Saturday, 5 July 2008

Laura, Selamat Jalan!


Senang sekali memiliki "bos" yang memposisikan diri sebagai seorang teman. Bekerja laksana bermain. berfikir laksana berhayal. tidak ada beban dan penguranan pikiran hingga kering. Santai saja, tapi semua seolah menjadi lancar. Ia tertawa pada saat kita keliru, ia semangati saat lemah, ia menghargai sekecil apapun prestasi yang kita buat. senyumnya adalah semangat yang tiada henti membakar jiwa dalam menyelesaikan pekerjaan. ketulusannya adalah energi yang terus mendukung dalam belajar dan bekerja. itulah Laura. teman yang kini telah kembali ke negerinya.

Tidak lama aku bekerja dengan Laura. namun 30 detik pertama bertemu aku tahu kalau ia adalah sahabat yang membuat cita menjadi dekat. Ketika itu aku ikut sebuah training yang dilaksanakan oleh Aceh Research Training Institute (ARTI) di mana ia sebagai pelaksana harian di sana. Tiga bulan setelah itu aku ikut pelatihan yang sama untuk 2nd level, dan ia masih bekerja di sana. ia yang menurutku menjadi faktor yang menjadikan semua proses menjadi lancar dan mudah. tidak ada masalah yang tidak memiliki soslusi. cepat dan bijaksana. tidak ada harapan yang tertunda, tidak ada pertanyaan yang tidak ada jawabannya. bahkan untuk hal-hal yang sifatnya teknis seklipun.
Aku belajar banyak dari Laura. pertama, memanggil orang dengan namanya. Budaya Kluet khususnya dan budaya Aceh umumnya di mana aku dibiesarkan mendidikku untuk memanggil orang dengan "panggilan" khusus. Abang, kakak, makcik, yahwa, nek, dll. ini membuat aku tidak peduli dengan namanya. bahkan banyak orang dikampungku yang tidak tahu namanya setelah sekian tahun sebab ia selalu dipanggil dengan nama anak tertunya. Bagiku tradisi ini menjadikan aku tidak peduli dengan nama orang, nama teman, nama kenalan baru dan nama orang yang bekerja sama denganku. sampai sekarang aku tidak terlalu peduli namanya yang penting aku bisa memanggilnya, pak, bang, teungku, dll.
Laura mengajariku betapa penting sebuah nama. ia menghafal semua nama orang yang pertama kali ditemuinya. pada pertemuan pertama, setelah perkenalan, ia bisa menyebutkan nama 22 peserta dan menunjukkan orangnya. dan aku, setelah berkali-kali pertemuan tetap tidak bisa menyebutkan nama peserta semuanya.
Laura mengajariku tentang menghargai orang lain. tentang senyum dan memberikan semangat. aku,satu waktu datang ke kantor ARTI dan menyapanya yang sedang duduk. ia bangun dan menjemputku di pintu masuk ruangnnya sembari mengulurkan tangan dengan senyuman yang tulus. ia menanyakan kabarku dan memberiku semangat membuat proposal penelitian. menyatakan apa yang aku bisa harapkan dan memberikan bahan. ia sangat bersemangat dan mengalirkan semangat itu dengan sikapnya.
sangat banyak hal lain yang kupelajari dari Laura.
Ia bekerja di aceh selama dua tahun dan kini telah kembali ke Amerika, negaranya. Terima kasih Laura.

No comments:

Post a Comment