia punya pundi-pundi uang yang besar, yang bias membeli apa yang ia suka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pang Leman mulai menebar jala, pada penganggur-penganggur yang butuh pekerjaan. Sebagian mereka adalah pemalas yang punya gengsi besar. Sebagai lain orang cerdas yang tidak punya lapangan. Namun banyak pula dedengkot-dedengkot sampah yang bisa bersandiwara mengubah wajah dalam sekejap. Bekerja sebagai anggota tim sukses Pang Leman sedikit menaikkan gengsi mereka. Mereka merasa mendapatkan pekerjaan "terhormat". Tidak segan, tidak ragu. Para penganggur dan pemburu gengsi ini akan segera bergabung, bergabung sangat cepat. Bahkan terkadang tanpa diminta. Sinar sematan rincong di pinggang Pang Leman sudah mereka bayangkan. Bagaimana indahnya dunia jika itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penganggur ini mulai bekerja. Tidak bekerja iklas, namun sejauh mana mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pekerjaan itu. Pang Leman tidak peduli. Ia hanya memerintahkan dan melemparkan sejumlah uang. Ia hanya menginginkan menjadi pemilik rincong, meskipun rincong itu entah dimana dunianya. Uangnya benar-benar sihir. Orang-orang bekerja cepat untuknya, bahkan lebih cepat dari seorang ibu yang harus menyusui anaknya karena kegerahan. Pang Leman, dengan uangnya ia benar-benar berkuasa. ia bisa meminta orang melakukan apapun, dan mereka langsung melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pang Leman menyedikan kantor agar mereka bisa berkumpul. Ia membelikan mobil yang bertempel foto dirinya agar orang bisa melakukan pejalanan ke mana yang ia suka. Ia memberikan mereka baju, sepatu, jaket, tas, handphone, dan lainnya. apa saja yang mereka perlukan. Sebab mereka adalah bebatuan yang diinjak oleh Pang Leman agar ia bisa sampai pada posisi di mana rincong akan disematkan. Mereka adalah budak-budak yang seolah diajarkan tentang sebuah arti hidup, namun sesungguhnya robot-robot yang bekerja untuk kehendak Pang Leman. Pang Leman tahu ini, namun ia tidak memberitahukan kepada mereka. Sebab mereka hanya ingin hidup dengan gaji yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Pang Leman ingin membantu para pengangguran mendapatkan pekerjaan? Tidak! Ia menginginkan rincong sakti. Jika rincong itu tersemat di pinggangnya, ia akan lebih mudah mempengaruhi orang untuk bekerja kepadanya. Ia akan lebih mudah mendapatkan uang dari usahanya. Orang-orang akan lebih percaya padanya. Dan yang paling penting adalah, jika rincong itu tersemat di pinggangnya, tanah negeri ini seolah akan menjadi miliknya. Ia bisa menjual sesuka hatinya, ia bisa mengekploitasi kekayaannya, ia bisa memeras orangnya, ia bisa melakukan apapun baik pada apa yang ada di atasnya, maupun apa yang ada di dalamnya. Itu tentang alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang lebih penting, jika rincong itu tersemat pada pinggangnya. Ia seoalah memiliki apapun yang hidup di atas negeri itu. Ia bisa memilih perempuan yang ia sukai. Ia bisa mengambil istri orang atau anak gadisnya. ia bisa memenjarakan orang yang memusuhinya. ia bisa mengatur wartawan agar memberitakan hanya apa yang menyenangkan hatinya. Ia, bahkan bisa mengatur para ahli agama agar mengeluarkan fatwa-fatwa yang bisa mendukung rencana-rencananya. Kalau ini bisa ia dapatkan, kenapa ia tidak berani mengeluarkan modal lebih banyak lagi? dan ini terus ia lakukan, sampai waktunya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pang Leman sungguh gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1237568467000904365?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1237568467000904365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/05/pang-leman.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1237568467000904365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1237568467000904365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/05/pang-leman.html' title='Pang Leman'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8c2kVDbqKFY/Tw7ocTrcxcI/AAAAAAAABG8/Sfs1bjJJqB4/s72-c/Rincong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-5484739032095948587</id><published>2011-05-11T17:23:00.005+07:00</published><updated>2012-01-12T21:08:13.343+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pilkada'/><title type='text'>Lem Baka Mencari Rincong</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-cOuZfGPBPR0/Tw7pM6nPIUI/AAAAAAAABHI/QxlYxOSWodQ/s1600/fantasy-07.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 238px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-cOuZfGPBPR0/Tw7pM6nPIUI/AAAAAAAABHI/QxlYxOSWodQ/s320/fantasy-07.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696746986771784002" /&gt;&lt;/a&gt;Ini peluang besar," kata Lem Baka, begitu tahu kalau makhluk ghaib menyerahkan orang-orang menentukan sendiri siapa yang paling layak mendapatkan rincong sakti diantara mereka. " Aku takkan lepaskan kesempatan baik ini. Apapun akan kulakukan untuk mendapatkannya." Lem Baka sangat berbirahi menggenggam rincong dan menyematkan dipinggangnya. Ia lalu berdiri di cermin kamarnya. Mulai meliat kopiahnya yang mulai pudar karena tidak pernah tercuci telungkup mereng ke kri di kepalanya. Beberapa uban mulai muncul di kepalanya. Ia melihat baju yang ia kenakan. merapikan sedikit di bagian leher dengan kedua tanagnnya. Berpindah ke perut. Sedikit berisi, mungkin seperti perempuan hamil 4 bulan. Lalu ia memegang sisi kanan pinggangnya, dan ternyenyum. Hayalnya mulai terbang, andai rincong itu tersemat di sini. "Aku harus  mendapatknnya!"&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lem Baka punya segala yang diperlukan untuk mendapatkan rincong sakti itu, kecuali kejujuran. Ia adalah lelaki paruh baya yang bisa menikah kapan saja ia mau. Dalam diari pribadinya sudah tertera lima perempuan yang penrha ia nikahi di depan penghulu. Beberapa perempuan yang "dinikahi" secara khusus senagja tidak disebutkan di sana. Lem Baka punya semua apa yang diperlukan orang yang bersimpati padanya, kecuali keikhlasan. Ia bisa memberikan apapun yang dibutuhkan asal niatnya tercapai dan mimpinya terwujud. Ia akan berikan tiga kali lipat lebih banyak dari orang lain. Inilah yang membuat orang berlulut di kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal inilah, Lem Baka memanggil empat anak buah terbaiknya. "Aku mau rincong sakti itu menjadi milikku." Keempat temannya segera sadar, itu bukan sebuah keluhan, curhat, pemberitahuan, atau mimpi di siang bolong. Itu adalah perintah!! Ya, perintah. Lima thau sudah mereka mendampingi Lem Baka. Mereka tahu passti mana yang perintah, maka larangan, mana ajakan, maka cemoohan, dan mana kesih sayang (yang terakhir ini baru dua kali terjadi dalam lima tahun terakhir). Mereka sudah sangat hafal, bahkan mereka juga hafal arti sorotan mata Lem Baka, arti lidah yang dijulurkan ke luar, dan arti dengusan hidungnya. sebab mereka dibayar oleh Lem Baka untukmelakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini sesuatu yang berat. bahkan nyaris tidak mungkin. Mereka sangat kenal dengan Lem Baka. Meraka tahu seperti apa perangainya, setinggi apa nafsunya, sebulus apa strateginya, seburuk apa niatnya. Merea tahu persis. Namun mereka juga tahu kekejaman Lem Baka. Tidak mungkin mengatakn niatnya mendapatkan rincong suatu hal yang buruk dan absurd, apalagi mengajaknya memabatlkan niat itu. Bisa jadi dapur mereka berhenti mengobarkan asap. Bagaimana istri dan anak mereka dapat makan? Tapi ini benar-benar sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lem Baka tahu apa yang mereka pikirkan.Sebab iapun sadar "siapa" dirinya selama ini dan apa yang sudah dilakukan. Namun sematan rincong di pinggang kanan sungguh sangat ia dambakan. Dan ia akan melakukan apapun agar keinginan itu terwujud. Dan ia akan menghancurkan siapapun yang menghalangi keinginannya. Namun ia juga sadar, ia tidak sepenuhnya bisa mewujudkan mimpinya. Ada hal lain yang lebih menentukan yaitu semua orang harus merasa ia memang patas mendapatkanya. Jadi satu-satuya cara unutk itu adalah membangun citra diri, menunjukkan ia seorang yang peduli, mengatakan ia adalah teladan yang patut diikuti. Dan ia hanya punya waktu satu bulan unutk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu misi ini mulai dilaksanakan. Ia memimpin ritual di rumah ibadah yang ia tidak pernah berkunjung ke sana selama ini. Ia mengkampanyekan iman mayoritas dan melarang interpretasi berbeda tentang keyakinan dengan berbeda dengan mayoritas. ia mulai berkunjung kepada kelompok-kelompok pemegang otoritas agama. Ia mulai peduli pada mereka yang membutuhkan. Ia mulai mudah membuka dompetnya dan memberikan uang kepada siapa yang meminta. Tidak lupa, ia meminta seorang wartawan menuliskan apa yang dia lakukan di koran. Wartawan itu adalh temannya. Tidak ada hal buruk yang keluat dari penanya. Ia selalu menunjukkan, Lem Baka adalah dewa yang bijak. dan diantara pembaca ada yang percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah cara ini akan membawa rincong ke pinggangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang lain, Pang Leman melakukan hal yanglebih gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-5484739032095948587?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/5484739032095948587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/05/lembaga-mencari-rincong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5484739032095948587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5484739032095948587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/05/lembaga-mencari-rincong.html' title='Lem Baka Mencari Rincong'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-cOuZfGPBPR0/Tw7pM6nPIUI/AAAAAAAABHI/QxlYxOSWodQ/s72-c/fantasy-07.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1117643023008920209</id><published>2011-04-29T21:39:00.004+07:00</published><updated>2012-01-12T21:09:47.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pilkada'/><title type='text'>Rincong Sakti</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-dT3m4qhYkpY/Tw7pkgGfeDI/AAAAAAAABHU/EbXKm5odq0s/s1600/Rincong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 247px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-dT3m4qhYkpY/Tw7pkgGfeDI/AAAAAAAABHU/EbXKm5odq0s/s320/Rincong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696747391971981362" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah rincong warisan nenek monyang kini kehilangan pemiliknya.Dua hari yang lalu, sang pemilik meninggal dunia dengan tenang. Pada hembusan nafasnya yang terakhir, terucap sebuah pesan, rincong yang kini terselip di pinggangnya akan menghilang seiring nafasnya berhenti. Sesosok makhluk ghaib akan datang mengambil rincong dan menyelamatkannya. Pada satu waktu rincong itu akan dikembalikan ke dunia, jika ada seorang anak manusia yang memenuhi syarat menerimanya. Dan hanya mereka yang sabar dalam kekayaan, rendah hati dalam kekuasaan, ramah dalam kejayaan, punya cinta dalam kemegahan, yang akan mewarisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rincong itu sebuah rincong sakti yang diwariskan dari indatu sejak zaman batu. Berbeda dengan emas dan perak, rincong berhias zamrut mutiara intan berlian ini diwariskan bukan kepada anak, tidak pada kemenakan, apalagi pada teman dan kerabat. Ia diwariskan kepada orang yang memang pantas mendapatkannya. Tidak peduli apakah ia seorang petani, seorang pelayan, seorang tukang batu, abang becak, saudagar kain, ustaz, aktivis, ma blien, atau siapa saja. Selama ia memiliki syarat yang cukup, sosok bayangan yang datang dari alam ghaib akan mengantarkan rincong kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah pewaris terakhirnya meninggal dunia, masyarakat mulai membicarakan perihal rincong.Siapakah yang akan mewarisinya kelak? Siapakah yang berhak mendapatkannya? Siapa gerangan orang yang dipilih si makhluk ghaib untuk diselipkan rincong di pinggangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengharapkan rincong jadi miliknya. Namun semakin kuat ia berharap, semakin jauh rincong darinya. Semakin nampak ia berambisi, semakin menghilang bayangan rincong dari benaknya. Sebab rincong hanya memilih mereka yang tidak berkepentingan dengannya sebagai rincong, namun punya komitmen dan tanggung jawab menjaganya, menyelamatkannya, memanfaatkannya untuk kepentingan-kepentingan besar yang bermanfaat untuk orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang tidak sabar. Ia berharap rincong ia dapatkan, namun tidak mau memahami untuk apa rincong akan digunakan dan bagaimana mendapatkannya. Ia merasa bangga andai sebilah rincong terselip di pinggangnya. Apalagi jika itu adalah rincong warisan dari alam ghaib yang hanya ada satu-satunya di negeri itu. Ia berhayal dengan rincong di pinggangnya, ia bisa dapatkan apa yang ia mau, ia boleh pergi kemana ia suka, ia mampu penuhi semua hasrat. Dan hidup adalah surga dunia. Namun mimpi ini pula yang menyebabkan rincong semakin jauh darinya. Jangankan melirik, si makhluk ghaib sama sekali tidak teringat padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, saat ini, tidak ada yang benar-benar memenuhi syarat mendapatkan rincong. Si makhluk ghaib sudah kepanasan menggenggam rincong. Tahun ini ia harus sudah menyelipkan rincong itu ke pinggang seseorang. Bagaimana kalau tidak ada yang memenuhi syarat? Harus ada, batinnya. Sebab ia bukanlah makhluk yang tepat untuk menggenggam rincong. Ia adalah perantara yang membawa rincong dari satu generasi kepada generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waktu itu semakin dekat, sementara seseorang belum ia dapat. Pada sebuah malam setelah maghrib sekonyong-konyong terdengar suara dibawa angin. "Sudah saatnya rincong aku sematkan, tapi tidak ada orang yang pantas dapatkan. Mungkin penglihatanku mulai rabun, telingaku mulai uzur. Sampaikanlah kepadaku wahai manusia, siapa gerangan yang layak mendapatkan rincong dari bangsamu. Antarkan namanya ke bukit anu. Saya menungu hingga mata hari tenggelam pada hari ini di bulan depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri itu menjadi gempar. Semua orang hendak mendapatkan rincong. Semua merasa berhak. Semua merasa mampu. Yang dulu pencopet kini jadi penceramah. Yang dulu pembunuh kini jadi pencinta. Yang dulu pendusta kini jadi alim. Yang dilu menipu sekarang jadi amanah. Bukan hanya itu, yang dulu menyimpan hartanya di lemari besi berkunci nuga, kini menghamburkan emas ke jalan-jalan. Yang dulu berlumpur dalam dosa dan kekejian, sekarang berbalut sorban mengharap simpati.Dan simpati mulai datang. Nama-nama mulai diunggulkan. Dan pemilik nama mulai bertengkar. Masing-masing mengatakan dialah yang paling pantas, dialah yang paling unggul, dialah yang paling berhak. Tidak ada yang rendah hati, tidak ada yang sabar, tidak ada yang bicara dengan cinta.Mereka bicara tentang dirinya, bukan tentang siapa yang telah mempercayakan rincong kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk ghaib dari persemayamannya menyaksikan. Semakin bingung dengan keadaan. "Mereka tahu rincong ini untuk seorang yang tabah, seorang yang ramah, seorang yang adil,yang penuh cinta. Tapi kenapa mereka memperebutkannya dengan kekerasan, kesombongan, kekejian, salaing hasut dan fitnah?"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1117643023008920209?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1117643023008920209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/04/rincong-sakti.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1117643023008920209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1117643023008920209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/04/rincong-sakti.html' title='Rincong Sakti'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-dT3m4qhYkpY/Tw7pkgGfeDI/AAAAAAAABHU/EbXKm5odq0s/s72-c/Rincong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-7405660286673438789</id><published>2011-04-09T23:51:00.007+07:00</published><updated>2012-01-12T23:51:53.742+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Duomo Milan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Milan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengalaman di Dubai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata Eropa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan ke Eropa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengalaman Naik emirates'/><title type='text'>Milan Seminggu Pandangn</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-DcfVWndd22w/TaCQ3_UBS4I/AAAAAAAAAyU/K1I2zML0yvQ/s1600/DSCF3076.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-DcfVWndd22w/TaCQ3_UBS4I/AAAAAAAAAyU/K1I2zML0yvQ/s320/DSCF3076.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593630028756765570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebenarnya saya sedikit malu menceritakan pengalaman ini karena khawatir dinilai menderita shock culture. Apalagi ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke Eropa yang selama ini dianggap salah satu kiblat kemajuan peradaban dan perkembangan teknologi. Namun di sisi lain saya juga ingin berbagi pengalaman, khususnya dengan teman-teman yang belum pernah ke sana, siapa tahu bisa tertarik dan menjadi inspirasi dan pelajaran jika satu saat punya kesempatan terbang ke sana, atau menjadi inspirasi untuk melakukan sesuatu di sini, dalam konteks kehidupan pribadi atau sosial kita. Mudah-mudahan cerita sederhana ini ada manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjalanan ke Milan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pergi ke Milan, tentu saja membutuhkan syarat administrasi yang sedikit merepotkan. Karena saya pergi dengan tujuan pendidikan,maka saya membutuhkan visa studi dari kedutaan Italia. Visa studi bisa diperoleh secara gratis (kalau visa lainnya membutuhkan biaya di atas Rp. 500 rb) dengan melengkapi syarat-syaratnya. Kalau telah mengantongi visa, berarti kita sudah memiliki izin masuk ke Italia. Namun karena Italia adalah salah satu dari negara Eropa anggota Schengen, maka kalau bisa masuk ke Italia, berarti bisa juga masuk ke negara-negara Eropa yang tergabung dalam Schengen lainnya, seperti Spanyol, Perancis, Belanda, Jerman, dan lainnya. Tidak termasuk Inggris dan Polandia dan kebanyakan negara di Eropa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menempuh perjalanan ke Milan dengan menumpang pesawat Emirates, pesawat yang berpusat di Dubai yang usianya jauh lebih muda dari Garuda Indonesia. Namun sekarang maskapai ini telah mengantongi lebih dari 200 penghargaan Internasional dan melayani penerbangan lebih dari 100 tujuan di berbagai belahan dunia. Emirates terbang dua kali dari Jakarta ke Dubai setiap hari, jam enam sore dan jam sebelas malam. Emirates juga banyak ditumpangi oleh TKI yang akan pergi ke Timur Tengah untuk mencari kerja. Bahkan, saat saya berangkat, lebih dari setengah penupangnya adalah TKW yang selalu berkelompok-kelompok dan diaorganisir perjalanannya oleh perusahaan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emirates, dan saya kira maskapai penerbangan internasional yang lain, memberikan fasilitas yang membuat kejenuhan duduk di pesawat selama tujuh jam sedikit berkurang. Selain ada menu istimewa yang disajikan, teh dan kopi kapan saja diinginkan, mie instan, ada juga layar kecil di depan setiap bangku yang memungkinkan semua penumpang untuk menonton, mendengarkan musik atau bermain game sepanjang perjalanan. Bahkan kalau anda punya kartu kredit dan -tentu saja uang yang cukup- anda bisa menggunakan telepon yang disedikan di pesawat. Dari sana anda bisa menelpon siapa saya sepanjang penerbangan. Untuk yang satu ini saya tidak pernah mencoba dan saya tidak tahu bagaimana rasanya. Namun adalah pemandangan yang lumrah melihat orang menggunakan telepon di dalam pesawat selama penerbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tujuh jam tafakkur di pesawat, kita mendarat di Dubai. Sayangnya saya mendarat malam hari sehingga bangunan-bangunan gedung megah yang selama ini saya bayangkan sebagai maskot kota Dubai tidak nampak. Namun saya sempat menikmatinya saat melanjutkan penerbangan ke Milan dan saat pulang dari Milan. Yang jelas sempat saya nikmati adalah kebesaran bandara Internasional Dubai. Meskipun saya sampai jam 02.00 dini hari, namun  keramaian dan kesemarakan bandara masih sangat terasa. Pertokoan yang selalu buka, restoran yang siap menyajikan makanan, toko buku, perhiasan, oleh-oleh, toko handphone dan laptop, dan tentu saja, money changer yang ada di mana-mana. Kalau mau berbelanja jelas anda harus menukarkan uang ke dalam Dirham Uni Emirat Arabyang nilainya sekitar Rp. 2.400,- Atau bisa juga berbelanja dengan Dolar dan Euro di beberapa toko. Tapi kalau mau tidur, di bandara Dubai juga tersedia kursi lesehan yang pas digunakan untuk tidur. Tentu saja jumlahnya terbatas, namun kalau sigap, pasti bisa dapat tempat tidur sambil menunggu jam penerbangan berikutnya. Saya sendiri memilih tidur di di Mushalla yang nyaman bersama peumpang dari Asia Timur yang juga transit di sana. Setelah transit 10 jam, saya melanjutkan penerbangan ke Milan. Dubai - Milan ditempuh dalam waktu lebih kurang enam jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki wilyah Italia, dari pesawat yang terlihat adalah pergunungan batu yang menjulang. Namun di bagian selatan nampaknya adalah lahan subur yang hijau. Di sela-sela bebatuan itu ada kota dan jalan yang nampak sangat rapi. Bahkan tidak jarang terlihat ladang gandum yang siap tanam baru saja dikerjakan. Yang pasti, sejauh perjalanan saya di Indonesia dan Malaysia, potret seperti ini tidak pernah terlihat. Indonesia dan Malaysia yang berada di atas garis katulistiwa menyajikan pemandangan hijau dedaunan dan sungai yang berliku. Namun bukan mana yang lebih baik yang penting saya kemukakan, tetapi perbedaan itu adalah keindahan yang menimbulkan kesan tersendiri bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendarat di Malpensa, satu diantara tiga bandara Internasional di Milan. Saat saya mendarat, tidak banyak pesawat di sana terutama dibandingkan dengan Jakarta dan Dubai. Ada sebuah pesawat Thai dan Egyp yang sedang parkir, dan beberapa pesawat kargo. Di Malpensa saya berjumpa dengan seorang perempuan beserta ibu dan bapaknya. Sang perempuan mengatakan ia hendak mengikuti kursus pembuatan sepatu di Milan. Saya tanya, kenapa tidak di Cibaduyut saja? Sambil tertawa, ia mengatakan kalau di Milan ia juga ingin belajar model dan desain modern sepatu untuk membuka usaha di Surabaya nantinya. Sewaktu saya mengurus visa di Jakarta, saya juga berjumpa dengan seorang perempuan yang hendak ke Florence, Italia, untuk belajar teknologi kulit untuk membuat tas, sepatu dan lainnya. Ternyata memang banyak orang Indonesia yang datang ke Italia untuk belajar hal-hal seperti ini. Sayangnya, saya tidak bertemu orang yang mau ke Universitas Milano-Bicocca mengambil Antropologi seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang Milan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang terlalu istimewa saat pertama kali tiba di Milan. Sebab pemandangan di sekitar bandara hampir sama saja dengan bandara-bandara lain di Indonesia. Hanya saja, pepohonannya sedang tidak berdaun setelah musim gugur beberapa waktu yang lalu. Saat saya tiba di sana, Milan juga masih lumayan dingin meskipun matahari bersinar terang. Tapi sebuah sweater yang biasa dipakai di Indoensia sudah cukup nyaman dengan kondisi cuaca ini. Oiya, dari bandara Malpensa saya menuju kota Milan dengan menumpang bus Bandara Shuttle Bus yang langsung membawa kita ke terminal sentral di kota Milan (dari terminal ini ada semua pilihan transportasi yang siap mengantarkan anda ke tempat tujuan). Bayarannya "hanya" 7,5 euro (mungkin 90-an ribu rupiah). Bus ini cukup nyaman, dan melaju dengan lancar. Tidak dijebak macet, tidak banyak klakson, dan tidak ada pengamen di dalamnya, hahaha. Saya ditunggu oleh seorang kawan di terminal ini sehingga perjalanan selanjutnya menjadi lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari setelah menyelesaikan urusan di kampus, saya memanfaatkan waktu unutk melihat-lihat kota Milan. Salah satu yang saya kunjungi pertama kali adalah Duomo, gereja Katolik yang telah berusia lebih dari 1000 tahun. Duomo terletak di tengah kota Milan dan bisa disebut sebagai maskotnya kota Milan. Duomo sendiri bukan satu-satunya bangunan tua di sana, ia dikelilingi oleh bangunan lain yang tidak kalah kalsiknya. Dan di bangunan tua itulah hadir toko-toko pakaian terkenal hingga ke Indonesia. Banyak gadis dan ibu-ibu yang keluar dari toko itu dengan menenteng tas yang berisi belanjaan. Bukan hanya orang Italia, dari face mereka jelas mereka berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dan tentunya, di sini juga kita bisa menikmati kopi khas Italia sambil bermandikan sinar matahari sore yang tepat menyinari Duomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enaknya, Milan memiliki sistim transportasi yang sangat baik. Selain tram, kereta api yang mengikuti jalan raya, ada juga bus, dan Metro, kereta api bawah tanah. Mau kemana saja akan sangat mudah dengan kenderaan ini. Kuncinya pegang saja peta transportasi sehingga bisa melihat kenderaan yang lebih mudah menuju ke tempat tujuan. Untuk tiketnya, bisa di beli di kedai koran yang banyak terdapat di pinggir jalan. Selembar tiket "hanya" (lagi-lagi dalam tanda petik) 1 euro yang bisa dipakai untuk sekali jalan. Jangan lupa gesek tiket ke box elektronik di tram atau masukkan ke dalam bok di pintu masuk terminal Metro. Kalau anda pernah ke Malaysia, model seperti ini pasti tidak asing lagi. Selama saya di Milan memang tidak ada pemeriksaan tiket di dalam tram. Artinya, tanpa tiket sebenarnya kita juga bisa menumpang. Namun kalau ada pemeriksaan dan anda kedapatan tidak memiliki tiket (atau punya tiket namun tidak digesek) anda akan dikenakan bayaran dua kali lipat harga tiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda yang Muslim, memang sedikit terkendala dengan makanan. Karena saya hanya sebentar di Milan, saya hanya menemukan beberapa restoran yang menyedikan makanan muslim, seperti kebab turki dan makanan Arab. Namun makanan lain yang tidak megandung unsur babi bisa diperoleh di restoran Italia sekalipun. Bahkan ada jenis pizza yang tidak ada unsur babinya, yang diganti dengan terong. Demikian juga ada pasta yang dicampur dengan buah labu yang kelezatannya tidak berkurang, namun tetap bisa dinikmati dengan nyaman. Alternatif lain adalah roti dan buah yang tersedia di toko-toko. Memang sedikit agak sulit kalau terlalu fanatik pada nasi dengan ikan goreng dan kuah lemak ala masakan Padang. Sebab itu perlu masak sendiri. Saya sendiri tidak tahu di mana bisa membeli bahan-bahan masakan khas seperti di negeri kita. Namun saya pernah dengar, di mana-mana di seluruh dunia tidaklah sulit mendapatkan bahan untuk membuat masakan seperti masakan di Indoensia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang khas lainnya di Milan adalah tradisi minum kopi dan bir. Saya kira ini adalah minuman sehari-hari orang Milan (mungkin Italia), apalagi di musim dingin. Warung kopi bisa ditemukan di mana-mana di Milan, di sepanjang jalan. Mereka menyebutnya dengan Bar. Bar bukanlah restoran dengan pesta dansa pada malam hari, di Milan, Bar adalah warung kopi (dan bir) di mana kita bisa menemukan minuman instan. Bagi yang tidak boleh minum bir di sana bisa juga tersedia minum jus jeruk, capucino, dan minuman coca cola, sprite dan lainnya. Dari sisi harga jelas Milan punya standar yang lebih tinggi di bandingkan di Indonesia. Coca cola dalam botol plastik yang di Indonesia bisa kita dapatkan dengan harga Rp.6.000,-. di Milan kita harus bayar 2,5 euro (Sekitar 30 ribu rupiah). Harga ini juga berlaku untuk makanan dan minuman lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  orang Aceh yang memiliki tradisi minum kopi yang sangat kuat, saya menyukai kopi ekspreso ala Italia di Milan. Kopi ekspreso adalah kopi kental pekat yang di isi ke dalam gelas kecil. Itupun tidak penuh, hanya setengah saja. Kita bisa mengisinya dengan gula sesuai dengan selera. Tapi orang italia lebih suka kopi pahit. Ekspreso memiliki aroma kopi yang menusuk dan menggiurkan. Dalam budaya Milan, orang meminum ekspreso (dan juga minuman lainnya) sambil berdiri. Berdiri bisa langsung di meja yang membatasi konsumen dengan menjual, atau di meja tinggi tanpa kursi. Di meja itulah kita bisa berbincang-bincang sambil menikmati kopi sambil tetap berdiri. Beberapa Bar menyedikan kursi di depan tokonya. Orang duduk di sana di bawah matahari yang panas. Dalam kondisi sedikit dingin, berada di panas matahari ini memang disukai banyak orang Milan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya pada seorang teman dari mana asal kopi yang dikonsumsi di Milan. Menurut sang teman, Italia bukanlah negara dengan produksi kopi yang tinggi. Produksi di Italia hanya bisa mencukupi sebagain kecil kebutuhan mereka. Kebanyakan kopi diimpor dari berbagai negara lain baik di Eropa mampun dari negara lain. Salah satu negara yang mengekspor kopi ke Italia adalah Belanda. Saya jadi ingat ada perusahaan kopi yang sangat besar milik Belanda yang beroperasi di Bener Meriah, Aceh. Perusahaan ini membawa kopi ke Eropa ber ton-ton. Tidak tertutup kemungkinan kopi Gayo inilah yang dikonsumsi di Milan, siapa tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari di Pavia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapatkan kesempatan pergi ke Pavia, salah satu provinsi yang bersama Milan masih berada di bawah wilayah Lombardi, dan tinggal di sana bersama sebuah keluarga kecil yang kebetulan kakak leting saya di universitas. Pavia adalah kota dengan pemandangan klasik yang sangat berkesan. Teman saya di Milan pernah berkata kalau Milan adalah kota paling buruk dan semraut di Italia. Jadi jangan pernah mengatakan sudah sampai di Italia kalau hanya mengunjungi Milan. Dan benar saja, sesampai di Pavia (yang hanya 30 menit dengan kereta api) kesan klasik sudah mulai terasa. Pavia dipenuhi dengan bangunan lama era Romawi yang masih dipertahankan. Bangunan-bangunan inilah yang menjadi pemandangan Pavia kemana saja kita pergi. Apalagi saya diajak makan siang di rumah serang temannya yang berada di pedesaan. Rumah itu terletak di tengah perkebunan handum yang siap tanam, sebuah bangunan klasik abad pertengahan. Saya sangat menikmati makan bersama sebuah  keluarga Italia pedesaan. Apalgi kebetulan mereka bisa sedikit-sedikit (seperti saya juga) Bahasa Inggris, sehingga komunikasi bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak leting saya mengajak saya keliling kota Pavia dengan berjalan kaki. (Anda bisa bayangkan berapa luas kota yang bisa dikelilingi dengan berjalan kaki sore-sore). saya benar-benar tertegun dengan kondisi kota ini. Bangunan lama yang masih dipertahankan saat ini dihuni oleh keluarga-keluarga Italia seperti sebuah apartemen. Jelas orang tinggal di sini orang berada. Sebab tidak mungkin memiliki apartemen klasik ini dengan uang segepok. Harus ada sebuah bundelan tebal untuk menikmati tempat eksotik ini. Dan ini jelas terlihat dari mobil yang diparkir di sepanjang jalan di sekitar bangunan lama ini. Menurut kakak leting saya (yang juga memiliki rumah di kawasan ini), rumah-rumah ini dihuni oleh orang yang hanya tinggal di Pavia, namun bekerja di Milan. Mereka menganggap Pavia sebagai "asrama" sementara aktifitas sesungguhnya ada di Milan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Sb3_J80OIzc/TaCWd_pykoI/AAAAAAAAAyc/65llk9VFU_A/s1600/DSCF2921.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Sb3_J80OIzc/TaCWd_pykoI/AAAAAAAAAyc/65llk9VFU_A/s320/DSCF2921.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593636179241243266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Diantara bangunan yang paling berkesan bagi saya adalah Univesitas Pavia yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 650. Artinya universitas ini sudah berdiri pada abad ke empat belas masehi. Universitas Pavia adalah salah satu universitas tertua di Italia. Selain Pavia ada Universitas Roma dan Bologna. Yang paling menarik adalah, mereka masih mempertahankan keklasikan bangunannya, desainnya, dan tata ruang di dalamnya. Rasanya begitu memasuki gerbang kampus, suasanya eropa abad pertengahan langsung terasa.  Dan saya berdoa agar suatu waktu bisa datang legi ke Universitas ini sebagai tamu akademis, apakah sebagai mahasiswa, sebagai peneliti, atau mempresentasikan makalah dalam sebuah komferensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan lain adalah gereja dan benteng yang dibangun pada abad pertengahan. Sebuah gereja yang merupakan salah satu dari tiga gereja tertua di Italia berdiri di sini. Ia terbangan dari batu bata yang disusun rapi dan batu pualam yang berseri. Ada juga sebuah benteng perang yang masih berdiri utuh. Benteng ini masih dipertahankan  bentuk aslinya hingga kini. Banyak orang datang ke sana untuk melihat-lihat benteng. Kebanyakan memang orang Eropa sendiri, dan sebagain orang Cina. Di benteng ini pula kita bisa masuk ke dalam dua buah museum lukisan klasik yang pernah dihasilkan di Pavia. Lukisan-lukisan luar biasa itu ada yang berusia ratusan tahun. Sayangnya saya tidak diperkenankan mengabadikannya dengan kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari saya diajak keliling di sekitar perumahan klasik itu, bertemu dengan beberapa teman kakak leting saya di Bar, minum kopi dan makan kebab. Ada kebakraban di bar. Saya jadi teringat suasana warung kopi di Aceh. Bedanya, di Pavia orang-orang minum bir dan kopi sambil berdiri atau duduk di jalan dan di lantai. Di Aceh tersedia kursi yang banyak di mana orang-orang bisa duduk ber jam-jam menghabiskan waktu. Saya dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas, harus memaksanakan diri untuk terus berbicara dengan bahasa Inggris mereka yang juga terbatas. Namun karena terpaksa dan dalam suasana yang bersahabat, kendala bahasa seolah tidak ada (saya jadi teringat pengalaman di pedalaman Jawa tengah saat saya menghabiskan waktu tiga jam berbicara dengan seorang orang yang sudah sangat tua. Saat itu beliau bicara bahasa Jawa, saya bahasa Indonesia, sama-sama tidak mengerti, namun saling memahami). Yang ada hanyalah keakraban dan senyum tawa dengan keceriaan masing-masing. Setelah kembali ke Milan keesokan harinya, saya menceritakan pengalaman menakjubkan di Pavia ini pada seorang teman dan berharap ia akan mengatakan kalau saya benar-benar "sudah sampai" di Italia. Namun saya kecewa saat ia mengatakan, "Belum, itu hanya sedikit dari Italia. Kamu harus mengunjungi Padova, Florence, Roma, Bologna dan kota lain untuk mengatakan kamu sudah sampai di Italia. Di sana kamu akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dan luar biasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah..... Mudah-mudahan saya bisa mengunjungi semuanya, termasuk negara Eropa lainnya. Saya kembali ke Indonesia keesokan harinya dengan pesawat dan jalur yang sama saat pergi, dan Insyaallah akan kembali ke Milan bulan September 2011 mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-7405660286673438789?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/7405660286673438789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/04/milan-seminggu-pandangn.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7405660286673438789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7405660286673438789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2011/04/milan-seminggu-pandangn.html' title='Milan Seminggu Pandangn'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-DcfVWndd22w/TaCQ3_UBS4I/AAAAAAAAAyU/K1I2zML0yvQ/s72-c/DSCF3076.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-371699317625739991</id><published>2010-12-17T21:04:00.005+07:00</published><updated>2012-01-12T21:13:54.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GAM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasan Tiro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik aceh'/><title type='text'>Si Birah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-JYm_6npRrDI/Tw7qXo0MSbI/AAAAAAAABHg/6x-iksO319Q/s1600/ayam2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 312px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-JYm_6npRrDI/Tw7qXo0MSbI/AAAAAAAABHg/6x-iksO319Q/s320/ayam2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696748270484474290" /&gt;&lt;/a&gt;Konon dulu, kata Lem Baka memulai kisah untuk anaknya yang akan tidur, di sebuah kampung ada seerkor ayam jago. Namanya Birah, Si Birah. Ia demikian jagonya, hingga tidak ada satupun ayam di kampung itu yang berani menantangnya. Ia punya pasukan yang kuat, punya peralatan perang yang lengkap, dan sangat canggih untuk ukuran masanya. Dengan itu semua ia menjadi sangat berkuasa. Apa yang diinginkannya akan dipenuhi oleh para pekerja, apa yang ia harapkan akan disedikan oleh budak-budak yang dimilikinya. Budaknya berasal dari bangsa bebek yang tidak banyak macam dan suka menurut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Si Birah punya obsesi besar untuk menjadi raja di atas raja-raja lain yang ada di kampung tetangga. Apalagi konon di kampung tetangga rajanya bukan dari kalangan ayam jago. Sebagian dari bangsa burung, sebagian kambing, sebagian kerbau. Namun ia tidak peduli, ia yakin akan mengalahkan mereka semua. Karena itu ia menyiapkan berbagai perlengkapan perang untuk penyerangan kampung tetangga. Dengan kedigdayaan senjatanya, Si Birah dan pasukannya dapat menaklukkan satu persatu kampung-kampung itu. Hingga lama kelamaan ia benar-benar menjadi raja di atas raja-raja. Raja diraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi raja diraja membuat Si Birah merasa banyak musuh. Ia terus merasa berbagai bangsa, berbagai suku hendak menghancurkan dan merebut  kekuasaannya. Ia menjadi sangat protektif menjaga kekuasaannya. Setiap orang yang dianggap melanggar hukum lantas disiksa dengan siksaan yang berat, apakah hukuman itu sesuai dengan aturan atau tidak, itu bukan masalah baginya. Ia, dengan kekuasaannya, dapat membuat hukum sendiri. Kalau ia keliru, para ulama, para cendikiawan, para cerdik pandai dan perangkat adat akan membenarkannya. Dan sejarah tentang Si Birah ditulis oleh mereka yang ada di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun umur ayam tidaklah lama. Masa kegemilangan itu akhirnya hancur. Kekuasan Si Birah diwariskan pada anak cucunya. Namun mereka tidak sejago Si Birah. Apalagi, sebuah bangsa entah dari mana datang menyerang. Berbagai pasukan dikerahkan, berbagai senjata dikeluarkan, namun pasukan asing itu tetap tak terkalahkan. Meskipun pasukan asing itu tidak mampu menduduki kampung Si Birah, namun kekuasaan keturunan si Birah sudah hancur lebur. Mereka terpencar ke mana-mana. Hingga beberapa tahun kemudian sulit menentukan apakah Si Birah benar-benar punya keturunan atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu masa, kampung Si Birah dianggap terlalu lemah. Ia dianggap tidak pantas menjadi kampung dengan pemerintahan sendiri. Lantas entah ide siapa, kampung si Birah masukkan sebagai sebuah dusun kecil di dalam sebuah kecamatan yang lebih besar. Beberapa sisa pasukan Si Birah mencoba berontak. Mereka merasa di hina diturunkan derajat dari sebuah kampung menjadi sebuah dusun. Sayangnya, pasukan ini bukanlah pasukan si Birah. Lambat laun mereka takluk. Bukan takluk dalam perang, tapi menyerah di meja perundingan. Sesuatu yang jika Si Birah masih hidup pasti akan dikutuknya.Namun sayang Si Birah sudah tiada. Kini, orang-orang yang mengatasnamakan generasi penerusnya berselemak dengan jabatan, pangkat, dan kekuasaan yang diperoleh sebagai imbalan terima kasih dari bangsa lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, entah dari mana mulainya, mereka bicara lagi tentang Si Birah. Konon katanya, meskipun kini bukan kampung lagi, namun perlu "Si Birah" baru. Si Birah baru tidak lagi punya kuasa untuk berperang, namun ia akan memimpin adat, mengawal budaya, menjadi panutan anak negeri. Mereka menggambarkan Si Birah demikian heroik, demikian besar, demikian agung, hingga hampir tidak ada cacat padanya. Si Birah yang dulu ayam jago biasa, sekarang terlahir dalam wujud ayam suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nak, kata Lem Baka, ketahuilah itu hanya akal-akalan orang-orang yang hendak menjaga kekuasaannya semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lem Baka bercerita dengan penuh emosi. Entah anaknya mengerti entah tidak, dia tidak peduli. Sebuah dagelan sejarah tentang Si Birah sedang berlangsung di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-371699317625739991?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/371699317625739991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/12/si-birah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/371699317625739991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/371699317625739991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/12/si-birah.html' title='Si Birah'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-JYm_6npRrDI/Tw7qXo0MSbI/AAAAAAAABHg/6x-iksO319Q/s72-c/ayam2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-5671290862713914765</id><published>2010-12-02T12:44:00.008+07:00</published><updated>2010-12-03T17:27:04.003+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GAM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jaringan Aceh Merdeka'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasan Tiro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perdamaian Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konflik Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ebook'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perang Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemerintahan GAM'/><title type='text'>Konflik Aceh dan Kebijakan Jakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TPjEQGzqmjI/AAAAAAAAAxc/ZGbWODIsKgQ/s1600/miller.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 207px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TPjEQGzqmjI/AAAAAAAAAxc/ZGbWODIsKgQ/s320/miller.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5546398722091031090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Michelle Ann Miller, seorang ilmuan politik dan penerima beasiswa Post-doktoral dari the Asia Research Institute, National University of Singapore telah mempublikasi riset yang luar biasa dan studi yang lengkap tentang gerakan separatis di Aceh dan  bagaimana pemerintah pusat Indonesia menanggapi dan meyikapi masalah di Aceh.  Tulisan ini, bagaimanapun adalah sebuah paparan yang sangat lenggkap tentang apa yang bisa dipelajari dari berbagai strategi penyelesaian konflik di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang paling menarik dari buku ini adalah, kemampuan Miller untuk merekan perkembangan konflik Aceh berdasarkan pemerintahan presiden pasca Soeharto jatuh. Ia menunjukkan bagaimana setipa pemimpin Indonesia memiliki kebijakan yang berbeda dalam melihat dan menyelesaikan masalah Aceh. Terkadang bahkan bertentangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Download bukunya &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/12785977/Rebellion_and_Reform_in_Indonesia_Jakartas_Security_and_Autonomy_Polices_in_Aceh.pdf.html"&gt;Di Sini!&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Kalau anda berkenan mohon berbagi kesan dan pengetahuan setelah membaca buku ini di kolom komentar. Terima kasih&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-5671290862713914765?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/5671290862713914765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/12/buku-dan-hasil-penelitian-tentang-aceh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5671290862713914765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5671290862713914765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/12/buku-dan-hasil-penelitian-tentang-aceh.html' title='Konflik Aceh dan Kebijakan Jakarta'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TPjEQGzqmjI/AAAAAAAAAxc/ZGbWODIsKgQ/s72-c/miller.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1096211240882278302</id><published>2010-10-24T16:12:00.009+07:00</published><updated>2012-01-12T21:19:22.746+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='alam'/><title type='text'>Sebesar Apa Anda di Tengah Alam Semesta?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMP7EkXazfI/AAAAAAAAAwk/jqfJI2PjS1I/s1600/space1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMP7EkXazfI/AAAAAAAAAwk/jqfJI2PjS1I/s400/space1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531540823241051634" /&gt;&lt;/a&gt;Mungkin ini bukan info baru, sudah banyak diantara kita mengenalnya. Namun tidak salah untuk membaca merenungkan kembali demi kesadaran ilahiyah dan insaniyah kita menuju kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika kita duduk di sebuah kursi, di sebuah kamar, dalam sebuah rumah, berapa besar kita dibandingkan rumah tersebut? Kita adalah bagian yang tidak penting dari besarnya sebuah rumah. Namun bisakah anda bayangkan, bagaimana posisi anda di tengah besarnya alam semesta? Bukan keseluruhan alam semesta yang diciptakan Tuhan, tapi hanya alam semesta yang sudah diketahui manusia melalui ilmu pengetahuan. Mari kita bandingkan!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambr di samping ini  adalah posisi Indonesia di tengah keseluruhan bumi, di mana anda berada di salah satu daerahnya sebagai sebuah titik yang sama sekali tidak nampak. Bandingkan posisi anda dengan keseluruhan wilayah Indonesia. Anda hanyalah sebutir pasir di tengah bentangan pantai yang luas. Bumi memang masih lebih besar dibandingkan dengan beberapa planet di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun Bumi bukan yang terbesar di jagad raya. Dibandingkan dengan beberapa planet yang lain, misalnya Neptunus apalagi Jupiter, bumi laksana sebuah kelereng di depan bola kaki. Di mana anda di antara planet-planet itu?&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMP7kLaR6gI/AAAAAAAAAws/iyVxfR_lOZ8/s1600/space2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 224px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMP7kLaR6gI/AAAAAAAAAws/iyVxfR_lOZ8/s400/space2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531541366297979394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Jupiter sendiri tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan besarnya matahari. Ia laksana seorang manusia di depan sebuah gedung tinggi. Atau sebuah bola tenis di tengah sebuah kamar tidur. Sama sekali tidak berarti. Dalam posisi ini, di mana anda? Anda semakin tenggelam dan hilang. Anda bukan siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMP9V9C6J-I/AAAAAAAAAw0/5rBG6mnhIp4/s1600/space3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 224px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMP9V9C6J-I/AAAAAAAAAw0/5rBG6mnhIp4/s400/space3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531543320946943970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun sudah demikian, matahari bukanlah yang terbesar dibandingkan dengan Pollux apalagi dengan  Arcturus. Ia hanya sebiji kelereng di tengah sebuah rumah besar, tidak ada apa-apanya. Ia akan hilang kalau sedikit saja tertutup. Lagi-lagi, di manakah kita diantara besarnya benda alam tersebut? Kita semakin jauh, bahkan hampir tak berwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMQATDf2CGI/AAAAAAAAAw8/_-lcbRugHUM/s1600/space4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 280px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMQATDf2CGI/AAAAAAAAAw8/_-lcbRugHUM/s400/space4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531546569674197090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya Arcturus masih tidak seberapa dibandingkan dengan Antares. Ia hanya sebiji kacang di tengah sebuah kamar tidur. hilang ditelan mata. Di mana kita? Bahkan sebiji debu dalam kumpulan semua pasir yang ada di dunia masih cukup besar untuk membandingkan posisi kita di tengah jagat raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMQAfsUDf6I/AAAAAAAAAxE/nLp4lowrBU8/s1600/space5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 280px;" src=/6I/AAAAAAAAAxE/nLp4lowrBU8/s400/space5.jpg" bo2http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMQAfsUDrder="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531546786789031842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanyakan kembali, di manakah kita di tengah kedigdayaan alam semesta ini? Kita hanya debu-debu yang beterbangan.&lt;br /&gt;Hanya kesadaran semesta dan pandangan terbuka kita akan menyadari kekerdilan diri.&lt;br /&gt;Mari menggali kebesaran semesta untuk mengenal Ilahi dan menghormati sesama.&lt;br /&gt;Karena Jagat raya bukan hanya milik sekelompok manusia saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1096211240882278302?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1096211240882278302/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/10/sebesar-apa-anda-di-tengah-alam-semesta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1096211240882278302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1096211240882278302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/10/sebesar-apa-anda-di-tengah-alam-semesta.html' title='Sebesar Apa Anda di Tengah Alam Semesta?'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TMP7EkXazfI/AAAAAAAAAwk/jqfJI2PjS1I/s72-c/space1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1444292467311850726</id><published>2010-10-21T07:37:00.003+07:00</published><updated>2010-10-21T08:34:40.725+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhibbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taman Pintar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku Murah'/><title type='text'>Berburu Buku di Taman Pintar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TL-VpZnQTvI/AAAAAAAAAwc/eQjJtucjKJk/s1600/Taman+Pintar+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TL-VpZnQTvI/AAAAAAAAAwc/eQjJtucjKJk/s320/Taman+Pintar+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530303405916966642" /&gt;&lt;/a&gt;Satu tempat yang sama sekali tidak boleh dilewati kalau ke Jogja adalah Taman Pintar. Taman pintar sering juga disebut dengan Shoping. Letaknya tidak jauh dari Malioboro. Bisa jalan kaki kalau tidak terlalu lelah. Meskipun namanya Shoping, yang hanya suka Shopping tidak perlu ke Taman Pintar. Ini khusus buat mereka yang suka berburu buku murah. Anda tidak akan mendapatkan baju, sepatu, leptopn, HP terbaru, apalagi lipstik dan pakaian underwear. tidak ada. Yang ada adalah buku tentang itu semua. Taman Pintar adalah Mall buku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di Taman Pintar anda bisa dapatkan -mungkin- segala jenis buku yang pernah diterbitkan di republik ini.  Sebab di sana ada puluhan toko buku yang ruangannya penuh dengan buku-buku. Dari buku ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, agama, mistik, hingga buku terlarang juga ada di sana. Selain itu di Taman Pintar juga ada berbagai majalah bekas yang masih layak pakai dan nampak baru. Dan tidak ketinggalan, di sana juga ada kumpulan makalah dari berbagai kampus, ada catatan kuliah, ada kliping koran, ada pula buku impor dari berbagai negara. Beberapa toko juga menyediakan buku lama terbutan tahun 80an dan bahkan 60an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan harga? Nah…. ini menariknya Taman Pintar. Anda akan mendapakan potongan harga yang lumayan besar. Pastikan kantong anda cukup untuk memmbawa sekota buku kalau ke sana. Sebab saya menjamin tidak akan ada buku yang tidak jadi beli dengan alasan kemahalan. Setiap buku yang memikat mata dan hati, pasti bisa anda peroleh dengan harga yang pantas. Apalagi bisa tawar-menawar yang lumayan ekstrim. Saya pernah dapat buku sejarah Aceh yang harganya Rp. 70.000,- tapi saya bawa pulang dengan harga Rp. 25.000,- Buku baru, masih sangat baru. Demikian juga buku lain, sesuaikan saja. Anda bisa tawar sekenanya. Tapi tetap punya rasa kemanusiaan lho, hargai orang bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman saya, belanja di Taman Pintar perlu punya sedikit skil. Beberapa buku terkadang ditawarkan agak mahal karena kita nampak terlalu berminat. Atau penjualnya tidak mau menurunkan harga karena kita menunjukkan ekspresi kalau kita sangat butuh. Jadi biasa saja. Anggap anda tidak terlalu membutuhkan buku itu walaupun sebenarnya, kalau buku itu tidak ada anda akan menyesal seumur hidup. Rahasia yang lain, jangan pernah biarkan penjual buku mencarikan buku yang anda  cari ke toko lain. Terkadang kalau buku yang dicari tidak ada, ia bisa menawarkan untuk mencarinya ke toko lain. Nah, anda bisa katakan itu tidak perlu. Anda sendiri yang akan mencarinya. Sebab kalau ia yang cari maka tawar-menawarnya akan terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, Selamat berburu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1444292467311850726?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1444292467311850726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/10/berburu-buku-di-taman-pintar.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1444292467311850726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1444292467311850726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/10/berburu-buku-di-taman-pintar.html' title='Berburu Buku di Taman Pintar'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TL-VpZnQTvI/AAAAAAAAAwc/eQjJtucjKJk/s72-c/Taman+Pintar+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-886410243374202682</id><published>2010-08-18T16:04:00.000+07:00</published><updated>2010-08-18T16:06:05.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Budaya Puasa, Apa Perlu?</title><content type='html'>Ada perbedaan yang sangat jelas antara puasa yang dianggap “ideal” dengan puasa yang dilaksanakan oleh kebanyakan kaum muslimin. Puasa ideal dipersepsikan sebagai puasa yang benar-benar menahan nafsu dan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Bahkan lebih jauh puasa ideal adalah puasa yang dapat menjadi “sekolah moral” di mana lulusannya akan menjadi “insan kamil” atau manusia paripurna di kemudian hari. Singkatnya, puasa ideal adalah puasa yang benar-benar spiritual dan moral yang dianggap sebagai “puasa pra Nabi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun yang terjadi justru sebaliknya, orang melakukan puasa tidaklah sebagai representasi spiritualitas semata. Banyak orang melakukannya karena konstruksi budaya pada bulan suci ini. Jadinya, puasa dilakukan sebagai aktifitas religius dalam kerangka budaya. Makanya, banyak hal yang tidak ada pada bulan-bulan lain timbul dan marak di bulan puasa. Banyak pekerjaan yang tidak ada di bulan lain, dilakukan di bulan puasa. Termasuk makanan-makanan khas yang memang hanya ada di bulan puasa. Dan banyak orang yang berpuasa menganggap ini sebagai bagian dari aktifitas ramadhan yang tidak bisa ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Budaya puasa tidak perlu? Lalu kenapa banyak orang melakukannya? Ini memangmenjadi dilema. Di satu sisi terkadang budaya puasa telah menjadi kontraproduktif dengan puasa itu sendiri. Puasa mengajak kita menahan diri, namun konstruksi budaya puasa justru mengajak kita memborong makanan sejak pagi hari. Puasa bertujuan menjaga hati, malah banyak orang memanfaatkan waktu luang berpuasa untuk melakukan perbuatan sia-sia. Belum lagi banyak orang yang menjadikan puasa sebagai kambing hitam menurunnya produktifitas kerja, pekerjaan yang tidak selesai, gerakan yang lambat, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di balik berbagai kelemahan itu semua, terkadang budaya puasa juga memiliki mafaat. Antara lain manfaat sosial dan ekonomi. Secara sosial, buaya puasa membantuk sebuah kesempatan untuk bersilaturahim antar kelompok sosial dalam cara buka puasa bersama. Selain itu budaya puasa juga membangun hubungan tenggang rasa yang baik antar orang yang berpuasa dan tidak berpuasa (meskipun tidak semuanya). Manfaat lain yang tidak kelah pentingnya dari budaya puasa adalah banyak fikir miskin dan anak yatim yang tersantuni spanjang bulan suci ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara secara ekonomi jelas, budaya puasa telah memberikan stimulus untuk munculnya kreatifitas pedagangan, baik di tingkat produk maupun dalam metode berdagang. Banyak orang yang menjadikan bulan puasa sebagai kesempatan mendapatkan lebih banyak rezeki dengan menyediakan “kebutuhan” orang yang berpuasa. Selain itu ada peningkatan produksi komoditas tertentu yang memungkinkan pekerja dapat penghasilan lebih banyak di bulan ini. Singakatnya, puasa bida menjadi pendorong bagi banyak orang untuk melakukan kegiatan produktif yang menghasilkan secara ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, yan perlu diperhatikan adalah dimensi spiritualitas puasa harus diintegrasikan ke dalam aktifitas sosial ekonomi yang dilakukan agar puasa tidak menjadi ladang yang kering bagi hati. Sebab puasa adalah persoalan hati yang memang menjadi dasar bagi sebuah aktifitas sosial ekonomi yang dilakukan oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-886410243374202682?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/886410243374202682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/08/budaya-puasa-apa-perlu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/886410243374202682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/886410243374202682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/08/budaya-puasa-apa-perlu.html' title='Budaya Puasa, Apa Perlu?'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-8797836353349474079</id><published>2010-06-05T13:31:00.001+07:00</published><updated>2010-06-05T13:31:34.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Masuk Longgar Keluar Ketat</title><content type='html'>Kemarin baru saja ngobrol dengan seorang teman yang sedang mengeluh. Katanya ia sedang kesal, sudah tiga kali mendaftar di program pascasarjana sebuah universitas tidak juga diterima. Padahal dari sisi segalanya ia sudah siap. Biaya pendidikan, keluarga, surat izin pendidikan, semua sudah oke dan ia benar-benar siap untuk -kembali- belajar di kampus. Namun apa daya, sudah tiga tahun mendaftar di perguruan tinggi kesukaannya, namun belum juga berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengeluh sambil tetap instrospeksi diri, meyakinkan diri bahwa ia bukan orang yang pantas untuk menjadi master. Namun setelah beberapa kali ikut tes, ia berbalik arah, mengatakan pendidikan kita terlalu formal dan prosedural. Orang sudah bersedia belajar, sudah siap biaya, sudah semangat, malah tidak diberikan kesempatan untuk belajar. Apa salahnya pihak perguruan tinggi memudahkan jalur masuk? Kalau nanti tujuannya mau jadikan lulusan yang berkualitas tinggal disetel di jalur keluar. Dengan demikian semua orang punya kesempatan untuk belajar di level yang lebih tinggi, dan punya kesempatan untuk “unjuk gigi” di kelas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang lain, minggu lalu mengeluh karena universitas tempat ia mau mendapftar S2 meminta terlalu banyak dokumen. Selain iajazah, transkrip nilai, SK pegawai negeri, izin pimpinan, rekomendasi atasan, rekomendasi mantan pembimbing dan macam-macam lagi. Semua dokumen itu menjadi bahan yang harus dimasukkan dalam sebuah map untuk kepentingan pendaftaran. Ia jadi mengeluh, pertama karena memang agak sulit mengurusnya. Kedua, untuk apa dokumen-dokumen tersebut? Apa pentingnya buat program pascasarjana? Setelah diberikan mereka pasti melemparkannya ke tong sampah. Padahal, menurut teman saya, cukup dengan dokumen penting saja, ijazah. Ini yang membuktikan ia sudah selesai S1/S2. Selebihnya bisa dengan curriculvitae (CV). Apakah ia akan berbohong? dalam tahun-tahun awal keberadaannya di kampus, semua kebohongan dan kejujurannya akan terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat pengalaman seorang teman yang mendaftar beasiswa ke luar negeri. Katanya banyak universitas di luar negeri tidak perlu tes untuk masuk ke program pascasarjananya. Kita hanya perlu submit beberapa dokumen, lalu selesai. Mereka akan menilai berdasarkan dokumen tersebut lalu memanggil kita. Namun kenapa kualitas pendidikannya bagus? Karena di dalam, saat mahasiswa kuliah, seseorang benar-benar mendapatkan pendidikan yang bagus dan bermanfaat untuk pengembangan diri dan ilmunya. Kalau lembaga pendidikan mendidik orang pintar lalu lembaga tersebut terkenal, itu hal biasa. Tapi kalau ia menerima “orang bodoh” lalu mendidiknya mejadi pintar, baru istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat berharap akan lahir sebuah kebijakan yang memudahkan seroang uantuk melanjutkan pedidikannya, terutama untuk S2 dan S3, tanpa harus tes. Dengan melihat CV seseorang sebenarnya kita telah mampu memetakan kemampuannya dalam mengikuti kuliah. Mungkin tes masih perlu untuk S1 karena sangat banyak, sementara S2 dan S3 dengan jumlah peminatnya yang tida kterklalu banyak, mungkin bisa diterima tanpa tes. Jadi masukknya longgar, keluarnya ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-8797836353349474079?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/8797836353349474079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/masuk-longgar-keluar-ketat.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8797836353349474079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8797836353349474079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/masuk-longgar-keluar-ketat.html' title='Masuk Longgar Keluar Ketat'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-533352753900969827</id><published>2010-06-05T13:30:00.002+07:00</published><updated>2010-06-05T13:30:57.986+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Motor Pemicu Diskriminasi Gender!</title><content type='html'>Tahun lalu, dalam perjalanan ke sebuah kabupaten dari Banda Aceh, saya menumpang L300, angkutan umum satu-satunya menuju ke sana. Saya duduk di depan di sisi sopir. Beberapa detik sebelum berangkat, seorang perempuan yang tidak terlalu muda diantar oleh sebuah becak mendekati sopir. Perempuan itu nampak sangat tidak rapi. Rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga kusut tidak karuan. Ia datang sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada sopir, dengan isak tangis yang tidak berhenti ia mengatakan sesuatu. Saya tidak bisa menangkap semua yang ia katakan, namun saya bisa paham kalau ia sedang dalam masalah dan memerlukan tumpangan. Sopirpun setuju, dan dia naik ke dalam mobil. Perempuan itu duduk di depan, diantara saya sebelah kirinya dan sopir di sebelah kanannyan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah setengah jam di jalan, ia mulai tenang. Saat itulah sopir mulai bertanya, apa yang terjadi. Isaknya kembali terdengar, namun tidak terlalu keras. “Suami saya membawa lari anak kami dengan istri mudanya” kata sang perempuan. Saya menjadi kaget, suami membawa lari anak? Bukankah itu anak mereka? Mungkin sang suami hanya ingin membawanya main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, katanya. Suaminya sudah kawin dengan perempuan lain, orang Medan (Sumatera Utara) dan masih muda. Kemrian dia datang ke Banda Aceh mengambil anak saya yang masih berumur 1,5 tahun dan membawa pergi. Saya mau ke Langsa, rumahnya ibunya (ibu suami) di Langsa. Saya sangat takut anak itu dijual. Suami saya lelaki “kaplat” (bangsat). Ngak punya hati…huk…huk…huk…” ibu itu menangis lagi. Ia mengatakan sesuatu namun tidak jelas suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tangisnya reda kembali ia melanjutkan kisahnya. Suami saya jarang pulang ke rumah setelah saya melahirkan. Bahkan ia tidak mengirimkan saya uang biaya hidup. Pernah dia pulang, tapi bukannnya membawa kebahagiaan, tapi membaut saya sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu saya membeli sebuah sepeda motor kredit. Dia tahu saya punya sepeda motor, makanya dia pulang. Pagi-pagi dia tiduran di rumah. Sore hari dia keluar dengan sepeda motor. Pertama saya tidak tahu ia pergi ke mana. Tapi karena kadang-kadang ia tidak pulang sampai malam, saya suruh keponakan saya memata-matainya. Ternyata ia pergi dengan perempuan lain, jalan-jalan ke Krueng Raya dan duduk berdua dipinggir pantai. Kita yang capek-capek bekerja mencari uang, dia hanya bersenang-senang dengan perempuan lain. Makanya, waktu ia pulang saya ambil sepeda motor, lalu saya jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tidak ada sepeda motor dia pergi lagi. Baru kemarin dia pulang, bersama seorang perempuan muda. Katanya itu istrinya dari Medan. Tadi siang dia ambil anak saya, tapi sudah sampai malam begini belum dibawa pulang juga. Saya telepon, katanya anak saya sudah dibawa bersama. Dia meu mengurus anak. Mana mungkin laki-laki bangsat itu mengurus anak. Dirinya sendiri saja tidak sanggup diurus. Saya takut anak saja dijual. Huk…huk…huk…. ibu itu menagis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, cerita itu masih panjang. Tapi tidak ada kaitan langsung dengan sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keluarga yang petani. Mereka hidup bersama sudah beberapa tahun yang lalu. Sangat sederhana. Untuk transportasi menuju ke sawah atau ladang mereka hanya naik sepeda ontel yang sudah tua. Dengan sepeda itu mereka nampak sangat mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah fasilitas kredit sepeda motor masuk sampai ke kampung-kampung, suami mengajak istrinya mengambil kredit untuk membeli sebuah sepeda motor. Istri setuju saja. Apalagi, ia berfikir, itu akan sangat memudahkan mereka dalam pergi ke sawah atau ke kebun. Setelah mengurus administrasi yang macam-macam, sepeda motorpun datang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, setelah sepda motor ada di tangan mereka, sang istri baru tahu kalau itu membuat keluarga mereka retak. Suami asik dengan motor barunya, pergi kemana-mana tidak jelas. Katanya silaturahim ke saudara yang jauh. “Untuk apa sepeda motor kalau kita tidak mengunjungi saudara jauh” katanya ketika sang istri menanyakan. Istrinya menerima dengan berat, walaupun hatinya tidak yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami mulai keasyikan. Ia mulai jarang pergi ke sawah dan ladang. Semuanya mulai ditangani istrinya. Setiap pagi ia mengenakan pakaian terbaik dan berpenampilan sangat rapi. Mengambil sepeda motor lalu pergi entah ke mana. Siang hari ia pulang. Kalau istri belum masak ia marah-marah. Padahal istrinya pergi ke sawah dan ke kebun untuk bekerja. Sementara ia dengan sepeda motornya entah pergi kemana. Dari sebuah kabar burung, katanya, sang suami sudah menemui dermaga baru untuk melabuhkan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua gara-gara sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-533352753900969827?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/533352753900969827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/motor-pemicu-diskriminasi-gender.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/533352753900969827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/533352753900969827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/motor-pemicu-diskriminasi-gender.html' title='Motor Pemicu Diskriminasi Gender!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-5283383691606605801</id><published>2010-06-05T13:27:00.001+07:00</published><updated>2010-06-05T13:29:08.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Cara Mengetahui Mahasiswa Nyontek</title><content type='html'>Nyontek memang sebuah kejahatan akademik. Namun tetap saja banyak mahasiswa yang menyontek waktu ujian. Memang dosen sudah memperingatkan kalau nyontek dia tidak akan lulus, kalau nyontek dapat nilai jelek, macam-macam sangsi lah. Tapi kenyataannya nyontek laksana penyakit yang sulit dihilangkan dikalangan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa dosen punya kita khusus mendeteksi mahasiswa menyontek. Beberapa cara itu dilakukan dosen saya saat kuliah dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membca Koran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dosen masuk kelas dengan membawa koran. Setelah membagikan soal ujian dan lembaran jawaban, ia duduk santai di depan kelas. Koran yang besar dibantangkan di depan mukanya sehingga mahasiswa tidak bisa melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi ini, kami mulai aksak-kusuk kanan kiri minta bantuan. pelan-pelan buka cataan. kopean yang sudah disediakan sejak di rumah juga mulai digunakan. sebagai mengambil dari sepatu, ada dari tali pinggang, ada di balik baju, macam-macam. bahkan ada yang menulisnya di tangan dan menutupinya dengan baju berlengan panjang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sang dosen seperti tetap asyik dengan bacaannya dan tidak peduli dengan apa yang kami lakukan. Kamipun semakin menggila, buka hanya melihat punya sendiri, tapi mulai berani menjenguk jawaban ujian teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, bapak dosen membuka korannya. Dan kami secepat kilat duduk dengan rapi dan seolah tidak terjadi apa-apa. secepat kilat pula semua catatan dimasukkan ke tempatnya yang paling aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bapak dosen bukan hanya membuka koran di depannya, tapi langsung berdiri dan menuju ke meja kursi mahasiswa. Ia tahu persis di mana kopean diletakkan. Semua mahasiwa yang menyimpan catatan diambil dan dibawa ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selidik punya selidik, ternyata koran yang dibacanya telah dilubangi di tengah dengan paku. Dari kejauhan mahasiswa tidak nampak lupang itu karena kecil-kecil. Namun karena koran sangat dekat dengannya, ia dapat melihat apa saja yang dilakukan mahasiswa. Pantas saja ia tahu di mana kopean disembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacamata Hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi yang lain adalah dengan memakai kacamata hitam. Seorang dosen duduk di depan mengenakan kacamata hitam. Mahasiswa tidak tahu ia melihat kemana. sebab mata sang dosen dibalik kacamata tidak nampak sama sekali. Ia bisa saja melihat ke luar ruangan, namun matanya melihat ke arah mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman yang nekat tidak mengerti dengan kondisi ini. Ketika bapak dosen melihat keluar, ia pikir benar-benar melihat ke luar. sehingga jurus buka kopeanpuan dimainkan. dan apa yang terjadi? beberapa saat kemudian pak dosen akan bangun dana mengambil kopean tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi menggunakan kacamata ini terkadang banyak masalah juga. Kadang-kadang dosen tertidur di balik akcamatanya. namun karena khawatir ia terjaga dan melihat ke arah mahasiswa, maka kami takut membuka kopean. sampai ujian selesai, ia tidak perlu mengawasi mahasiswa, kukup tidur dengan kacamata hitam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian aneh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejadian aneh. seorang dosen membawa koran ke dalam ruangan dan membca dengan santai. Kami mengira ia benar-benar membaca koran karena duduk dengan sangat tenang. Tiba-tiba kami sadar kalau koran di bagian lauar yang mengarah ke kami terbalik. jadi koranya pasti terbalik dan si dosen bukan sedang memabca koran. Nah, ketika tangan si dosen jatuh ke pahanya, berarti ia tidak lagi memegang koran. Koran hanya tegak karena disandarkan di tas. Dan beliau sudah tertidur dengan pulas. Dengan sangat hati-hati kamipun memaikan aksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian lain katika sang dosen menggunakan kacamata hitam. Kami sangat takut karena khawatir beliau melihat dari balik kacamata. Tapi tiba-tiba kacamatanya jatuh sebelah. Tapi beliau tidak memperbaiki letaknya. Dan dengan jelas kami melihat matanya tertutup. berarti beliau tertidur. Dan kamipun mulai melakukan aksi nyontek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hahaha… pengalaman masa-masa mahasiswa :-D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-5283383691606605801?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/5283383691606605801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/cara-mengetahui-mahasiswa-nyontek.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5283383691606605801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5283383691606605801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/cara-mengetahui-mahasiswa-nyontek.html' title='Cara Mengetahui Mahasiswa Nyontek'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-4375728509901821482</id><published>2010-06-05T13:25:00.001+07:00</published><updated>2010-06-05T13:27:19.422+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kata Dosenku: “Nilai A Milik Tuhan”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAnuGkTxNBI/AAAAAAAAAwM/Vf_ZBIPBHdI/s1600/stress.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 186px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAnuGkTxNBI/AAAAAAAAAwM/Vf_ZBIPBHdI/s200/stress.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5479172218266137618" /&gt;&lt;/a&gt;Tiba tiba teringat masa lalu, masa-masa jadi mahasiswa. Banyak kenangan yang tercipta, yang sedih, yang gembira, yang macam-macam lah. Semua masih terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kenangan berkaitan dengan nilai dari dosen. Begini ceritanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai A Milik Tuhan&lt;br /&gt;Ketika masih kuliah, saya termasuk sebagai mahasiswa yang lumayan rajin, setidaknya dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Kalau ada tugas dari dosen saya benar-benar kerjakan dan selesaikan tepat waktu dan seerti yang diinginkan dosen. Demikian juga dalam kelas, saya tunjukkan keseriusan saya dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir semester, semua mahasiswa mengikuti ujian. Ujian dilaksanakan secara tertulis di kelas. Dosen menulis soal di papan tulis, lalu kami menjawabnya. Saya melakukannya dengan baik dan menjawab soal dengan sempurna, sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh dosen pada masa kuliah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian nilai keluar. Setiap mahasiswa mendapatkan nilainya sendiri. Ketika melihat nilai yang ditempel di papan pengumuman dekat jurusan, saya terkejut melihat nilai saya B. Saya sangat tidak bisa menerima. Soalnya saya merasa hampir tidak ada “celah” untuk memberikan nilai demikian. Hampir semua aspek yang akan dinilai saya ikuti dan selesaikan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendatangi dosen yang mengasuh mata kuliah ini. Agak sulit juga karena beliau agak sibuk dengan kegiatan sosial di luar kampus. Namun pada saatu hari saya berhasil menemuinya. Setelah duduk memperkenalkan diri, saya menyampaikan maksud saya menjumpainya. Saya juga kemukakan alasan saya untuk mengajukan protes. Bahkan saya mengatakan kalau saya bersedia mengikuti ujian ulang, termasuk ujian lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya saya ketika beliau menjawab:&lt;br /&gt;“Nilai A itu untuk Tuhan. Nilai B untuk saya. Paling tinggi nilai mahasiswa adalah C. Kalau kamu dapat B berarti kamu sudah saya kasih hadiah besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengatakan ini iapun pergi. Saya jadi speakless. Tidak tahu harus berkata apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat A karena Nekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman lain ikut ujian yang sangat mengesankan dalah dapat A karena berani, bukan karena pandai. Saya mengambil mata kuliah dengan seorang dosen yang sangat –kami katakan- killer. Dalam sejarah, ia hanya pernah mengeluarkan nilai A beberapa kali. Konon katanya, rektor yang ada saat saya kuliah adalah salah seorang yang pernah diberikan nilai A. Inilah yang membuat saya sangat rajin membaca buku-buku yang telah di tetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masa ujian tiba hati kami begetar. Siap-siap “dibunuh” oleh sang dosen. Ada sebuah prinsip yang sudah tertanam dalam hati kami. Belajar atau tidak belajar niali pasti C. paling-paling dapat nilai B, dan itu sangat jarang terjadi. Mungkin kebetulan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian akan dilangsungkan keesokan harinya. Saya sudah membaca buku yang dianjurkan dan bahan pelajaran yang lain. Dan sudah sangat membosankan mengulangnya lagi. Karenanya, malam hari saya mengajak beberapa teman main kartu. Kebetulan saya tinggal di satu kosan bersama teman-teman satu jurusan. Saya provokasi mereka dengan mengatakan tidak ada artinya belajar. Ternyata teman terprovokasi dan kami main kartu sampai azan subuh. Setelah shalat subuh kami tidur. Dan hanya satu jam kemudian kami harus bangun dan pergi ke kampus untuk mengikiuti ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen matakuliah masuk kelas. Dengan wajahnya yang garang ia menantang mahasiswa. “Siapa diantara kalian yang berani ujian lisan?” Semua terkejut mendengar tantangan ini. sebab biasanya ujian dilakukan dengan tulisan. Saya tunjukkan tangan. Beliau tanya lagi, apa ada yang lain mau ujian lisan. Melihat saya tunjuk tangan, dua teman yang semalam ikut main kartu juga tunjuk tangan. Saya tunjuk tangan karena sudah baca buku sehari sebelumnya. Sementara mereka tunjuk tangan karena melihat saya tunjuk tangan. Dan akhirnya kami dipisahkan ke ruang yang lain. Sementara teman-teman diberikan soal di dalam kelas dan mengikuti ujian seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian Bapak dosen datang menjumpai kami. Teman-teman sudah saya jelaskan kalau saya sudah baca buku sebelumnya maka berani tunjuk tangan. Sementara mereka tidak ada bekal sama sekali. Ini membuat mereka sangat ketakutan. “Kalau  aku tahu bagitu aku bakal ikut ujian saja tadi.” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kami sangat terkejut ketiak Bapak Dosen  bilang. Saya tahu kalian sudah membaca  dan belajar di rumah. Kalau tidak mana mungkin berani tunjuk tangan. Iya kan?  Teman saya yang jawab dengan penuh rasa percaya diri. “Iya Pak.” “Oke, kalau begitu kalian boleh pulang. Saya anggap sudah ikut ujian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bersorak di dalam hati. Dan setelah jauh dari ruang dosan kami tertawa terbahak-bahak karena senang berhasil “menipu” dosen killer. Apalagi setelah ujian selesai kami bertiga dapat A atas keberanian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disangka Muallaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ini sebenarnya pengalaman teman saya, anak medan. Namanya Rijal Pangabean. Dia kuliah jauh-jauh ke Aceh. Sebelumnya mondok di sebuah pesantren di medan. Bahsa Arabn dan inggrisnya lancar. Pengetahuan agamanya luas. Kebetulan kami ambil mata kuliah Fiqh Islam. Belajar tentang beberapa hukum dan aturan dasar beribadah dalam Islam. Sesuatu yang memang menjadi “makanan” sehari-hari saat ia di pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ujian, dosen memberikan kami ujian lisan. Semula kami menolak, namun karena beliau tetap tegas dengan keputusannya, maka kami akhirnya tetap ujian lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satu kami dipanggil ke depan. Setiap orang ditanya beberapa pertanyaan yang sebenarnya sangat berat. Saya diminta untuk membacakan dua rukun khutbah jum’at beserta dua menit ceramahnya. Ada teman saya yang disuruh membaca do’a-doa shalat jenazah. Sedikit agak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat datang giliran si rizal, ia hanya diminta mengartikan kalimat basmallah. Maka dengan mudah ia bisa mengartikan. Apalagi basmallah bukan hanya diketahui artinya oleh orang Islam, ia juga memang ahli dalam bahasa Arab. Dia pun selesai. Dan ketika pengumuman nilai keluar, Rijal dapat nilai A, nilai ujiannya dapat penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut-punya usut ternyata Bapak Dosen berfikir kalau Rijal Pangabean adalah muallaf, atau orang yang baru masuk Islam. Maknya ia memintanya menyebutkan arti basmallah saat ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-4375728509901821482?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/4375728509901821482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/kata-dosenku-nilai-milik-tuhan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/4375728509901821482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/4375728509901821482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/kata-dosenku-nilai-milik-tuhan.html' title='Kata Dosenku: “Nilai A Milik Tuhan”'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAnuGkTxNBI/AAAAAAAAAwM/Vf_ZBIPBHdI/s72-c/stress.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6598215465931913451</id><published>2010-06-05T13:19:00.003+07:00</published><updated>2010-06-05T13:25:03.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='guru'/><title type='text'>Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAntfeMizOI/AAAAAAAAAwE/gpB9Ks4QgpE/s1600/10223_Arment+%26+Co.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAntfeMizOI/AAAAAAAAAwE/gpB9Ks4QgpE/s200/10223_Arment+%26+Co.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5479171546610322658" /&gt;&lt;/a&gt;Semula saya akan memberikan komentar pada tulisan Bang Ali: &lt;a href="http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/27/mahalnya-ongkos-sekolah/"&gt;Mahalnya Ongkos Sekolah&lt;/a&gt;. Tapi sudah kepanjangan. Ya sudah, saya “sempurnakan” sedikit lalu saya posting menjadi tulisan sendiri, lagi pula pagi ini saya belum dapat ide bagus untuk ditulis. Hehehe :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kata yang sangat berhubungan dengan pendidikan, antara lain adalah Sekolah, belajar/mengajar dan mendidik. Pemahaman yang keliru dalam istilah ini menjadikan kita salah dalam menilai dunia keilmuan dan dunia moral dalam kehidupan bersama. Kesalahannya adalah, kita sering menjadikan sekolah/guru sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya ada perbedaan besar antara Sekolah, belajar dan pendidikan. Sekolah hanyalah sebuah lembaga yang di sana bisa saja berlangsung sebuah proses belajar atau pendidikan. Umumnya sekolah dikelola negara. Meskipun bangunan dan fasilitasnya disediakan oleh swasta, namun dari sisi kerikulum, proses dan evaluasi selalu berhubungan dengan negara. Negara membuat sebuah standar khusus untuk sekolah yang harus diikuti oleh semua penyelenggara sekolah di Indoensia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain sekolah ada juga pesantren (Aceh: Dayah). Berbeda dengan sekolah pesantren memfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama Islam semata. Selain belajar ilmu agama Islam, dalam pesantren juga dilakukan praktik-praktik religius tertentu sebagai bagianda ri peribadatan. Misalnya ada praktik shalat malam bersama, pengajian, suluk, zikir bersama, dan lain sebagainya. Kalaupun ada pelajaran lain yang lebih umum, itu hanyalah keterampilan atau skill sederhan yang digunakan untuk bekal kerja setelah ia tamat di pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar/mengajar adalah sebuaha transfer of knowledge. Anak didik dianggap sebagai sebuah gelas kosong yang tidak ada airnya. Sementara guru bagaikan sebuah ceret penuh air yang kemudian menuangkan air ke dalam gelas (anak). Maka dalam proses ini hampir tidak ada proses penjelasan; air apa yang dituangkan, untuk apa, mau dibawa kemana, berapa banyak yang diperlukan, dll. Si anak menerima si guru memberikan, bahkan terkadang dengan paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan seorang anak oleh orang lain. Orang lain di sini bisa saja dilakukan oleh guru atau orang tua, atau –dan ini sangat penting- lingkungan di mana si anak hidup. Oleh sebab itu pendewasaan bukan hanya dalam ilmu-ilmu teoritis saja dengan mengkaji buku-buku yang ada, namun juga “ilmu kehidupan” yang kebanyakannya tidak tertulis. Ia ada di alam dan kita perolah melalui cerita pengalaman orang atau perenungan sendiri. Karenanya pendidikan bukan hanya di sekolah, namun lebih banyak di rumah dan dalam kehidupan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi selama ini, menurut saya, sekolah hanya mengajarkan anak, namun tidak mendidik. Padahal yang lebih banyak ditangkap oleh anak dalam proses ini adalah “pendidikan” bukan “pengajaran. Contohnya, guru mengajarkan siswa jujur, baik, perhatian, dll. Dalam ujian ia akan ditanya apa yang dimaksud dengan jujur. Anak-anak yang rajin belajar akan tahu pengertian jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ujian akhir, takut siswanya tidak lululs, guru memberikan jawaban ujian yang berarti ia sudah mempraktekkan ketidakjujuran. Praktek ini akan terekam dalam jiwa anak-anak, dan inilah yang paling berkesan dalam hidupnya. Sementara penegertian jujur yang telah dipalajari sebelumnya akan hilang dan ditinggalkan setelah ujian selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya sekolah bukan hanya lembaga transfer of knowledge, tapi juga sebuah lembaga yang mendidik. Dalam kondisi ini juga guru hendaknya seorang pendidik bukan pengajar. Selain itu orang tua di rumah dan lingkungan di mana seorang anak hidup juga mesti berfungsi sebagai guru yang mendidiknya mejadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya yang tinggi yang digunakan untuk menjadikan “anak cerdas” melalui lembaga pendidikan tidak serta merta menjadikan ia sebagai “anak yang terdidik” meskipun ia cerdasa dalam ilmu pengetahuan. Namun, sebaliknya, kelas jauh di pedalaman yang tidak ada fasilitas bisa saja melahirkan seorang anak yang “terdidik” dan cerdas dalam ilmu kehidupan. Dan idealnya adalah adanya sebuah perpaduan antara pengajaran dan pendidikan. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6598215465931913451?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6598215465931913451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/guru-harus-mendidik-bukan-mengajar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6598215465931913451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6598215465931913451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/guru-harus-mendidik-bukan-mengajar.html' title='Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAntfeMizOI/AAAAAAAAAwE/gpB9Ks4QgpE/s72-c/10223_Arment+%26+Co.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-2756002612288506754</id><published>2010-06-05T13:18:00.002+07:00</published><updated>2010-06-05T13:19:37.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Tsunami dan Aceh Yang Berubah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAnsT0VUiRI/AAAAAAAAAv8/AilmFfvD9dU/s1600/32486_425290121140_720176140_5745226_5900913_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 207px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAnsT0VUiRI/AAAAAAAAAv8/AilmFfvD9dU/s320/32486_425290121140_720176140_5745226_5900913_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5479170246882658578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Buku ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa dunia akademis di Aceh sesudah tsunami masih mempunyai potensi yang kuat untuk menghasilkan sarjana yang berbobot”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Emeritus Harold Crouch&lt;br /&gt;ANU-Australia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang berubah di Aceh pasca tsunami? Bagi seorang yang hanya melihat Aceh dalam 4G, maka perubahan yang terjadi hanya dalam bentuk fisik belaka. Saat ini tidak ada lagi para tentara yang melakukan patroli sepanjang jalan umum. Tidak ada lagi kontak senjata sepanjang malam yang bahkan menjadi dongeng pengantar tidur. Yang lainnya, kita bisa pergi ke mana-mana seluruh Aceh tanpa khawatir akan ditembak, diculik atau kemungkinan lain yang lebih buruk seperti pada masa konflik. Karena Aceh sudah damai. Perubahan lain adalah tumbuhnya bangunan baru yang menggantikan bangunan lama yang roboh dan hancur diterjang tsunami. Rumah warga yang dulunya rata dengan tanah sekarang sudah dibangun kembali oleh pemerintah dan NGO asing yang datang membantu. Berbagai fasilitas umum yang juga hilang disapu air bah kini sudah menjadi baru kembali. Bahkan banyak yang sebelum tsunami tidak ada, sekarang telah terwujudkan lagi. Perubahan lain adalah beberapa kebijakan politik Syariat Islam yang menjadikan kehidupan sosial juga sedikit berubah. Setidaknya ini terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh kaum muslim yang ada di Aceh saat ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itu saja yang berubah? Ternyata tidak. Perubahan yang terjadi di Aceh bukan hanya dalam tataran fisik seperti yang umumnya kita saksikan saat ini. Ada perubahan yang lebih fundamental dan mendasar lainnya yang sesuangguhnya tidak kalah penting. Dan hal ini nampakanya terjadi justru setelah tsunami melanda Aceh. Apakah perubahan itu memang sebagai sebuah rotasi kehidupan sosial di Aceh atau sebuah keniscayaan yang muncul karena “kosmopolitanisme” Aceh pasca tsunami? Apasaja dan bagaimana perubahan tersebut terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi fokos yang paparkan dalam buku tentang Aceh terbitan terbaru: Serambi Mekkah yang Berubah; views from within. Buku ini pada dasarnya kumpulan hasil penelitian dari peneliti yang tergabung dalam Aceh Research Training Institute (ARTI) Banda Aceh. Beberapa anak muda yang masih haus dengan pengetahuan diseleksi untuk ditraining menjadi peneliti. Setelah melewati beberapa tahapan bimbingan dan kerja lapangan, tinggallah delapan peneliti yang hasil penelitiannya dibukukan dalam buku ini. Oleh sebab itu tema-tema yang disajikan merangkum hampir keseluruhan aspek dan topik yang sedang hangat berkembang di Aceh pasca tsunami. Maka tidak berlebihan kalau Harold Crouch, Profesor Politik Indonesia di Australian National University mengungkapkan bahwa buku ini menjadi sebuah jendela untuk melihat Aceh secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harold tidak berlebihan dengan pandangan tersebut. Dari delapan tulisan yang ada dapat dibagi dalam tiga tema pokok; Syariat dan Institusi, Aktor dan Persepsi serta praktek keagamaan. Dalam bagian pertama pembahasan diarahkan untuk mendalami isue-isue penerapan syariat Islam di Aceh yang belakangan menghangat seiring dengan diberikan kewenangan kepada Aceh untuk melakukan formaslisasi fiqh  Islam menjadi peraturan daerah. Kenyataan ini menimbulkan banyak masalah, baik dari sisi latar belakang kemunculan peraturan, dari sisi legislasi itu sendiri atau dari sisi pemehaman masyarakat mengenai Syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua mencoba menjelaskan aspek keterlibatan dan peran aktor-aktor dalam perubahan persepsi dan cara pandang dalam masyarakat Aceh pasca tsunami. Salah satu penulis, Nanda Amalia yang mengetengahkan pembahasan mengani persepsi jaksa di Aceh Utara dalam memahami kebijakan yang berperspektif gender dan implementasinya di lapangan kita bisa lihat bagaimana kehadiran bangsa asing dan berbagai program yang mereka lakukan mampu membuka arah baru dalam memandang perempuan oleh stake holder yang selama ini tidak memiliki perspektif gender sama sekali. Hal ini tentu saja sebuah kemajuan yang akan meminimalisir ketidakadilan pada perempuan karena aparatur hukumnya tidak mengerti masalah keadilan gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak kalah menarik adalah dua pembahasan yang diberikan di bagian betiga buku ini. Sehat Ihsan Shadiqin yang mencoba mengeksplorasi pemaknaan kenduri kematian dalam masyarakat Kluet di Aceh Selatan mendapatkan, pasca tsunami kehidupan keagamaan dalam tataran ritual ini banyak perubahan yang terjadi. Kenduri kematian yang dulu dianggap sebagai prosesi yang sakral dan penuh dengan magic, saat ini mulai dianggap sebagai sebuah kekerabatan dan jaringan sosial untuk keutuhan masyarakat. Perubahan paling mendasar adalah meleburnya pihak yang pro kenduri kematian dengan yang menganggapnya tidak boleh/tidak benar. Peleburan ini jelas terjadi karena kesepahaman bahwa kenduri kemaian adaalh perekat dan jembatan membina kekerabatan di kalangan masyarakt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, seperi yang dikatakan J. R. Bowen -antropolog Amerika yang menulis lima buku tentang Aceh- buku ini telah berhasil menjelaskan perubahan paling mutakhir di Aceh saat ini. Dengan disertai analisis yang kaya dan fakta menarik dan penting menjadikan buku ini layak mengisi rak buku pribadi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-2756002612288506754?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/2756002612288506754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/tsunami-dan-aceh-yang-berubah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/2756002612288506754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/2756002612288506754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/tsunami-dan-aceh-yang-berubah.html' title='Tsunami dan Aceh Yang Berubah'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAnsT0VUiRI/AAAAAAAAAv8/AilmFfvD9dU/s72-c/32486_425290121140_720176140_5745226_5900913_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-509028051625274622</id><published>2010-06-05T13:15:00.002+07:00</published><updated>2010-06-05T13:18:01.674+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='membaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><title type='text'>Kenapa Membaca Biografi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAnr_Aa939I/AAAAAAAAAv0/-FOSCNHc2KQ/s1600/Biography-logo_color.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 54px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAnr_Aa939I/AAAAAAAAAv0/-FOSCNHc2KQ/s200/Biography-logo_color.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5479169889350311890" /&gt;&lt;/a&gt;Semua orang akan menjalani hidup seperti adanya. Semua orang punya jalannya sendiri. Anda tidak mungkin berjalan di rel orang lain meskipun mereka dengan rel itu telah sampai pada tujuannya. Tuhan Maha Kaya dan Dia menciptakan semua manusia sebuah rel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa perlu membaca biografi orang lain? Pertanyaan ini muncul suatu ketika saat kami mulai mendiskusikan beberapa tokoh sufi terkemuka pada awal-awal kebangkitan Islam. Kalau para sufi sukses itu adalah jalannya sendiri yang sama sekali tidak ada kesamaan dengan jalan sufi lainnya. Dan mereka membentuk jalannya sendiri tanpa mencontoh jalan spiritual yang dibangun oleh orang lain. Lalu untuk apa kita tahu hidupnya? Bukankah kita juga memiliki jalan spiritual sendiri?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Biografi adalah penjelasan dari sebuah potret kehidupan yang pernah dijalani oleh seseorang dalam mendapatkan suatu tujuan. Selama ini biografi identik dengan kehidupan orang sukses dan mendapatkan posisi “terhormat” dalam kehidupan masyarakat. Sebab kesukksesan dalah keinginan semua orang. Sehingga mereka cenderung ingin mengetahui apa dan bagaimana seorang telah melakukan sesuatu sehingga ia menjadi sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seribu alasan untuk mengatakan kenapa sebuah biografi itu perlu. Diantaranya adalah membaca biografi akan membuka mata kita pada jalan alternatif dalam menghadapi persoalan hidup. Tidak ada masalah yang sama di dunia ini, yang ada hanyalah kemiripan. Terkadang kita stres tidak mendapatkan jalan yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Nah, dengan membaca biografi mungkin kita mendapatakn alternatif pemecahan dan solusi berdasarkan pengalaman orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, membaca biografi akan memberikan kita penjelasan lebih beragam mengenai kehidupan. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda, punya pemikiran yang berbeda pada satu hal yang sama. Dengan membaca biografi kita akan tahu kalau di sana ada banyak cara orang menafsirkan suatu hal dan suatau persoalan. Dan ini bisa menjadi sebuah pengayaan wawasan kita dan menjadi suatu masukan untuk menyempurnakan konstruksi pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membaca biografi kita akan menyelami sebuah samudera kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani. Hidup orang pasti sebuah perjalanan beriku yang tidak selamanya mulus. Dalam tulisan biografi akan dibahas bagaimana mereka melikuk menelikung menghadapi hidup dan bagaimana mereka bertahan terhadap berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, maka kehidupan akan berjalan lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mau mendambahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan: Membaca biografi memperkaya jiwa :-D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menulis biografi apalagi, meperkaya jiwa, dan memperkaya diri (baca: mendapatkan komisi hasil penjualan, heheheh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-509028051625274622?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/509028051625274622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/kenapa-membaca-biografi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/509028051625274622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/509028051625274622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/06/kenapa-membaca-biografi.html' title='Kenapa Membaca Biografi?'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/TAnr_Aa939I/AAAAAAAAAv0/-FOSCNHc2KQ/s72-c/Biography-logo_color.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6912028182889287324</id><published>2010-05-29T17:46:00.004+07:00</published><updated>2012-01-12T21:16:32.416+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esek-esek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bioskop di Aceh'/><title type='text'>Bioskop di Banda Aceh: Sejarah Esek-Esek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-pYem4jdGQGg/Tw7rIRYqZiI/AAAAAAAABHs/KcqolbTjhAI/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 276px; height: 183px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-pYem4jdGQGg/Tw7rIRYqZiI/AAAAAAAABHs/KcqolbTjhAI/s400/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696749106008581666" /&gt;&lt;/a&gt;Mungkin satu-satunya kota provinsi yang tidak ada bioskop hanyalah Banda Aceh. Saya tidak terlalu yakin dengan kesimpulan ini, namun dari sedikit kota yang saya kunjungi, nampaknya di daerah lain di Indonesia bioskop bukan hanya di kota provinsi, namun juga banyak terdapat di kota-kota kabupaten. Bahkan beberapa kecamatan yang agak besar juga memiliki bioskop sendiri. Meskipun dengan banyaknya media yang bisa dipakai untuk menonton film belakangan ini, namun citra bioskop sebagai tempat menonton film sesungguhnya masih sangat terasa dalam masyarakat. Jadinya, sebuah film akan terasa berbeda rasa dan kesannya jika ditonton di rumah dengan di bioskop.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian di Banda Aceh, sampai saat ini tidak ada sebuah bioskop yang menayangkan film secara terjadwal dengan tetap seperti di kebanyakan kota lain. Bagi sebagian orang hal ini mungkin tidak bermasalah. Sebab tanpa bioskop masyarakat tetap bisa mendapatkan hiburan berupa film melalui media yang lain, seperti VCD Palyer, TV, Internet dan bahkan di handphone dengan fasilitas tertentu. Jadi sebenarnya tanpa bioskoppun masyarakat tetap mendapatkan kepuasan tontonan melalui media-media tersebut. Namun bagi sebagian orang kepuasan dalam menonton hanya diperoleh jika ia menonoton di pada layar lebar dan dengan suara besar-besar. Oleh sebab itu media-media pemutar film yang ada selama ini sangat tidak memadai. Selain suaranya kecil dan sulit didengar, juga gambar yang ditampilkannya tidak sedramatis dalam bioskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebelum Tsunami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Banda Aceh bukan sama sekali tidak pernah memiliki bioskop. Dulu, tahun 2000-an dan sebelumnya, ada beberapa bioskop yang beroperasi di Banda Aceh. Antara lain Sinar Indah Bioskop (SIB) di Penayong, Jelita Theater di Beurawe, Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh Shopping Center. Namun semua bioskop itu sekarang sudah mati dan sama sekali tidak ada aktifitas pemutaran film lagi. Bahkan gedung bioskop itu sendiri sudah beralih fungsi menjadi pertokoan atau kepentingan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian, bioskop-bioskop tersebut di atas, dalam sejarahnya tidak semuanya menayangkan film-film terbaru dan “berkualitas.” Saya dan beberapa orang teman satu kos-kosan pernah pergi menonton bioskop Garuda di Jalan Muhammad Jam dekat Balang Padang tahun 1998. Saat itu harga tiket sekitar Rp. 750 untuk satu orang. Saya dengan semua teman-teman sama sekali belum pernah menonoton bioskop sebelumnya. Pilihan kami pada Garuda hanya karena tiketnya murah dan lebih terkenal dibandingkan bioskop “murah” yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam gedung besar itu kami duduk di kursi yang sudah sangat lusuh dan goyang-goyang. Teman saya kesakitan dan gatal-gatal setelah pulang dari sana karena digigit kutu busuk. Belum lagi suasana yang gelap dan pengap. Meskipun film belum diputar, lampu yang menerangi ruangan besar itu hanya beberapa watt saja dan tidak mampu menunjukkan celah dan jalan yang ada di dalam sana. Saya dengar dari beberapa teman, hal yang sama terjadi juga di bioskop Jelita dan SIB. Namun saya tidak pernah masuk ke dalam dua bioskop tersebut. Hanya saja dari sisi performa luar bangunannya, sepertinya tidak jauh beda dengan bioskop Garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang diputar juga bukan film baru yang sedang hangat dalam berita televisi atau koran. Di sana diputar film-film lama yang judulnya saja terkadang tidak diketahui. Pada sore harinya, di depan gedung bioskop memang dipasang spanduk tentang film yang akan diputar pada malam harinya. Namun kenyataannya, tidak semua film yang ditunjukkan di depan bioskop diputar di dalam bioskop. Beberapa bioskop bahkan memutar blue film di sela-sela film yang sedang diputar. Saat saya menonton bioskop tahun 1998 tersebut, saya juga mendengar teriakan dari penonton “puta asoe sigoe!” (putar “yang berisi” sekali). Kata “asoe” atau “berisi” berarti mereka meminta diputarkan blue film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pas 21 dan Gajah Theater&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak semua bioskop demikian adanya. Pas 21 dan Gajah Theater adalah bioskop yang memutar film terbaru dan film-film modern. Jadwal tayangnya juga tetap dan konsisten. Bahkan mereka mempublikasi film yang akan ditayangkan di koran lokal setiap hari. Kedua bioskop ini tidak jauh berbeda dengan bioskop Pas 21 yang hampir ada di berbgaia kota di Indonesia saat ini. Namun Pas 21 berakhir setelah terjadi kebakaran (dikbakar?) hebat di Pasar Aceh Shoping Center pada tahun 2001 (?). Sejak saat itu bioskop ini tidak beroperasi lagi di Banda Aceh. Gajah Theater menjadi pemain terakhir yang menutup lapaknya setelah tsunami melanda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bioskop di Banda Aceh gulung tikar? Menurut saya ini adalah pertanyaan menarik untuk ditelusuri. Sebab ada beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin “bisnis tidak menguntungkan” adalah jawaban dari pengusaha bioskop itu sendiri. Namun sebagai daerah yang memiliki tiga peristiwa “seksi”; Syariat Islam Konflik dan tsunami, kita tidak bisa bisa hanya melihat dari sisi bisnis semata. Di balik itu, ketiga peristiwa lain, menurut saya, pasti memiliki kontribusi yang menyebabkan bioskop di Banda Aceh ditutup oleh pengusahanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Konflik dan Syariat Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana konflik di Aceh yang mulai memanas pada tahun 2008 memang menjadi salah satu penyebab utama. Setidaknya konflik menyebabkan dikuranginya jam penayangan film dimalam hari. Tahun 1997 saya masih jualan durian sampai jam satu malam di Pasar Aceh. Saat itu tidak ada masalah dengan tengah malam berada di luar ruamah. Namun setelah konflik mulai membesar di Aceh, jam malam mulai berlaku. Akibatnya bisoskop di Banda Aceh menutup pemutaran film di malam hari. Mereka hanya membukanya sore hari saja. Kondisi ini meyababkan bioskop SIB, Garuda dan Jelita Theater mati suri. Sebab sebelumnya pangsa pasar mereka ada di malam hari, terdiri dari pekerja dan mahasiswa yang hanya punya waktu malam hari untuk menonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, pemberlakuan Syariat Islam juga mungkin menjadikan usaha ini menjadi tidak menarik bagi pengusaha. Sebab hampir diketahui bersama, dalam bioskop orang bukan hanya menonotn film saja, namun juga mengambil kesempatan bersepi-sepi, atau dalam bahasan Syariat Islam di Aceh, berhalwat. Sebuah pasangan yang masuk ke dalam gedung itu tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hiburan melalui film yang ditayangkan, namun juga menjadi ajang di mana mereka bisa bermesra-mesraan, peluk cium dan meraba-raba. Kondisi ini ingin dihindari oleh pemerintah Aceh setelah penerapan syariat Islam. Oleh sebab itu ada sebuah seruan agar bioskop memisahkan laki-laki dan perempuan ketika menonton. Saya memang tidak melihat hal ini dipraktekkan dengan baik di gedung bioskop. Namun setidaknya seruan ini menyebabkan pengusaha bioskop enggan membuka bioskopnya. Sebab akan sangat banyak pasangan muda yang menjadi target pasar mereka memilih tidak menonton bioskop dari pada ditangkap Wilayatul Hisbah (petugas pengawas penerapan syariat Islam) yang bertugas untuk menertipkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak konflik dan adanya penerapan syariat Islam di Aceh, operasi bioskop di Banda Aceh mulai surut. Bahkan setelah Pas 21 terbakar hanya Gajah Theater yang beroperasi. Seingat saya, tahun 2003 saya masih sempat beberapakali menonton bioskop di Gajah Theater. Di sanalah saya melihat instruksi dari pemerintah agar melakukan pemisahan penonton laki-laki dan perempuan sama sekali tidak diindahkan. Di dalam bioskop laki-laki dan perempuan tetap juga duduk bersama, seperti di berbagai bioskop kota lain di Indonesia. Namun saat itu bioskop hanya diputar sampai jam 18.30, sesaat sebelum azan maghrib. Hal ini berkaitan dengan jam malam yang diterapkan oleh pemerintahan militer yang sempat memegang kendali pemerintahan Aceh pada awal tahun 2000-an.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bioskop Pasca Tsunami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tsunami melanda Aceh semua bioskop musnah. Gajah Theater yang bertahan sampai tsunami juga menutup usahanya hingga saat ini. Sekarang ini gedung Gajah Theater telah dipakai oleh aparat militer sebagai gudang logistik mereka. Saya tidak tahu apakah bangunan itu memang miliki militer. Sebab dari sisi lokasinya, Gajah Theater memang berada di dekat komplek militer, jadi memang memungkinkan kalau bangunan dan usaha itu memang milik mereka sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah bioskop masih diperlukan di Banda Aceh? wallahu’a’lam. Dilihat dari sisi pengembangan kota dan kebutuhan modern masyarakat sebuah bioskop adalah keniscayaan. Apalagi belakangan ini masyarakat Aceh jelas terlihat kekurangan hiburan. Pusat-pusat hiburan dikunjungi banyak orang dan jauh melebihi kapasitasnya. Namun dilihat dari mudharatnya, terutama berkaitan dengan penerapan syariat Islam, menghadirkan bioskop mungkin perlu sebuah kajian mendalam lagi, baik dari film yang diputar, setting tempat duduk di dalam ruangan dan lain sebagainya. Saya sangat yakin, semangat Islam tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk mendapatkan hiburan.Wallahu’a’lam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6912028182889287324?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6912028182889287324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/bioskop-di-banda-aceh-sejarah-esek-esek.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6912028182889287324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6912028182889287324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/bioskop-di-banda-aceh-sejarah-esek-esek.html' title='Bioskop di Banda Aceh: Sejarah Esek-Esek'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-pYem4jdGQGg/Tw7rIRYqZiI/AAAAAAAABHs/KcqolbTjhAI/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6639017077327121536</id><published>2010-05-24T18:08:00.003+07:00</published><updated>2010-05-24T18:13:03.434+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>4G Made In Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_pfL-jTgAI/AAAAAAAAAvc/3UCEm68kELA/s1600/GANJA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_pfL-jTgAI/AAAAAAAAAvc/3UCEm68kELA/s200/GANJA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474792956396535810" /&gt;&lt;/a&gt;Kalau teknologi Eropa atau China hanya mampu membuat 3G atau 3,5G, maka Aceh selama ini telah melahirkan 4G. Dan saya kira ini akan bertambah terus dalam waktu cepat. Apalagi partisipasi masyarakat Aceh dan peran pemerintah juga besar dalam membangunnya. Jadilah 4G di Aceh sangat berkembang dan terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“G” Pertama adalah Ganja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Baru saja saya nonton TV. Sebuah berita tentang “kesuksesan” aparat kepolisian menangkap dua pemuda di Jawa Barat yang membawa ganja. Dalam keterangan yang diberikan kepada polisi, mereka mengaku hanya sebagai kurir dan bukan pemakai, apalagi pedagang. Ganja tersebut dititpkan seseorang dan harus diberikan kepada seseorang lain yang telah ditunjuk. Untuk ini mereka akan mendapatkan imbalan yang lumayan. Sampai di sini masih tidak ada masalah dengan berita tersebut. Namun sebelum mengakhiri berita dikatakan: “Menurut polisi ganja itu berasal dari Aceh.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang ganja memiliki cerita sendiri dalam masyarakat Aceh. Dulu, ketika saya masih anak-anak, orang kampung menanam ganja di pinggiran sumur yang terbuat dari tanah. Namun bukan untuk dihisap sebagai rokok atau dihisap asapnya seperti saat ini. Waktu itu ganja dibuat sebagai bumbu yang menjadikan masakan lebih nikmat dan neundang, gethoo!. Atau menjelang bulan puasa, daun ini dipakai untuk menjadikan daging lebih empuk saat di makan. Namun setelah terjadi pembangunan yang masuk ke kampung-kampung, informasi sudah sampai ke sana, ganja ternyata diharamkan dan dilarang negara. Jadinya, tanaman di pinggir sumur itupun lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang justru kebijakan ini menjadikan tanaman ganja berkembang sangat banyak di hutan-hutan seluruh Aceh. Saya memang tidak punya bukti, namun itu menjadi sebuah rahasia umum. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menanam ganja, menjualnya atau terlibat dalam kurir. Namun jangan salah, tidak semua orang Aceh melakukan itu atau menyetujuinya. Banyak orang Aceh juga menjadi korban karena peredaran salah satu jenis narkotika tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“G” kedua adalah GAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita mengani GAM pernah mewarnai media masa Indonesia selama beberapa tahun. Hal ini tidak lain karena Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memiliki sekelompok pasukan yang mampu berperang melawan pasukan pemerintah. Dalam berbagai kesempatan jelas dikatakan GAM menginginkan kemerdekaan dari pemerintah Republik Indonesia. Indonesia dianggap telah berlaku tidak adil kepada masyarakat Aceh. Selain berlaku tidak adil dalam budaya, agama dan pendidikan, Indonesia dinilai tidak adil juga dalam mengelola sumber daya alam. Banyaknya hasilalam di Aceh tidak pernah dinikmati oleh orang Aceh sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini mendorong sekelompok masyarakat bergabung membentuk sebuah pasukan yang menamakan diri mereka dengan GAM. lebih lima tahun GAM melawan pemerintah Indonesia dan telah menyebabkan banyak cerita yang lahir. Kebanyakan ceritanya adalah cerita menyakitkan karena berhubungan dengan kematian, pemerkosaan, pelecehan seksual, pembakaran, penistaan dan lain sebagainya. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah GAM telah mewarnai perkembangan pemikiran politik di Indonesia, langsung atau tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini beberapa kabupaten di Aceh berada di bawah pimpinan mantan GAM. Sayangnya daerah Aceh sekarang defisit anggatran. Bukan hanya di tingkat provinsi, namun juga di kabupaten. Apakah ini karena pemerintahan GAM atau kesalahan persoanal pemimpin? wallahu’a'lam. Yang pasti beberapa daerah kabupaten di Aceh saat ini terancam bangkrut karena tidak mampu membayar gaji pegawai dan menyediakan dana untuk pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;“G” ketiga adalah Gempa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 yang lalu menjadi sebuah tonggak sejarah dalam perjalanan kehidupan daerah Aceh. Betap[a tidak? Aceh yang selama konflik tertutup untuk diakses oleh mendia, dilihat oleh orang luasr dan orang asing, namun setelah Gempa aceh menjadi daerah yang sangat kosmopolit. Banyak orang dari berbagai bangsa di dunia datang untuk menyaksikan dan membantu korban tsunami di Aceh. Kesempatan ini adalah sebuah peristiwa sejarah yang tidak akan terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa dan tsunami sedemikian besar perannya dalam membentuk kehidupan masyarakat di Aceh. Salah satunya adalah perubahan budaya masyarakat, perubahan cara pandang, dan berbagai pembangunan fisik di kampung-kampung atau di daerah perkotaan. Ini juga sebagai awal bagi masyarakat Aceh untuk menciptakan dan mendidik generasi di masa yang akan datang yang lebih baik. Negara-negara yang pernah datang ke Aceh pada masa tsunami terukir pada prasasti yang dibuat di Balang Padang, Banda Aceh. Sekarang prasasti tersebut telah menjadi salah satu tempat kunjungan wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;“G” Keempat adalah Gaun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah gaun atau pakaian perempuan juga tidak kalah pentingnya di Aceh. Salah-salah berpakaian anda tidak ada bisa mewujudkan rencana. Saya contohkan, kalau anda perempuan mau pergi ke rumah sakit di Meulaboh, Ibu Kota Aceh Barat, namun memakai celana jeans, maka dapat dipastikan anda tidak bsia menjumpai saudara anada yang sakit. Atau kalau anda mau jumpa direkturnya, anda juga tidak akan diberikan izin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terjadi karena bupati Aceh Barat menerapkan sebuah peraturan tentang keharusan masyaakat Meulaboh mengenakan rok dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bupati bahkan menyediakan belasan ribu rok untuk menggantiakn celana ketat yang dipakai oleh perempuan dan dibagikan secara gratis. Namun jika pakaian ketat anda ditemukan di tempat razia, anda harus mengiklaskan pakaian tersbeut dimusnahkan. Ngeri? Tidak juga. Sebab juka anda sudah tahu, maka kota Meulaboh adaalh kota yang mana tenteram terkendali. :-D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah empat G yang telah diciptakan di Aceh. Dalam waktu dekat mungkin Aceh akan melahirkan G kelima. Entah apa namanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6639017077327121536?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6639017077327121536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/kalau-teknologi-eropa-atau-china-hanya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6639017077327121536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6639017077327121536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/kalau-teknologi-eropa-atau-china-hanya.html' title='4G Made In Aceh'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_pfL-jTgAI/AAAAAAAAAvc/3UCEm68kELA/s72-c/GANJA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-2528432986723453524</id><published>2010-05-21T14:24:00.003+07:00</published><updated>2010-05-21T15:24:30.826+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Saya Pilih Deactivate Account FB Mulai Hari ini!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_ZC0KlDEvI/AAAAAAAAAvU/AtOpQ8z7C2k/s1600/Slide1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_ZC0KlDEvI/AAAAAAAAAvU/AtOpQ8z7C2k/s200/Slide1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473635861075792626" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang yang untuk membuat karikatur Nabi Muhammad di FB memunculkan beragam tanggapan dari facebooker. Bukan hanya facebooker muslim, namun banyak facebooker yang non muslim dan bahkan yang selama ini tidak meyakini satu agama tertentu. Beberapa teman saya yang non-muslim mengirimi saya pesan keprihatinan atas sebuah gerakan yang yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat namun di sisi lain menghina kelompok beragama tertentu; dalam hal ini Islam. Sementara respon dari kalangan teman-teman yang muslim bisa dilihat dari status FB mereka, atau beberapa tulisan di blog, termasuk kompasiana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon dari kalangan teman-teman muslim umumnya sama, tidak setuju dengan aksi tersebut dan memandang itu sebagai sebuah penistaan pada agama. Namun dalam responnya teman-teman muslim terbagi dua, menutup account facebook dan tetap melanjutkannya. Yang melanjutkan dan tetap menggunakan acconut facebook beranggapan bahwa di dunia maya apapun bisa terjadi. Termasuk penghinaan agama dengan karikatur Nabi. Namun itu semua tidak mengharuskan kita keluar dri facebook. Sebab ada banyak hal yang dapat dimanfaatkan dari facebook. Selain silaturahim, bisnis, tegur sapa, dan tentu saja menambah jeringan dan keakraban pertemanan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi sebagain orang lain, memilih menutup account facebook. Alasannya sebagai bentuk protes terhadap kelompok orang yang melakukan sebuah tindakan yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral dalam kehidupan bersama. Meskipun kelompok tersebut bukan dibuat oleh pengelola facebook, namun facebook tetap dianggap bertangguang jawab karena kelalaian dan respon yang lambat atas kejadian ini. Atas dasar ini maka sebagian muslim memilih untuk menonaktifkan account-nya. Apakah usaha itu berpengaruh pada kebesaran facebook secara keseluruhan? Dapat dipastikan sama sekali tidak. Apalagi jumlah yang mendaftar lebih banyak dari yang menonaktifkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memilih menonaktifkan account facebook saya sejak hari ini. Alasan saya sebenarnya sangat pribadi. Bahwa saya merasa tidak nyaman dengan usaha-usaha demikian yang dilakukan oleh sekelompok orang. Bagi saya, lebih baik tidak memiliki acoount facebook dari pada harus menyaksikan sekelompok orang yang -menurut saya- tidak beradab dan tidak menghargai sensitifitas pemeluk agama. Dan saya sangat yakin, ini bukanlah gerakan terakhir yang akan terjadi melalui situs jejaring sosial ini. Dengan melihat respon besar yang ada, maka ke depan akan ada gerakan-gerakan lain yang tujuannya masa saja, memacing emosi dan menghina pemeluk agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, kehidupan di dunia tidak bisa dibangun dengan kebencian dan penghinaan pada golongan yang berbeda. Setiap kelompok yang memiliki kayakinan religius memiliki nilai sakral yang tidak boleh diganggu gugat. Hal ini bukan hanya untuk Islam dan dilakukan oleh orang yang tidak senang pada Islam, namun juga -bisa jadi- dilakukan oleh sekelompok orang Islam pada kelompok lain. Dan praktik tersebut, bagi saya, sama tidak baiknya. Sebab kalau ada sekelompok orang telah merasa senang dengan menghina orang lain, itu menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam relasi kehidupan dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, dari pada saya menyaksikan gerakan seperti itu di kemudian hari, disuguhkan gambar-gambar yang melukai hati kaimanan saya, saya memilih menonaktifkan account facebook sejak hari ini. Saya sangat yakin, sisi positif facebook bisa saya dapatkan dengan media lain yang ada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh 210510&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-2528432986723453524?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/2528432986723453524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/saya-pilih-deactivate-account-fb-mulai.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/2528432986723453524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/2528432986723453524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/saya-pilih-deactivate-account-fb-mulai.html' title='Saya Pilih Deactivate Account FB Mulai Hari ini!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_ZC0KlDEvI/AAAAAAAAAvU/AtOpQ8z7C2k/s72-c/Slide1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1911771049919268816</id><published>2010-05-19T09:56:00.001+07:00</published><updated>2010-05-19T10:01:04.532+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Maaf, Asapmu Bukan Untukku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_NUXSg2fPI/AAAAAAAAAvM/kDklfA8TY_c/s1600/teaser-ilustrasi-rokok_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 141px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_NUXSg2fPI/AAAAAAAAAvM/kDklfA8TY_c/s200/teaser-ilustrasi-rokok_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472810731268635890" /&gt;&lt;/a&gt;Sedikit kesal, saat ke kantor sebuah sepeda motor mendahuli saya dari sisi kiri. Setelah mengklakson bertubi-tubi motor yang dikedendarai -nampaknya seorang- mahasiswa ini melaju dengan cepat. Ia sempat menancapkan gas pas ketika posisinya dihadapan saya. Sangat bising dan mengganggu. Apalagi asap abu-abu keluar dari kenalpot motornya. Syukur bukan langsung mengenai muka. Namun asap tebal itu mau tidak mau tetap harus saya lewati karena persis berada di depan saya. Tapi apa hendak dikata, itulah kehidupan jalan raya kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenderaan yang bersap tebal secara umum dipahami dapat mengganggu udara, menyebabkan polusi, dan pada kerangka besarnya sebagai sumbangan untuk pemanasan global. Ini benar dan saya sepakat. Namun tidak kalah pentingnya adalah asap tebal sebuah kenderaan juga mengganggu kehidupan manusia di jalan raya. Seorang yang berjalan dengan baik, mengikuti aturan lalu lintas, menikmati perjalanan, tiba-tiba harus menghirup udara pengap yang berbau yang disebabkan oleh pemilik kenderaan lain yang mengeluarkana asap.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya belum pernah mendengar ada orang yang celaka gara-gara amsuk dalam asap mobil/motor. Namun saya sangat yakin itu mungkin terjadi. Dalam keadaan gelap karena asap, atau dalam keadaan mata terganggu, hidupng tersumbat, maka bukanlah mustahil akan mengganggu konsentrasi pengendara motor. Dan akibatnya ia bisa saja menabrak orang lain atau ia ditabrak orang karena salah jalur. Kalau ini terjadi maka pemilik kenderaan yang berasap pasti tidak mau tahu, bahkan ia mungkin tidak peduli kalau asapnya menimbulkan petaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi adalah masalah penyakit. Asap kotor yang berdebu dan berminyak akan masuk ke dalam tubuh manusia lewat pernafasannya. Dan melalui sistim pernafasan maka asap itu pula yang akan masuk ke paru-paru. Kalau hanya sekali dua kali saja mungkin sistim dalam paru-paru akan sanggup menetralisir. Namun tatkala ini terjadi setiap pagi, siang, malam setiap kita berjalan di jelasn raya, maka jantung mana yang snaggup menetralisirnya? asap-asap itu menyumbangkan sumber penyakit pada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain asap motor/bus lain pula asap rokok. Meski sudah diperingatkan kalau merokok merugikan kesehatan dan mengeringkan isi dompet namun merokok masih menjadi aktifitas terlancar yang dilakukan manusia. Oke, tidak masalah kalau itu adalah pilihan sendiri, pilihan dari orang yang memang mendedikasikan hidupnya untuk kepunahannya sendiri, itu adalah hak semua orang. Namun satu hal yang perlu diperhatikan, jangan ajak orang lain untuk menikmati penyakit dan kepunahan itu dengan menebarkan asapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda merokok maka pastikan anda berada di tempat yang asapnya tidak terhirup orang lain, atau anda dapat menghisap semua asap rokok dan tidak membiarkan asap rokok anda terhisappada orang lain. Saat asap-asap yang anda keluarkan, dari mobil-motor, rokok itu terhisap pada orang lain dan menjadi penyakit baginya, maka itu juga akan menjadi dosa bagi anda sepanjang masa. Pada umat beragama dosa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penyebab kesedihan, keterasingan, depresi dan ketidakbagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu melampuai langkah kecil yang penting untuk mewujudkan Masyarakat Tertib.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1911771049919268816?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1911771049919268816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/maaf-asapmu-bukan-untukku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1911771049919268816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1911771049919268816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/maaf-asapmu-bukan-untukku.html' title='Maaf, Asapmu Bukan Untukku'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_NUXSg2fPI/AAAAAAAAAvM/kDklfA8TY_c/s72-c/teaser-ilustrasi-rokok_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6978799346302754552</id><published>2010-05-18T17:10:00.002+07:00</published><updated>2010-05-18T17:13:30.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Berapa Kali anda Klakson Hari Ini?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_JoKXm0ETI/AAAAAAAAAvE/XJe2Y0un0SE/s1600/huge.62.310331.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_JoKXm0ETI/AAAAAAAAAvE/XJe2Y0un0SE/s200/huge.62.310331.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472551024553365810" /&gt;&lt;/a&gt;Semua kenderaan bermotor pasti ada klaksonnya, keculai sudah rusak atau dicuri maling. Dan semua pengendara pasti pernah menggunakannya. Dalam satu hari, saya yakin, tidak ada orang yang mampu menghitung berapa kali ia menggunakan klakson. Sebab klakson seolah menjadi satu-satunya alat komunikasi saat berkenderaan. Kalau jumpa teman dijalan orang pakai klakson, minta jalan juga klakson, ada orang lewat tekan klakson, ada mobil yang berhenti seenaknya tekan klakson, berkali-kali lagi. Belakangan ada juga pendemo yang menekan klakson berulang-ulang tanda gerombolan mereka melintas di jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup dengan klakson standar yang telah dibuat oleh pabrik mobil atau sepeda motor, belakangan juga muncul klakson istimewa. Ada yang menamakannya dengan klakson kebo. Klakson ini dijual bebas di pasar dan boleh dibeli oleh siapa saja. Jadinya, sebuah sepeda motor kecil yang hanya muat satu orang pun menggunakan klakson besar. Suaranya berat dan keras serak. Jika diklakson persis di belakang pengendara lain dijamin pengendara tersebut akan terkejut setengah mati. Atau bahkan bisa langsung mati jika ia jantungan atau ia diserempet oleh mobil di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Klakson sebenarnya memiliki fungsi yang penting, terutama untuk menyatakan bahaya; persis seperti sirene ambulance atau sirene peringatan gempa. Di kota-kota besar di luar negeri hampir tidak terdengar suara klakson sebebas yang ada di Indonesia. Tidak usah jauh-jauh, di Kuala Lumpur saja, suara klakson nyaris tidak pernah terdengar. Padahal jumlah bus dan kenderaan hmpir sama sja dengan kota-kota di Indonesia. Pengendara yang tertib dan peraturan lalu-lintas yang dipatuhi membuat fungsi klakson di sana sedikit berkurang. Klakson hanya dibunyikan dalam keadaan darurat, ada orang yang melanggar lalu lintas dan mengganggu orang lain, atau situasi khusus yang mengharuskan membunyikan klakson. Selebihnya klakson dimuseumkan saja, tidak ada yang menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan kita? realitas di lingkungan dan masyarakat kita? Sepertinya bunyi klakson menjadi ciri khas jalan raya di Indonesia. Di mana-mana di seluruh kota Indonesia, klakson bermunyi di sepanjang jalan. Kenderaan bermotor, roda dua, roda tiga, roda empat, enam, delapan, sepuluh dan bahkan lebih banyak lagi menggunakan klakson di sepanjang perjalannya. Munculnya berbagai jenis klakson tambahan membaut kita hampir tidak dapat membedakan apakah sebuah klakson berasal dari motor atau mobil, mobil kecil atau mobil besar. Orang bisa saja menggunakan sebuah klakson yang seharusnya dipakai di truck pelabubuhan yang besar pada motornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragisnya lagi, bunyi klakson tidak mengenal waktu dan tempat. Seorang yang berpapasan di jalan raya yang saling kenal menggunakan klakson untuk menyapa temannya. Ada seorang nenak tua yang sedang lewat memotong jalan raya juga ditekan klakson besar-besar memintanya berlari cepat. Meminta jalan dari kenderaan di depan juga menekan klakson. Bahkan berkali-kali, seolah yang ada di depannya tidak memiliki hak yang sama dalam menggunakan jalan raya. Apalagi kalau ada kenderaan, angkot, bus, truck atau kenderaan apapun yang ,elanggar lalu lintas, pasti diklaksn berulang-ulang dan rame-rame. Belakangan ini, ada pula tradisi klakson saat lampu hijau di perempatan menyala untuk memberitahukan pada pengendara lain kalau lampu sudah hijau. Ada-ada saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jujur, kalau ditanyai semua orang, suara klakson itu menjengkelkan. Bukan hanya bagi orang yang berada di kantor atau di rumah yang kebetulan ada di dekat jalan raya, namun bagi pengendara sendiri klakson sebenarnya sangat mengganggu. Hanya mereka yang sudah sangat menikmati kebisingan saja dapat menikmati klakson berlebihan. Dan mereka pula yang menekan klakson berkali-kali di sepanjang jalan. Seolah klakson besar, keras, dan berulang itu menimbulkan sebuah kesenangan dalam berkenderaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klakson berlebihan ini sebanrnya bukan hanya menimbulkan kebisingan, namun juga dapat menyebabkan kecelakaan. Saya pernah lihat sebuah kenderaan yang memanting stir ke iri tiba-tiba karena ada sebuah sepeda motor yang menekaln klakson besar di belakangnya. Di sisi kiri ia disambut dengan sebuah mobil pribadi yang sedang melaju kencang. Dan tabrakan tidak dapat dihindari. Saya tidak tahu nasib pengendara yang tertabrak itu. Namun saya tahu sepeda motor yang mengklaksonnya, ia lansung pergi dan tidak peduli dengan petaka yang telah dibuatnya. Kasus lain adalah timbulnya keraguan pada pejalan kaki kalau diklakson berulang-ulang. Klakson akan mempengaruhinya mengambil kesimpulan dalam berjalan. Ini juga sebuah potensi kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi. Saya yakin semua kita punya pengalaman dengan klakson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun Masyarakat Tertib, maka kurangi penggunaan klakson di jalan raya. Anda bisa beralasan bahwa klakson diperlukan untuk menegur orang yang sewenang-wenang atau mencaci-maki angkot yang berhenti seenaknya. Namun yakinlah, klakson untuk mereka tidak banyak membantu. Kesabaran dan kearifan, dengan ketenangan, anda tetap akan dapat jalan dan meneruskan perjalanan. Atau boleh saja tekan klakson, namun pastikan suaranya hanya didengar oleh orang yang anda maksudkan, bukan oleh orang lain. Sebab kasihan mereka yang tidak ada urusan dengan perjalanan anda menjadi terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus melampaui langkah kecil yang penting untuk membangun Masyarakat yang Tertib. Semoga bisa terwujud di suatu masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6978799346302754552?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6978799346302754552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/berapa-kali-anda-klakson-hari-ini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6978799346302754552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6978799346302754552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/berapa-kali-anda-klakson-hari-ini.html' title='Berapa Kali anda Klakson Hari Ini?'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_JoKXm0ETI/AAAAAAAAAvE/XJe2Y0un0SE/s72-c/huge.62.310331.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-9013848065768196466</id><published>2010-05-17T17:14:00.002+07:00</published><updated>2010-05-17T17:17:45.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Masyarakat Tertib, Kapan Ya?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_EXlS4pfwI/AAAAAAAAAu8/0IBEj0vEGjY/s1600/1_22.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_EXlS4pfwI/AAAAAAAAAu8/0IBEj0vEGjY/s200/1_22.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472180951723900674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di jalan raya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita berhadapan dengan suara motor dan mobil yang memekakkan telinga. Beberapa motor dengan snegaja memasang knalpot yang mengeluarkan suara besar. Suara besar yang keluar dari knalpot menjadi sebuah kebanggaan dan prestise bagi pemiliknya. Dengan bangga pula ia mengenderainya dengan capat. Apa yang ia cari? popularitas? kepuasan? Inilah sebuah keanehan hidup, mendapatkan kepuasan dengan cara mengganngu kenyamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara kenalpot besar belum cukup, masih ada suara klakson besar. Mobil kecil memasang klakson yang lebih besar dari kenderaannya. Bahkan ada motor yang memakai klakson truck gandengan yang memekakkan telinga. Anehnya, pemiliknya tersenyum senang ketika melihat orang lain terkejut, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Ia merasa bangga dengan kelakukannya yang sangat mengganggu kenyamanan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masih ada yang lebih buruk. Sebuah kenderaan yang megeluarkan asap hitam pekat di belakangnya. Dengan senagat bangga ia memacu mobil/motornya dengan cepat dan menjadikan jalan di belakangnya gelap gulita. Ia merasa enjoy saja dengan keadaan tersebut dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di belakangnya. Terkadang ada yang ashma, ada yang jantungan, ada yang batuk dengan asap tersebut. Namun itulah keasyikan, merasa senang membuat orang susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelayanan Publik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat mebuat NPWP untuk saudara saya, sekelomok manusia berebutan mendapatkan nomor antrian. Pegawai pajak memberikan nomor antrian bukan berdasarkan orang yang datang, namun berdasarkan waktu. Saya yang datang jam 13.45 tidak mendapatkan nomor antrian satu, meskipun di sana hanya ada saya satu-satunya. Alasannya counter belum dibuka. Saat dibuka, sudah ada puluhan orang berada di sana. Dan mereka berebutan mendapatkan omor antrian. Saya mengundurkan diri dan tidak jadi membuat NPWP karena tidak mendapatkan nomor antrian, meskipun sudah datang duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salings serobot juga di loket bus dan kereta api. Yang mendapatkan pelayanan bagus adalah yang besar dan uat fisik dan besar suara. Berteriak, membentak, mengahrdik siapa saja. Ia segera mendapatkan apa yang ia mau. Orang yang mengikuti aturan, berdiri di garis antrian, harus berdiri saja melihat pemandangan itu. Dan tidak jarang harus menunggu berjam-jem baru mendapatkan pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fasilitas Umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada WC yang bersih di tempat umum? Mungkin di bandara internasional dan beberapa tempat lainnya. Namun banyak WC yang jorok dan kotor, menjadikan kita yang sudah keelet sekalipun harus mengurungkan niat menggunakannya. Di Mall dan pusat hiburan, juga tidak ada mushalla yang represenatif yang meengakomodir kebutuhan banyak pelanggan muslim. Di sebuah mall di Jogja, ruang shalat diletakkan di tempat parkir, remang-remang, sempit dan berbau asap. Padahal, banyak pelanggan mereka adalah muslim, membutuhkan tempat nyaman untuk beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya di mall dan tempat hiburan saja, di kantor pemerintahan, perusahaan dan yang sering juga terjadi di kampus-kampus, berbagai fasilitas mendasar manusia tidak tersedia dengan baik. Bahkan, lebih buruk lagi, di masjid-masid yang ada di hampir seluruh Indoensia, banyak fasilitas toilet yang kumuh dan tidak layak pakai. PAdahal untuk shalat yang sempurna jelas harus bersih dan suci.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ketertiban Pasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Banda Aceh ada pedagang kaki lima yang berjualan di badan jalan. Saat ada penertiban yang dilakukan Satpol PP beberapa ktivis mengatakan pemerintah tidak punya menghargai kemanusiaan, tidak menghormati masyarakatnya. Ada benarnya. Pemerintah bertanggung jawab untuk menjadikan masyarakat mendapatkan pekerjaan. Namun masyarakat juga “bertanggung jawab” menjaga ketertiban. Tidak berjualan di badan jalan, di lorong-lorong di pasar, membuat kios kecil di depan pertokoan orang, membuat tenda di pinggir jalan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar yang menjadi tempat di mana banyak orang berkunjung untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, seharunya nyaman dan menyenangkan. Sebab ini dikunjungi hampir setiap hari. Namun ulah dari sebagai orang yang tidak mau menjaga ketertiban, pasar menjadi sangat sumpek dan padat. Pergi ke pasar harus dengan nawitu yang kuat dan tidak bisa “sambilan” saja. Kita harus “bertempur” dengan hukum kesemrautan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kapan Bisa Tertib?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tertib adalah sunnatullah, fitrah kemanusiaan. Pada dasarnya manusia ingin tertib dan hidup teratur. Manusia mencintai kebersihan dan kenyamanan. Namun terkadang keinginan berlebihan dan mendapatkan sesuatu lebih banyak dari orang lain menjadikan mereka tida tertib dan tidak menjadi kaidah dan norma bersama. Yang muncul adalah egoisme dan kesombongan. Merasa dirinya paling benar lalu melakukan apa saja demi “kebenran” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaban bisa tertib? Ini adalah persoalan budaya. Hukum, seperti apapaun dibuat, jika budaya tertib tidak ada dalam masyarakat, maka ia akan tetap semraut, seenaknya, suka-suka saya, yang penting saya sukses, dan berbagai prinsip yang lain. Budaya tertib mesti dibangun dengan pendidikan karakter dan keteladanan. Tidak mungkin mengajarkan tertib kepada anak yang yang orang tuanya saja menerobos lampu merah. Tidak mungkin mengajarkan tertib kepada murid yang gurunya saja merokok di dalam ruangan kelas. Sangat msutahil menjadikan masyarakat tertib jika pomimpinnya saja sering tidak disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertibkanlah dirimu sendiri lalu tunjukkan itu pada orang lain. Dan satu saat bangsa kita akan tumbuh menjadi bangsa yang tertib. Itulah kehidupan yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-9013848065768196466?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/9013848065768196466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/masyarakat-tertib-kapan-ya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/9013848065768196466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/9013848065768196466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/masyarakat-tertib-kapan-ya.html' title='Masyarakat Tertib, Kapan Ya?'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S_EXlS4pfwI/AAAAAAAAAu8/0IBEj0vEGjY/s72-c/1_22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-7855796011821980997</id><published>2010-05-11T16:01:00.003+07:00</published><updated>2010-05-11T16:16:02.597+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kenapa Mereka Memilih Dukun?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S-kgKtv13rI/AAAAAAAAAu0/7DO-fFTuhH8/s1600/ponari.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 156px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S-kgKtv13rI/AAAAAAAAAu0/7DO-fFTuhH8/s200/ponari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469938590869216946" /&gt;&lt;/a&gt;Rumah itu tidak dapat dikatakan mewah. Namun untuk konteks perumahan masyarakat di desa, rumah itu bisa disebut lebih dari sederhana. Halamannya nampak tidak ada bunga dan tanaman. Di sisi kanan rumah ada sebuah toko kelontong yang lumayan penuh dengan barang dagangan. Sementara di sisi kirinya ada sebuah garasi yang tidak ada mobilnya. Dan, di dalam garasi itulah penuh dengan orang keluar masuk. Di depan garasi pula banyak orang duduk santai, merokok, ngobrol, bercerita macam-macam, laki-laki dan perempuan, tua muda dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata di dalam garasi sedang berlangsung pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu adalah rumah seorang tabib yang lumayan terkenal di Aceh Besar. Saya mendengar namanya sudah dua tahun yang lalu. Dari berita mulut ke mulut, katanya, sang tabib mampu mengobati banyak penyakit. Banyak orang yang sudah sembuh berkat usahanya. Ada yang lumpuh sudah bisa berjalan kembali, ada yang sembuh total dari penyakit hernia, darah tinggi, TBC, dan berbagai penyakit lainnya. Saya kira ini sebuah pekerjaan luar biasa. Dan karenanya saya berniat mengunjunginya kalau ada waktu. Dan baru kemarin saya berkesempatan merealisasikan niat saya menyaksikan prosesi pengobatan yang beliau lakukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di dalam garasi yang tidak terlalu besar itu penuh dengan orang-orang yang menunggu giliran berobat. Kebanyakan perempuan dan anak-anak. Sang tabib duduk di tengah ruangan, dikerumuni oleh orang-orang yang akan berobat. Ia memanggil satu persatu berdasarkan urutan air mineral yang sudah diantarkan oleh calon pasien pada pagi hari sebelum pengobatan. Setiap pasien yang dipanggil diminta duduk di depannya. Kemudian ditanyakan keluhan penyakitnya. Sang tabib mengambil air, merajahnya, membuka tutup botol air, mencelupkan sebuah keris, menutup kembali dan menyerahkan kepada pasien. Beberapa pesien disebutkan obat-obatan yang harus diminum atau dimakan yang tersedia di toko samping rumahnya. Namun banyak pasien yang tidak perlu obat-obatan. Cukup dengan air itu saja. Pasien mambayar biaya pengobatan seiklas hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengobatan yang terbuka dan sederhana ini, bagi saya sangat tidak rasional untuk menyembuhkan penyakit. Namun kenyataannya banyak orang percaya dan yakin itu bisa menyembuhkan. Saya duduk di depan garasi dan berbicang dengan beberapa orang yang sedang menunggu giliuran berobat. Seorang bapak paruh baya menyebutkan, ia menderita batuk yang menahun. Badannya sudah kurus dan kering. Ia sudah membawa kepada dokter berkali-kali, namun tidak juga sembuh. Dan sudah dua bulan belakangan, ia rajin datang ke tabib ini. Dan ia merasakan perubahan, katanya sudah lumayan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu yang saya ajak bicara terlihat jelas kulit di sekujur tubuhnya terkelupas. Katanya itu sudah berlangsung lama. Ia sudah membawanya sampai ke Penang, Malaysia, namun belum juga sembuh. Bahkan dokter tidak konsisten mengatakan penyakitnya. Lain dokter lain pula “fatwa” mengenai penyakit tersebut. Jadinya, ia datang ke sang tabib. Dan, -lagi-lagi menurut si ibu- ia sudah merasa baikan. Bahkan di bagian perut sudah nampak tumbuh kulit baru. Saya tanyakan, apa yang dilakukan sang tabib? ternyata tidak ada yang spesial, sama saja dengan apa yang dilakukan pada orang lain. Ia hanya minum air putih yang telah dirajah dan memakai obat gosok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kenderaan yang ada di depan rumah sang tabib jelas yang datang ke sana bukan hanya mereka dari golongan ekonomi lemah. Banyak mobil mewah dan motor berjejer di sana. Kita juga bisa lihat dari pakaian yang dikenakan calon pasien, nampaknya mereka bukan orang yang sama sekali tidak mampu membayar biaya berobat ke rumah sakit. Namun, kata salah seorang yang saya ajak bicara, umumnya yang datang ke sana adalah mereka yang kecewa dengan apa yang diperolehnya di rumah sakit. Kecewa karena mereka tidak ada jaminan sembuh, bahkan ada yang kecewa karena penyakitnya justru tambah parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat Ponari, beberapa tahun yang lalu. Dengan sebuah batu “ajaib” ia menyembuhkan banyak orang. Entah benar-benar sembuh atau tidak, orang tersebut saja yang tahu. Namun saat itu banyak orang yang datang ke tempatnya berharap ada sentuhan batu ponari ke dalam air yang mereka bawa. Dan air itu dianggap sebagai obat yang akan mengusir penyakitnya. Praktek Ponari berakhir dengan pelarangan yang dilakukan pemerintah setempat, dan pengakuan Ponari sendiri bahwa ia sudah tidak mampu mengobati lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti praktek seperti ini bukan hanya terjadi di Aceh, namun juga di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebuah catatan yang penting dari kasus ini yaitu keyakinan masyarakat mengenai pengobatan alternatif yang masih sangat kuat. Keyakinan ini semakin kuat karena pelayanan dan tingkat kesembuhan yang sangat rendah di rumah sakit pemerintah dan biaya yang sangat mahal di rumah sakit swasta. Apalagi ada sebuah hukum tidak tertulis yang diyakini selama ini, “orang miskin dilarang sakit” yang menyebabkan praktek pengobatan ini menjadi pilihan warga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-7855796011821980997?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/7855796011821980997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/kenapa-mereka-memilih-dukun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7855796011821980997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7855796011821980997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/kenapa-mereka-memilih-dukun.html' title='Kenapa Mereka Memilih Dukun?'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S-kgKtv13rI/AAAAAAAAAu0/7DO-fFTuhH8/s72-c/ponari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-4583318893732380017</id><published>2010-05-11T13:09:00.002+07:00</published><updated>2010-05-11T13:32:49.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Lagu Iwan Tidak Islami?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S-j6B3e3EWI/AAAAAAAAAus/JbRRodlg-Yc/s1600/iwanfals.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S-j6B3e3EWI/AAAAAAAAAus/JbRRodlg-Yc/s200/iwanfals.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469896657421668706" /&gt;&lt;/a&gt;Lagu Iwan Kok Islami! kata seorang teman saya. Dia tidak menyebut-nyebut Islam. Ia cuma cerita anak jalanan, hutan, perang, korupsi, tikus, omar bakri, dan lain-lain. Mana Islamnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terjadi di kantor. Saat seorang teman meminta saya memutar lagu mengiringi kami kerja. Saya tanyai dia, lagu apa yang ia sukai. Katanya ia suka lagu Islami. Lalu saya putar lagu Iwan Fals. Ia protes, katanya lagu Iwan tidak Islami. Yang ia maksud dengan lagu Islami adalah lagu-lagu qasidah Ida laila, Asnidar Darwis, dll. Atau nasyid modern yang pernah hit dan masih hit sampai sekarang dalam komunitas tertentu. Atau, paling tidak katanya, lagus Islami adalah lagu “religius” yang dinyanyikan GIGI atau Ungu, atau grup band lain yang bikin album khusus menjelang puasa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kebebasan memilih lagu, maka itu adalah hak semua orang. Artinya, setiap orang memiliki hak yang sama dalam memilih lagu kesukaan, penyanyi kebanggaan, materi dan syair yang ia sukai. Namun tatkala melabelkan islami atau tidak sebuah lagu, maka itu mejadi lahan yang layak untuk didiskusikan. Pertanyaan pentingnya adalah, apa perlunya lagu islami atau tidak? kedua, apakah lagu “islami” hanya yang menceritakan menganai pakaian, sikap sehari-hari, menyanyikan ayat al-Qur’an atau hadits Nabi saja? Dan itu yang kemudian kami diskusikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, tidaklah menjadi hal terlalu penting mendiskusikan apakah sebuah lagu islami atau tidak. Sebab -lagi-lagi bagi saya- lagu hanya untuk dinikmati, bukan dihayati sebagai sebuah pesan spiritual dan moral. saya lebih senang mendengar lagu karena irama dan musiknya, bukan karena substansi pesan yang disampaikan dalam syair lagunya. Ini pula yang menyebabkan musik-musik instrumen menjadi pengiring favorit saya dalam bekerja. Pun demikian saya tidak menafikan, beberapa syair lagu menarik hati dan menimbulkan kesan yang mendalam. Selain karena berkaitan dengan rasa dalam pengalaman saya sendiri, lagu tertentu juga mewakili cara pandang saya. Dan Iwan Fals, sejauh ini adalah penyanyi yang paling mewakili pandangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalu mau dihubungakan dengan agama, maka lagu-lagu Iwan Fals juga memiliki makna religiusitas yang mendalam. katakanlah lagunya menganai anak-anak terlantar. Bukankah dalam agama juga bicara mengani anak yatim yang terlantar. Surah al-Ma’un dalam Juz 30 jelas mencela orang yang menelantarkan anak-anak dan menyebutnya sebagai pendusta agama. Iwan juga meneriakkan menjaga alam, dan dalam al-qur’an juga banyak ayat yang berbicara mengenai keseimbangan alam. Apalagi masalah korupsi, keadilan, pemerintahan yang bersih, amanah, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menikmati lagu Iwan sesungguhnya, menurut saya, adalah menikmati lagu Islami. syair-syairnya penuh dengan pesan yang perlu diimplementasi dalam kehidupan nyata untuk menjadikan kehidupan ini lebih baik, lebih adil, lebik berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-4583318893732380017?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/4583318893732380017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/lagu-iwan-tidak-islami.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/4583318893732380017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/4583318893732380017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/lagu-iwan-tidak-islami.html' title='Lagu Iwan Tidak Islami?'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S-j6B3e3EWI/AAAAAAAAAus/JbRRodlg-Yc/s72-c/iwanfals.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-7680376907266117681</id><published>2010-05-10T10:01:00.001+07:00</published><updated>2010-05-10T10:03:10.704+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tidak Panik Pangkal Selamat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S-d3W2tju9I/AAAAAAAAAuk/tdRBJoupNHs/s1600/gempa.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 167px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S-d3W2tju9I/AAAAAAAAAuk/tdRBJoupNHs/s200/gempa.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469471506992184274" /&gt;&lt;/a&gt;Kebetulan kemarin (09/05), saya dan keluarga besar Fakultas Ushuluddin IAIN Banda Aceh sedang melaksanakan acara di pinggiran sebuah pantai di Aceh Besar. Saat gempa 7,2 SR yang mengguncang Aceh kemarin persis saat saya sedang mengucapkan salam akhir shalat zuhur. Saya duduk sebentar berzikir meskipun gempa mulai mengguncang. Ada sedikit rasa khawatir kalau bangunan di mana saya shalat akan roboh. Apalagi mushalla tersebut adalah mushalla yang pernah dihantam tsunami enam tahun yang lalu. Namun kerena beberapa orang yang shalat di sana saya lihat tenang-tenang saja, hanya mengucapkan: “gempa”, dan berzikir, sayapun ikutan tenang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat saya kembali ke tempat kami berkumpul, hanya sepuluh meter dari bibir pantai. Beberapa teman mengabarkan kalau info dari TV menyebutkan gempa yang terjadi barusan berpotensi terjadi tsunami. Info ini menyebabkan banyak yang panik. Bagaimana tidak? lebih setengah dari orang yang hadir dalam acara itu pernah merasakan dahsyatnya tsunami. Seorang guru besar sejarah yang kehilangan istri dan dua anaknya pada peristiwa tsunami tahun 2004 yang lalu saya lihat segera masuk mobil bersama istri dan dua anak beliau yang masih kecil-kecil (beliau menikah kembali setelah tsunami dan sudah dikaruniai dua orang anak). Saya yakin sekali kalau dalam benaknya masih menghantui peristiwa enam tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Bapak Dekan Fakultas Ushuliddin mengingatkan, kalupun memilih untuk pulang maka tetap tenang dan jangan panik. Beliau sendiri memilih untuk tetap berada di pinggir pantai dan melanjutkan cara silaturahim yang sempat tertunda karena gempa. Pertimbangannya hanya satu, tanda-tanda tsunami bukan hanya gempa. Ada banyak tanda lain yang bisa kita pegang berdasarkan peristiwa enam tahun yang lalu, antara lain air laut surut, terjadi suara berdentum, keretakan tanah di pinggir pantai, burung yang terbang menjauh dari pantai dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, gempa tersebut, menurutnya tidak berpotensi tsunami, jadi tidak perlu panik. Saya dan banyak rekan yang lain percaya saja, dan ikut memeriahkan acara sampai selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari acara tersebut saya mendengar cerita bahwa banyak orang yang menjadi korban karena melarikan diri setelah gempa terjadi. Di jalan menuju Ulee Kareeng Banda Aceh, lalu lintas sangat padat dan berdesakan. Beberapa kecelakan terjadi karena masing-masing orang hendak menyelamatkan diri dan mendahului orang lain. Seorang rekan yang bekerja di rumah sakit yang bertemu dengan saya semalam juga mengatakan mereka menangani beberapa orang yang menjadi korban karena kepanikan, umumnya kecelakaan lalu lintas. Padahal tsunami tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepanikan ini wajar terjadi karena beberapa hal. Pertama karena masyarakat di Banda Aceh masih trauma dengan peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu. Persitiwa itu pasti tidak akan lenyap dari pikiran mereka, saya juga. Ini menyebabkan setiap peristiwa gempa yang besar mengingatkan mereka pada peristiwa itu dan terdorong untuk melarikan diri dari pinggiran pantai. Kedua, adanya beberapa penjelasan dari pemerintah tentang fungsi alaram yang mendeteksi tsunami. Kemarin alaram early warning system berbunyi sangat keras di Meulaboh Aceh Barat. Ini menyebabkan masyarakat segera mengungsikan diri takut kalau-kalau tsunami terjadi. Ketiga, kepanikan warga terjadi karena aparat keamanan ikut panik juga menyikapi masalah. Beberapa aparat nampak mengarahkan masyarakat dengan sangat panik seolah ia juga tidak sabar mau menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masih ada penyebab yang lain. Namun saya ingin menagaskan bahwa “panik” menyebabkan kecelakaan dan berjatuhan korban yang sebenarnya tidak perlu. Apakah ini berarti kita tidak perlu khawatir dengan potensi tsunami? Tidak juga. Namun kekhawatiran pada potensi tsunami tidak harus dengan cara panik. Ada waktu jeda antara gempa dan tsunami lebih kurang 20 menit. Untuk konteks Banda Aceh itu adalah waktu yang cukup untuk mengungsi ke daerah aman. Apalagi beberapa desa telah dibangun bangunan penyelamat dari tsunami yang hanya berjarah beberapa puluh meter dari rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari beberapa gampa yang menimbulkan kepanikan di Aceh belakangan ini, sudah sepantasnya ada sebuah usaha dari pemerintah dalam mengatasinya. Oke, selama ini ada sebuah pemberitahuan dari BMG mengenai gempa yang berpotensi tsunami, namun itu saja tidak cukup. Aparat pemerintah harus juga turun ke lapangan untuk menenangkan masyarakat yang panik. Misalnya dengan mengatur lalu lintas, memperingatkan agar jangan panik, mengatur jalur evakuasi agar tidak bertumpuk ke satu arah saja, dan usaha lainnya. Sungguh sangat disayangkan kalau gempa yang tidak menimbulkan korban apa-apa malah membuat orang jatuh pada saat berusaha menyelamatkan diri pasca gempa. Dan itu karena panik, bukan karena gempa itu sendiri. So, Tidak Panik adalah Pangkal Selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-7680376907266117681?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/7680376907266117681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/tidak-panik-pangkal-selamat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7680376907266117681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7680376907266117681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/05/tidak-panik-pangkal-selamat.html' title='Tidak Panik Pangkal Selamat'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S-d3W2tju9I/AAAAAAAAAuk/tdRBJoupNHs/s72-c/gempa.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-5660272406635895829</id><published>2010-04-27T11:05:00.001+07:00</published><updated>2010-04-27T11:06:54.313+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Salah Angkat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9Zizm5xoGI/AAAAAAAAAuc/6-Y03njZumU/s1600/Nenek+Pencari+Waktu+Oke.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9Zizm5xoGI/AAAAAAAAAuc/6-Y03njZumU/s200/Nenek+Pencari+Waktu+Oke.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464663836616400994" /&gt;&lt;/a&gt;Saya melakukan kesalahan fatal minggu lalu di pasar. Padahal niat saya baik, membantu orang tua yang sedang kesusahan mengangkat barang dagangannya. Namun karena tidak ada koordinasi dan klarifikasi, niat baik saya malah membuat saya malu hati. Untung saja saya tidak sempat mendengar ceramah singkat sang nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya pergi ke pasar pagi-pagi sekali untuk berbelanja. Pasar Peunayong, Banda Aceh. Pasar ini adalah pasar tradisional di mana barang-barang kebutuhan rumah tangga dijual, khususnya kebutuhan konsumsi, seperti sayuran, ikan, buah, peralatan dapur, dan lain sebagainya. Banyak yang jualan di sana nenek-nenek yang berasal dari kampung di sekitar Banda Aceh. Usia mereka tidak tergolong muda lagi. Dari keriput di wajahnya, kelelahan dari mukanya, kita bisa prediksi pasti mereka sudah berusia di atas 60 tahun. Namun karena masalah ekonomi mungkin, mereka harus tetap melakukan aktifitas perdagangan dan mencari uang untuk ia dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun pasar ini juga berfingsi sebagai pasar grosir, di mana barang-barang yang dijual di sana dibeli oleh pedagang yang akan menjualnya kembali secara eceran di toko, kedai atau warung mereka. Namun baik pembeli biasa, mampun pembeli untuk menjual kembali menyatu dalam hiruk pikuk pasar. Akibatnya tidak bisa dibedakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang ke sana pagi-pagi sebelum pergi ke kantor utuk mebeli keperluan di rumah. Biasanaya di sini hanya mebeli barang yang akan dikonsumsi satu hari ini saja. Sebab pagi-pagi pertokoan tidak buka sehingga barang kebutuhan lain yang biasanya dijual ditoko tidak dapat diperoleh. Jadinya hanya beli keperluan dapur untuk hari itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat ketika hendak pulang, saya melihat seorang nenek yang sedang keleahan berdiri di dekat tumpukan barang-barangnya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan seolah mencari orang yang hendak dimintai bantuan mengangkat barang tersebut. Mobil pick up berdiri tidak jauh dari si nenek. Tidak ada orang di sana. Di bagian depan, di mana biasanya sopir duduk juga tidak ada orang. Si nenek sesekali melihat ke dalam mobil dan sesekali melihat kepada beberapa barang yang ada di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan nenek itu berpandangan beberapa detik dari seberang jalan. Seolah nenek itu meminta saya membantunya. Saya sedikit tersenyum dan segera datang kepadanya. Saya menunjukkan barang yang ada di depannya dan ia tersenyum. Saya mengambil barang itu dan mengangkat ke dalam mobil pick up yang berdiri tidak jauh darinya. Saya tidak tahu juga apa isi bungkusan yang saya angkat. Bungkusan dari kain itu memang agak besar, mungkin sedikit lebih besar dari plastik kresek hitam besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengangkat dengan susah payah dan meletakkan ke dalam mobil. Setelah sampai di mobil saya segera meletakkannya pada posisi yang pas. Lalu saya kembali mengambil sebuah bungkusan lainnya yang ada di depan si nenek. Saya tidak melihat kepadanya. Namun sepertinya ia berbicara kepada saya, namun suaranya tidak terdengar. Saya langsung mengambil barang itu yang ternyata lebih berat dari barang sebelumnya. Dengan susah payah saya kembali mengangkat barang itu dan membawa ke mobil. Saya harus memanggul ke bahu karena tidak sanggup menentengnya. Sangat berat memang. Mungkin 35 kg.Lumayan juga olah raga pagi, saya pikir begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, saya lihat pada si nenek. Saya katakan kalau saya sudah selesai membantunya mengangkat barang ke dalam mobil. Tanpa mendekatinya lagi, saya kembali ke seberang jalan dan hendak mengambil sepeda motor. Nenek itu melambai-lambaikan tangannya. Saya balas lambaian tangannya. Saya kira ia tidak bisa bicara dan hendak mengucapkan terima kasih. Saya tersenyum saja dan saya senang telah membantunya mengangkat barang yang berat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari belakang si nenek tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan pakaian kerja di pasar, di bagian depannnya sudah kotor, hitam. Mungkin terkena getah pisang atau air kelapa. Ia mendekati si nenek dan nampaknya membicarakan sesuatu. Si nenek menunjukkan tangannya pada mobil, kemudian menunjukkan ke arah saya. Mungkin ia hendak mengatakan kalau saya sudah membantunya mengangat barangnya ke dalam mobil. Saya yang sudah siap hendah pulang hanya tersenyum, menghidupkan motor, dan siap berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekilas saya melihat raut wajah kesal dan marah dari si laki-laki tersebut. Sepertinya ia mengucapkan sesuatu yang saya tidak tahu karena jauh dan diiringi oleh berbagai suara kenderaan di pasar. Namun saya sempat melihat ia bergegas pergi mendekati mobil dan mengambil kembali barang yang sudah saya angkat ke sana, mengangkatnya dan mebawa ke dekat si nenek. Ia mengambil kedua barang si nenek yang sudah saya masukkan ke mmobil. Bahkan ia kembali lagi ke mobil mengambil satu barang lainnya dan membawa ke dekat si nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru sadar, ternyata si nenek tadi bukan hendak menaikkan barang-barangnya ke dalam mobil, namun malah sebaliknya, ia hendak membawa barang itu turun. Saya salah duga, malah membawa naik barang-barang yang sudah diturunkannya dengan susah payah. Memalukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, terkadang niat baik saja tanpa pengetahuan dan pemahaman situasi mejadikan masalah lebih buruk, bukan menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-5660272406635895829?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/5660272406635895829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/salah-angkat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5660272406635895829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5660272406635895829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/salah-angkat.html' title='Salah Angkat'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9Zizm5xoGI/AAAAAAAAAuc/6-Y03njZumU/s72-c/Nenek+Pencari+Waktu+Oke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-8028620511737794321</id><published>2010-04-27T11:04:00.002+07:00</published><updated>2010-04-27T11:05:33.032+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhibbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>"Menjual" Nama Polisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9ZiacXo4VI/AAAAAAAAAuU/y7cQTeX7IKo/s1600/pengemis.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9ZiacXo4VI/AAAAAAAAAuU/y7cQTeX7IKo/s200/pengemis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464663404292137298" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu hari, saya pulang dari kantor untuk makan siang di rumah. Siang itu matahari sangat terik di Banda Aceh. Rasanya, kalau selama ini matahari hanya satu, hari itu tetap satu. Namun satu-orang satu matahari. Begitu panasnya! Angin saja yang biasanya membawa kesejukan, hari itu tidak bisa berbuat banyak. Bahkan anginpun terasa panas. Benar-benar panas membakar. Saat itu saya pikir ini adalah hari terpanas yang pernah saya rasakan di Banda Aceh. Namun waktu saya merasakan hari lain yang juga panas, saya mengatakan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pulang melalui jalan yang tidak biasa saya tempuh. Dari kampus saya berbelok ke kiri. Jalan ke sana memang akan lebih jauh sampai ke rumah. Namun akan lebih teduh karena banyak pepohonana di sisi kanan dan kiri jalan. Apa lagi itu adalah daerah perkampungan, kenderaan juga tidak sepadat jalan protokol yang membuat suasana panas semakin terasa, selain panas matahari juga panas hati karena sikap sebagian pengguna jalan yang maunya enak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Baru satu kilometer berjalan ke arah kiri saya melihat seorang ibu setengah baya yang agak kurus bersama seorang anak laki-lakinya yang juga kurus berbdiri di samping jalan. Melihat dari pakaian yang mereka kenakan saya tahu kalau mereka adalah pengemis. Apalagi saya susah beberapa kali melihat mereka. Dan, bukan maksud hendak mengingat-ingat, saya juga pernah memberikan mereka sedikit sedekah. Kenapa mereka ada di jalan ini? karena mereka juga minta sedekah ke rumah-rumah dan ke tempat-tempat di mana ada orang duduk di depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula saya kira mereka hendak menyeberang jalan. Namun buat apa? sebab di sebernag jalan di mana mereka berdiri adalah tanah kosong yang tidak ada rumah sama sekali. Jadi pasti mereka menunggu becak atau angkutan dan mereka akan pergi ke suatu tempat ke mana mereka akan melanjutkan pekerjaannya. Namun dari jarah beberapa puluh meter sebelum sampai ke arah ke duanya, saya melihat anak kecil itu melambaikan tangannya. Semual saya tidak tahu apa artinya, namun ketika saya melihat ke belakang tidak ada kenderaan lain, saya tahu kalau mereka meminta saya berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhenti persis di depan mereka berdiri. Si ibu membuka pembicaraan. Ia mengatakan hendak pergi ke Darussalam (daerah kampus). Saya katakan kalau saya mau pulang ke arah yang berbeda. Ia malah mengatakan boleh juga pergi ke arah yang sama dengan saya. “Nanti turunkan kami di pasar” katanya. Memang, dari tempat di mana ia berdiri tidak jauh lagi sudah sampai ke sebuah pasar tradisional. Namun saya sedikit kaget, kenapa ia begitu cepat menggantikan tempat tujuannya. Karena saya tahu mereka pengemis, daerah operasinya bisa ke nama saja, tidak terbatas pada daerah tertentu saja, saya memerikan tumpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak duduk persis di belakang saya, dan si ibu duduk di belakanganya. Seorang ibu yang mengenakan rok biasanya duduk menyamping. Namun saya lihat ibu ini membuka sandalnya, menyibak sedikit roknya, lalu naik ke motor saya, duduk seperti laki-laki. “Sudah” katanya, menandakan ia sudah duduk di posisi yang tepat dan sudah boleh berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membawa kenderaan pelan-pelan saja, sebab di belakang ada seorang anak dan seorang perempuan. Apalagi jalan di sana juga tidak terlalu bagus dan sempit. Saya mencoba untuk hati-hati. Sebab saya yakin betul, kalau terjadi sesuatu dengan mereka, sayalah yang akan bertanggung jawab. Apalagi mereka tidak jelas siapa orangnya, di mana rumahnya, siapa saudaranya. Seadainya mereka harus masuk ke rumah sakit pasti saya yang harus menanggung biayanya. Saya tidak mau ambil resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hendak masuk ke pasar, saya membawa kenderaan lebih pelan lagi. Sambil sedikit menghadap ke belakang saya bertanya kepada si ibu, ia mau turun di mana. Ia menjawab, namun tidak jelas. Saya bertanya lagi. Ia menagatakan lewat mesjid. Mesjid masih ada sekitar 200 meter lagi. Namun itu sudah di luar pasar dan bukan ke arah saya pulang. Saya memutuskan mengantarnya, sebab tidak terlalu jauh. Sesampai di masjid saya berhenti dan mengatakan kalau mereka sudah sampai. Tapi malah si ibu diam saja dan tidak bergerak menunjukkan ia mau turun. Ia justru mengatakan kalau ia mau ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit berada di arah yang berseberangan dengan masjid. Dan itu berarti ke arah rumah saya, namun masih lebih jauh lagi. Saya mulai curiga dengan mereka. Sebab sudah tiga kali tidak konsisten dengan rencananya sendiri. Dan saya pernah mendengar seorang teman yang kehilangan dompet setelah membonceng seorang ibu dengan seorang anak laki-lakinya. Saya tidak bisa meraba dompet karena di depan ada ransel, dibelakang ada si anak yang duduk sangat dekat dengan saya. Lalu saya menghentikan kenderaan, saya tanya si ibu, sebenarnya ia mau ke mana. Si ibu menjawab dengan ragu, meskipun kemudian ia mengatakan rumah sakit. Saya sedikit mencoba tegas, mengatakan dengan suara lembut dan ramah: “Saya bawa ke kantor polisi saja ya, nanti ibu bisa minta bantu mereka.” Si ibu mejawab dengan cepat dan segera turun. “Oo.. ngak apa-apa. kami turun di sini saja”. Ia menggendong anaknya turun dari motor, lalu pergi dengan sangat cepat ke arah pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyada dalam kondisi seperti ini polisi bisa “dijual”. :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-8028620511737794321?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/8028620511737794321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/menjual-nama-polisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8028620511737794321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8028620511737794321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/menjual-nama-polisi.html' title='&quot;Menjual&quot; Nama Polisi'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9ZiacXo4VI/AAAAAAAAAuU/y7cQTeX7IKo/s72-c/pengemis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6778646504706393129</id><published>2010-04-27T11:01:00.001+07:00</published><updated>2010-04-27T11:03:28.790+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>"Main Bola" dengan Telkomsel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9Zh8q-xQCI/AAAAAAAAAuM/HRYwkdTZJac/s1600/2946137259_ffb83c1432_o.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 193px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9Zh8q-xQCI/AAAAAAAAAuM/HRYwkdTZJac/s200/2946137259_ffb83c1432_o.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464662892818284578" /&gt;&lt;/a&gt;Saya menggunakan Kartu Halo dari Telkomsel sejak tahun 2002. Tidak pernah ganti nomor kecuali Januari-Februari 2005, ketika sinyal Telkomsel di Banda Aceh terganggu karena tsunami. Namun setelah itu saya tetap menggunakan kartu tesebut dengan setia hingga sekarang. Rajin bayar tagihan meskipun kadang terlambat, tidak tergoda pada produk lain yang menawarkan berbagai kemudahan dan fasilitas, tidak juga berselingkuh dengan kartu lain. Singkatnya semua kebutuhan telekomunikasi, saya menggunakan kartu Halo Telkomsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan yang lalu saya terlambat bayar karena sebuah alasan teknis. Seperti perjanjian ketika mendaftar dulu, dua minggu tidak dibayar kartu tidak bisa dipakai untuk menelpon. Dua minggu kemudian kartu tidak bisa dipakai untuk menerima panggilan. Itulah yang terjadi pada saya. Pun demikian kartu tetap aktif. Buktinya, saya bisa pakai kartu Halo untuk internetan, tidak ada masalah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari yang lalu saya mendatangi gerai Telkomsel di Banda Aceh untuk melakukan pembayaran dan mengaktifkan kembali kartu saya. Tidak banyak pertanyaan dari kasier, ia memanggil nomor urut saya, menyebutkan berapa yang harus saya bayar, saya kasih uang, habis perkara. Selesai. “Satu jam lagi kartu bapak akan dapat digunakan kembali. Hubungi 111 jiga masih ada masalah”, katanya ramah. “Baik” dan sayapun melanjutkan aktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari saya mencoba mengaktifkan kartu halo saya kembali. Ternyata belum bisa dipakai, untuk menelpon ataupun SMS. Padahal itu sudah lima jam. Namun karena saat itu saya masih di warung kopi, saya tidak menghubungi 111. Saya tunggu saat pulang di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat maghrib, saya coba hubungi 111 menanyakan status aktif kartu saya. Agak susah masuk, mungkin karena jauh dari Banda Aceh. Saya mencoba beberapa kali hingga bisa masuk. Yang terima seorang perempuan, terdengar dari suaranya. Setelah berbasa-basi sejenak, tanya ini itu, ia mengatakan kartu saya memang masih terblokir dan ia minta saya menunggu. Ia memperdengarkan lagu-lagu iklan yang dianggap dapat menghibur saya selama menuingu. Beberapa saat kemudian ia kembali dan mengatakan kartu saya sudah bisa digunakan kembali. “Tolong bapak matikan dulu, lalu hidupkan kembali. Kalau ada masalah silakan hubungi kami lagi” demikian katan. “Trerima kasih” kata saya. Saya putuskan telefon dan mematikan HP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bukan kartu aktif yang saya dapatkan setelah handphone saya restart, bahkan sinyalpun tidak ada lagi. Saat HP dalam keadaan blokir dan setelah melakukan pembayaran tidak ada masalah dengan signal. Namun setelah saya lapor ke 111 dan ia menjawab kartu sudah aktif, malah signal HP hilang total. HP saya rusak? Saya pakai kartu lain. Tidak ada masalah. Signalnya bagus, sama dengan HP orang lain. Lalu kenapa kartu Halo saya malah tidak ada siugnal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya gunakan HP milik istri untuk menelpon 116 yang melayani kartu Simpati dan AS. Siapa tahu saya bisa keluhkan masalah kartu halo saya. Agak sulit masuknya. “Mohon tunggu sebenar, panggilan anda akan segera dihubungkan.” Namun sesat kemudian dia mengatakan: “Semua kami sedang melayani palanggan lain, tekan 1 untuk menunggu atau hubungi kami sesaat lagi.” Saya menekan satu untuk menunggu lalu diputuskan sendiri. Saya ulangi lagi dua tiga kali sampai benar-benar bisa bicara dengan operatornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berbicara dengan seorang laki-laki dan menjelaskan keluhan saya sampai akhirnya saya harus menelponnya lagi. Seperti anak yang baru bisa bicara dia mengulang pernyataan saya berkali-kali. Ketika saya katakan, “kartu saya tidak menangkap sinyal” ia mengulangnya: “Bapak mengatakan kartu bapak tidak menangkap sinyal begitu?” “Iya” “tidak nampak ada tanda menangkap sinyal di layar” “ya” “tidak ada sinyal sama sekali, begitu?” Saya bersabar saja denganmodel pelayanan ini. Mungkin itu aturan resmi kantor mereka. Lalu ia minta saya menunggu. Sesat kemudian ia mengatakan kalau ia perlu waktu untuk memperbaikinya dan lagu-lagu telkomsel aakn diperdengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengarkan dengan seksama lagu-lagu iklan simpati tahun 2008, iklan As tahun 2009 yang masa berlakunya sudah kadaluarsa. Diperdengarkan juga iklan kartu halo dengan berbagai kelebihannya. Dan kebanyakan dari informasi yang diberikan melalui lagu itu sudah kadaluarsa. Saya dengarkan saja dengan sabar. Apalagi kami lagi mati lampu di Banda Aceh, tidak ada yang bisa dikerjakan. Jadi ini menjadi hiburan yang menarik dari telkomsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operator muncul lagi. Terima kasih Bapak sudah menunggu. Saya berharap ia mengatakan, “masalah bapak sudah kai atasi dan bapak bisa menggunakan kembali kartu halo-nya.” Ternyata tidak. Dia malah menanyakan, apakah bapak di dalam ruangan atau di luar ruangan? Saya katakan saya di dalam ruangan, dan saya menelpon anda dari dalam ruangan. Dia menyarankan saya ke luar ruangan. Saya tanya dia apa sinyal telkomsel tidak bisa masuk ke dalam kamar? Dia mengulang lagi agar saya keluar ruangan. Saya jalan saja ke luar. Apalagi tinggal buka pintu saja. Tapi teryata tidak ada perubahan. Sambilan itu ia menyaran saya menggantikan HP. Saya bilang saya sudah menggantikan berkali-kali. HP yang saya gunakan untuk kartu halo bisa berfungsi dengan baik ketika pakai As. HP yang saya pakai untuk kartu As tidak bisa berfungsi jika diakai kartu Halo. Tapi si Operator nampaknya tidak punya ilmu tentang itu. Ia kembali mengulang sarannya. “Saran saya, coba bapak keluar ruangan dan menggantikan HP-nya.” Lalu ia memutuskan hubungan telpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba menggantikan HP dan keluar ruangan, namun hasilnya sama saja, signal di kartu halo saya tidak muncul. Saya mencoba menghubungi operator kembali, berkali-kali. Namun tidak bisa lagi. Kalau sebelumnya tiga empat kali langsung tersambung, kali ini tidak tersambung lagi. Kalau sebelumnya dikatakan: “Semua operator kami sedang melayani pelnggan lain, silahkan menunggu.” Kali ini dikatakan “Semua operator kami sedang melayani pelanggan lain” lalu diputusakan. Sampai satu kali dari balik sana terdengar ucapan. “Terima kasih sudah menghubungi kami, silahkan kunjungi gerai halo terdekat untuk menyelesaikan masalah anda.” Intinya saya tidak boleh menelpon mereka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya saya pergi ke gerai Halo. Saya menceritakan keluhan saya. SC meminta saya membuka HP dan mengambil kartunya. Ia memeriksa kartu saya dan mengatakan kalau kartu saya rusak dan harus diganti. Setelah mengambil data nomr telefon di dalam kartu ia membuat kartu lain. Ia mengatakan untuk mengaktifkannya setelah satu jam kemudian. Saya pamit dan kembali bekerja. Namun tiga jam kemudian, ketika saya katifkan, signalnya belum juga tampak. Sampai keesokan harinya. Saya kembali lagi ke gerai telkomsel. Melaporkan apa yang terjadi. Seorang CS mengambil hp saya dan membawa ke dalam. Selang lima menit ia keluar dan menjumpai saya. Ia mengatakan kalau tidak ada persoalan dengan kartu saya dan sudah bisa digunakan kembali, sambil memberikan HP saya kembali. Saya lihat di layat HP sudah ada tanda sinyalnya. Akhirnya…. Alhamdulillah…. HP saya bisa digunakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah permainan bola yang sangat menarik dan melelahkan. Terima kasih Telkomsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6778646504706393129?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6778646504706393129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/main-bola-dengan-telkomsel.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6778646504706393129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6778646504706393129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/main-bola-dengan-telkomsel.html' title='&quot;Main Bola&quot; dengan Telkomsel'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9Zh8q-xQCI/AAAAAAAAAuM/HRYwkdTZJac/s72-c/2946137259_ffb83c1432_o.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1635804343867702882</id><published>2010-04-27T11:00:00.002+07:00</published><updated>2010-04-27T11:01:47.147+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penelitian'/><title type='text'>Kenapa Sampah Harus Dipisahkan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9Zhh8CsgxI/AAAAAAAAAuE/CMcErfv6oAM/s1600/5.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 143px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9Zhh8CsgxI/AAAAAAAAAuE/CMcErfv6oAM/s200/5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464662433541686034" /&gt;&lt;/a&gt;Saya membawa mahasiswa ke tempat pembungan akhir sampah-sampah di Banda Aceh untuk sebuah kunjungan lapangan matakuliah metodologi penelitian. Di sana saya meminta mereka memperhatikan apa saja yang mereka lihat. Dan kalau memungkinkan saya juga meminta mereka berdialog dengan orang-orang yang ada di sana, selama tidak mengganggu pekerjaan mereka. Dalam kunjungan awal saya ke lokasi setidaknya lebih dari lima pihak yang ada di sana, pemulung, sopir truk, sopir buldozer, mandor, penjaga lokasi dan penduduk yang tinggal di dekat sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkunjung pada suatu hari minggu dengan menggunakan sepeda motor. Sesampai di lokasi mahasiswa saya bebaskan untuk berekspresi, melakukan pendekatan dengan orang-orang di sana dan membina komunikasi. Beberapa mahasiswa ada yang takut-takut masuk ke dalam tumpukan sampah di mana pemulung berada. Beberapa diantaranya ada yang masuk namun dengan mengangkat tinggi-tinggi celana atau rok. Ada pula yang berani apa adanya, tanpa ragu dan enggan. Begitu memang manusia, padahal sampah itu berasal dari rumahnya juga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kelas keesokan harinya, mahasiswa melaporkan apa yang mereka dapatkan di lapangan pada hari kunjungan itu. Banyak hal menarik yang mereke temukan. Antara lain, ternyata diantara pemulung itu ada yang sarjana. Ia tidak mendapatkan pekerjaan lain, sementara ia harus menghidupi keluarganya, hingga ia memilih menjadi pemulung. Ada juga pemulung itu mantan tenaga kerja di luar negeri dan pernah punya gaji yang sangat banyak. Namun karena boros dan suka berjudi ia jatuh bangkrut. Ia kemudian menjadi pemulung untuk menghidupi ibunya yang sudah tua. Yang lain adalah cerita mengenai anak-anak yang tidak sekolah, ibu-ibu yang hidup bersama sampah, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang menarik dari apa yang mereka kerjaan di atas gunungan sampah yang setiap jam semakin meninggi, yaitu mendapatkan hal-hal yang layak jual dari apa yang sudah dibuang oleh masyarakat. Bagi kita yang mungkin tidak berada di sana, tidak pernah ke sana, tidak berfikir ada hal yang berharga dari apa yang kita buang. Mungkin sebuah botol air mineral, bisa saja kaleng minuman soda, beberapa pecah belah di dapur yang tidak layak pakai, bahan bangunan yang tidak berguna, dan masih banyak lagi. Bagi mereka banyak benda yang tidak terpakai itu justru memberikan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hari mereka mengais benda-benda “berharga” itu diantara tumpukan sampah. Terkadang mereka mendapatkannya diantara sampah dapur yang berbau basi. Atau diantara duri-duri tanaman yang dipotong pemilikinya. Tidak sedikit pula barang berharga itu diperoleh dalam bungkusan berbagai macam sampah yang disatukan dalam sebuah plastik besar. Plastik itu dihancurkan, isinya diuraikan, dan di sana mereka mengais-ngais mencari apa yang dapat dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin semua kita sepakat, seharusnya tidak ada kehidupan manusia di sana, tidak ada orang yang menggantungkan harapan pada sampah-sampah yang berbau dan dipenuhi lalat. Itu jelas sebuah pekerjaan yang tidak layak, meskipun halal. Seharusnya manusia bekerja pada tempat lebih bersih dan dengan cara yang bersih pula. Sebab di sana, bukan hanya si ibu yang akan sakit, namun ia juga akan menularkan penyakit pada anak kecilnya. Di sana bukan hanya seorang laki-laki yang akan menderita ashma atau batuk akibat kuman-kuman yang bertebaran, namun juga keluarganya di rumah yang mencuci pakaiannya, atau yang bergaul dengannya saat ia belum mebersihkan diri. Namun itu tetap terjadi, dan masih juga terjadi hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi tidak semua kita bisa membantu mengeluarkan mereka dari pekerjaan tersebut. Sebab itu masalah besar. Tidak ada satu tangan manusia yang mampu melakukannya. Butuh sebuah kerja besar, kerja yang melibatkan semua pihak, semua lembaga, semua kekuasaan yang ada. Sebab itu adalah masalah manusia sepanjang hidupnya. Bukan hanya di Indonesia, di negara maju sekalipun fenomena seperti ini tetap ada. Pengemis, pemulung, gelandangan, adalah fenomena biasa di berbagai kota besar dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan juga berarti kita tidak bisa membantunya. Kita bisa! Dan itu mudah. Sesuatu yang kecil kita lakukan bisa mengubah ritme kerja mereka. Sesuatu yang ringan di tangan kita akan memudahkan seharian kerja mereka. Beberapa detik yang kita lakukan akan memotong beberapa jam kerja mereka. Apa yang harus kita lakukan? Pisahkan sampah basah-sampah kering. Pisahkan sampah plastik dengan sampah yang dapat diurai oleh tanah. Bukankah itu sesuatu yang mudah? Hanya butuh waktu sepersekian detik untuk memutuskan di mana kita akan membuang sampah. Namun yakinlah, itu akan membantu banyak saudara kita yang bergelut dengan tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita hanya pilihan, tapi mereka itu adalah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1635804343867702882?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1635804343867702882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/kenapa-sampah-harus-dipisahkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1635804343867702882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1635804343867702882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/kenapa-sampah-harus-dipisahkan.html' title='Kenapa Sampah Harus Dipisahkan?'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9Zhh8CsgxI/AAAAAAAAAuE/CMcErfv6oAM/s72-c/5.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-3381633129640114444</id><published>2010-04-27T10:57:00.002+07:00</published><updated>2010-04-27T10:59:36.526+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Satu Kelahiran Satu Pohon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9ZhGSt2sUI/AAAAAAAAAt8/cJ2N4N-m3Ps/s1600/Tinggal+sendiri+Oke.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 97px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9ZhGSt2sUI/AAAAAAAAAt8/cJ2N4N-m3Ps/s200/Tinggal+sendiri+Oke.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464661958591951170" /&gt;&lt;/a&gt;Apakah anda punya sebatang pohon yang umurnya persis sebaya dengan anda dan anda mengetahui di mana pohon itu? Jika ada, itu pasti sebuah hal yang menakjubkan dan sebuah kebanggaan. Dan anda dengan bangga akan mengatakan, “Ini pohonku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan semua orang kampung suku Kluet, Kabupaten Aceh Selatan memilikinya. Ada sebuah tradisi khusus di sana yang membuat hal ini bisa terjadi. Setiap orang yang lahir, pada hari itu juga akan ditanami sebatang pohon untuk menandainya. Dalam lubang yang akan ditanami dimasukkan segala darah dan benda lain selama proses persalinan. Kemudian di atasnya dimasukkan pohon tertentu yang menjadi pilihan orang tuanya, kelapa, mangga, durian, dan lain sebagainya. Selama ini pohon yang dipilih adalah pohon keras dan berumur panjang. Jadi bukan pohon buah-buahan atau sayuran.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, saat pulang ke kampung saya kebetulan datang ke bekas rumah di mana saya dilahirkan. Rumah itu sekarang sudah menjadi kebun karena semua masyarakat sudah pindah ke pinggir jalan. Dan di sana berdiri dengan kukuh sebatang pohon durian yang sedang berbuah lebat. Ibu mengatakan “Nyan a kah” (itu -pohon- kakak mu). Artinya pohon itu adalah kakak saya. Kenapa disebut kakak? karena sebuah pohon jelas “lahir” lebih dahulu sebelum saya lahir. Hanya ia dipindahkan ke lubang itu pada saat saya lahir. Lalu sejak itu kami tumbuh bersama hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya sebuah pohon besar akan hidup lebih lama dari manusia. Saya melihat sebatang pohon durian yang ada di belakang rumah nenek. Nenek mengatakan pohon itu memang sudah seperti sekarang ini sejak beliau masih kecil. Besar batangnya, cabang-cabangnya, rimbun daunnya, persis sama ketika beliau masih kanak-kanak. Dan saat itu, di usianya yang ke 80 tahu lebih, pohon durian itu masih berdiri di sana dengan tampilan yang persis sama. Entah berapa lama sudah ia hidup di sana menyaksikan perkembangan dan hiruk pikuk kampung kami, tidak ada yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pohon yang tumbuh bersamaan dengan lahirnya seorang manusia di kampung tidak ikut mati ketika orang tersebut mati. Maka kampung kami, alhamdulillah, sampai saat ini masih rimbun dipenuhi pepohonan. Tidak ada keluhan dari masyarakat tentang panasnya udara. Ada angin pegunungan dan hamparan sawah membentang yang disaring oleh pepohonan sebelum masuk ke rumah. Makanya tidak perlu AC, tidak perlu kipas angin. Pohon-pohon itu memainkan peran penting menggantikan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program “satu orang satu pohon” yang dicanangkan pemerintah saat ini sepertinya perlu mencontoh tradisi orang Kluet di kampung saya. Disana sejak lahir seorang anak telah ditanami sebatang pohon. Dan ketika ia dewasa, ia akan tahu mana pohonnya, dan ia akan menjaga pohon itu. Kalau ia bermurah hati, ia akan menanam sebatang atau beberapa batang pohon lain di dekat pohonnya. Dan di sana akan tumbuh sebuah hutan kecil yang menjadi sumber air bagi kehidupannya, dan sebagai penyaring udara segar bagi hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menanam pohon kitsa selamatkun bumi. Selamat hari bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-3381633129640114444?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/3381633129640114444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/satu-kelahiran-satu-pohon.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3381633129640114444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3381633129640114444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/satu-kelahiran-satu-pohon.html' title='Satu Kelahiran Satu Pohon'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S9ZhGSt2sUI/AAAAAAAAAt8/cJ2N4N-m3Ps/s72-c/Tinggal+sendiri+Oke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-5526107948749465060</id><published>2010-04-21T18:28:00.001+07:00</published><updated>2010-04-21T18:31:43.380+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kalau Pengemis jadi Sales</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S87iBfk-DLI/AAAAAAAAAt0/Z337AQeAvYs/s1600/prof_promax.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 192px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S87iBfk-DLI/AAAAAAAAAt0/Z337AQeAvYs/s200/prof_promax.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462551913331297458" /&gt;&lt;/a&gt;Saat sedang duduk santai di sebuah warung kopi seorang laki-laki muda dengan pakaian lusuh mendekat. Ia mengenakan sebuah kopiah yang juga lusuh. Dari sedikit rambutnya yang nampak jelas ia tidak pernah merapikannya. Kakinya yang dilapisi sandal jepit tua dibiarkan bedebu dan tumbuh beberapa kudis kecil.  sekilas ia berbedan tegap dan sehat. Di tangannya ada selembar kertas yang sudah dipres. Kertas yang nampak lusuh dan berlipat tidak rapi. Ia mengandeng sebuah tas samping yang berisi sesuatu. Saya tidak tahu isinya apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asssalamu’alaikum, katanya tatkala mendekat pada kami. “Bie seudekah bacut keu aneuk yatim” (berikan sedikit sedekah untuk anak yatim) katanya. Ia mengungkapkan itu sambil menyodorkan kertas lusuh di tangannya ke hadapan kami. Matanya menatap jelas ke mata kami. Wajahnya dipasang memelas, mengharap iba dan perhatian. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan dalam lubuk hatinya. Tidak pula ada yang bisa memastikan apakah penampilannya menunjukkan wujud asli dirinya atau hanya kamuflasse saja. Yang pasti saat itu ia berdiri di depan kami mengharapkan sedikit sedekah, yang katanya untuk anak yatim. Diakah anak yatim itu? wallahu’a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sementara kita tinggalkan cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1997 saya masih semester satu kuliah di sebuah perguruan tinggi di Aceh. Pada masa liburan semester saya mendaftar bekerja di sebuah perusahaan distributor perlengkapan rumah tangga dengan sistem penjualan door to door. Saya sebenarnya mendaftar sebagai office boy agar punya tempat tinggal gratis sambil kuliah. Namun ketika wawancara, menejernya mengatakan semua orang yang akan bekerja di sini harus ditraining dulu. Training lapangan. Semula saya tidak tahu training lapangan seperti apa, setelah saya ikuti ternyata saya diminta jadi sales, menjual produk mereka dari pintu ke pintu, sepanjang hari. Karena dianggap sebagai training, maka saya ikut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari mulai kerja, saya dan beberapa orang lain yang diterima bersamaan dibriefing di sebuah ruangan dalam kantor. Kami diajarkan cara bersalaman, cara berbicara, cara menawarkan produk, cara berjabat tangan, menatap mata calon pembeli, dan berbagai hal lain yang bersifat teknis dan filosofis. Kemudian kami mengikuti sales senior dalam beroperasi di lapangan untuk melakukan observasi langsung tentang implementasi metode tersebut. Hal ini berlangsung tiga hari, baru kemudian kami dipercayakan untuk membawa produk sendiri dan menjual sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata menjadi sales bukan hal yang mudah. Meskipun di kantor rasanya saya sudah percaya diri, bisa tersenyum dengan lugas, bersalaman dengan erat sambil menatap mata calon pembeli, berbicara dengan baik dan lancar, namun di lapangan sungguh berbeda. Ada rasa malu, rasa takut, rasa was-was dan segala rasa yang lain saat berhadapn dengan segala jenis orang. Sebab di lapangan kita tidak hanya berjumpa dengan seorang ibu yang santun, namun ada beragam jenis ibu-ibu dengan aktifitas sehariannya. Ada pegawai di kantor, ada polisi, tentara, bapak-bapak yang bengis, dan lain sebagainya. Jadi perlu beragam model pendekatan yang perlu dipraktekkan dan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Itu sungguh sangat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dibantu dengan bacaan, latihan, sharing pengalaman dengan teman seprofesi, sedikit demi sedikit masalah itu teratasi juga. Bahkan pada minggu kedua bekerja di sana saya sudah mendapatkan kesempatan naik tingkat karena berhasil ring the bell (mencapai penjualan harian yang standar) satu minggu berturut-turut. Manajer kami yang berasal dari Jakarta berjanji akan mengirim saya ke Surabaya untuk latihan lebih lanjut dan mengembangkan perusahaan di Aceh. Namun saya memilih melanjutkan kuliah dan mengatakan kalau bekerja sebagai sales hanya pada waktu liburan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemis pada prinsipnya telah memiliki keberanian yang luar biasa dalam menghadapi beragam jenis orang. Ia memiliki rasa percaya diri dalam menawarkan “produknya.” Ia juga memiliki kemampuan dalam mengatur mimik muka dan gerak badan untuk menimbulkan rasa pada calon “konsumennya”. Apalagi seorang pengemis telah terlatih berjalan berjam-jam dan ke berbagai tempat sepanjang hari. Secara fisik mereka kuat dan peuh dedikasi untuk pekerjaannya. Secara potensi mereka memiliki kemampuan untuk “menundukkan” calon konsumennya. Dan dua hal ini adalah dua hal penting bagi seorang sales.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah ini ide yang tepat. Tapi sepertinya beberapa pengemis yang ada di Banda Aceh (entah kota lain di Indonesia, saya tidak tahu bagaimana performa pengemisnya) dapat di “upgrade” menjadi sales. Mereka hanya perlu diubah pakaian dan penapilan. Dibekali sedikit metode penjualan untuk masyarakat modern. Mengubah wajah prihatin menjadi wajah penuh senyum. Mengubah tatapan sedih menjadi tatapan penuh percaya diri. Dengan demikian mungkin pengemis akan “naik pangkat” menjadi sales yang sukses. Bagaimana menurut anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-5526107948749465060?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/5526107948749465060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/kalau-pengemis-jadi-sales.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5526107948749465060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5526107948749465060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/kalau-pengemis-jadi-sales.html' title='Kalau Pengemis jadi Sales'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S87iBfk-DLI/AAAAAAAAAt0/Z337AQeAvYs/s72-c/prof_promax.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-8776394440712804369</id><published>2010-04-21T17:38:00.001+07:00</published><updated>2010-04-21T18:04:20.979+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Motor Tua Bisa jaga Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S87bhvlZfSI/AAAAAAAAAts/aop69sWJXrQ/s1600/Honda-Astrea-800-85.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S87bhvlZfSI/AAAAAAAAAts/aop69sWJXrQ/s200/Honda-Astrea-800-85.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462544770802482466" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang rekan kerja saya, sebut saja namanya Pak Salim, memiliki motor tua, Honda Astrea 800. Bagi anda yang familiar dengan kenderaan ini pasti tahu, salah satu bentuk khasnya adalah tempat duduk yang lebih panjang dibandingkan motor lain, apalagi motor keluaran terbaru saat ini. Motor keluaran terkini umumnya memiliki tempat duduk yang  miring ke depan. Jadi jika duduk berboncengan, yang dibelakang otomatis melorot ke depan. Dadanya akan disandarkan ke punggung pengendara sepeda motor tanpa harus diminta. Pasti ini menyenangkan bagi pasangan anak muda dan remaja yang sedang dimabuk cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saya dan banyak teman yang lain mengganti motor kami dengan motor “yang lebih bagus” dan keluaran yang lebih baru, tidak bagi Pak Salim. Ia sepertinya merasa cukup puas dengan kenderaan yang ia miliki saat ini. Padahal semua sangat yakin, dengan jabatannya sekarang, serangkaian pekerjaan produktifnya, prestasi-prestasi dan ketenarannya, membeli motor yang lebih baik bukanlah hal yang mustahil. Bahkan saya sangat yakin pula membeli mobil juga suatu hal yang wajar untuknya. Namun ia tidak melakukan itu. Ia tetap setia dengan motor bututunya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiap duduk bersama teman-teman di kantor atau sambil minum kopi bersama, ada teman yang meledeknya, mengatakan untuk apa motor seperti itu, sekarang sudah tidak zamannya lagi. Apalagi motor itu tidak praktis; larinya pelan, onderdilnya sudah tidak menarik, suaranya tidak halus meskipun tidak sampai mengganggu orang lain, catnya juga tidak mulus lagi, dan beberapa kekurangan yang lain. Namun sepertinya beliau tidak bergeming dengan uagkapan-ungkapan canda bernada sinis itu. Sampai hari saat esay ini saya tulis beliau masih menggunakan motor tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri adalah satu diantara banyak orang yang suka dengan hal-hal baru, termasuk motor. Saya berpedoman pada praktisnya, bukan pada fungsi dan manfaat semata. Jadi meskipun saya punya motor lama yang masih bisa dipakai, namun kalau sering rusak, bolak-balik ke bengkel, dan tidak serasi dengan motor lain saat diparkir, itu sedikit mengganggu batin saya. Makanya saya termasuk orang yang heran kenapa Pak Salim masih bertahan dengan motor tuanya dan sama sekali tidak berniat menggantikan dengan yang sedikit lebih bagus. Tidak mesti baru, seperti yang saya miliki, namun setidaknya “nyaman” dipandang mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, kami pergi takziah ke rumah salah seorang teman yang orang tuanya meninggal dunia. Kami pergi bersama-sama dengan motor. banyak juga yang pergi dengan mobil. Bersama saya antara lain ada Pak Salim dan Pak Muladi. Pak Muladi adalah salah seorang teman yang sangat sering “menceramahi” Pak Salim mengenai motornya. “Sudahlah Pak, bapak ganti saja motor itu. Sakit juga mata kita melihatnya, tidak serasi kalau lagi parkir. Masa ngak bisa beli yang baru? Kan proyek bapak banyak sekarang.” Begitu antara lain yang diungkapkan Pak Muladi pada Pak Salim. Namun biasanya Pak Salim tidak menanggapi, ia hanya menjawab ala kadar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami pulang dari takziah, azan ashar menggema di masjid. Kami sepakat untuk berhenti menunaikan shalat jamaah sambil melepaskan lelah dan gerah. Di halaman masjid kami parkirkan kenderaan. Saya dan Pak Muladi membutuhkan waktu yang lama untuk parkir. Sebab selain mendirikan kenderaan di tempat yang “aman” kami juga harus memasang kunci pengaman. Selain kunci stang, saya memasang kunci pengaman di rantai. Pak Muladi lebih banyak lagi; kunci stang, gembok rantai dan rantai ban depan. Tiga pengaman. Ini semua kami lakukan untuk menjamin kenderaan kami aman dari pencurian. Apalagi belakangan ini pencurian kenderaan bermotor sangat sering terjadi. Sementara Pak Salim hanya butuh beberapa saat. Dia dirikan motornya di posisi yang pas, mengkunci stang, lalu pergi ke tempat wudhu. Ia seolah meninggalkan kenderaan begitu saja, tanpa khawatir kenderaannya akan dicuri maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saya katakan, meskipun saya sudah mengunci kenderaan dengan kunci pengaman, saya tetap belum yakin kenderaan saya akan aman. Sangat banyak kenderaan yang hilang maskipun sudah ada kunci pengaman. Jangankan pakai kunci pengaman, di rumah saja banyak kenderaan yang hilang, apalagi di masjid dan di luar. Itulah yang membuat saya selalu teringat pada motor yang diparkir di depan masjid sepanjang shalat jamaah. Bahkan diam-diam dalam hati yang paling dalam saya berharap agar imam sedikit mempercepat shalat agar saya bisa melihat kenderaan dan menjaminnya tidak hilang dicuri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah selesai shalat, saya dan Pak Muladi hanya berzikir sebenar lalu keluar masjid segera untuk memastikan motor kami tidak masalah. Alhamdulillah, motor saya masih ada di tempatnya, begitu pula dengan motor kedua teman saya. Namun saya melihat Pak Salim masih di tempat duduknya. Ia berzikir dengan tenang tanpa beban. Seolah ia tidak peduli dan berfikir tentang motornya. Seolah ia mempasrahkan saja motor itu jika dicuri orang. Kami butuh waktu 10 menit untuk menunggu beliau selesai berzikir dan berdoa baru kemudian keluar masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat keluar masjid Pak Muladi berseloroh lagi. “Panjang kali do’anya pak?” Pak Salim hanya tersenyum, lalu mengatakan: “Pasti kalian keluar karena takut motor dicuri orang kan? Makanya lebih enak seperti motor saya, aman, tidak ada yang peduli. Ibadah kita tenang, nyaman. Berdoa dengan tenang tanpa rasa was-was. Sama sekali kita tidak khawatir motor kita akan hilang. Motor tua bisa jaga diri.” Katanya. Saya baru maklum kenapa ia tidak menggantikan motornya. Lalu kami berangkat pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang harta dan obsesi yang berlebihan menjadikan jiwa kita tergantung padanya dan menjauhkan diri kita pada rasa nyaman dan tenang dalam kedamaian sejati mengingat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-8776394440712804369?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/8776394440712804369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/motor-tua-bisa-jaga-diri.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8776394440712804369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8776394440712804369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/motor-tua-bisa-jaga-diri.html' title='Motor Tua Bisa jaga Diri'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S87bhvlZfSI/AAAAAAAAAts/aop69sWJXrQ/s72-c/Honda-Astrea-800-85.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-3068594488830690993</id><published>2010-04-19T15:48:00.001+07:00</published><updated>2010-04-19T15:51:00.812+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Cara Anak Berbagi Jajan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8wZBvXYvsI/AAAAAAAAAtk/UrNL9upLYy0/s1600/1908951306_0fb9eaeb50.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8wZBvXYvsI/AAAAAAAAAtk/UrNL9upLYy0/s200/1908951306_0fb9eaeb50.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461767965778689730" /&gt;&lt;/a&gt;Kampung asli saya ada di pedalaman Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Jaraknya 60 km dari kota kabupaten, Tapak Tuan atau 480 km dari provinsi, Banda Aceh. Tidak terlalu jauh memang kalau dengan pesawat terbang. Sayangnya, jangankan pesawat terbang, jalan dari aspal saja belum lancar. Sampai sekarang, setelah 65 tahun Indonesia -katanya- merdeka. Masa sih? Ya sudah kalau tidak percaya, jalan saja sendiri, pasti menyenangkan, naik rakit, jalan becek, berdebu, dihadang jurang, dll. Pokoknya, seru! Bisa bayangkan bagaimana nasib kampung kami tahun 1985 atau 25 tahun yang lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat itulah saya sekolah Madrasah Ibtidaiyah, setingkat SD. Sekolah kami persis seperti bangunan sekolah si Lintang dan temannya dalam Laskar Pelangi. Bahkan masih lebih baik sekolah mereka karena hanya ditopang oleh satu kayu dan satu sisi saja. Sementara sekolah saya harus ditopang disetiap sisi. Dindingnya terbuat dari bleut, anjaman daun kelapa yang disusun rapi. Atapnya daun rumbia. Lantainya tanah yang telah mengeras dan memutih. Kata pak guru saat itu, lantai yang mengeras itu lebih kuat dari semen. Dan itu membuat kami sangat bangga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang istimewa dengan pakaian kami. Meskipun di pedesaan yang sangat jauh dari kota, lebih separuh laki-laki mengenakan kacamata. sayangnya kacamatanya cap alam dan diletakkan di -maaf- pantat. Kacamata yang terbuat dari celana pendek yang kumal karena terus dipakai. Akibatnya di belakang jadi aus dan menimbulkan robek di dua sisi yang berdampingan, mirip kacamata. Jangan tanya soal alas kaki. Sandal jepit adalah alas kaki termewah yang pernah kami kenal. Kalau lihat teman-teman di kecamatan (kalau sesekali sempat ke kecamatan) yang pakai sepatu, justru nampak aneh. Bagaimana mungkin orang bisa berjalan kalau kakinya dibalut semua? Yah… tapi begitulah cara pikir kami dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak memiliki kantin sekolah. Sebab murid sekolah juga sangat sedikit. Ada tiga orang pedagang keliling yang mengunjungi kami setiap hari. Masing-masing membawa mainan plastik, mie goreng dalam bungkusan kecil, dan es seukuran jempol kaki yang panjangnya sejengkal. Ketiganya berasal dari kampung lain di kecamatan. Mereka datang ke sekolah kami tidak tentu waktunya. Namun karenan waktu masuk kelas kami yang juga tidak jelas, kami selalu berjumpa dengannya setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat jajan adalah saat terindah pada masa kecil. Tidak semua kami memiliki uang ajan yang cukup untuk membeli es dan mie goreng. Beberapa anak tidak diberikan jajan oleh orang tua mereka. Bagaimana mau kasih jajan anak, untuk kebutuhan lain saja sulit? Namun beberapa anak berinisiatif mencari uang sendiri, menjual kelapa, membantu di sawah/kebun, membantu membawa padi ke pabrik, mencari ikan, dan lainnya. Uang itulah yang menjadi uang jajan. Jangan berharap orang tua akan memberikan. Itu hil yang mustahal, atau hal yang mustahil terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun meskipun tidak ada uang, bukan berarti tidak bisa makan es atau makan mie goreng. Inilah bukti kasih sayang dan pertemanan diantara anak-anak. semua orang datang dan mengerumuni penjual jajanan. Hanya beberapa orang yang membeli. Namun es yang dibelinya tidak pernah dimakan sendiri, tapi berbagi dengan teman yang lain. Sebuah es yang pajang sejengkal bisa dinikmati oleh tiga hingga lima orang. Sebungkus kecil mie goreng bisa dimakan oleh dua sampai empat orang. Semuanya kebagian merasakan es dan mie goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling seru adalah cara berbaginya. Sebuah es yang dibungkus plastik di buka dengan mulut di bagain atasnya. Lalu es dikeluarkan sedikit, 2-3 cm lalu digigit untuk dipatahkan. Es yang sudah patah di dalam mulut dikeluarkan kembali ke telapak tangan dan diberikan kepada teman. Kalau ada lima orang, maka lima kali pula es itu digigit dan dipatahkan kemudian dibagikan kepada teman. Saat es itu diterima, warnanya sudah sedikit berubah. Bagaimana tidak? es yang mulai mencait tersebut telah dipegang tanpa alas oleh tangan yang sejak pagi bermain tanah dan debu. Jadinya, apapun warna es, akan berubah menjadi hitam kecoklatan. Dan itu sangat nikmat. Anda yang tidak pernah coba pasti tidak sanggup membayangkan kenikmatannya. :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan mie goreng berbungkus kecil. Satu bungkusan dibawa ke kelas atau ketera sekolah yang sempit. Di sana mie berbungkus daun pisang itu dibuka dan digelas di lantai tanah. Beberapa orang segera mengerubuninya. Tangan-tangan kecil yang belum dicuci dengan bersih lalu terjulur mengambil sejumput kecil dan memakannya. Terkadang belum sampi ke mulut sebuah tangan lain menyambar dan membawa ke mulutnya. Itu adalah sebuah prestasi laur biasa. Bagaimana tidak? Sejumput mie yang ada di tangan orang bisa disambar dan dimakan! Pemiliknya marah? Not at all! malah menjadi bahan tertawaan besama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pengalaman masa kecil, 25 tahun yang lalu. Sekarang semua sudah berubah. Anak-anak, di mana saja, kapan saja, selulu menciptakan sejarahnya sendiri. Di manapun dan bagaimanapun, masa kecil adalah sebuah kenangan. Dan dari sana kita belajar arti kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-3068594488830690993?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/3068594488830690993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/cara-anak-berbagi-jajan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3068594488830690993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3068594488830690993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/cara-anak-berbagi-jajan.html' title='Cara Anak Berbagi Jajan'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8wZBvXYvsI/AAAAAAAAAtk/UrNL9upLYy0/s72-c/1908951306_0fb9eaeb50.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-853736039554182680</id><published>2010-04-19T08:30:00.001+07:00</published><updated>2010-04-19T08:32:48.465+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Abu Rokok dari Jendela Mobil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8uynh3aYII/AAAAAAAAAtc/OJ8Iu4mt8BQ/s1600/smoking-kills-03-v.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8uynh3aYII/AAAAAAAAAtc/OJ8Iu4mt8BQ/s200/smoking-kills-03-v.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461655365292286082" /&gt;&lt;/a&gt;Saya bersua dengan seorang teman lama. Teman yang dulu kami sama-sama bekerja di sebuah perusahaan batu bata. Sebagai buruh. Kini ia sudah meninggalkan Banda Aceh dan bekerja di sebuah perusahaan lain. Saya tidak tahu apakah posisinya masih sebagai buruh atau sudah naik kelas, jadi bos. Atau setidaknya jadi asisten bos. Tapi bukan itu topik bahasan dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sedang mencari pembeli mobilnya. Sebuah mobil sedan mengkilat berwarna hitam. Sudah dua hari di Banda Aceh, ia belum menemukan pembelinya. Padahal ia mau menjual dengan harga yang lebih murah dari pasaran, bahkan ia mau kasih diskon besar, katanya. Tapi belum ada yang berminat. Sebab jual mobil tidak sama dengan jual emas, kapan saja di mana saja mudah. Ia nampak sedikit susah, karena ia punya waktu hanya sampai lusa, dua hari setelah kami berjumpa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semula saya heran kenapa ia mau menjual mobilnya. Padahal dari ceritanya, ia baru saja membeli mobil itu. Apakah karena ia tidak suka mobilnya? Apakah karena sudah ketinggalan zaman? Apakah karena sudah tidak tidak butuh lagi? Tidak mungkin, ia baru saja membeli mobil. Entah kalau orang terlalu kaya. Tapi ia orang biasa saja yang tidak mungkin gonta-ganti mobil secepat membalik telapak tangan. Saya tanyai dia kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, katanya memulai kisah. Dua bulan yang lalu ia dan anak kecilnya yang berusia belum genap empat tahun jalan-jalan sore di dalam kota. Mereka memilih jalan-jalan dengan sepeda motor, tidak dengan mobil. Lebih meyenangakan dan santai, katanya. Anaknya duduk di posisi depan kenderaan. Istrinya di belakang. Seperti umumnya anak-anak yang duduk di depan, ia tidak mengenakan helm untuk si anak, tidak juga kaca mata untuk menghindari debu atau cahaya. Mereka jalan pelan-pelan. Maklum, jalan untuk main-main saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah jalan lurus yang sedikit sepi, sebuah mobil melintasi mereka. Sebuah mobil Kijang berwarna silver. Dia tidak tahu punya siapa, atau siapa yang ada di dalamnya. Pasti pemiliknya, atau punya hubungan dengan pemilikknya. Atau pencuri yang sedang melarikan mobil hasil curiannya. Terserah, siapapun pemiliknya tidak penting. Yang pasti seorang manusia yang memiliki akal budi, entah digunakan atau tidak wallahu’a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis berada beriringan dengan sepeda motonya, kaca jendela mobil terbuka. Sebuah tangan putih berjam tangan kecil berwarna kuning keemasan keluar dari jendela itu. Hanya sedikit saja, tidak nampak seluruh lengan, apalagi muka. Mungkin lebih sedikit dari pergelangan tangan hingga nampak juga jam yang ia kenakan. Tidak jelas juga apakah tangan laki-laki atau perempuan. Dan, itu juga tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah di sela-sela tangan putih berjam tangan keemasan itu terselip sebatang rokok berwarna putih yang diujungnya merah terbakar dan berabu. Dengan sangat terampil dan profesional salah satu jari tangan itu mematik batangan putih tersbut. Entah terlalu keras, bara api dan abu rokok itu jatuh semua berpisah dari batangnya. Hembusan angin membuat api itu terbang dengan cepat. Dan lalu, tiba-tiba, hinggap di mata anak teman saya yang saat itu ada di sisi kiri mobil di bagian pinggir jalan. “Aduh…..” si anak berteriak sambil reflek menutup dan mengucek mata kirnya. Sementara mobil terus berlalu entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya berhenti dan menyanyakan ada apa kepada anak saya. Ia mengatakan abu rokok orang yang dalam mobil masuk kedalam matanya. Dia tidak sepat menghindar karena sangat dekat dan sangat cepat. Kejadiannya berlngasung tiba-tiba dan sama sekali tidak dapat diprediksi. Namun si anak melihat tangan dari balik jendela mobil memetik api, lalu api itu pula yang masuk ke dalam matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia melihat mata anaknya memerah dan segera mencuci dengan air mineral yang dibawa. Namun mata itu tetap saya memerah. Ia mengatakan pada anaknya itu tidak masalah, sebab nanti juga akan sembuh. Dan anak kecil itu mengerti dan berhenti menangis kesakitan. Mereka pulang ke rumah, apalagi hari sudah mulai senja. Di rumah ia memberikan obat steril mata yang banyak dijual di toko obat.  Mungkin itu iritasi ringan karena debu saja. Dia begitu yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, sepanjang malam si anak mengeluh sakit dan mengucek matanya. Kataya perih dan sakit. Ia kemudian membawa si anak ke dokter, malam-malam. Dokter memberinya obat, sebungkus pil yang harus diminum oleh sianak. Memberikan obat tetes yang harus diteteskan ke mata si anak. Pil boleh pakai malam ini, obat tetes mulai besok, kata dokter. Dan si anak bisa tidur dengan tenang malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya ia mengeluh sakit lagi. Mengatakan matanya perih. Hari itu juga teman saya membawa anaknya ke puskesmas. Setelah diperiksa tersenyata ada masalah dengan matanya. Harus dibawa ke rumah sakit. Sebab hanya di sana ada dokter spesialis mata. Hari itu juga ia membawa si anak ke sana. Setelah diperiksa, teman saya mendapat kabar yan kurang sedap. Matanya harus dioperasi, operasi besar. Untuk sementara si dokter memberikan obat sampai hari operasi tiba. Teman saya menjelaskan masalah penyakit anaknya, namun saya tidak cukup memahami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari operasi itu hampir tiba. Ia butuh uang besar, seperti yang dokter kabarkan. Ia harus menjual mobilnya. Dan sekarang, sambil minum kopi bersama saya, ia menunggu pembelinya. Di mana pembuang abu rokok dari jendela mobil? Mungkin ia sedang mematik api rokok di tempat lain. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hatilah dengan apa yang kita lakukan. Terkadang bagi kita iseng, sederhana, asal-asalan, tapi bagi orang menjadi sebuah petaka, musibah yang menghancurkan, bahkan menjadi penderitaan sepanjang hidupnya. Dan kalau ini terjadi, kutukan, cercaan, dan dosa, akan mengalir ke rekening amal kita sepanjang masa. Na’uzubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-853736039554182680?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/853736039554182680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/abu-rokok-dari-jendela-mobil.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/853736039554182680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/853736039554182680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/abu-rokok-dari-jendela-mobil.html' title='Abu Rokok dari Jendela Mobil'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8uynh3aYII/AAAAAAAAAtc/OJ8Iu4mt8BQ/s72-c/smoking-kills-03-v.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1996887108323168239</id><published>2010-04-17T16:43:00.001+07:00</published><updated>2010-04-17T17:06:24.848+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mati Membeku Karena Takut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8mGopSM8dI/AAAAAAAAAtU/5OcHeQVGZDI/s1600/Madi+di+kali.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8mGopSM8dI/AAAAAAAAAtU/5OcHeQVGZDI/s200/Madi+di+kali.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461044055998525906" /&gt;&lt;/a&gt;Saat masih anak-anak, kami suka mandi di kali. Saya kira semua orang yang punya latar belakang kampung dengan banyak kali di dalamnya pasti suka mandi. Biasanya kami mandi dari pagi sampai sore, sampai mendekati azan maghrib. Saat keluar dari kali pandangan berasap, mata merah, tangan pucat, ujung jari sudah mengerut seperti mayat. Dua tangan disilangkan ke dada menahan dingin gemetaran. Meskipun kampungku bukan dataran tinggi, namun kalau sudah mandi berjam-jam tetap saja dingin. Apalagi sore hari begitu keluar dari kali langsung diterpa dengan angin pegunungan yang sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi anak-anak bukanlah mandi biasa. Mandi yang biasanya dilakukan untuk membersihakn kotoran dan menyegarkan badan. Kalau anak-anak mandi adalah permainan. Maklum di kampung tidak ada playgroup dan TK. Jadinya mandi di kali yang airnya belum tentu bersih adalah TK dan Playgroup. Tidak ada guru, tidak ada pembimbing. Semua orang bergembira dan menikmatinya. Apalgi kalau sedang main som-som batei; sebuah batu disembunyikan di tempat rahasia di dalam air, lalu teman-teman mencarinya. Siapa yang memperoleh batu itu, ia berhak menyembunyikan kembali. Permainan ini membuat kami harus terus menyelam dan berburu batu di dalam air.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun mandi di kali ini menyenangkan, namun bukan tanpa halangan. Tempat mandi yang kami pakai juga dipakai oleh orang dewasa. Beberapa orang dewasa mengalah kalau melihat kami sedang mandi dengan mencari pemandian lain yang ada di sepanjang kali. Namun beberapa yang lain langsung marah-marah, melemparkan kayu ke dalam lair dan menyuruh kai berhenti. Sebab kalau kami sedang mandi maka air menjadi kotor. Air menjadi coklat berlumpur. membuat orang tidak nyaman untuk mandi. Makanya mereka memarahi dan menyuruh kami untuk segera berhenti. Namun namanya anak-anak, begitu di suruh langsung berhenti, namun kalau yang menyuruh sudah pulang, kami mandi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari kami mandi di kali belakang masjid. Kali ini dipakai orang dewasa untuk mandi sore dan jamaah shalat maghrib untuk berwudhu. Makanya mereka sangat marah kalau mendapatkan air kumuh ketika tiba di sana. Seorang penjaga masjid selalu mewanti-wanti kami agara jangan mandi sampai sore. Sebab sore hari orang mau  mandi dan berwudhu. Namun kami tetap tidak peduli. Kalau mulai mandi siang, biasanya berhenti petang, ketika beberapa orang dewasa sudah tiba dan memaksa kami keluar dari kali dengan mata memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, satu hari kami kena gatah dari kelakuan kami sendiri. Saat itu kami mulai mandi dari jam 10.00 pagi. Saat azan zuhur kami masih mandi. Penjaga mesjid datang ke kali. Kami bersembunyi dibalik tanaman kangkung yang banyak tumbuh di sisi kanan dan kiri kali. Penjaga masjid tidak jadi berwudhu di situ karena air kotor, ia langsung pergi. Di depan masjid ada sebuah kali lain yang bisa dipakai buat wudhu, namun tidak bisa dipakai untuk mandi. Setelah ia menghilang kami melanjutkan mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat zuhur, penjaga masjid kembali ke kali dengan sebuah parang yang telah diasah mengkilat. Sesekali ia menerawangkan ke arah matahari hingga menimbulkan cahaya yang menunjukkan parang itu sangat tajam. Kami sangat ketakutan melihatnya. Hampir serentak kami langsung bersembunyi di balik tanaman kangkung. Badan kami ada dalam air, tapi kepala keluar untuk bernafas. Dari balik tanaman kangkung liar yang lebat kami mengira kakek tua penjaga masjid tidak tahu kami ada di sana. Kami menunggu sampai ia pergi untuk kemudian melanjutkan mandi dan bergembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, ia tidak pulang-pulang juga. Malah, dengan parang di tangannya, ia membersihkan rerumputan di tepi kali yang dekat dengan masjid. Sesekali dia melihat ke arah tanaman kangkung di mana kami bersembunyi. Kami semakin ketakutan. Padahal saat itu kami sudah mandi empat jam. Ditambah berendam di bawah tanaman kangkung 30 menit, kami sudah mulai kedinginan. Namun untuk keluar sangat takut. takut dengan parang kakek penjaga masjid. Jadi kami bertahan di bawah tanaman kangkung menunggu sang kakek pergi yang kami tidak tahu kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh sudah terasa sangat dingin. bibir sudah membiru. mata sudah memerah. saya melihat seorang teman dari balik tanaman kangkung sudah mulai menangis, tidak tahan menahan dingin. Tapi untuk keluar kami sangat takut. Takut dengan parang kakek penjaga masjid yang terus memotong rumput di tepi kali. Sementara untuk terus berendam di sana kami juga sudah tidak tahan. Apalagi saat itu hari mulai sore. Angin pengunungan menjadikan air semakin sejuk dan membuat kami semakin kedinginan. Semua kami, sepuluhan anak yang berada di balik tanaman kangkung itu terasa mulai membeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang orang dewasa datang untuk mandi. Dia lihat air sangat bersih, tidak seperti biasanya. Padahal di dekat tangga turun ke kali ada baju anak-anak. Sedikit mengherankan. bagaimana mungkin banyak baju anak-anak tetapi airnya bersih? Ia bertanya pada kakek penjaga masjid, pada kemana anak-anak? Apa mereka meletakkan baju di sini lalu mandi di tempat lain? Kakek penjaga masjid menunjukkan parangnya ke arah kami. Mengatakan kepada orang dewasa tersebut kalau kami seddang bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak ini maklum kalau kami di sana sudah lama dan ketakutan. "Ya sudah... keluar, cepat keluar. Sudah boleh pulang." Kami yang tidak tahan lagi berendam langsung keluar dari balik tanaman kangkung. Berenang ke tepi dan naik ke darat. Semua kami sudah gemetaran menahan dingin. Mata sudah memerah dan berasap. Bibir pucat kebiru-buruan menahan dingin. Telapak tangan sudah pucat. jari-jari mengkerut. tangan disilangkan di dada mengurangi dingin. Kami ambil baju, memakainya dan lalu pulang ke rumah masing-masing tanpa biacara sepatah katapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa hari setelah itu kami tidak mandi lama-lama di kali. Takut kalau Kakek penjaga masjid menakut-nakuti kami lagi. Namun itu hanya satu atau dua minggu. Selanjutnya kebiasaan itu kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita sadar ada yang salah dengan apa yang kita lakukan, maka hati terus gundah, pikiran susah dan menderita. Padahal ada pintu maaf, kenapa tidak dipakai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1996887108323168239?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1996887108323168239/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/mati-membeku-karena-takut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1996887108323168239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1996887108323168239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/mati-membeku-karena-takut.html' title='Mati Membeku Karena Takut'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8mGopSM8dI/AAAAAAAAAtU/5OcHeQVGZDI/s72-c/Madi+di+kali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-4814749195477064428</id><published>2010-04-16T16:32:00.002+07:00</published><updated>2010-04-16T16:39:02.992+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Anak Cina Bantu Bencana</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8gwGvYTfvI/AAAAAAAAAtM/TpFaWuJuhL0/s1600/kit.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 152px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8gwGvYTfvI/AAAAAAAAAtM/TpFaWuJuhL0/s200/kit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460667440542482162" /&gt;&lt;/a&gt;Tahun-tahun awal konflik di Aceh, banyak pengungsian tyang terjadi di mana-mana. Sebagian mengungsi karena memang terjadi kontak senjata di kampung mereka hingga sangat tidak aman jika mereka ada di sana. Sebagain lagi mengungsi karena memang disuruh mengungsi oleh pihak yang berkepentingan, dua belah pihak. Motifnya sama saja, mereka ingin mengambil apa-saja yang ditinggalkan pengungsi di rumahnya. Uang, emas, dan barang berharga yang lain. Kalau mereka menemukan sesuatu, maka kampung itu akan selamat, Kalau tidak, maka kampung itu akan dibumihanguskan. Setidaknya beberapa rumah. Alasannya bisa macam-macam, konslet listrik, kontak senjata, minyak tanah tumpah, atau apalah.Itu perkara gampang!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mahasiswa waktu itu, kami tidak hanya melihat itu. Apapun alasan yang diberikan tetap saja tidak menyelesaikan masalah. Banyak perempuan dan anak yang menderita di lokasi pengungsian. Banyak laki-laki dan perempuan yang tak tersalurkan kebutuhan dasar mereka. Banyak anak-anak yang tidak dapat makan dan belajar. Banyak orang tua tidak dapat bekerja untuk menghidupi anak dan keluarganya. Belum lagi yang sakit dan menderita, yang mati dan jatuh sia-sia. Ada juga yang… entahlah, di sana ada sejuta cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menggalang dana, mengumpulkan apa saja untuk mereka. Saya bukan orang yang mengomandoi aksi. Sebagai mahasiswa biasa saya hanya ikut-ikutan saja. Kami melakukan berbagai cara mengumpulkan uang, makanan, pakaian, buku, apa saja yang mungkin dibutuhkan di lokasi pengungsian. Pasti tidak akan mencukupi kebutuhan yang besar di sana, namun setidaknya sedikit meringankan beban mereka. Pasti apa yang akan kami sumbangkan tidak akan menghentikan mobilisasi masyarakat oleh pihak-pihak yang berperang, namun setidaknya mereka yang sudah mengungsi bisa bertahan hidup dan bisa kembali ke kampungnya suatu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjadi panitia pengumpul sumbangan uang di simpang lima, simpangan terbesar dan terpadat di Jalan Raya Kota Banda Aceh. Dalam terik matahari, dengan jaket biru yang sudah berhari-hari tidak dicuci, sebuah kotak mie instan di tangan, saya menengadah pada pemakai jalan yang lewat. Tulisan di depan yang mengatakan sumbangan untuk pengungsi cukup mewakili pengguna jalan mendapatkan informasi. Mendekati mereka cukup dengan sebuah senyuman saja. Beberapa di antara mereka mengulurkan tangan memberikan sisa belanjaan. Beberapa yang lain membarikan uang ribuan. Ada juga yang hanya uang receh yang mungkin tidak laku lagi. Banyak macam orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi matahari sangat terik. Kami tidak punya makanan dan minuman, tidak juga punya uang untuk membelinya. Karena sumbangan yang kami cari akan diberikan kepada pengungsi, kami tidak berani mengambilnya. Biasanya kami patungan uang sendiri untuk membeli nasi dan makanan untuk kami sendiri. Sebab uang yang kami dapatkan benar-benar akan diberikan kepada mereka yang lebih menderita di bawah tenda sementara di kamp-kamp pengungsian. Kami cukup makan sebungkus berdua, dan itupun sudah sangat kenyang. Jadi untuk makan tetap mengeluarkan uang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam terik mata hari yang membakar, seorang anak perempuan Cina yang putih berambut lurus kekuning-kuningan datang dengan sepeda merahnya. Di tangan kecilnya ada sebuah bungkusan sebesar badannya. Agak sulit juga ia mendayung sepda dengan membawa bungkusan itu. Namun itu tetap berusaha menelusuri jalan raya yang saat itu sedang sangat padat. Sejak awal saya melihatnya ia mengarah pada saya yang ada di seberang jalan. Dan ia terus berusaha memotong jalan menuju pada saya. Butuh beberapa menit baginya untuk bisa melakukan itu, sampai ia ada di hdapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, kata Bapak ini bukan untuk pengungsi, tapi ini untuk abang dan teman-teman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohya? terima kasih dek.” Saya jawab demikian. Dia langsung berlalu. Selama ini tidak ada orang yang melakukan itu. Saat memberikan sumbangan seharusnya ia menyumbang untuk korban becana. Tapi ia malah mengikuti pesan bapaknya, memberikan sumbangan untuk panitia. Saya yang sudah sangat lapar mebayangkan apa isi di dalamnya. Saya membawa ke tempat teman-teman berkumpul di bawah sebuah pohon. Menceritakan apa yang terjadi baru saja. Dan tidak sabar kami membuka bungkusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, sekotak kecil rokok Commondore yang saat itu sedang sangat disukai mahasiswa. Dan teman-teman laki-laki berebut. Kemudian, ada juga beberapa bungkus permen dan roti yang disukai teman-teman perempuan. Dan dibalik makanan itu ada sebuah aplop merah putih. Saya membuka. Ada selembar uang kertas sepuluh ribu tiga lebar. Di dalamnya dan sebuah tulisan. “Untuk beli nasi siang panitia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah… kami tidak menyangka. Ternyata ada juga yang berfikir untuk panitia. Terima kasih pak Cina. Kami memang sedang berfikir bagaimana makan nasi siang kali ini. Dan uang itu membuat kami bisa makan enak kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-4814749195477064428?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/4814749195477064428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/anak-cina-bantu-bencana.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/4814749195477064428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/4814749195477064428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/anak-cina-bantu-bencana.html' title='Anak Cina Bantu Bencana'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8gwGvYTfvI/AAAAAAAAAtM/TpFaWuJuhL0/s72-c/kit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-8938319186498884214</id><published>2010-04-15T18:03:00.001+07:00</published><updated>2010-04-15T18:10:27.644+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>KB Gaya Baru: Genocide!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8bz-bogEzI/AAAAAAAAAtE/z8T8vvlOnqk/s1600/26070_10150167237155206_740820205_11965355_455997_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 162px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8bz-bogEzI/AAAAAAAAAtE/z8T8vvlOnqk/s200/26070_10150167237155206_740820205_11965355_455997_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460319852128375602" /&gt;&lt;/a&gt;Ada satu negeri, entah berantah. Namu saya tidak tahu di mana letakknya. Presiden kedua negeri itu bernama Suwarto. Dia memperkenalkan program Keluarga Berencana pada masyarakatnya untuk mengatur laju pertumbuhan penduduk. Katanya, dengan dua anak saja keluarga bisa bahagia. Untuk apa banyak anak kalau kita tidak dapat mengurusnya. Umat Bangsa itu memprotes, sebab katanya, itu mengatur kehendak Tuhan. Masalah anak adalah masalah tuhan. Banyak anak banyak rejeki, demikian sebuah pomeo yang berkembang dalam masyarakat. Suwarto tidak mau menyerah. Ia mengajak ulama untuk memasukkan ayat-ayat, mengumpulkan hadits-hadits, agar KB menjadi halal, dan bahkan, dianjurkan dalam agama. Dan itu berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Suwarto digantikan oleh sebuah era baru. Celakanya pertumbuhan penduduk bangsa itu demikian cepatnya. Ada keluarga melahirkan anak setiap tahun. Ada yang hanya mau melahirkan anak tetapi tidak mau mengasuh dan membesarkannya. Jadinya, setelah dilahirkan dibuang di tong sampah, di teras rumah, di kolong jembatan, di sungai, dan di mana-mana. Mereka hanya mau bagian enaknya saja. Jadinya, ada akan kecil di mana-mana yang tidak tahu siapa orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah negeri itu bingung, bagaimana menertibkan laju pertumbuhan penduduk ini? Program KB ala Suwarto sepertinya tidak cocok lagi. Kalau disuruh berhenti melakukan hubungan seksual nanti dianggap melanggar HAM dan akan dicap jelek oleh negara Paman Cam. Apalagi kalau ada pemotongan dan penutupan bagian tertentu, wah… pasti tidak mungkin dilakukan. Tapi masalahnya, bagian itu pula yang menjadikan orang semakin banyak, semakin berkembang. Sementara masalah yang ditimbulkan dari laju pertumbuhan yang cepat ini semakin banyak dan kompleks pula. Bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berembuk, berminggu-minggu, pemerintah merumuskan sebuah program dengan melakukan sebuah praktik soft genocide, menumpas masyarakat yang terus melaju kencang dengan cara lembut dan dilegalkan undang-undang. Program ini melibatkan semua instansi vital di negara yang memiliki hubungan dekat dengan masyarakat yang memiliki “kesalahan”. Kepolisian, Kehakiman, Kedokteran dan Polisi Pamong Praja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepolisian membunuh dengan cara lembut. Menembak orang yang dianggap bersalah dan melarikan diri. Kalau tidak mau melarikan diri diberikan kesempatan unhtuk melarikan diri lalu ditembak. Tidak ada balasan untuk polisi, sebab ia punya undang-undang sendiri. Kalau melarikan diri berikan tembakan peringatan, kalau dia tidak berhenti, tembak saja. “Saya sudah berusaha menembak di bagian kaki, tapi dia mengelak hingga mengenai kepalanya” kata seorag poilisi yang sukses menjalankan perintah atasannya. Dan dia naik pangkat. Sebab pada saat penembakan dilakukan seorang buronan teroris menghilang, segera orang tersebut diidentifikasi sebagai teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter menjalankan dengan lebih lembut lagi. Mencekik pasiennya dengan biaya yang tinggi. Dia berkata setengah berbisik, “apalah artinya uang dibandingkan kesehatan anda. Berikan saja uang itu kepada kami dan kami akan menyembuhkan anda.” Kalau rakyatnya berobat kepada dokter, maka tingkat kesembuhannya akan disesuikan dengan jumlah uang yang dikeluarkan. Pun begitu banyak juga orang yang sudah keluarkan banyak uang, namun tetap dihabisi. “Kami sudah melakukan berbagai upaya, namun takdir berkata lain, kita pasrah saja pada ketentuan yang maha kuasa.” katanya membenarkan ujicoba yang dilakukan pada tubuh pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehakiman lain lagi. Ia menjebloskan banyak pencuri ayam dalam penjara. Kalau korupsi jangan tanggung, sebagian besar harus bisa disetor kepada sang Jaksa dan Hakim. Kalau mencuri ayam, mau setor apa? Paha Goreng? Mana mau hakim, takut kolesterolnya naik. Makanya pencuri ayam akan diberikan sanksi penjara sepuluh tahun, karena dianggap berpotensi mengambil uang negara lebih banyak lagi. Lah, uang negara yang mana? pencuri ayam di kampung kok. Jangankan uang negara, negara saja mereka tidak kenal. Tapi kalau koruptor milyaran dan triliyunan tidak masalah. Mereka bisa pelesiran ke Singapura dan main-main di sana. Sesekali si hakim dan si jaksa datang ke sana menikmati layanan dari si Koruptor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan baru-baru ini Satpol PP sebuah provinsi di negara itu membunuh masyarakat yang mempertahankan sejarah bangsanya. Kata Satpol PP mereka harus menegakkan UU yang telah dibuat oleh pemerintah. Apapun resikonya akan mereka hadapi. Mereka dididik untuk membunuh, menendang, melakukan kekerasan kepada rakyat yang dipimpin oleh rajanya. Mereka dibayar untuk itu. Kalau mereka tidak melakukan kerjanya, berarti mereka makan gaji buta. Makanya mereka melakukan kekerasan, jadi gajinya halal karena mereka bekerja dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, begitulah sebuah program KB Gaya baru yang dilakukan pemerintah entah berantah. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya dan bagaimana tanggapan masyarakatnya. Beberapa orang marah, beberapa orang protes, beberapa orang menghardik dan mencaci. Tapi pemerintah sudah kebal telinganya dari cacian dan protes masyarakatanya. Diam-diam berkata, “Tunggu saja, anda selanjutnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-8938319186498884214?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/8938319186498884214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/kb-gaya-baru-genocide.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8938319186498884214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/8938319186498884214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/kb-gaya-baru-genocide.html' title='KB Gaya Baru: Genocide!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8bz-bogEzI/AAAAAAAAAtE/z8T8vvlOnqk/s72-c/26070_10150167237155206_740820205_11965355_455997_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-7587774584130824347</id><published>2010-04-14T08:02:00.001+07:00</published><updated>2010-04-14T08:05:39.187+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Yang di Gedung dan yang di Lumpur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8UU1MRb_0I/AAAAAAAAAs8/-NTBi-A-OrU/s1600/2A806A27-E6C3-40C6-AF0E-BD1497037EB8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 155px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8UU1MRb_0I/AAAAAAAAAs8/-NTBi-A-OrU/s200/2A806A27-E6C3-40C6-AF0E-BD1497037EB8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459793027316580162" /&gt;&lt;/a&gt;Dulu kami adalah satu, menghaiskan waktu bersama dalam riang kecil. Tertawa bersama pada hal-hal yang sama sekali tidak lucu. Main bola dengan plastik bekas yang diikat jadi satu. Main layang-layang sampai malam, sampai azan menggema. Pergi mengaji dengan sua yang selalu kami rebutkan. Tidur dan mengganggu teman perempuan yang tidur di sana. Dan esok paginya dibangunkan teungku dengan sebuah cambukan rotan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga sama-sama, ketika dua jam mendayung sepeda di jalan berbatu melintasi kampung-kampung petani. Katanya sekolah, tapi entahlah, apa benar begitu. Ada kala sepedanya bocor atau rusak, ia menumpang, berdiri di belakang sepedaku. Adakalanya sepedaku bocor rusak, aku menumpang, bediri di belakang sepedanya, dua jam melintasi jalan berbatu. Empat tahun!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kami sama-sama putus sekolah di tengah jalan, sebelum kami mendapatkan ijazah SMA. Sebab sepertinya tidak ada yang dapat diharapkan dari sekolah. Yang ada hanyalah uang, uang, uang. Guru mendiktekan kata-kata dalam buku yang padahal bisa dibaca sendiri. Guru mengajarkan hal-hal yang kami sudah ketahui. Kepala sekolah mengharuskan mengumpulkan sejumlah uang katanya untuk ini, untuk itu. Tapi katanya begitulah pendidikan, pendidikan itu mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kembali ke kampung, menghabiskan waktu muda kami di sana. Pergi ke sawah berlumpur, mendaki gunung mencari rotan, pegi ke sungai memancing ikan, menanam kacang di kebun, mencuri kelapa muda tengah malam, mencuri ayam tetangga bulan ramadahan. Kalau sedang baik persis seperti malaikat, kalau sedang jahat mungkin mirip seperti iblis. Sampai akhirnya kami berpisah karena jalan kami berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap memanggul cangkul dan parang, mencari sesuatu nasi di ladang. Ia memilih AK. Katanya bangsa ini telah berkhianat padanya, mengambil alam kita untuk perut buncitnya yang tak pernah penuh. Padahal indatu wariskan untuk kita anak cucunya. Kalau saja kita merdeka, orang Jawa jadi pemanjat kelapa. Kalau saja kita merdeka, duduk saja kita bisa kaya. Kalau kita merdeka tanpa kerja kita bahagia. Kita jadi bos, jadi raja, seperti dulu Iskandar Mua. Maka ia berjuang untuk merdeka, dengan senjata dan peperangan. Aku menjadi tameng saat ia terdesak, menjadi jaminan saat ia ditangkap, menjadi korban kalau ia melarikan diri dari kejaran musuhnya, dan ia selalu melarikan diri. Aku harus bersedia, karena ia, katanya, berjuang untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah setan dari mana merasuk kepalanya, ia mengakhiri jalannya dengan salaman di meja runding. Itu bagus pikirku. Sebab tidak ada lagi darah tumpah, tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi penyiksanaan, penangkapan, pelecehan, pemerkosaan, pemerasan, teror dan  pembunuhan. Kami bisa hidup dalam damai. Dan, dengan salaman itu ia mendapatkan, sebuah kesempatan duduk menjadi anggota dewan, katanya sebagai penyambung aspirasi rakyat. Rakyat yang mana? Dia sendiri! karena  dia juga rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangannya kini sudah berhasil. Di rumah besar yang seperti istana diantara gubuk reot kami di tengah kampung, banyak pekerja yang datang dari Jawa. Mereka mengurus kebun, mengurus pabrik, membangun pertokoan miliknya yang tersebar di mana-mana. Sekarang di sudah mendapatkan citanya, duduk saja dia menjadi kaya, menumpukkan harta di mana-mana, mengganti mobil suka-suka. Sekarang ia telah mendapatkan asanya. Kalau waktu makan tiba ia bertanya: makan di mana? Sementara kami masih berkata, makan apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih di sini, dalam lumpur basah bersama para petani kampung di mana dulu kami menghabiskan waktu. Kami mencangkul sawah menanam padi mencari rizki. Entahkah padi dapat kami panen, atau diserang ulat dan wereng. Kemarin anakku sakit dan mati. Dukun di kampung menyerah kalah mengobati. Bawa ke dokter? Aku trauma melihat kuitansi. Kemarin rumahku roboh karena gempa, dan kini aku tinggal di tenda. Bantuan? aku tidak bisa menyusun proposal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kenangan terbang pada sahabatku di kantor sana. Engkau hebat sahabat, telah menjadi anggota dewan dengan pilihan hidupmu. Engkau telah berjuang untuk aspirasi rakyat. Dan rakyat itu adalah dirimu sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-7587774584130824347?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/7587774584130824347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/yang-di-gedung-dan-yang-di-lumpur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7587774584130824347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7587774584130824347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/yang-di-gedung-dan-yang-di-lumpur.html' title='Yang di Gedung dan yang di Lumpur'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8UU1MRb_0I/AAAAAAAAAs8/-NTBi-A-OrU/s72-c/2A806A27-E6C3-40C6-AF0E-BD1497037EB8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-7998225248656753928</id><published>2010-04-12T09:27:00.001+07:00</published><updated>2010-04-12T11:13:29.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawuf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Minum Kopi Bersama Tuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8Kd2vkPJ-I/AAAAAAAAAs0/dZPqDhO0jmg/s1600/a7aa1da3335a07cd428dbf7c2d795dd1f28bf729.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8Kd2vkPJ-I/AAAAAAAAAs0/dZPqDhO0jmg/s200/a7aa1da3335a07cd428dbf7c2d795dd1f28bf729.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459099262133413858" /&gt;&lt;/a&gt;Saya hanya satu diantara jutaan dan mungkin milyaran penggila kopi di dunia ini. Seperti penggila lainnya, kebanyakan penggila kopi juga hanya menghabiskan waktunya dengan gelas-gelas kopi. Pagi, siang, sore malam. Kebanyakan tidak pernah mengambil pelajaran dari apa yang dilakukannya. Semua berlalu begitu saja, seperti air mengalir. Minum kopi adalah jalan melepaskan lelah, penat, bosan, sterss, atau sekedar hobi bersama teman. Sampai seorang teman “asing” muncul dan dia menjelaskan ada apa dengan kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sebuah SMS masuk ke ponselmu dari seorang teman, katanya memulai, yang isinya mengajakmu minum kopi. Engkau langsung membalas: “Oke, i’m coming!” tanpa pikir panjang, tanpa pertimbangan, tanpa macam-macam. Engkau sudah tahu maksudnya, engkau sudah tahu tempatnya. Namun, apakah engkau melakukan hal yang sama ketika azan menggema? engkau tahu apa artinya, engkau tahu di mana tempatnya, engkau tahu harus melakukan apa ketika mendengar suara itu. Tapi engkau mengabaikan, melanjutkan kerjamu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Engkau habiskan waktu bersama teman-temanmu bercengkrama, bercerita, bersuara, berteriak dan terbahak di warung kopi. Kau kisahkan keluh kesahmu selama hidup, kau ceritakan kerjamu, keluarga dan masalahmu padanya. Terkadang engkau menjadi klein yang sedang curhat pada sahabatmu, namun terkadang kau menjadi konselor untuk masalah temanmu. Apakah kau melakukan hal yang sama di masjid? adakah kau bicara dengan Tuhan di sana? berlama-lama bersuka-ria bersama-Nya. Mengugkapkan masalahmu, mengatakan problem hidupmu, curhat masalah keluarga dan pekerjaanmu? Padahal Dia adalah konselor yang akan menyelesaikan masalahmu, bahkan yang engkau sendiri tidak tahu masalahnya apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kau bisa paham terhadap masalah temanmu dalam keramaian, saat kau bisa mendengar jerit temanmu dalam kegaduhan warung kopi, saat kau bisa menerawang diri untuk introspeksi melihat kenyataan hidupmu dalam keributan di sana. Kenapa kau tidak bisa lakukannya dalam kesunyian masjid? dalam ketangangan dan kenyamanan? Bukankah di sana kau akan aman dan nyaman berfikir tentang dirimu, memberi nilai pada kelakuanmu, memberi reward atas kesuksesanmu dan menjatuhkan punishment atas kealpaanmu. Bukankah di sana kau akan lebih mendapatkan makna hidup? kenapa kau tak lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau memakan banyak makanan yang tidak sehat untuk dirimu, tidak sesuai untuk perutmu, hanya sekedar gaya dan menurutkan selera. Kau memesan makanan yang kau sendiri tidak terlalu suka dengannya. Kau membayar untuk asap yang masuk ke kerongkonganmu menitipkan racun lalu keluar kembali meracuni orang lain di sekitarmu. Tapi kau abaikan seorang pengemis yang datang menghampirimu. Dengan hormat kau katakan: “maaf”, seolah kau tak punya pecahan seribuan, atau bahkan limaratusan dalam saku celanamu. Padahal apa artinya uang kecil itu dibandingkan sepotong kue yang tidak membuatmu kenyang? apa artinya uang seribuan dibandingan sebatang rokok yang tak menyehatkan. Tapi engkau lakukan, seolah uang seribuan terlalu banyak bagi peminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayolah kita minum kopi bersama Tuhan. Kalau kau mampu melakukannya di warung kopi, kau bisa juga melakukan hal yang sama di masjid-masjid, musahalla-mushalla, atau di rumahmu sendiri, saat semua terlelap dalam mimpinya. Datanglah pada Sahabat Sejati. Dia yang mengetahui segala. Dia yang menyelesaikan masalah-masalahmu. Dia yang memberimu ketenangan yang kau takkan mungkin dapatkan dengan berapapun uang yang kau miliki.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-7998225248656753928?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/7998225248656753928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/minum-kopi-bersama-tuhan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7998225248656753928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7998225248656753928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/minum-kopi-bersama-tuhan.html' title='Minum Kopi Bersama Tuhan'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S8Kd2vkPJ-I/AAAAAAAAAs0/dZPqDhO0jmg/s72-c/a7aa1da3335a07cd428dbf7c2d795dd1f28bf729.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-5986229506862617287</id><published>2010-04-09T16:53:00.003+07:00</published><updated>2010-04-09T16:55:58.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tukang Parkir vs Satpam BCA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S775Pkll40I/AAAAAAAAAss/4oZnN19mlZM/s1600/9534205.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S775Pkll40I/AAAAAAAAAss/4oZnN19mlZM/s200/9534205.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458073844334322498" /&gt;&lt;/a&gt;Saat duduk di kelas tiga SMA, saya bekerja sebagai tukang parkir. Posisi saya waktu itu di jalan Panglima Polim, Peunayong, Banda Aceh, persis di depan BCA sekarang. Saya bekerja mulai jam 5 sore sampai jam 10 malam. Tahun 1997 jalan di sana tidak ramai seperti sekarang. Satu-satunya yang banyak di kunjungi hanyalah Rumah Makan Nasi Goreng Desember dan ATM BCA. Selebihnya sepi saja. Sekarang ini, 13 tahun kemudian, daerah ini menjadi sangat padat dan penuh sesat, siang ata malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi tukang parkir sebenarnya bukan pekerjaan yang sengaja saya lakukan. Saya menggantikan seorang teman yang tinggal satu kos-kosan. Saat itu ia dikirim oleh sebuah organisasi ke luar daerah, kalau tidak salah ke Medan, untuk mengikuti sebuah acara. Jadi saya diminta menggantikannya selama ia tidak ada. “Kalau dapat uang ambil saja untuk kamu semuanya,” katanya. Beberapa malam sebelum ia pergi, saya sudah ditraining bagaimana menjadi petugas parkir.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menjadi tukang parkir itu sulit, sangat sulit. Apa lagi saya dalam posisi antara merasa malu dan butuh uang yang berpadu menjadi satu. Saya merasa sangat deg-degan ketika mengangkat tangan meminta uang parkir kepada pemilik kenderaan. Batin saya mengatakan, apa hak saya mengambil uang darinya padahal saya tidak melakukan apa-apa untuk kenderaan dia. Oleh sebab itulah saya mengatur setiap kenderaan yang parkir di sana hingga menjadi rapi, kecuali mobil tentu saja. Kalau sempat saya juga mengelap temat duduknya biar bersih dari debu. Kepada kenderaan yang tidak saya “sentuh” saya tidak ambil uang parkirnya karena merasa sangat tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena baru saja menjadi tukang parkir saya tidak tahu persis siapa saja yang “tidak boleh diambil” uang parkirnya karena mereka pemilik toko atau saudaranya. Beberapa orang ada dengan halus menanyakan “baru bekerja di sini ya?” katanyakepada saya. Saya hanya mengiyakan. Lalu ada yang menjelaskan kalau ia adalah pemilik toko atau pekerja, jadi biasanya tidak bayar parkir. Namun ada juga yang tidak ada kaitan apa-apa dengan tempat tersebut namun tidak mau bayar parkir. Apalagi kenderaan sudah saya atur dengan membalikkan arahnya ke jalan raya. Jadi kalau saya tidak terlihat, banyak orang yang ambil kenderaan lalu tancap gas. Saya iklaskan saya, kah yang diambil kenderaannya sendiri kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, karena tidak kenal dengan pemilik pertokoan pula saya pernah mendapatkan masalah pada malam kelima saya bekerja di sana. Ceritanya, seperti biasa saya mengatur semua kenderaan yang ada di sana. Sekitr jam sembilan malam, dari dalam kantor Bank BCA keluar seorang anak muda dengan jaket tebal dan sepatu hitam. Ia langsung menuju salah satu sepeda motor yang ada di sana yang sudah saya atur berjejer rapi. Seperti biasanya, saat ia hendak mengambil kenderaannya saya mendekat, meniupkan peluit, tanda meminta bayaran uang parkir. Ia melihat pada saya sesaat, mungkin terkejut,  kemudian memberikan selembar uang sepuluh ribuan. “Simpan saja kembaliannya” katanya waktu itu. (Oiya, waktu itu uang parkir Rp. 200,-) Saya mengucapkan terima kasih banyak mendapatkan rejeki nomplok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, dari belakang saya dikejutkan oleh sebuah suara orang tua. Saya tahu suara itu, satpam BCA yang malam itu kena giliran dinas. Ia nampak sangat marah kepada saya, lalu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey, kamu tau tidak siapa yang barusan kamu minta uang parkir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu pak,” jawab saya polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bos kami di sini, itu pemilik BCA ini, kenapa kamu ambil uang parkir sama dia? Dia itu menantu saya. Kamu telah membuat saya malu. Kemana saya taruh muka di hadapan dia? masak di kantornya sendiri dia harus bayar uang parkir? Kenapa kamu ambil parkir sama dia hah? kenapa?” Satpam tua itu berkata dengan sangat cepat dan nampak sangat marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjadi sangat takut, dan dengans ediit gemetar berkata: “Saya tidak tahu kalau itu menantu bapak. Lagian kenapa bos BCA bisa menikah dengan akan satpam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau semakin marah mendengar kata-kata saya. Sebuah benda yang ada di tangannya dibanting ke tanah. “Bodoh!” katanya, sambil kembali masuk ke dalam kantor BCA. Saya diam saja, tidak mengerti kenapa dia bisa semarah itu. Padahal, si “bos” sendiri malah memberikan uang parkir yang lebih banyak dari gaji saya semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-5986229506862617287?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/5986229506862617287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/tukang-parkir-vs-satpam-bca.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5986229506862617287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/5986229506862617287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/tukang-parkir-vs-satpam-bca.html' title='Tukang Parkir vs Satpam BCA'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S775Pkll40I/AAAAAAAAAss/4oZnN19mlZM/s72-c/9534205.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6964718951911859731</id><published>2010-04-09T12:08:00.003+07:00</published><updated>2010-04-09T12:10:05.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawuf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tasawuf di Era Syariat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S762fqdIWbI/AAAAAAAAAsk/jfoUiA-AfTA/s1600/24127_1399274106040_1357907122_1106794_4569992_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S762fqdIWbI/AAAAAAAAAsk/jfoUiA-AfTA/s200/24127_1399274106040_1357907122_1106794_4569992_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458000453508290994" /&gt;&lt;/a&gt;MELIHAT sejarah perkembangan pemikiran Islam,  para pendukung tasawuf dan para pendukung syariat pernah berseteru. Bukan hanya di Timur Tengah di mana Islam mulai berkembang dan tumbuh besar, di Aceh pada abad XVII juga pernah terjadi. Al-Hallaj dan ‘Ain al-Qudhad al-Hamdani dihukum mati di tiang gantungan. Demikian juga buku Hamzah Fansuri pernah dibakar dan murid-muridnya diusir dari Aceh dan bahkan dibunuh. Alasan perseturuan itu sama saja, sekelompok ulama menganggap ulama lain telah meninggalkan ajaran Islam yang benar, dengan kata lain mereka telah sesat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apakah perseturuan itu masih ada hingga kini? Agak sulit menjawabnya secara tegas. Dalam konteks Aceh, selama ini hubungan antar ulama, baik secara kelembagaan maupun secara personal nampak baik-baik saja. Beberapa “riak” yang terjadi adalah suatu hal yang lumrah dalam perkembangan peradaban manusia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu “riak” yang terjadi saat ini adalah pandangan beberapa ulama yang menempatkan tasawuf sebagai “aliran sesat” dalam pemahaman Islam kaffah. Hal ini disebabkan beberapa ajaran dalam tasawuf dianggap menyimpang dan tidak pantas dipelajari dan diketahui umat Islam. Beberapa hal yang sering disebutkan adalah konsep mengenai fana wa bawa, ittihad, hulul, wahdatul wujud, dan lain sebagainya. Konsep ini dianggap terlalu filosofis dan tidak mudah dicerna masyarakat awam. Kesalahan dalam memahaminya, bisa menjadi awal dari kesalahan beraqidah yang akan membawa umat pada kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya akar dari pemahaman tasawuf dalam dimensi filosofis seperti di atas berawal dari pemahaman-pemahaman yang dikembangkan Abu Yazid al-Bistami dan Abu Mansur al-Hallaj sejak abad kedua hijriah. Mereka, mengaku sebagai pengalaman spiritual, mengatakan bahwa manusia mampu bersatu dan melebur bersama Allah. Hal ini diperoleh setelah manusia mensucikan harinya dari berbagai pengaruh duniawi sehingga ia murni, tinggal fitrah kemanusiaan dan dimensi ilahiyah dalam dirinya, maka ia akan dapat mendaki sebuah perjalanan menuju Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan seperti ini, meskipun tidak sama persis, berkembang juga di tangan Ibnu ‘Arabi dan al-Jili beberapa abad berikutnya dengan konsepnya wahdatul wujud dan Insan Kamil. Ia mengemukakan bahwa Tuhan dan manusia pada hakikatnya satu kesatuan. Yang membuat nampak berbeda adalah wajud materil saja. Ini pula yang dikembangankan Hamzah Fansuri di Aceh. Dalam syair-syairnya ia mengumpamakan Allah dan Manusia dengan lautan dan gelombang. Meskipun zahirnya keduanya berbeda, namun hakikatnya satu kesatuan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan seperti inilah yang menempatkan tasawuf dianggap sebagai ajaran”sesat”. Dalam pandangan banyak ulama lain, Tuhan adalah satu entitas yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan manusia, apalagi menyatakan manusia dan Tuhan sebagai satu kesatuan. Dalam beberapa ayat-Nya jelas dikatakan manusia sebagai ciptaan dan Dia sebagai Pencipta. Berdasarkan ayat-ayat tersebut dan dalam rasio yang diterima manusia, maka tidak mungkin sama antara pencipta dengan ciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan yang terjadi di kalangan ilmuan Islam tersebut sebenarnya pernah dicoba “selesaikan” oleh al-Ghazali. Kita tahu al-Ghazali setelah “lelah” berkelana dalam pemikiran filsafat yang menurutnya tidak dapat memberikan pencerahan batin kepadanya, ia berteduh di bawah pohon tasawuf. Pada saat itulah ia menulis salah satu karya besarnya, Ihya Ulumuddin. Banyak ilmuan Islam mengatakan ini adalah karya besar yang memadukan tasawuf dengan fiqh Islam. Al-Ghazali dengan sangat baik memberikan pemahaman bahwa tidak ada pertentangan antara tasawuf san fiqh, yang ada adalah saling menyempurnakan. Jika keduanya dipahami dengan benar dan diamalkan dengan baik akan menjadi dasar bagi kesempurnaan iman dan Islam seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari apa yang dikembangkan al-Ghazali pada dasarnya adalah harmonisasi antar pemahaman yang cenderung fiqh dengan pemahaman yang cenderung tasawuf saja. Bagi al-Ghazali Islam adalah kesatuan dimensi zahir dan dimensi batin manusia sekaligus. Menjalankan satu aspek ajaran Islam semata menjadikan ibadah tidak sempurna. Umpamanya, melakukan shalat tanpa disertai rasa ikhlas dan khusyuk, mencari rizki tanpa tawakkal, dan menjalani ketentuan Allah tanpa disertai dengan rasa tawadhu’, maka itu semua akan ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali di atas akan memupuk kesadaran beragama yang jauh dari rasa ujub dan takabur. Seseorang akan menjalankan ajaran agama karena ia memiliki semangat dan kesadaran bahwa apa yang dijalankannya adalah sebuah kebenaran dan akan mendekatkan dirinya dengan Allah. Lebih jauh, model pengamalan agama seperti ini juga akan menghindari sikap ekstrim yang berlebihan dalam melaksanakan ajaran agama dengan merendahkan, melecehkan, dan bahkan sama sekali tidak menghormati perbedaan yang ada sebagai sebuah sunnatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan beragama di Aceh belakangan ini ada dalam sebuah dilema yang rumit. Di satu sisi pemerintah Aceh telah menyatakan diri sebagai daerah penerapan syariat Islam. Di sisi lain hampir tidak ada perbedaan signifikan antara Aceh dan luar Aceh dalam hal keadilan, kemakmuran, keterberdayaan, korupsi, manipuasi dan lain sebagainya. Satu-satunya hal yang berbeda mungkin, hanyalah perempuan Aceh lebih banyak mengenakan jilbab daripada perempuan di daerah lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini menunjukkan Islam yang berlangsung di Aceh  belum sampai pada hakikat kesadaran beragama. Nuansa semangat dan kesadaran mengamalakan ajaran agama masih sangat jauh dari keseharian masyarakat Aceh yang dipertunjukkan lewat kekuasan dan kehidupan sosial. Syariat Islam dijadikan kebanggan semata dengan mengeluarkan beberapa qanun yang tidak prinsipil yang kemudian lebih banyak menjadi masalah daripada solusi terhadap masalah kehidupan sosial. Dalam posisi inilah diperlukan sebuah pemahaman agama yang integral dan komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada model tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali seperti yang saya kemukakan di atas, maka untuk konteks pemberlakukan syariat Islam di Aceh diperlukan sebuah pemahaman yang menempatkan fiqh dan tasawuf dalam posisi setara dan bersanding. Langkah paling mudah adalah melakukan internalisasi nilai moralitas dalam pembelajaran agama dengan penyesuaian konteks kehidupan sosial masyarakat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran agama bukan hanya menekankan dimensi hukum, namun juga akhlak. Akhlak bukan hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, orang tua dan manusia, namun juga kepada alam semesta dan sistem sosial. Banyak masalah yang ada saat ini sesungghnya dimulai dari pemahaman yang timpang mengenai moralitas ini. Dan dengan sebuah pendekatan yang integral antara dimensi tasawuf dan syariat mungkin ini akan menjadi sebuah sumbangan yang baik untuk kehidupan manusia yang lebiih beradab di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini telah dipublikasi oleh Haian Serambi Indonesia: Jum'at 09 April 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6964718951911859731?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6964718951911859731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/tasawuf-di-era-syariat.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6964718951911859731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6964718951911859731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/tasawuf-di-era-syariat.html' title='Tasawuf di Era Syariat'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S762fqdIWbI/AAAAAAAAAsk/jfoUiA-AfTA/s72-c/24127_1399274106040_1357907122_1106794_4569992_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-2146893898521566312</id><published>2010-04-08T10:05:00.001+07:00</published><updated>2010-04-08T10:06:59.837+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawuf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Bangkai Kucing di Tengah Jalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S71IPIHC0DI/AAAAAAAAAsc/UdRRvDM-uYY/s1600/kucing-berdoa1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 197px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S71IPIHC0DI/AAAAAAAAAsc/UdRRvDM-uYY/s200/kucing-berdoa1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457597748155174962" /&gt;&lt;/a&gt;Saat melewati sebuah jalan raya saya melihat bangkai seekor anak kucing yang nampaknya baru saja digilas kenderaan. Darah masih merah dan basah di sekitarnya. Beberapa bagian organ perutnya sudah keluar, terburai di sekitar bangai itu. Saya tidak tahu dengan pasti apakah mobil ataukah motor yang melakukannya. Apakah ia sengaja ataukah tidak menabraknya. Faktanya kucing itu sudah mati dan, saat saya lewat ia masih ada di sana, terbaring diantara laju kenderaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki, perempuan, mobil besar, mobil kecil, motor, becak, pejalan kaki hanya lewat di sisi kanan dan kiri kucing malang itu. Sebagian menghidnari menggilasnya dengan ban kenderaannya yang keras. Namun tidak banyak yang sanggup melakukan itu karena mereka tiba-tiba saja melihat bangai kucing ada di sana. tanpa ayal mereka kembali melibas si kucing malang. Saya tidak tahu pasti ebrapa kali sudah, sejak ia digilas pertama sekali, kenderaan lain melakukan hal yang sama. Saya terrus berjalan meninggalkan bangkai itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan saya berfikir, kenapa tidak berhenti saja walau sejenak untuk mengambil bangai kucing kecil itu. Berhenti, ambil, buang ke tong sampah. Mungkin itu hanya butuh beberapa detik. Paling lama dua menit. Apalah artinya dua menit dibandingkan waktu minum kopi dan tidur berjam-jam yang jelas manfaatnya kecil. Kalau saya turun dari kenderaan dan “menyelamatkan” bangkai kucing itu, saya tidak akan kehilangan apa-apa. Tidak ada waktu yang saya buang, tidak ada deal ibsnis yang tertinggal, tidak ada mahasiswa yang saya abaikan, tidak ada pekerjaan kantor yang saya tinggalkan. Jadi kenapa saya tidak lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kini, saya masih tetap melanjutkan perjalanan, bangkai kucing itu sudah habis digilas. Bangkai kucing kecil berbulu merah yang saya tidak pernah liaht ketika ia hidup, pasti sudah menghilang dari jalanan. Apalah artinya bangkai kucing, dibandingkan dengan ban besar truk pembawa tanah, batu, aspal, semen di jalan raya. Sekali gilas mungkin kucing itu hilang menjadi debu. Jadi kenapa saya harus susah? kenapa saya harus sibuk? kenapa saya harus menjadikannya beban pikiran? ya sudah, lupakan saja. Tapi saya tidak enak hati, apa yang harus saya jawab kalau natidi akhirat saya ditanya Tuhan, apa yang kalu lakukan pada makhluk-Ku yang terzalimi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas, saya kembali, belok arah. Jalan besar di kota yang dibelah dua dan menyisakan beberapa jalur untuk memotong menyebabkan saya harus tetap berjalan ke depan sampai ada tampat berbelok. Saya pacu kenderaan leih cepat dari sebelumnya. Saya ingat-ingat lokasi di mana bangkai kucing itu tergeletak tanpa daya. Saya lewati beberapa motor pasangan muda yang asik memadu cinta di atas motor di jalan raya. Saya lewati sebuah mobil sedan mengkilat yang nampaknya sedang hati-hati takut kenderaaanya tergores aspal. Saya lewati sebuah angkutan kota yang berhenti mendadak. Saya lewati semua, kecuali tukang kebut. Dia melewati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai saya di lokasi di mana bangkai anak kucing malang tergeletak, saya harus memarkirkan kenderaan lalu menyeberang jalan dengan kaki. Di tengah trotoar saya berhenti, menunggu kenderaan yang tidak melambatkan lajunya. Dari sana saya sedikit bersyukur, bangkai kucing itu masih ada. Meskipun ia sudah rata dengan jalan. Saya cari plastik bekas yang banyak bertebaran di tengah trotoar. Sebuah palstik hitam tersangkut di pohon kere yang ada di sana. Syukurlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari totoar, saya lihat ke seberang. Seorang laki-laki yang nampaknya jarang mandi memanggul sebuah goni putih di belakangnya. Dan di dalamnya ada beberapa isi yang saya tidak tahu. Tangan kirinya memegang salah satu pinggir goni yang dijulurkan ke punggung melalui pundaknya. Tangan kanannya memegang sebuah besi yang ujungnya bengkok dan runcing. Sesekali ia mengais tumpukan sampah di sisi jalan. Beberapa barang yang ia anggap bermanfaat dimasukkan ke dalam goni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis ketika saya hendak menyeberang karena jalan sudah aman, ia berada di dekat bangkai kucing. Serta merta matanya tertuju ke sana. Tiba-tiba ia bergumam: “Duhhh kucing cantik yang malang….” lalu dengan tangannya, tanpa perlu melapisinya dengan palstik, ia memungut bangkai kucing itu yang ternyata masih bisa dipungut dengan satu tangan. Ia mengangkatnya. Melintasi saya yang berdiri tercengang hendak melakukan hal yang sama. Lalu membuang bangkai itu ke sebuah kontainer yang tidak jauh dari sana. “Istirahatlah kau dengan tenag…” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas plastik jatuh dari tangan saya. Saya terlambat beberapa detik saja dibandingkan sang pemulung. Saya perlu beberapa menit untuk mengambil keputusan menolong anak kucing yang malang, atau tidak. Sementara ia langsung melakukan begitu melihat anak kucing malang itu ada di depannya.Saya perlu banyak alasan untuk membantu. Sementara ia melakukannya tanpa beban. Saya perlu sejumlah pertimbangan untuk berbuat baik. Sementara ia malukakannya tanpa pertimbangan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-2146893898521566312?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/2146893898521566312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/bangkai-kucing-di-tengah-jalan.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/2146893898521566312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/2146893898521566312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/bangkai-kucing-di-tengah-jalan.html' title='Bangkai Kucing di Tengah Jalan'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S71IPIHC0DI/AAAAAAAAAsc/UdRRvDM-uYY/s72-c/kucing-berdoa1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-9188786064467001825</id><published>2010-04-07T18:18:00.001+07:00</published><updated>2010-04-07T18:20:15.640+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawuf'/><title type='text'>Jurus Pamungkas!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7xqS5pk1MI/AAAAAAAAAsU/dxc8MPzGO7U/s1600/F200912310848272869825281.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7xqS5pk1MI/AAAAAAAAAsU/dxc8MPzGO7U/s200/F200912310848272869825281.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457353721411589314" /&gt;&lt;/a&gt;Kakek saya (alm) adalah seorang imam masjid. Saat saya beranjak remaja, beliu sudah sangat tua, mungkin 80-an tahun. Namun dalam usia demikian, seperti halnya kebanyakan orang desa- beliau masih aktif di desa, sebagai imam masjid. Sesekali beliau masih pergi ke kebun, meskipun tidak mencangkul lagi, hanya melihat-lihat tanaman atau memetib buah. Beliau meninggal dunia ketika saya masih duduk di sekolah menengah pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Imam desa, saya dengar beliau memiliki banyak ilmu. Di rumah memang beliau memiliki koleksi buku berbahasa Arab yang sangat banyak. Bahkan sampai usia tua beliau tidak rabun dan masih terbiasa membaca meskipun ditemani lampu teplok (karena waktu itu belum masuk listrik ke desa). Namun bukan ilmu ini yang saya maksud. Kata orang-orang di desa, beliau punya ilmu silat tingkat tinggi: silat harimau. Beliau satu-satunya orang yang punya jurus pamungkas karena pernah belajar sampai langkah tujuh. Beberapa pesilat lain di kampung hanya belajar sampai langkah lima. Kebanyakan cuma langkah tiga. Jadi, kata orang kampung, beliau adalah guru silat sejati, suhu, mungkin begitu bahasa kita sekarang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nah, mendengar kabar ini, saya yang masih beranjak remaja tertarik mau belajar ilmu silat. Apalagi waktu itu saya sering membaca serial buku silat Saur Sepuh dan Dewa Arak yang teramat terkenal saat itu. Tambahan lagi saya sering menerima ejekan teman-teman di sekolah karena tidak mampu melawan kalau diusilin. Bahkan terkadang saya memilih menghindar daripada bertengkar. Saya membayangkan, kalau punya ilmu silat, saya bisa menghajar mereka sampai kapok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu saya mendekati kakek dan mengutarakan maksud saya. Saya katakan kalau saya mau belajar silat, bahkan kalau bisa sampai tamat. Saya mau menjadi muridnya. Mungkin bukan murid terbaik, namun saya yakin bisa menjadi murid pilihannya. Saya belajar cara-cara menyampaikan maksud belajar slat di buku serial dunia persilatan yang saya baca. Saya benar-benar mengatakan dengan sangat serius bahwa saya mau belajar silat, alasan belajar, dan kemana saya akan menggunakan ilmu yang akan saya pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar permohonan cucunya, kakek tersenyum saja sambil mengusap kepala saya. Katanya saya harus tidur bersamanya mulai nanti malam. Mendengar "syarat" ini saya kembali teringat buku-buku persilatan. Guru-guru silat selalu menawarkan syarat yang "aneh" untuk mengajarkan muridnya. Saya juga berfikir kalau itu adalah sebuah syarat yang beliau ajukan. Maknya, tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan. Sejak malam itu saya tidur dengan kakek. Seperti biasa, beliau mendongeng dan menceritakan kisah para nabi dan kisah teladan lainnya sebelum tidur. Sebagainnya saya dengar, tapi yang lebih banyak hanya mendengar kalimat pertama: "Zaman dahulu kala... ada seorang...." lalu saya terlarut dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa minggu, saya bertanya kepada kakek, kapan ia akan mengajari saya silat. Sebab sudah hampir dua minggu saya memenuhi syarat yang ia ajukan namun saya belum melihat ada tanda-tanda ia akan mengajarkan silat. Saya kadang kesal juga sebab selama memenuhi syarat itu saya menjadi sangat "disiplin." Shalat tepat waktu, bangun sebelum azan subuh, baca doa sebelum makan dan sebelum aktifitas yang lain. Tidak beranjak dari sajadah sebelum berzikir, dan banyak aturan lain. Sesekali ia menceritakan sebuah kisah teladan yang pernah terjadi dalam sejarah dan saya disuruh mengulang cerita itu. Ia mengoreksi di mana ada hal penting yang saya lewatkan. Namun demikian meskipun beberapa kali saya tanya kapan akan mengajarkan silat, tetap saja tidak terlihat akan mengajarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samai satu hari, saat sedang duduk sore hari di bawah pohon mangga besar di depan rumah, beliau mengatakan. Saya tidak ingat persis ungkapannya, namun isinya kira-kra begini: Silat itu adalah cara kita mempertahankan diri dari serangan orang. Coba jawab kenapa kita diserang sama orang? banyak alasan, namun yang paling banyak karena ia tidak suka dengan sikap kita, kelakuan kita menyakitinya, berlaku zalim dan kasar, tidak sopan. Nah, Jurus pamungas untuk melawan serangan itu hanya satu: Perbaiki akhlakmu! kamu akan disegani, ditakuti, baik oleh teman ataupun lawan.Itulah Jurus pamungkas dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-9188786064467001825?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/9188786064467001825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/jurus-pamungkas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/9188786064467001825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/9188786064467001825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/jurus-pamungkas.html' title='Jurus Pamungkas!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7xqS5pk1MI/AAAAAAAAAsU/dxc8MPzGO7U/s72-c/F200912310848272869825281.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-859397835467734795</id><published>2010-04-07T16:57:00.001+07:00</published><updated>2010-04-07T16:59:07.018+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Bos Bule dan Bos Botak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7xXSBtFPpI/AAAAAAAAAsM/GXIAwuPEfuw/s1600/23-meeting-with-your-boss-main_Full.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 188px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7xXSBtFPpI/AAAAAAAAAsM/GXIAwuPEfuw/s200/23-meeting-with-your-boss-main_Full.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457332815672983186" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah tsunami melanda  Aceh pada tahun 2004, saya pernah bekerja di sebuah organisasi asing yang berkantor di Banda Aceh untuk melaksanakan program bantuan kepada korban tsunami. Meskipun saya tidak memiliki latar belakang yang sesuai dengan pekerjaan saya waktu itu, namun karena mereka memang sedang membutuhkan pekerja, maka saya diterima di sana. Apalagi bahasa Inggris saya yang hancur-hancuran, sehingga kalau dalam keadaan normal pasti dengan lembuat akan dikatakan: kami belum punya pekerjaan yang cocok buat anda. Hanya karena darurat saja mungkin saya bisa ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu tahun saya bekerja, saya memiliki dua orang bos. Bos pertama saya adalah seorang bule Inggris, laki-laki, tidak terlalu panjaang dan hanya bisa bahasa Indonesia sepatah dua patah kata saja. Dia baru pertama kali ke Aceh dan ke Indonesia. Tapi dari cerita yang saya dengar, dia sudah pernah bekerja untuk program rahabilitasi di berbagai negara bekas konflik dan bencana. Terakhir, sebelum bekerja di Aceh, ia bekerja di Baghdad. Sementara bos kedua adalah orang Aceh asli, kepalanya botak, seorang profesor di sebuah perguruan tinggi di Aceh. Beliau ahli dalam berbagai penelitian sosial, terutama masalah resolusi konflik. Saya tidak tahu pengalaman kerjanya di luar negeri. Sebab selama ini saya dengar ia hanya bekerja di kampus sebagai dosen, atau sebagai staf ahli di pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak disebutkan dan disampaikan secara langsung, saya melihat banyak hal yang berbeda diantara kedua bos ini. Tulisan ini saya posisikan dua hal saja, positif dan negatif (menurut saya), supaya lebih mudah saya ingat dan menjadi pelajaran buat saya sendiri atau pembaca lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tata ruang kantor, Bos Bule memilih berantor di ruangan yang terbuka, tidak ada pintu khusus, tidak ada meja khusus. Sekilas sama saja meja kerja dia dengan meja kerja kami. Siapapun bisa menjumpainya, kapan saja, kalau ia nampak duduk di kursi belakang mejanya, tanpa perlu permisi dan mengetuk pintu tanda minta izin. Sementara saat Bos Botak mulai berkantor, ia menyekat sebuah ruangan untuk dirinya, membuat AC khusus, membeli meja dan lemari yang lebih baik dari meja dan lemari kami. Kalau mau jumpa dan datang ke kamarnya, ketuk pintu beberapa kali dan dia akan akatakan “masuk” baru boleh masuk. Katanya supaya lebih tertip dan tidak mengganggu pekerjaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor, devisi kami punya sebuha dispenser. Setiap orang bisa membuat teh dan kopi sendiri karena ada air panas di sana. Pun Bos Bule kami, tetap buat teh sendiri kalau ia mau. Bahkan tidak jarang ai menawarkan membuatkan teh untuk staf lain yang kebetulan melihatnya sedang bikin teh. Saya pernah dibuatkan  segelas kopi. Dia juga melakukan hal lain sendiri, memfotocopi surat, mengelem amplop, menstempel surat dan lain sebagainya. Bos Botak kami berbeda. Katanya ia butuh dispenser sendiri di dalam ruangnnya. Karena kantor belum ada dispenser lain, maka disepenser “umum” dibawa masuk ke kamarnya. Ia bilang ke staf, “nanti kalau mau minum, ambil saja ke kamar saya.” Seingat saya tidak ada yang berani masuk kamarnya hanya untuk mengambil air. Kami lebih memilih minum kopi atau teh di luar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau masuk kerja dan berjumpa di depan pintu, ia menegur semua staf, mengatakan selamat pagi dan menanyakan kabar, sambil bersalaman sangat erat. Dengan beberapa kata bahasa Indonesia yang terbatas ia mengatakan “semoga sukses ini hari”. Kalu saya berjumpa dengan Bos Botak,sya menegusrnya, “Pagi Pak…” mencoba tersenyum, meskipuns saya jarang seklai mendapat balasan senumannya. Belakangan saya menghindar saja kalau berjumpa dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali Bos Bule saya menanyakan bagaimana perkembangan kerja yang sedang kami lakukan, apa kendala yang dihadapi dan bagaimana anda menyelesaikannya. Apa yang bisa ia lakukan untuk mempermudah pekerjaan selesai. Saya jadi malu kalau tidak memiliki progres sedikitpun. Jadinya setiap minggu saya pastikan ada yang “berubah” dari pekerjaan saya. Kalu Bos Botak juga sering menanyakan masalah pekerjaan. Bedanya ia bilang: kapan kasih laporan? segera. Kita tidak punya banyak waktu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada sebuah peluang untuk pengembangan diri, seperti pelatihan, seminar apalagi konferensi akademik yang bukan diadakan oleh kantor saya melaporkan kepada bos. Saat Bos saya Bule, dia akan bilang: “Mm… itu menarik dan pasti akan sangat banyak manfaatnya. Saya akan usahakan agar kamu bisa ikut dalam program itu.” Beberapa jam kemudian dia akan telpon atau kirim email: “Oke, kami boleh ikut. Lapor ke HR supaya dibooking tiket.” Tapi ketika hal yang sama saya sampaikan kepad bols Botak saya, dia mengatakan: “Kita tidak punya dana untuk itu. Lagian kantor jga punya program sendiri untuk pengembangan SDM staf.” Beberapa jam kemudian dia tetap tidak memberikan jawaban, sebab dari jawaban pertama sudah jelas: “Anda tidak boleh ikut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah beda Bos Bule dengan Bos Botak. Tetunya bukan karena dia Bule dan bukan karena dia botak sifat itu ada padanya, tapi karena si bule punya niat baik untuk mengembangkan stafnya. Yang ini, tidak mesti bule, siapa saja bisa melakukannya. Kebetulan saja saya berjumpa dengan yang bule.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-859397835467734795?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/859397835467734795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/bos-bule-dan-bos-botak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/859397835467734795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/859397835467734795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/bos-bule-dan-bos-botak.html' title='Bos Bule dan Bos Botak'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7xXSBtFPpI/AAAAAAAAAsM/GXIAwuPEfuw/s72-c/23-meeting-with-your-boss-main_Full.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-3388627478027375665</id><published>2010-04-07T11:19:00.003+07:00</published><updated>2010-04-07T11:21:56.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawuf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Arti  Seorang Teman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7wIDpD1gXI/AAAAAAAAAsE/bfHeVlT9lVk/s1600/Tgk+Minum+Kopi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7wIDpD1gXI/AAAAAAAAAsE/bfHeVlT9lVk/s200/Tgk+Minum+Kopi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457245707120771442" /&gt;&lt;/a&gt;Satu sore minggu lalu, katika saya pergi ke warung kopi, saya mendapatkan di sana seorang teman lama bersama temanya. Saya sebutkan saja naman teman itu, Bapak Kamal. Beliau adalah dosen di IAIN Banda Aceh. Usianya memang tidak terlalu muda lagi, mungkin sekitar 55 tahun atau lebih sedikit. Namun penampilannya yang “gaul” membuat ia nampak 15 tahun lebih muda. Sementara di sisinya duduk seorang bapak yang mungkin sudah berusia lebih dari 60 tahun. Mereka minum kopi berdua.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat saya tiba Pak Kamal mempersilahkan saya bergabung. Karena tidak mau mengganggu mereka, saya mengatakan mau duduk di tempat lain saja. Namun ia mengatakan tidak masalah, dan tetap bersikukuh agar saya bergabung bersama, sambil menarik sebuah kursi untuk saya. Saya kira ini tawaran serius, dan saya bergabung di meja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diperkenalkan kepada temannya Pak Kamal, ternyata nama beliau Pak Helmi. Pak Helmi pernah menjadi seorang pejabat di sebuah pemerintah kabupaten di Aceh. Pejabat teras. Banyak keputusan yang lahir dari tangannya. Ia menjadi pejabat sudah lama. Namun menduduki posisi “pincak” yang “basah” hanya beberapa tahun saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teman saya, mereka sudah lama berteman, sejak kuliah beberapa puluh tahun yang lalu. Mereka adalah teman satu kos-kosan yang sangat kopak. Ukuran kompaknya adalah mereka punya satu periuk yang sama untuk menanak nasi. Jadi seperti sebuah keluarga, begitu. Meskipun sebenarnya kalau dilihat dari asal daerah mereka berjauhan, apalagi punya hubungan famili, pasti tidak ada sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak terpisah sampai tamat kuliah dan bekerja. Meskipun bekerja di institusi yang berbeda mereka masih saling menyapa dan berkunjung. Sesekali Pak Kamal yang mengajak Pak Helmi minum kopi, atau sebaiknya. Saya kira sebagai teman yang baik dan sebagai rekan kerja yang baik memang demikian harusnya. Karena saling berkunjung tersebut mereka mulai merasa sangat dekat dan merasa sebagai anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun yang lalu, Pak Helmi menjadi pejabat di salah satu kabupaten di Aceh. Jabatannya cukup “basah” dan menentukan banyak hal, terutama yang berkaitan dengan dana, baik bantuan sosial maupun urusan proyek tertentu. Selama itu pula Pak Kamal tidak pernah menghubungi Pak Helmi, dan sebaliknya. Mereka merajut cerita masing-masing. Kesibukan kerja Pak Helmi dengan jabatan barunya membuat ia tidak pernah menghubungi Pak Kamal lagi sebagaimana biasanya. Telpon menanyakan kabar saja tidak pernah, apalagi mengajak minum kopi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat saya duduk bersama mereka, Pak Kamal menceritakan pengalaman dia selama menjabat. Seperti biasanya, seorang mantan pejabat selalu memuji diri dan kebijakan yang ia lakukan saat duduk diposisi tersebut. Bukan hanya masalah pekerjaan yang ia ceritakan, namun juga beberapa kunjungannya ke kota lain, bahkan ke negara tetangga. Satu hal yang tidak luput diceritakan adalah beberapa orang yang menjadi temannya ketika itu. Dan ia menyesali mereka tidak bersamanya lagi sekarang karena dia tidak memiliki jabatan lagi. Lalu Pak Helmi mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya satu nih, yang tidak mau menghubungi saya, Pak Kamal. Makanya ia tidak dapat apa-apa. Padahal waktu itu saya punya banyak cara kalau ia mau mendapatkan bantuan [uang]. Ini jangankan datang ke kantor, telpon saja tidak pernah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kamal diam sejenak. Namun sambil sebuah senyuman tidak lepas dari bibirnya ia mengatakan: “Dulu Bapak tidak punya teman, saya menjadi teman bapak untuk minum kopi bersama. Lalu bapak punya jabatan, bapak juga punya banyak teman yang ingin mendapatkan manfaat dari jabatan bapak, saya menghidnar saja. Nah, sekarang ketika mereka menjauhi bapak, saya datang lagi menjadi teman bapak. Dan kita minum kopi lagi seperti lima tahun yang lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita berfikir buruk pada seorang teman sejati, ternyata ia memiliki niat lebih mulya dari yang kita pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-3388627478027375665?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/3388627478027375665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/arti-seorang-teman.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3388627478027375665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3388627478027375665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/arti-seorang-teman.html' title='Arti  Seorang Teman'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7wIDpD1gXI/AAAAAAAAAsE/bfHeVlT9lVk/s72-c/Tgk+Minum+Kopi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-1263128782314791267</id><published>2010-04-06T09:21:00.001+07:00</published><updated>2010-04-06T09:23:13.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawuf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><title type='text'>Ada Tuhan dalam Bola? (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7qa4Ww4L_I/AAAAAAAAAr8/2lTZrTzW2YM/s1600/bola.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7qa4Ww4L_I/AAAAAAAAAr8/2lTZrTzW2YM/s200/bola.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456844191486717938" /&gt;&lt;/a&gt;Satu dari teman saya di kos-kosan tahun 2002 adalah alumni pesantren yang sangat taat dan alim. Ia menjalani harinya dengan bedakwah, memuji Allah; sepanjang jalan, dalam shalat, dalam makan, dalam semua aktiitas yang ia lakukan. Ia juga sangat ramah dan dermawan. Apalagi banyak nasehatnya yang sangat “berisi” dan menjadi teladan yang baik untuk menjalani kehidupan. Karenanya tanpa ragu kami mengangkatnya menjadi imam untuk mushalla kecil di kos-kosan kami. Dia yang menjadi imam dan memberikan siraman ruhani setiap shalat maghrib dan -kadang-kdang- subuh. Apa yang ia sampaikan sungguh, menentramkan hati.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun ada satu hal yang paling ia benci; kebiasaan kami menonton pertandingan bola kaki. Sebab lebih dari setengah teman-teman yang ada di kos-kosan adalah penggila bola. Hampir setiap akhir minggu, saat liga-liga di Eropa dilaksanakan, kami beramai-ramai menunggu dengan sabar di depan televisi. Karena di kos-kosan tidak ada TV, maka kami menontonnya di warung kopi yang agak jauh dari kos-kosan. Kami datang ke sana beberapa saat sebelum pertandingan di mulai. Kalau jam 02.00 dini hari, seperti pertandingan La Liga, maka jam 01.00 kami mulai bergerak. Sebab kalau terlambat bisa-bisa tidak kebagian kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, perilaku inilah yang paling dibencinya. Katanya, nonton bola membuang-buang waktu. Tidak ada manfaat apapun yang bisa dipetik di dalamnya selain capek, mengantuk pagi hari, habis uang bayar air dan makan mie. Sementara yang dilihat hanya gambar manusia seukuran telunjuk yang bergerak dalam layar televisi. Bersorak saat tercipta gol, berdesah saat gagal gol, berkeluh kesah saat tim kesayangan kalah, bergembira saat tim kesayangannya menang. “Itu konyol!” katanya dalam sebuah ceramah setelah maghrib. “Sama sekali tidak ada manfaatnya. Jak mita boh-boh sidom na cit!” katanya mengumpamakan dalam bahas Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar anak kos, seusia pula dengan sang ustaz, semua tertunduk dan saling memandang saat ia cerita demikian. Namun pada malam-malam saat pertandingan akan dilaksanakan, kami kembali mendatangi warung kopi buat nonoton bola. Bahkan tidak segan kami mengajaknya juga, meskipun kami yakin ia akan menolak dan memberikan sedikit “pencerahan” agar kami segera meninggalkan kebiasaan “buruk” itu. Hal ini terjadi berbulan-bulan, hingga dilaksanakan piala dunia tahun 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2002 itu saat itu saya sudah pindah kos ke tempat lain karena melanjutkan pendidikan. Saya tidak pernah mendengar ceramahnya lagi. Apalagi “bahasannya” mengenani bola. Meskipun masih di Banda Aceh, kami sudah jarang bertemu. Di lokasi baru di mana saya tinggal, saya merajut pengalaman lain. Dan di kosan lama, dimana teman kami sang ustaz tinggal, ia merajut pengalaman lainnya. Tidak semua pengalamannya saya ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, masih di tahun 2002 akhir, saya berjumpa dengannya. Ia bicara tentang Inter MIlan dan Bacelona, serta menomentari perhelatan akbar para penggila bola di seluruh dunia yang baru beberapa bulan berlalu. Semula saya menduga ia mau menghujat teman-teman yang menyukai klub bola tersebut. Namun ketika mendengar lebih jauh, saya mendapatkannya mendeskripsikan dengan baik kekuatan dan kelemahan tim-tim bola tersebut. Katanya ada peluang-peluang yang diabaikan oleh pelatih, ada hal-hal yang tidak dilakukan oleh pemain. Bahkan ia menawarkan beberapa tips, kepada saya (meskipun dia tahu kalau saya bukan bagian dari manajemen Barcelona dan Inter Milan), sehingga kedua tim dapat tampil lebih bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena heran, saya bertanya, “kenapa Teungku (ustaz) sudah suka bola?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena dalam bola ada Tuhan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah membenci sesuatu dengan berlebihan, mungkin saja engkau belum mengenalnya. Tapi ketika engkau tahu ada pelajaran di sana, engkau menjadi berubah. Alangkah malunya mereka yang dulu mengejek dan menjelekkan sesuatu tetapi kemudian berlaih memuji dan menyanjungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-1263128782314791267?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/1263128782314791267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/ada-tuhan-dalam-bola-1.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1263128782314791267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/1263128782314791267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/ada-tuhan-dalam-bola-1.html' title='Ada Tuhan dalam Bola? (1)'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7qa4Ww4L_I/AAAAAAAAAr8/2lTZrTzW2YM/s72-c/bola.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-3648245875239984618</id><published>2010-04-05T11:08:00.003+07:00</published><updated>2010-04-05T12:20:38.343+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><title type='text'>Indatu Ureung Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7lpFlYr51I/AAAAAAAAAr0/p4y80UcH5wI/s1600/tgkSyiahKuala.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 163px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7lpFlYr51I/AAAAAAAAAr0/p4y80UcH5wI/s200/tgkSyiahKuala.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456507968191981394" /&gt;&lt;/a&gt;Indatu adalah sebutan orang Aceh kepada funding father mereka. Kata ini sepadan dengan kata ‘nenek monyang’ dalam bahasa Indonesia. Kata ‘indatu’ tidak merujuk pada seseorang atau sekelompok orang tertentu, namun merujuk pada beberapa orang yang samar yang dianggap pernah hidup pada masa lalu. Kata indatu selalu disebutkan pada beberapa kesempatan yang berkaitan dengan tercemarnya moralitas, tercoreng harga diri, dan perubahan budaya pada sistem yang dianggap tidak memiliki dasar budaya sendiri. Arti kata ‘indatu’ dipersepsikan sangat kontekstual, sesuai dengan kondisi yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus pencemaran moralitas, maka yang dianggap indatu adalah para ulama yang pernah hidup di Aceh sejak masa lalu hingga ulama yang meninggal belum lama. Orang Aceh menempatkan ulama sebagai bagian yang integral dan tidak terpisahkan dari kehidupan sosial mereka. Mereka menempatkan ulama sebagai rujukan untuk sebuah pembenaran mengenai salah dan benar dalam suatu perbuatan. Peran demikian ini menjadikan ulama sangat sentral karena semua perbuatan dan aktifitas yang dilakukan masyarakat dikaitkan dengan keputusan dari ulama. Karenanya, ulama tetap mendapatkan penghormatan, pun mereka sudah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencemaran moralitas yang dianggap telah mengotori ajaran indatu dari kalangan ulama umumnya berkaitan dengan pakaian dan pergaulan. Seseorang yang melihat banyak masyarakat yang memiliki gaya pakaian tidak sesuai dengan budaya Aceh (yang umumnya dikaitkan dengan Islam) maka masyarakat tersebut dianggap sudah mencoreng wajah indatu. Mereka telah mengkhianati budaya Aceh yang lalu yang penuh dengan nilai-nilai Islam dalam berpakaian. Mengenakan pakaian ala eropa yang terbuka dan tidak mengenakan kerudung berarti telah menjadikan orang luar Aceh sebagai patron dalam berpakaian. Ini salah satu indikasi kalau masyarakat Aceh telah melupakan ajaran indatu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga diri orang Aceh dalam hubungannya dengan indatu berkaitan dengan kebijakan politik. Dalam hal ini indatu yang dipersepsikan adalah mereka yang membangun kerajaan Aceh Darussalam ratusan tahun yang lalu. Mereka telah membangun kerajaan Aceh Darussalam sebagai sebuah bangsa merdeka seperti halnya bangsa-bangsa lain di dunia. Banyak orang Aceh bahkan sangat yakin kalau Aceh pada masa lalu termasuk salah satu kerjaan besar yang setara dengan Dinasti Otoman di Turki bahkan dengan kerjaan Inggris di Eropa. Kebesaran kerajaan Aceh ini dikaitkan dengan kepemimpinan beberapa rajanya yang berjaya menjadikan Aceh go Internasional melalui perdagangan dan kerja sama peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persepsi di atas, maka ketertundukan kepada berbagai kebijakan pemerintah, dalam hal ini Indonesia, yang terjadi selama ini dianggap telah “melukai” hati indatu yang berjuang keras menegakkan kerajaan Aceh Darussalam di masa lalu. Apalagi ketertundukan yang dilakukan pemerintah Aceh saat ini bukan sekedar ketertundukan administratif di mana Aceh mengakui diri sebagai bagian dari Indonesia, namun juga ketertundukan politik. Ketertundukan polisitk ini ditunjukkan ketika politik dan kebijakan di Aceh sangat ditentukan oleh kebijakan politik di Jakarta. Berbagai penghargaan dengan menyebut Aceh sebagai daerah istimewa tidak berarti apa-apa. Politisi dari pemerintah pusat tetap mendominasi kebijakan politik di Aceh. Ketertundukan ini juga dianggap sebagai praktek yang telah mencoreng harga diri indatu orang Aceh masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek lain yang dianggap “mencoreng muka” indatu adalah kecenderungan masyarakat yang mengikut gaya hidup yang jauh berbeda dengan apa yang pernah ada dalam masyarakat Aceh dalam sejarah. Beberapa gaya makan, prosesi budaya –seperti pernikahan dan pesat lainnya-, juga hubungan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari yang dianggap lebih bebas dari sewajarnya. Perilaku ini merupakan salah satu indikasi kalau masyarakat Aceh dianggap telah meninggalkan ajaran indatu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuasa Indatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa masyarakat suku di Nusantara ada keyakinan bahwa nenk monyang mereka yang sudah ada di alam akhirat dapat mempengaruhi kehidupan mereka yang masih ada di dunia. Inilah yang menyebabkan beberapa suku Dayak dan Asmat membuat kuburan batu sebagai tempat peristirahatan yang baik bagi tulang belulang nenek monyangnya. Demikian juga orang Batak Toba besaing membangun Tugu tempat menyimpanan tulang belulang nenek monyang mereka di pulau Samosir. Ini semua dilakukan agar nenek monyang tidak murka kepada mereka yang masih hidup namun lalu menurunkan bencana kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tataran konsep pandangan seperti tersebut di atas hampir tidak ditemukan dalam masyarakat Aceh. Hal ini disebabkan keyakinan bahwa orang yang telah meninggal dunia tidak memiliki hubungan dengan oarang yang masih hidup di dunia. Mereka telah berada di alam sana yang sama sekali tidak mampu lagi mengatur berbagai problematika kehidupan di alam dunia. Para ulama di Aceh juga selalu menjelaskan persoalan ini kepada umat Islam. Bahwa seseorang yang telah pergi meninggalkan dunia, maka hubungannya telah terputus dengan dunia ini. Ia sama sekali tidak dapat mengintervensi lagi apa-apa yang terjadi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian dalam beberapa kelompok masyarakat keyakinan bahwa indatu mereka dapat memberi berkah, memberi kesembuhan, memberi kedamaian dan bahkan dapat menjadi perantara untuk menyampaikan doa kepada Tuhan. Hal ini terlihat dari beberapa prosesi budaya yang berkembang dalam masyarakat. Di beberapa kuburan indatu orang Aceh dilaksanakan prosesi penghormatan kepada mereka. Sekelompok masyarakat di Aceh Jaya misalnya, melaksanakan sebuah kenduri masal pada harii Raya Idul Adha setiap tahun untuk menghormati indatu mereka yang dimakamkan di sebuah bukit pinggir laut. Demikian juga dengan masyarakat Nagan Raya yang menempatkan sebuah makam indatu mereka sebagai tempat yang mulia. Mereka datang ke sana untuk berdoa dan beribadah dengan harapan ibadah mereka lebih cepat diterima Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penghormatan pada Indatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling banyak dilakukan masyarakat Aceh adalah penghormatan pada indatu mereka dengan memberikan pelayanan pada makam dan nama besar mereka. Di Aceh ada sebuah kenduri yang dikenal dengan nama kenduri jeurat. Kenduri ini adalah salah satu prosesi yang dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menghormati mereka yang telah meninggal dunia. Dalam prosesi ini, selain membersihkan makam-makam umum, makam keluarga dan makam-makan tokoh yang mereka hormati, juga mengadakan doa bersama kepada mereka yang sudah ada di alam sana. Doa ini dikirim kepada mereka dengan memohon kepada Allah agar memberikan mereka kebahagiaan dan menjauhkan mereka dari siksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghormatan lain yang diberikan dengan membuat bangunan yang bagus di atas makam-makam tertentu. Seperti halnya di daerah lain di seluruh dunia Islam, makam ulama, raja, pahlawan, dan orang penting lainnya berbeda dengan makam masyarakat biasa. Di atas makam mereka didirikan bangunan beton yang kuat sehingga bisa bertahan puluhan tahun. Pada beberapa makam penting, seperti makam Syiah Kuala di Banda Aceh, juga disediakan mushalla tempat di mana orang bisa beribadah dan berdoa. Makam-makam seperti ini bukan hanya dikunjungi oleh orang Aceh saja, namun banyak pula yang berasal dari luar Aceh, bahkan luar negeri, seperti Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Indatu dan Pemberontakan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kepada negara Republik Indonesia selama hampir sepuluh tahun (1998- 2005) memasukkan indatu sebagai salah satu alasannya. Bagi kelompok GAM, Aceh adalah sebuah negara berdaulat sebagai negara sendiri dan bukan menjadi bagian dari negara lain seperti yang terjadi selama ini. Oleh sebab itu bergabungnya Aceh dengan Indonesia telah melangkahi perjuangan Indatu Ureung Aceh masa lalu di mana mereka telah bersusah payah berjuang mendirikan Aceh sebagai negara berdaulat. Apalagi, menurut GAM, selama bergabung dengan Indonesia Aceh dijadikan sapi perahan dengan mengambil seluruh kekayaan alam di Aceh dan membawanya ke Jakarta, sementara orang Aceh sendiri hidup menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan meneruskan perjuangan indatu tersebut, GAM melancarkan pemberontakan pada negara Repulik Indonesia. Pemberontakan ini sering dianggap sebagai kelanjutan dari pemberontakan lain yang memang terjadi di Aceh sepanjang sejarah. Pada masa kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam sekalipun berbagai pemberontakan telah dilakukan oleh orang Aceh melawan Portugis, Inggris, Belanda, Jepang, dan lain sebagainya. Dengan demikian pemberontakan yang dilakukan kepada pemerintah Indonesia adalah salah satu “kalanjutan” dari rangkaian pemberontakan tersebut. Meskipun akhirnya, pada tanggal 15 Agustus 2005 GAM mengakhiri pemberontakannya, namun pemikiran yang menempatkan indatu sebagai dasar untuk mengatakan hubungan Aceh-Indonesia bermasalah, masih ada dalam banyak jiwa orang Aceh hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masa Depan Indatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan akan peran besar indatu dalam kehidupan duniawi orang Aceh telah menjadi sebuah spirit dalam banyak hal. Meskipun tidak secara langsung, adanya keyakinan akan keberadaan indatu menyebabkan tumbuhnya semangat berbuat baik dan memperjuangkan kebenaran. Pasti tidak semua apa yang terjadi di aceh dan dilakukan dalam masyarakat Aceh didorong oleh keberadaan indatu, namun setidaknya itu menjadi faktor dominan dalam beberapa praktik budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi modern apakah semangat yang dilatari oleh keberadaan indatu ini akan punah? Waktu akan menjawabnya. Namun belajar dari beberapa bangsa besar jelas menunjukkan mereka tetap menempatkan pahlawan dan orang yang berjasa sebagai bukti semangat. Beberapa bangsa bahkan memahat patung besar untuk mengenang nenek monyang mereka. Di Eropa dan Amerika sekalipun, negara yang tingkat rasionalitasnya sudah maju, kebudayaan modern semakin berkembang, penghomatan pada indatu tetap mereka lakukan. Wallahu’a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tulisan ini pernah dimuat di Harian Aceh, Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-3648245875239984618?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/3648245875239984618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/indatu-ureung-aceh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3648245875239984618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3648245875239984618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/04/indatu-ureung-aceh.html' title='Indatu Ureung Aceh'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7lpFlYr51I/AAAAAAAAAr0/p4y80UcH5wI/s72-c/tgkSyiahKuala.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-4735020089494103755</id><published>2010-03-30T17:36:00.001+07:00</published><updated>2010-03-30T17:39:22.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Ternyata Manusia Bukan Dari Monyet!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7HUvvNL5kI/AAAAAAAAArk/3CfsmP8y13Y/s1600/evolution.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 73px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7HUvvNL5kI/AAAAAAAAArk/3CfsmP8y13Y/s200/evolution.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454374540313093698" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa tidak tahu teori evolusi yang dipopulerkan Darwin? Saya kira hampir semua orang. Apalagi hal ini sering dikaitkan dengan ajaran agama dan diulas dengan dalil-dalil dari kitab suci. Jadilah teori darwin sangat terkenal bahkan sampai ke kampung-kampung. Sayangnya yang dikenal itu hanya satu kalimat: “Menurut Darwin, manusia berasal dari Monyet!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata perdebatan ini telah sampai di sebuah forum Internasional di Swiss. Ilmuan pro dan kontra atas teori ini dipertemukan dalam satu meja. Mereka diberikan kesempatan untuk memaparkan alasan-alasannya dengan bukti ilmiah yang mutakhir. Tujuannya hanya satu, untuk memastikan apakah nenek monyang manusia berasal dari monyet atau bukan!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu yang telah ditentukan kedua kelompok mengutus perwakilannya untuk mempresentasi hasil temuan mereka. Kelompok lain membantah dan mengajukan keberatan, mengatakan berbagai kelemahan yang disampaikan oleh kelompok lawan. Ini menyebabkan terjadinya perdebatan panjang dan tidak selesai. Satu Dua, tiga hari sampai seminggu belum juga ada kesimpulan. Panitia sudah kehabisan modal. Mereka mulai berfikir jangan-jangan para ilmuan hanya memperpanjang perdebatan agar mereka bisa berlama-lama berlibur sembari menikmati fasilitas yang disediakan panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, karena perdebatan tidak kunjung selesai, maka MC dan Fasilitator menawarkan jalan damai elalui voting. Kan voting bisa menyelesaikan perdebatan panjang, terserah hasilnya bermanfaat atau tidak. Tapi cukup kuat sebagai jalan menghentikan debat kusir, yah… seperti yang ditunjukkan oleh politikus kita di senayan lah… Dan ternyata para ilmuan setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang telah ditentukan, semua ilmuan hadir dan siap mengajukan voting. Sebelumnya mereka sudah saling melobi agar ada pihak lawan berkhianat dan setuju dengan tawarannya. Bahkan dengan tawaran  kursi menteri, atau jabatan di tempat-tempat basah segala. Sementara pimpinan kelompok mengancam anak buahnya agar tidak tergiur dengan tawaran pihak lawan atau akan dikeluarkan dari barisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke… waktu voting tiba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitator mengatakan, voting dilakukan dengan amat sederhana dan terbuka. Sebab ilmuan tidak usah tertutup kalau memang mereka punya bukti kuat. Oleh sebab itu, Fasilitator mengatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara yang terhomat. Seperti telah kita ketahui bersama bla.. bla…bla…. Oleh sebab itu, kepada mereka yang yakin nenek monyangnya monyet dipersilahkan berdiri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? ternyata tidak ada ilmuan yang berdiri! Mereka takut disebut sebagai keturunan monyet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-4735020089494103755?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/4735020089494103755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/ternyata-manusia-bukan-dari-monyet.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/4735020089494103755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/4735020089494103755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/ternyata-manusia-bukan-dari-monyet.html' title='Ternyata Manusia Bukan Dari Monyet!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7HUvvNL5kI/AAAAAAAAArk/3CfsmP8y13Y/s72-c/evolution.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-7160260403395794367</id><published>2010-03-29T18:00:00.003+07:00</published><updated>2010-03-29T18:12:16.702+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penelitian'/><title type='text'>Aman Guntur: Tetuwe Adat Gayo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7CK-MHWn5I/AAAAAAAAArc/PaNsm8oD3hs/s1600/Aman+Guntur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7CK-MHWn5I/AAAAAAAAArc/PaNsm8oD3hs/s200/Aman+Guntur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454011949754261394" /&gt;&lt;/a&gt;Tahun lalu saat melakukan penelitian di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, saya berjumpa dengan seorang tokoh adat Gayo di sana. Beliau mengaku lahir pada tahu 30-an. Jadi, saat ini umurnya sudah lebih 70 tahun. Namun di usia tuanya, ia masih aktif mengepalai dua organisasi. Sebagai ketua Jaringan Komunikasi Masyarakat Adat (JKMA) wilayah Lut Tawar, yang membawahi masyarakat adat di tiga kabupaten; Aceh tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Kedua ia menajadi Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Bener Meriah. MAA adalah lembaga adat bentukan pemerintah yang ada di setiap kabupaten kota dan kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Makasar, dan beberapa kota lainnya di mana banyak orang Aceh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beliau dikenal dengan nama Aman Guntur. Sebenarnya nama asli beliau Jafaruddin. Namun sudah menjadi kebiasaan di sana seseorang dipanggil dengan nama anaknya yang paling tua di tambah kata ‘aman’ (orang tua dari) di depan nama tersebut. Jadi, karena Pak Jakfar nama anaknya Guntur, maka ia dikenal dengan nama Aman Guntur. Nama ini sudah melekat padanya sejak anak pertamanya lahir. Sehingga banyak orang di desa itu, terutama anak muda, tidak mengenal Jafaruddin. Yang mereka tahu adalah Aman Guntur atau Kepala Mukim, karena ia pernah menjabat sebagai Mukim sejak tahun  1969.&lt;br /&gt;Aman Guntur adalah tokoh yang memperjuangkan agar adat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistim pemerintahan yang ada. Soeharto dengan UU No. 5 Tahun 1979 menyeragamkan sistim pemerintahan di Indonesia meniru model pemerintahan di Jawa. Dengan UU ini menyebabkan model pemerinatahan Mukim di Aceh, Nagari di Sumatera Barat menjadi mati layu. Akibatnya beberapa sistem budaya tidak berjalan dengan baik. Apalagi Aceh diperparah dengan konflik yang membuat orang sangat takut menentang Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pasca keluarnya UU Otonomi Khusus dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Pada tahun 2006, Aceh mendapatkan kesempatan membangun kembali institusi adat yang sudah layu tersebut. Salah satunya adalah melalui revitalisasi peran mukim. Dan inilah yang dilakukan oleh Aman Guntur. Ia, di sepanjang usia senjanya masih sangat bersemangat untuk menghidupkan kembali adat di dataran tinggi Gayo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengomandoi dua lembaga adat sekaligus, JKMA dan MAA. Bagi Aman Guntur kedua lembaga ini memiliki fungsi dan misi yang sama. Tujuannya sama-sama menginginkan bagaimana adat dan budaya dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan pemerintahan di Kabupaten Bener Meriah. Kedua harus sejalan dan tidak boleh ada dualisme. Jakfar menganggap pemerinatah tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan pengkajian dan mengeksplorasi berbagai aspek budaya yang hidup dalam masyarakat. Itulah yang menjadi tugasnya, mengambilnya dari kehidupan masyarakat, merumuskannya dalalu menyampaikan kepada pemerintah untuk dilaksanakan, baik dalam tubuh pemerintah itu sendiri maupun dalam aturan keseluruhan masyarakat umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi di Bener Meriah Meriah ada banyak suku (Gayo, Aceh dan Jawa), maka JKMA dan MAA harus menjadi fasilitator yang dapat menggabungkan seluruh suku itu untuk hidup rukun dan damai jangan ada perpecahan. Jakfar mengatakan, adat harus dapat menyelesaikan masalah yang ada dalam suku-suku tersebut. Sebab penyelesaian dengan adat jauh lebih efektif dibandingkan dengan penyelesaian di Pengadilan Negara. Untuk ini setiap masalah yang ada dalam suku tertentu harus didekati dan diselesaikan dengan pendekatan suku itu pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aman Guntur  juga menjelaskan kalau tidak semua undang-undang negara “laku” dalam masyarakat. Masyarakat punya undang-undang sendiri yang dapat menyelesaikan masalah mereka. Menurut Aman Guntur, 75% dari masalah yang ada dalam masyarakat dapat diselesaikan melalui adat. Hanya 20% saja yang harus ke pengadilan. Misalnya masalah sengketa di perbatasan desa. Ini tidak bida dengan pengadilan atau KUHP. Ini masalah adat yang dapat diselesaikan dengan adat. Sebab tanah dibagi secara adat.&lt;br /&gt;Damai di pengadilan tidak sama dengan damai di adat. Meskipun damai sudah diputuskan, namun hatinya tidak dapat menerima sepenuhnya.  Sebab yang berperkara hanya satu orang lawan satu saja, tidak dengan keluarga. Dalam penyelesaian adat damai adalah kelompok dan keluarga, sehingga damainya iklas dan dapat terjalin lama dan hilang dendam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam akhir-akhir wawancara Aman Guntur juga memberikan nasehat tentang menjaga kesehatan dan resep panjang umur. Ia mengatakan kalau resep panjang umur adalah menjaga kesehatan dan tidak larut dalam masalah yang membuat stress. Selain itu selalu memberi salam, sebab salam adalah damai. Ketika kita sudah menyampaikan salam kepada seseorang dan ia menjawab salam, maka itu berarti sudah damai dan sudah saling memaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-7160260403395794367?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/7160260403395794367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/aman-guntur-tetuwe-adat-gayo.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7160260403395794367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7160260403395794367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/aman-guntur-tetuwe-adat-gayo.html' title='Aman Guntur: Tetuwe Adat Gayo'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7CK-MHWn5I/AAAAAAAAArc/PaNsm8oD3hs/s72-c/Aman+Guntur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-7103517834491722157</id><published>2010-03-29T12:35:00.002+07:00</published><updated>2010-03-29T12:39:58.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><title type='text'>Boom Kuah Basi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7A8qO6O1YI/AAAAAAAAArU/jB_H5wvGo58/s1600/bom+meledak.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7A8qO6O1YI/AAAAAAAAArU/jB_H5wvGo58/s200/bom+meledak.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453925845000181122" /&gt;&lt;/a&gt;Biasanya bom terbuat dari bahan kimia yang diisi dengan berbagai partikel berbahaya. Jika meleddak maka akan menghancurkan apa saja yang ada di sekiratnya. Bukan hanya orang dan bangunan, sebuah pulau bisa saja tenggelam kalau terkena bom. Ya.. pulaunya harus kecil dan bomnya harus bertenaga ledak luar biasa. Mungkin bom atom dan bom-bom lain yang dipakai Amerika untuk meledakkan Irak bisa jadi contoh yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi belakangan ada yang unik, bom terbuat dari barang alami yang pedas dan baunya menusuk hidung. Bom sejenis ini saya dengar sedang dikembangkan di India. Bom tersebut terbuat dari ekstrak cabe India yang super pedas, terpadas di dunia. Untuk satu beulangong kari kambing mungkin hanya perlu beberapa biji saja. Ekstrak inilah yang dikumpulkan dan dipadatkan untuk dijadikan bom. Saya dengar juga, bom tersebut khusus diperutukkan buat teroris. Mereka akan kesulitan bernafas dan melihat jika kena ledakan bom ekstrak cabe.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang lebih aneh, sebuah bom terbuat dari kuah basi. Bahkan teman seprofesi saya, penjual durian tahun 2000 pernah menjadi korban. Saya tidak tahu bagaimana rasanya, namun saya bisa lihat ekspresinya dan dapat bayangkan juga perasaannya setelah kena bom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya, tahun 2000 saya jualan durian di Pasar Peunayong, Banda Aceh. Saya bukan toke-nya, hanya seorang yang membantu mendistribusikan saja di pasar. Pemiliknya seorang teman lain yang mendapatkan durian di beberapa daerah di Aceh. Di sisi kanan tempat saya jualan ada seorang laki-laki paruh baya yang sama seperti saja juga jualan durian. Kami sama-sama bermandi keringat saat siang terik Banda Aceh yang membakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat di mana saya berjualan tidak jauh dari sebuah kontainer sampah. Dasar orang kota, meskipun kontainer sudah disedikan, sampah tetap saja dibuang sembarangan, bahkan sampai di tempat saya jualan.  Persis di depan kami, agak ke pinggir jalan ada sebuah bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman. Sepertinya salah satu bagian sampah yang tidak dibuang di kontainer sampah yang telah disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu teman saya membeli air mineral dalam gelas plastik (aqua gelas) dan memberikan saya satu gelas. Saya menyimpannya karena saat itu sedang tidak mau minum. Teman saya langsung meminum sampai habis dan membuang gelas platik itu di depan kami berjualan. Gelas itu jatuh persis di dekat bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman. Saya menegurnya, agar ia membuang sampah pada tempatnya. Jangan buang sampah sembarangan, Sebab di sana tempat orang lewat dan akan sangat mengganggu pemandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman ini menjawab: “Tidak masalah, nanti ada dinas kebersihan yang membersihkannya, kalau ngak untuk apa mereka digaji,….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia belum selesai bicara saat tiba-tiba sebuah mobil sedan abu-abu melintasi jalan di depan kami. Pas di depan kami mobil itu hendak menghindari sebuah becak yang datang dari arah berbeda  sehingga ia berjalan agak menepi, hanya satu meter dari kami berdiri. Mobil berjalan agak kencang karena jalan memang lagi kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cpraaattt…” (saya lupa persis seperti apa suaranya). Bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman yang ada di depan kami meledak terlindas ban mobil. Air kuning kehitam-hitaman dari dalam palstik langsung terbang menuju teman saya. Air itu mengenai bagian depan baju teman saya dan sebagian mukanya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Bau menusuk hidung tidak terhindarkan. Saya tidak bisa gambarkan bagaimana baunya. Tapi itu memang sangat bau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat muka teman saya memerah, atau tepatnya membara. Ia menahan amarah yang maha dahsyat dan mengutuk pengendara mobil. Beberapa saat setelah ia kena bom kuah basi ia tidak berkata apa-apa, namun dalam beberapa detik kemudian keluar berbagai sumpah serapah dan “peribahasa khas” yang tidak layak diucapkan dalam situasi normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melihat pada saya, saya katakan: “Tidak masalah, nanti ada Dinas Kebersihan yang membersihkannya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keburukan yang kita buat akan kembali kepada kita sendiri. Mungkin dalam bentuk lain yang kita tidak sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-7103517834491722157?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/7103517834491722157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/boom-kuah-basi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7103517834491722157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/7103517834491722157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/boom-kuah-basi.html' title='Boom Kuah Basi'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S7A8qO6O1YI/AAAAAAAAArU/jB_H5wvGo58/s72-c/bom+meledak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-480701333522459462</id><published>2010-03-27T17:32:00.002+07:00</published><updated>2010-03-27T17:33:45.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><title type='text'>Pengumuman, Azan Dibatalkan!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S63ezT2MT0I/AAAAAAAAArM/zrh21qhyzLE/s1600/2921480997_30e9b0c053_m.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S63ezT2MT0I/AAAAAAAAArM/zrh21qhyzLE/s320/2921480997_30e9b0c053_m.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453259696897806146" /&gt;&lt;/a&gt;Tahun 2009, saat masih kuliah semester empat saya bekerja sebagai buruh bangunan. Saat itu kami bekerja membuat  sebuah gedung di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Yang saya maksud adalah gedung lama, sebelum pindah ke bangunan bantuan Jerman saat ini. Bangunan yang kami kerjakan setelah selesai dipakai untuk ruang bedah dan cuci darah. Letaknya persis di bagian belakang tempat parkir sebelah Barat bersisian dengan ruang ICCU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah komplek rumah sakit ada sebuah masjid yang dinamakan Masjid Ibnu Sina. Masjid ini tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung jamaah yang terdiri dari keluarga pasien atau orang yang mengunjungi orang sakit. Letaknya yang memang berada di tengah-tengah menjadikan masjid ini mudah dijangkau dari sisi mana saja di rumah sakit tersebut. Dari tempat saya bekerja hanya melintasi tiga bangunan lain saja sudah sampai ke sana. Mungkin sekitar 150 meter. Di masjid itu kami sering shalat zuhur.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit ini dikelola oleh seorang imam yang sudah sangat tua, mungkin usianya saat itu lebih 70 tahun. Beliau adalah seorang pensiunan Angkatan Darat sejak masa Soekarno. Selain sebagai imam masjid, Ia memiliki “hak” untuk mengumpulkan kantong plastik infus bekas yang dipakai oleh pasien. Botol plastik ini dijual ke agen di Medan, Sumatera Utara. Ia dikenal dengan ketegasan dan disiplin. Salah satu yang paling diingat orang dari sikap beliau adalah instruksi awal sebelum shalat jamaah. Dengan menghadap kepada jamaah beliau berkata dengan suara sangat keras; “Lurus dan rapikan shaf, ratakan tumit dengan garis coklat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, cuaca di Banda Aceh sangat mendung. Awan hitam seolah memayungi kota sejak pagi. Anehnya, sudah lama mendung hujan tidak juga turun. Kami bekerja seperti biasa dan sedikit santai karena udara tidak panas. Apalagi saat itu bos sedang tidak ada, katanya tidak bisa datang karena ada hal penting di rumahnya. Jadi kami hanya bisa menggali tanah untuk pondasi dan mengikat behel untuk cor tiang bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, jam 10.20 menjelang siang terdengar suara azan dari masjid yang memang tidak jauh dari tempat kami bekerja. Saya jadi heran, kenapa azan dikumandangkan begitu cepat. Di Banda Aceh umumnya shalat zuhur jam 12.45, bahkan terkadang jam 13.00. Tidak pernah jam 10.20. Atau apakah ada cara tertentu yang harus mengumandangkan azan? saya berfikir itu tidak mungkin.Pasti ada masalah. Apalagi dengan cuaca yang tidak menentu seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan semua dugaan saya pergi ke masjid. Saya lihat pak tua sudah duduk di tengah-tengah ruangan masjid yang memang tidak terlalu besar. Saya yang masih mengenakan pakaian kotor karena baru saja menggali tanah tidak bisa masuk ke dalam. Kebetulan beliau melihat saya di pintu. Saya bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak imam, barusan azan untuk shalat atau ada acara?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk shalat zuhur… ini sudah siang, karena mendung kita tidak rasakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah… sekarang belum zuhur pak imam. masih jam 10.45. Kan kita zuhur jam 12.45″ kata saya sambil menunjukkan jam dinding di bagian depan masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkata demikian, saya lihat beliau melihat jam yang tergantung agak tinggi tersebut. Kemungkinan beliau silau, dan menutup keningnya seperti orang hormat bendera. Selanjutanya saya tidak tahu apa yang terjadi, saya kembali ke lokasi kerja. Dalam perjalanan menuju lokasi kerja, saya dengat microfon dihidupkan. Setelah batuk-batuk beberapa kali, terdengar suara serak namun tegas dari pak imam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengumuman…pengumuman… azan dibatalkan… waktu zuhur belum tiba….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertawa sendiri. Ada-ada saja Pak Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bergantung pada perasaan, maka cuacapun bisa menipu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-480701333522459462?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/480701333522459462/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/pengumuman-azan-dibatalkan.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/480701333522459462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/480701333522459462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/pengumuman-azan-dibatalkan.html' title='Pengumuman, Azan Dibatalkan!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S63ezT2MT0I/AAAAAAAAArM/zrh21qhyzLE/s72-c/2921480997_30e9b0c053_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-3852285263413939634</id><published>2010-03-27T09:48:00.001+07:00</published><updated>2010-03-27T09:49:58.896+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawuf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sehat Ihsan Shadiqin'/><title type='text'>Demi Cinta Kau Kubunuh Nak!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S61yT5urviI/AAAAAAAAArE/3gbElkn-AF0/s1600/Ghost_Rider_5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 128px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S61yT5urviI/AAAAAAAAArE/3gbElkn-AF0/s200/Ghost_Rider_5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453140410055245346" /&gt;&lt;/a&gt;Ada sepasang suami-istri yang tinggal tidak jauh dari kampung kami. Suaminya seorang dokter spesialis penyakit dalam yang sudah sangat terkenal di Banda Aceh. Sementara istrinya seorang bidan yang bekerja di sebuah rumah sakit umum, juga di Banda Aceh. Saat ini mereka sudah berumur separuh baya dan tinggal berdua di sebuah rumah mewah di salah satu sudut kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menikha tahun 1983 karena saling mencintai. Adalah seorang anak yang menjadi dambaan hati pengikat kasih selalu mereka damba. Namun setahun, dua tahun, tiga tahu, dan lima tahun berlalu belum ada juga tanda-tanda. Tidak mungkin mereka tidak tahu “caranya” sebab selain itu adalah naluri manusia, juga keduanya paramedis yang belajar menekuni seluk beluk fisiologi manusia. Dari kabar angin yang pernah saya dengar, saat itu mereka sudah sangat mendambakan seorang buah hati penyejuk mata penenang jiwa. Segala cara mereka lakukan, berobat pada dokter, dukun, para normal, dalam dan luar negeri. Dan tentu saja, berdoa. Terkahir pada tahun 1992 mereka menunanaikan ibadah haji ke Makkah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, beberapa bulan pulang dari sana terjadi keanehan pada si istri. Ikan tawar dibilang asin, sayur asin dibilang pahit, suka yang masam-masam, suka bakso, dan berbagai keanehan yang lain. Pasti mereka lebih dahulu tahu dengan tanda-tanda itu karena mereka memang ahlinya. Dan benar saja, sembilan bulan kemudian seorang anak laki-laki sehat, tampan, lahir ke dunia. Mereka membuat namanya Syukran Peunawa. Syukran berarti terima kasih, dan penawa berarti penawar rindu, penawar harap dan penantian orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukran tumbuh sehat karena kedua orang tuanya memang tenaga kesehatan. Beberapa pekerja didatangkan kerumah untukmengurus anak mereka. Seentara kedua orang tuanya, meskipun cinta dan sangat sayang pada anak yang memang mereka nantikan sejak lama tetap tidak mungkin menunggunya sepanjang hari. Tapi tidak masalah, karena orang yang mereka pilih untuk mengasuhnya dapat memenuhi kebutuhan si anak. Di akhir minggu mereka berekreasi ke berbagai tempat. Bahkan tidak jarang, ketika anaknya sudah mulai masuk sekolah, masa liburan diisi dengan jalan-jalan ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak tumbuh sangat manja. Bahkan hampir menamatkan pendidikannya di sekolah dasar ia masih belum bisa membuka dan memakai baju sendiri. Tapi tidak masalah, bapak dan ibunya bisa menggaji orang untuk memakaikan pakaian kepada anak mereka. Pada usia SMP sifat manjanya menjadi lebih-lebih lagi. Ia meminta bapaknya membelikan sebuah sepeda motor, dan itupun bukan masalah pada orang tuanya. Pada awal-awal masuk SMA bahkan ia minta orang tunya membelikan ia mobil. Lagi-lagi bagi orang tuanya tidak masalah, karena mobil juga bukan barang terlalu mahal bagi mereka. Si anak hidup sangat bergantung pada orang tuanya, tidak kreatif, tidak berfikir tentang masa depan, bahkan tidak peduli dengan resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia duduk di kelas dua SMA, ia minta orang tuanya membelikan ia sebuah sepeda motor besar yang mirip-mirip pembalap di televisi. Semula orang tunya keberatan, sebab ia sudah ada sepeda motor, dan bahkan ada sebuah mobil, Untuk apa lagi sepeda motor? Namun mereka tidak kuat menahan tatkala si anak berulah, ia pulang larut malam, tidak mau makan, tidak mau ke sekolah, tidak mau mandi. Akhirnya hati mereka luluh, sebuah sepeda motor besar yang diimpikan datang ke rumah pada hari minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak senang bukan main. Ia berterima kasih pada kedua orang tuanya, mencium dan memeluknya. Segera mengenakan pakaian dan hendak pergi entah kemana. Katanya ia akan menjumpai teman-temannya. Biasa, remaja yang suka menunjukkan kepada temannya apa yang baru yang dimilikinya. Dan hari ini ia akan menunjukkan pada teman-temannya sebuah sepeda motor besar yang gagah dan model terbaru yang baru dibeli orang tuanya. Orang tunya melepas dengan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Pagi minggu yang cerah itu adalah akhir pertemuan dari orang tua dengan satu-satunya anak mereka. Setelah sebuah SMS masuk ke nomor ibunya mengatakan ia tidak bisa pulang makan siang, sampai sore hari tidak ada kabar berita dari si anak. Setelah maghrib seorang rekan bapaknya yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit di mana ia bekerja menelponnya. Hanya satu kalimat pendek yang terucap dari mulut temannya: “Syukran ada di sini”. Bergegas, kedua orang tuanya menuju IGD dengan hati yang tidak tenang. Sepuluh meit kemudian, ketika mereka tiba, mereka mendapatkan anaknya, Syukran, telah terbujur kaku berlumuran darah. Dokter mengatakan, Syukran diambil di sebuah jalan sepi yang sering dipakai remaja untuk balapan liar di sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terkadang cinta yang berlebihan justru membunuh mereka yang kita cintai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-3852285263413939634?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/3852285263413939634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/demi-cinta-kau-kubunuh-nak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3852285263413939634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/3852285263413939634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/demi-cinta-kau-kubunuh-nak.html' title='Demi Cinta Kau Kubunuh Nak!'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S61yT5urviI/AAAAAAAAArE/3gbElkn-AF0/s72-c/Ghost_Rider_5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6626283790515746203</id><published>2010-03-26T16:58:00.001+07:00</published><updated>2010-03-26T17:19:32.960+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhibbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tawa Sebagai Bahasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S6yKFqJaXSI/AAAAAAAAAq8/ujd24APEaic/s1600/Sehat+Serius.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S6yKFqJaXSI/AAAAAAAAAq8/ujd24APEaic/s200/Sehat+Serius.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452885078656572706" /&gt;&lt;/a&gt;Namanya Muhyat. Namun karena usianya sudah lebih 100 tahun, orang memanggilnya Mbah Muhyat. Ia adalah seorang lelaki sepuh di dusun Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah. Hampir semua persoalan adat dan supranatural warga dusun bertanya kepadanya. Sebab selain memiliki pengalaman yang panjang, ia juga seorang yang menguasai berbagai ilmu Jawa Kuno, semacam mujorabat dan astrologi. Ia juga diyakini bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita warga, seperti demam dan sakit-sakitan yang lain. Di tengah belantara di mana rumah sakit sangat jauh dan transportasi yang sulit, berobat dengan ramuan dan rajahan adalah pilihan yang paling logis. Dan Mbah Muhyat adalah “dokter” bagi 55 KK yang menetap di tengah hutan Pinus Kabupaten Pekalongan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Satu hari, ketika saya berada di sana, saya duduk berbincang dengan beberapa warga. Pada jam 10.00 pagi warga yang saya ajak berbincang mulai meninggalkan saya karena harus kembali bekerja. Pada saat itulah seorang perempuan yang sudah sangat tua datang di depan saya. Ia berbicara dalam bahasa Jawa yang sama sekali tidak saya pahami. Bukan karena dialeknya asing atau kecepatan biacaranya, namun saya memang tidak paham sama sekali bahasa Jawa, selain ngeh, monggo, dan mutur nuwun. Saya mengatakan kepadanya kalau saya tidak bisa berbahasa Jawa, namun bukannya mendengar saya, ia malah terus berbicara dan kadang tertawa. Demi menghormatinya, saya juga tersenyum dan kembali mengatakan kalau saya dari Aceh dan tidak bisa bahasa Jawa.&lt;br /&gt;Saya bangun dan hendak meninggalkannya. Namun ia menunjukkan ujung gang di mana dia tadi keluar. Ia terus berjalan ke ujung gang tersebut. Ketika saya melihat ke belakang, ia masih berada di sana dan tersenyum. Hati kecil saya mengatakan kalau nenek tua itu mengajak saya ke rumahnya. Saya mengikuti kata hati dan berjalan menuju gang itu. Benar saja, ketika saya menuju gang, ia mulai berjalan lagi hingga sampai ke sebuah rumah. Saya lihat ia membuka pintu lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumahnya saya ucapkan salam dan dijawab oleh seorang laki-laki yang jauh lebh tua dari si nenek. Ruang di mana saya masuk adalah sebuah ruang kecil. Di sana ada sebuah meja dengan dua kursi panjang di sisinya, sebuah ranjang dan sebuah kursi rotan di bagian kaki. Si nenek duduk di kursi rotan. Sementara si kakek menjumpai saya dan langsung berbicara bahasa Jawa. Saya kembali katakan kalau saya tidak bisa bahasa Jawa karena saya dari Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo…Aceh…Aceh…” kata si kakek sambil melihat pada istrinya dilanjutkan dengan beberapa potong kalimat dalam bahasa Jawa. Mereka berdua tertawa. Dan melihat mereka tertawa saya juga tertawa. Kami tertawa serempak untuk alasan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kakek menunjuk istrinya kepada saya sambil memegang telinga lalu menggoyang-goyangkan telapak tangannya yang lain ke arah saya. Saya pahami kalau si nenek tidak bisa mendengar lagi. Itu mungkin yang menyebabkan tadi beliau tidak mempedulikan saya ketika saya berbicara. Si kakek juga kerap setengah “berteriak” ketika bicara pada istrinya. Saya katakan -dengan bahasa Indonesia- tidak masalah, saya juga tidak bisa bahasa Jawa. Si kakek menjawab lagi dalam bahasa Jawa lalu kemudian tertawa. Saya juga ikut tertawa. Kami terus berbicara saling menjawab namun saling tidak mengerti dengan apa yang kami ucapkan. Yang selalu kami lakukan adalah tertawa di akhir setiap kalimat. Tertawa lepas seolah kami saling mengerti dan sudah akrab bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Muhyat mengambil sebuah buku dan menunjukkan kepada saya. Buku yang sudah lapuk dimakan usia. Buku tulisan tangan dalam huruf wanacaraka yag seperti cacing kepanasan. Ia membaca buku itu dengan irama khas Jawa. Katanya, itu nembang dari Kitab Pertimah. Ia terus membacanya, dan saya menyimak dan menikmati alunan suara tuanya yang mulai serak. Setelah ia menutup bukunya, ia kembali mengatakan beberapa kalimat lalu tertawa. Saya juga tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil dan membuka-buka buku itu. Di sampulnya tertulis 1921. Saya tidak tahu pasti apa arti tahun itu. Saya tunjukkan padanya, tahun tersebut, lalu ia mengatakan sesuatu, lalu kembali tertawa. Saya tidak bisa menangkap maksudnya. Kemungkinan kalau bukan tahun pembelian buku, bisa saja tahun awal ia mulai menulis. Di beberapa halaman yang lain saya menemukan beberapa model perhitungan bulan jawa dan penunjuk arah mata angin. Ia kembali menjelaskan apa maksud gambar-gambar itu, lalu tertawa. Saya juga ikut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa saya sudah menghabiskan waktu dua jam disana. Sebuah kopi dengan pemanis gula aren dan sepiring kipang yang diberikan sudah hampir habis. Saya masih tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Namun sepanjang dua jam itu kami tertawa bersama-sama. Saya tidak tahu apa katanya, dan saya yakin sekali kalau dia juga tidak tahu apa yang saya katakan. Namun tawa dan gerak yang kami lakukan menjadi alat komunikasi yang mengakrabkan pertemanan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah minta permisi dan pulang, saya berfikir, bagaimana mungkin kami bisa sangat akrab, berbicara selama dua jam padahal tidak saling mengerti bahasa yang kami pakai? Entahlah, tapi itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertawa adalah bahasa universal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6626283790515746203?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6626283790515746203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/tawa-sebagai-bahasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6626283790515746203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6626283790515746203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/tawa-sebagai-bahasa.html' title='Tawa Sebagai Bahasa'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S6yKFqJaXSI/AAAAAAAAAq8/ujd24APEaic/s72-c/Sehat+Serius.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6228118868844342630</id><published>2010-03-26T12:35:00.002+07:00</published><updated>2010-03-26T14:56:18.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawuf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Berdebat dengan Guru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S6xH3Rw9WWI/AAAAAAAAAq0/JEaXD-OLS2Q/s1600/22571_1371565853351_1357907122_1045106_1405373_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 146px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S6xH3Rw9WWI/AAAAAAAAAq0/JEaXD-OLS2Q/s200/22571_1371565853351_1357907122_1045106_1405373_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452812263825955170" /&gt;&lt;/a&gt;Saat masih madrasah Tsanawiyah, saya sering berdebat dengan seorang guru tentang masalah agama. Sebenarnya beliau adalah seorang guru matematika, namun beliau juga belajar di sebuah pesantren yang ada di kampungnya. Belajar di pesantren sempat terputus saat beliau kuliah ke Banda Aceh. Namun setelah pulang kembali ke kampung dan menjadi guru, ia masih pergi ke pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik pedebatan kami sebenarnya sebauh topik khilafiah dikalangan ulama Islam, yakni mengenai jumlah rakaat shalat tarawih. Beliau bersikeras bahwa shalat tarawih itu 20 rakaat ditambah dengan 3 rakaat sahalat witir. Sementara saya, seperti yang diajarkan kakek saya, cukup 8 rakaat, ditambah tiga rakaat shalat witir. Beliau menyampaikan berbagai argumen untuk menguatkan pendapatnya. Bahkan mengatakan kalau mereka yang shalat 8 rakaat tidak akan diterima oleh Allah karena tidak ada dalilnya. Tidak mau kalah, saat itu saya juga mengatakan argumen saya tentang shalat 8 rakaat. Karena masih sangat kanak-kanak (14 tahun), argumen saya sangat tidak sitematis dan mudah dipatahkan. Namun saya selalu yakin dan bertahan pada pendapat saya, 8 rakaat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun terkadang perdebatan itu sudah tidak enak didengar, namun hubungan saya sebagai murid dengan beliau sebagai guru tidak terganggu. Seorang murid, pada masa itu, harus ta'zim kepada gurunya, sebab itu akan menjadikan ilmu yang diberikan berkah. Saya sangat yakin dengan dalil itu. Oleh sebab itu, saya membantu guru-guru saya dalam beberapa hal yang saya bisa. Seperti menanam padi dan menuai padi di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu musim panen, saya pergi ke rumah guru yang sering berdebat dengan saya. Saat itu sabtu sore. Saya mengatakan kalau besok (minggu) saya mau membantunya memotong padi. Beliau sangat senang menyambut kedatangan saya. Apalagi saat itu padinya sudah mulai menua dan harus segera dipotong. Dengan menggunakan tuai, memotong padai sangat lambat sebab dilakukan satu-satu tangkai. Jadi kalau orang yang memotongnya banyak, maka akan cepat selesainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat ashar, beberapa temannya datang ke rumah. Awalnya kami hanya membicarakan hal-hal kecil, namun sedikit demi sdikit mengarah ke perdebatan lama, masalah rakaat shalat tarawih. Tiga orang teman guru saya yang santri pesantren berhadapan dengan Sehat Ihsan, anak kecil kelas dua madrasah tsanawiyah. Awalnya perdebatan santai sambil tertawa, namun lama-lama menjadi "panas" sebab bukan hanya masalah rakaat shalat tarawaih, tapi juga keabsahan kenduri kematian, i'adah zuhur, dan beberapa hal yang lain. Dasar keras kepala dan suka berdebat, saya tidak pernah mengalah. Saya tetap saja pada keyakinan saya meskipun sudah tidak memiiki argumen lagi. Lalu guru saya mengatakan, ya sudah nanti kamu saya hadapkan dengan Abu, panggilan untuk guru pimpinan pesantrennya. Saya katakan, tidak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari, kami shalat isya di pesantren dan mengikuti pengajian umum yang diberikan oleh Abu, pimpinan pesantren guru saya. Saya diperkenalkan kepada Abu, yang ternyata seorang laki-laki gagah paruh baya. Guru saya mengatakan saya adalah seroang yang bertahan dengan beberapa argumen khilafiah yang salah. Dia menceritakan beberapa argumen saya mengenai taraweh, shalat jum'at, kenduri kematian, dan lain sebagainya. Saya melihat guru saya bercerita dengan tidak objektif. Beberapa pendapat saya dipelintir untuk menunjukkan kekeliruan saya dalam berendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah guru saya selesai, Abu bertanya pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu dari mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Krueng Kluet (nama desa saya)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti kamu kenal dengan Teungku Nyakni?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooo.. itu kakek saya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakek bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaa.. kakek saya. Bapak dari bapak saya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo... sampaikan salam saya sama beliau. Beliau adalah guru saya dan dari guru saya. Ilmunya luas. Ia sangat paham dengan agama. Beiau sangat menghormati perbedaan pendapat. Saya sudah dua kali berjumpa dengannya dibawa oleh guru saya. Saya sangat menghormatinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik Teungku, saya akan sampaikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu kemudian minta permisi dan meninggalkan kami. Guru saya, temannya, tidak mengerti apa yang terjadi. Saya juga tidak mengerti. Tapi satu hal yang pasti, Abu menghormati perbedaan pendapat di kalangan kami. Dan "ilmu" tentang perbedaan itu ia beroleh dari kakek saya, yang juga mengajarkan saya mengenai hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terkadang pengetahuan yang terbatas menimbulkan keangkuhan dan kesombongan, sementara seorang ahli ilmu justru sadar akan kebodohan dan kelemahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6228118868844342630?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6228118868844342630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/berdenat-dengan-guru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6228118868844342630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6228118868844342630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/berdenat-dengan-guru.html' title='Berdebat dengan Guru'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-mgQxg6ggILE/TwLrVNEYJvI/AAAAAAAABFY/_0tTIu3Eh_0/s220/Tasawuf%2BAceh%252C%2BSehat%2BIa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S6xH3Rw9WWI/AAAAAAAAAq0/JEaXD-OLS2Q/s72-c/22571_1371565853351_1357907122_1045106_1405373_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2484722300126618144.post-6338663493869822558</id><published>2010-03-25T10:48:00.003+07:00</published><updated>2010-03-25T10:55:01.940+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Hantu Parit Irigasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S6rdIG54kKI/AAAAAAAAAqs/PA6dj3e-QHY/s1600/hantu-pocong2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QS2SBhYRUDE/S6rdIG54kKI/AAAAAAAAAqs/PA6dj3e-QHY/s200/hantu-pocong2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452413430247493794" /&gt;&lt;/a&gt;Desa di mana aku lahir adalah sebuah pedalaman jauh. Televisi hitam putih baru masuk ke sana tahun 1987 dan itupun hanya ada dua rumah yang memilikinya. Saat itu kami belum punya listrik, jadi untuk menghidupkan TV kami memakai battrei besar yang selalu di cas kalau sudah habis dayanya. Masyarakat yang hendak menonton televisi datang ke rumah yang punya televisi tersebut. Tidak selau beruntung, terkadang pemiliknya tidak mau menghidupkan karena ada sanak keluarganya yang sakit, atau alasan lain yang memang bisa diterima. Tetapi hal ini jarang terjadi, apalagi malam minggu di mana TVRI menyiarkan film akhir pekan yang selalu diunggu (kalau tidak ada Laporan Khusus yang menjemukan itu).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rumah saya hanya berjarak 700 meter dari rumah warga yang punya lelevisi. Namun untuk menuju ke sana saya harus melintasi komplek kuburan umum yang ada di pinggir jalan. Di sisi kanan komplek ada bangunan sekolah, sementara di sisi kirinya ada kebun masyarakat. Jadi antara rumah saya dan rumah tempat menonton televisi tidak ada perumahan warga lain, sangat sepi kalau malam hari. Sementara berseberangan jalan dengan komplek kuburan ada sebuah parit yang sedang digali untuk dibuat irigasi. Parit itu agak dalam, mungkin dua meter, tapi tidak ada airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu malam minggu saya dan belasan warga lain pergi ke tempat nonton televisi, biasanya ada film akhir pekan. Ada beberapa film laga indonesia yang menarik waktu itu yang membuat masyarakat menantikan kahadiran malam minggu. Sebagai seorang yang masih tergolong anak-anak, saya duduk paling depan bersama anak-anak yang lain. Sementara orang dewasa duduk di belakang bahkan sampai ke teras rumah karena banyaknya warga yang datang menonoton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;celakanya, malam itu ada laporan khusus peresmian sebuah proyek raksasa yang akan dilakukan oleh presiden Soeharto. Seperti biasanya, laporan khusus adalah program dadakan yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Kalau ada laporan khusus maka penayangan film akhir pekan menjadi terlambat. Terkadang laporan khusus hanya sepuluh atau dua puluh menit saja. Namun biasanya laporan khusus bisa sampai satu atau dua jam. Bagi warga desa saya, laporan ini sangat menjemukan dan mengganggu harapan mereka untuk menikmati film akhir pekan. Nah, di sela-sela menunggu laporan khusus selesai, saya tidur di depan televisi. Celakanya lagi, saya tidak sadar kalau laporan khusus sudah selesai dan bahkan film juga sudah selesai. Saya terbangun saat penonton hampir habis pulang ke rumah. Dan yang membuat saya sangat sedih adalah teman-teman meninggalkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadinya, saya harus pulang sendirian. Ini menakutkan karena saya harus melintasi komplek kuburan umum. Saya ambil inisiatif untuk masuk ke dalam galian parit di seberang kuburan dan menutup kepala dengan sarung, kebetulan berwarna putih yang sudah kusam. Saya berjalan pelan-pelan di dalam parit, tanpa suara dan tidak melihat kebelakang, kiri dan kanan. Mulut saya tidak henti-hentinya komat-kamit berdoa agar tidak ada hantu yang mengganggu. Semua ayat al-Qur’an yang saya hafal, saya ulangi dalam perjalanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari belakang saya terdengar ada orang berbincang dan tertawa cekikan. Saya tahu kalau mereka anak muda yang baru pulang menonton PHR (Panggung Hiburan Rakyat), sejenis bioskop sekarang ini. Mereka pulang dari Kota Fajar, kota kecamatan yang jakarknya sekitar 10 km. Mendengar suara mereka saya sedikit lega karena berarti saya punya teman. Oleh sebab itu ketika mereka hendak melintasi saya, saya keluar dari parit. Ternyata mereka ada empat orang yang mengenderai dua sepeda berboncengan. Begitu melihat saya keluar dari parit dengan kain putih menutup setengah badan ke atas, mereka berteriak: “Hantu…… hantu…. hantu…. ” mereka mendayung sepeda dengan sangat cepat. Namun karena jalan berbatu dan berlobang sepedanya jatuh, lalu mereka meninggalkan sepeda di sana dan terus berlari sambil meneriakkan, hantu… hantu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar teriakan mereka saya kaget bukan main. Saya pikir mereka melihat hantu di belakang saya atau dari kuburan. Saya jugajadi sangat takut dan ikut berlari di belakang mereka untuk menyelamatkan diri dari hantu. Meihat saya lari ke arah mereka, mereka malah semakin ketakutan dan semakin kencang larinya. Hingga kami terlibat aksi kejar-kejaran, seperti densus dengan teroris. Namun karena saya masih kecil saya tertinggal jauh, tapi kami sudah sampai ke perumahan. Beberapa warga laki-laki ternyata keluar dari rumah ketika mendengar teriakan “hantu”. Ketika tiba di pinggir jalan bukan hantu yang mereka dapatkan tapi Sehat Ihsan yang sedang menangis ketakutan. Pemuda yang tadi lari kembali kepada saya dan beberapa warga yang berkumpul. Mereka mengatakan: “Oo… kami kira kamu hantu, makanya kami lari….” Lha, ternyata saya yang dianggap hantu. Apa mirip ya? Hahaha….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hantu dan rintangan selalu kita ciptakan sendiri dan kita sendiri pula yang ketakutan menghadapinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2484722300126618144-6338663493869822558?l=sehatihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehatihsan.blogspot.com/feeds/6338663493869822558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/hantu-parit-irigasi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6338663493869822558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2484722300126618144/posts/default/6338663493869822558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/hantu-parit-irigasi.html' title='Hantu Parit Irigasi'/><author><name>Sehat Ihsan Shadiqin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04877517890732591514</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='3
